
Hari berikutnya, 1 hari lagi menuju kuliah online.
Haaaaaaah~
Hemmmmmmm~
Hoammmmmmm~
La lala lalalala la lala lalalalalala ~
Na nana nananana na nana nananananana~
"Mi kalau ga ada kerjaan mending bantuin Kuro, Shiro ama Miao aja deh, bikin sebel tau ga, " ujar Kanao menahan kesal karena Miya.
"Ehhh ogah ah entar keringetan kesel lagi, tapi bosen bat gw, " tolak Miya yang lagi guling sana guling sini di ruang tamu tepatnya di atas karpet.
"Makannya keluar sono, ketimbang ga ada kerjaan, malah gw nya yang di bikin emosi, " suruh Kanao.
"Temenin yuk kak, " ajak Miya.
"Mau kemana kau?, " tanya Kanao.
"Keliling istana, " ujar Miya.
"Hahhhh~ kalau begitu ayo!, " setuju Kanao.
Miya dengan semangat bangun dari guling gulingnya lalu mengambil sebuah pita dari ruang dimensi.
Ia mengikat pita itu di hampir ujung rambutnya, lalu menariknya ke atas. Mengikat sisa pintanya di atas kepalanya dan sekarang rambutnya terlihat lebih pendak karena terlipat menjadi dua.
Mereka kemudian berkeliling istana dengan di iringi rasa kagum Miya karena ia baru pertama kali melihat pemandangan yang seperti itu. Tentu saja tidak ada yang bisa melihatnya karena Miya memakai cadar.
Suasana tenang yang hanya ada cemohan dari para pengawal dan dayang istana sebenarnya tidak terlalu mengganggu Miya.
ingat Tidak terlalu mengganggu tetapi masih terasa sakit jika di cemoh oleh mereka. Mana ada orang di dunia ini yang tidak sakit hati jikalau di hina oleh banyak orang?
Tapi berbeda dengan beberapa saat kemudian, Miki datang dan mengganggu Miya.
"Hei kau sampah!, apa yang kau lakukan di luar sini?, apa kau tidak tau bahwa kau membuat putri ini muak?!, " bentak Miki tiba tiba membuat Miya dan Kanao kaget.
"Kakak?, apa yang kakak maksud?, bukankah aku masih bagian dari istana ini?, lalu mengapa kakak keberatan saat aku berjalan jalan di sini?," tanya Miya dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Ganggu gw aja ni kakak tiri, " batin Miya kesal.
"Heh, kau memang bagian dari istana ini tapi bahkan derajat pelayan lebih tinggi dari diri mu, " sinis Miki.
"Aku tidak memperdulikannya, lalu kenapa kakak selalu mengganggu ku?, " tanya Miya.
"Hahahahaha, apa kau bilang tadi?, karena apa?, aku tidak butuh alasan untuk menyiksa mu dasar jalan*!," marah Miki sembari menghunuskan cambuknya ke Miya dan pas mengenai punggung Miya.
Darah merah mengalir dari punggung mulus Miya meresap ke hanfu putih yang ia kenakan.
Rasa perih menghantui Miya membuat matanya berkaca kaca. Kelihatannya satu cambukan itu bukanlah satu cambukan yang ringan. Apa lagi karena Miya memang adalah jenis orang yang cengeng.
"Kak hiks kak Kanao punggung ku sakit, " keluh Miya sembari menahan tangis.
"Tenanglah Miya itu akan segera sembuh, " ucap Kanao khawatir karena Kanao sudah hafal betul dengan sifat Miya.
"Tapi kak ini sangat sakit hiks hiks hiks, aku tidak ingin mengalami rasa sakit seperti saat di sucikan dulu hiks, " tangis Miya makin menjadi jadi karena darah yang keluar terus mengalir di tambah kain yang menempel pada luka membuatnya sebih perih.
"Hahahahaha dasar sampah, hanya segitu saja sudah mengaduh kesakitan, karena aku adalah putri yang baik hati maka ku berikan satu kali lagi hanya untuk mu, " tawa Miki kejam sembari mengayunkan lagi cambuk yang di pegangnya ke arah Miya.
Namun sebelum cambuk itu mengenai diri Miya lagi, Arnius datang dan menghentikan cambuk itu dengan tangannya hingga tangannya terluka.
"Putri Miki apa yang sedang kau lakukan?, " tanya Arnius dingin dan datar sanggup membuat Miki bergetar hebat.
