
"Aku akan ada urusan di luar sampai malam, jadi makan siang lah tanpa diri ku, " ucap Raja kegelapan.
"Oke, kalau begitu jaga diri baik baik, Aku juga akan ada kelas nanti siang jadi aku akan pergi, " sahut Miya sembari memakaikan jubah berwarna hitam ke pundak Raja kegelapan.
"Ini sudah musim gugur, udara menjadi dingin, " lanjutnya.
Raja kegelapan tersenyum, menunduk untuk mencium kening Miya yang tingginya hanya sebatas dadanya. " Jangan lupakan diri mu sendiri. "
Dengan kecepatan cahaya Miya segera menjauh dan menempelkan tangannya ke tempat di mana Raja kegelapan menciumnya. "Jangan lakukan itu! " kesal Miya.
"Kenapa? mencium istri sendiri, apakah melanggar hukum? " goda Raja kegelapan.
"Ya enggak juga sih, tapi aku belum terbiasa, " jawab Miya panik takut Raja kegelapan akan salah paham dengan kata katanya.
"Maka biasakan dari sekarang, aku pergi dulu." Setelah mencium pipi Miya sekilas, Raja kegelapan segera pergi dengan wajah dingin dan datar bersama beberapa bawahannya. Miya tidak tahu kemana suaminya akan pergi, lagi pula bukan urusannya.
Setelah kepergian Raja kegelapan, Miya pergi ke tempat cucian piring untuk mencuci alat makan kotor yang tadi ia rendam namun, dia mendapati semua sudah kembali bersih dan tertata rapi di rak masing masing.
Miya menengok ke arah para pelayan yang baru saja memberi hormat kepadanya, " Kalian yang mencuci piring? sebenarnya aku akan membersihkannya setelah kak Ren pergi, kalian tidak perlu melakukan pekerjaan kecil seperti ini, " ucapnya polos.
"Nyonya pekerjaan yang rendahan ini lebih baik kami para pelayan saja yang melakukannya, " kata salah seorang pelayan dengan hormat.
"Ya nyonya, nyonya hanya perlu melayani tuan dan biarkan kami melakukan hal hal kecil seperti ini, " sahut pelayan lain.
"Ya....ya.... tapi kan...., " Kini hati Miya di selimuti rasa bersalah. Dia hanya ingin melakukan pekerjaan seorang istri, tidak boleh kah itu?
Merasa akan kalah jika terus di sini, Miya segera melarikan diri dari sana.
Melewati teras panjang dan melihat daun berguguran di halaman yang belum di bersihkan para pelayan, hati Miya mulai tergerak. Ia mengambil sapu dan dengan santai menyapu area halaman sambil menyanyi.
Mengalihkan fokusnya sebentar untuk memandangi pepohonan yang daunnya berguguran, Miya mulai bercekoteh, " Pohon pohon ini terlihat seperti mati wkwkwk, kalau di pikir pikir ini pertama kalinya aku mengalami musim gugur. Habis negara ku hanya punya dua musim."
__ADS_1
Selesai berceloteh, Miya kembali menyapu sembari menyenandungkan lagu lagu tanpa lirik.
Dari kejauhan, pelayan yang baru selesai menyapu tempat lain datang dan di kagetkan dengan pemandangan Miya yang sedang menyapu halaman dengan santai. Dengan rasa takut dan kekhawatiran yang jelas, pelayan itu segera menghampiri Miya. " Nyonya apa yang nyonya lakukan? pekerjaan seperti ini biarkan hamba saja yang melakukannya. "
Suara ini mengagetkan Miya yang sangat fokus dengan daun daun itu." Hah? tidak apa apa kok, jangan di pikirkan! lagi pula ini sudah akan selesai, lebih baik kakak ini pergi melakukan pekerjaan yang lain saja, " ujar Miya.
"Tidak tidak tidak, nyonya lebih baik melihat dari samping saja, biarkan hamba yang melakukannya, jika tidak tuan akan memarahi hamba, " tolak pelayan itu dengan panik.
Melihat kepanikan yang jelas dari wajah pelayan itu, Miya segera menyerahkan sapu yang di pegangnya kepada pelayan itu seolah olah itu adalah benda terkutuk, " Oh Oh Oh, " lalu segera pergi dari sana.
Kembali tidak punya pekerjaan, Miya lanjut berjalan jalan mengitari rumahnya yang sangat luas itu. " Ini rumah apa istana sih kok besar banget? mana gabut lagi, apakah hasrat rajin ku ini muncul di waktu yang tidak tepat? dari tadi ngelakuin ini salah itu pun salah, " gumamnya pada dirinya sendiri.
"Hm?? "
Miya menghentikan langkahnya ketika melihat deretan kain jemuran yang sudah kering. Takut kain menjadi dingin karena suhu yang lumayan dingin, Miya segera mengambil keranjang yang cukup besar dan memasukkan semua pakaian, seprai dan lain lain ke dalam keranjang lalu membawanya pergi ke sebelah kamarnya, yaitu ruang bersantai yang di siapkan khusus untuk Miya yang suka malas malasan.
Di sana ada televisi, sofa dan lain lain. Miya segera meletakkan keranjang di sofa, memanaskan setrika dan lekas menyetrika semua pakaian itu dan melipatnya dengan rapi. Butuh hampir dua jam untuk menyetrika semuanya jadi Miya menyalakan televisi sebagai hiburan.
Pakaian ini tidak di keringkan bersamaan dengan milik Raja kegelapan dan Miya namun di keringkan agak jauh dari sana, namun karena pengelihatan Miya lumayan baik, dia pergi dan mengambilnya untuk sekalian di setrika. Nah sekarang dia bingung harus meletakkannya di mana.
Setelah berpikir lama, Miya akhirnya membawa tumpukan pakaian yang sudah rapi ke tempat pakaian di keringkan dan mendapati beberapa pelayan dengan panik berlari mondar mandir. "Apa yang kalian lakukan? " tanya Miya heran.
Para pelayan yang mengenali Miya