"Jangan mengalihkan pembicaraan jika aku sedang bicara!, " tegas Arnius.
"Ak... aku aku hanya memberi adik pelajaran saja karena berkeliling istana tanpa meminta ijin, " ucap Miki gemetaran mencoba mencari alasan.
"Sejak kapan seorang putri istana harus meminta izin saat akan mengelilingi istana hah?!, " tanya Arnius dingin dengan hawa membunuh yang sangat pekat terpancar dari dirinya.
"Anu itu, kakak sendiri, kenapa kakak jadi sangat perhatian dengan sampah itu?, " tanya Miki melawan.
"Dia adalah adik ku memangnya kenapa apa kau iri hah?, " ujar Arnius.
"Kakak bukankah aku juga adik mu?, lalu kenapa kau pilih kasih dengan ku?, " tanya Miki ekting menangis.
"Karena kau hanyalah anak dari wanita jalan* itu, " ujar Arnius sembari menghempaskan cambuk yang di pegangnya.
"Kakak aku akan melaporkan hal ini kepada ayah!, " kesal Miki.
"Laporkan saja, di saat itu aku akan melaporkan balik tidakan mu tadi, " ancam Arnius sembari menggendong Miya ala pengantin baru dan segera pergi menuju paviliun Miya bersama dengan Kanao.
__ADS_1
"Kak, kakak sakit hiks, kak sakit hiks punggung Miya sakit kak huaaaaa~ (ćoć)," keluh Miya sembari memeluk erat tubuh kekar Arnius.
"Tidak apa jangan khawatir, luka itu akan segera sembuh lebih baik Miya tidur agar tidak merasakan sakit lagi, " ucap Arnius tiba tiba menjadi lembut sampai mengaggetkan Kanao yang berjalan dengan cepat menyusul Arnius dari belakang.
"Tidak, punggung Miya sakit, bagaimana mungkin Miya bisa tidur, " ujar Miya masih di iringi tangisan.
Skip sampe paviliun, Miya di antar sampai kekamarnya.
Arnius meletakkan Miya di atas kasur dan hendak pergi namun Miya tak mau melepaskan tangannya dari pinggang Arnius.
"Miya, lepaskan tangan mu ya, jika luka mu sudah bersih maka pangeran Arnius akan kembali kemari, " ucap Kanao lembut dan dengan menurut Miya pun melepaskan tangannya.
"Kakak jangan tinggalkan Miya ya, " pinta Miya.
"Kakak akan menunggu mu di depan pintu, kau tenang saja, " ucap Arnius menenangkan Miya lalu pergi keluar meninggalkan Miya dan Kanao di kamar.
Dengan segera Kanao membuka baju Miya dan membersihkan darah dari luka Miya sebemum mengering dengan air suci yang ia ambil dari ruang dimensi dan membalut luka Miya yang mulai membaik karena air suci dengan perban dan lalu membalut tubuh Miya yang masih menangis sesenggukan dengan hanfu tipis berwarna putih. Rambutnya di gerai tanpa hiasan menutupi muka Miya yang penuh air mata.
Kanao lalu meninggalkan Miya yang masih menangis keluar dan menyuruh Arnius masuk menemani Miya sementara ia memasak makanan untuk Miya.
"Miya apa kau baik baik saja?, " tanya Arnius khawatir sembari duduk di tepi ranjang dan memeluk Miya dari depan.
"Kakak punggung ku sakit hiks, " eluh Miya sembari memeluk Arnius erat.
"Miya tenang saja ya, lukanya tidak parah jadi Miya pasti cepat sembuh, " hibur Arnius sembari mengelus lembut pucuk kepala Miya dan tanpa sadar ia pun tertidur.
"Ternyata seperti ini rasanya merawat seorang adik yang manja, " batin Arnius sembari tersenyum manis memandang Miya yang tidur dalam tenang.
Sementara itu di ruang dimensi.
"Woi Kuro, Shiro sampai kapan aku harus di sini?, " tanya Miao sembari berlari kesana kemari membawa matrial untuk membuat robot pesanan Miya.
"Sampai selesai, " ujar Kuro.
"Wasem š "Miao
...o0o...
Ayo ayo ayo bakar bakar tahun baruan dulu readers šššš
__ADS_1
Selamat malam tahun baru bagi yang baca novel ini, semoga tahun depan adalah tahun yang lancar untuk kita aminnnn ššš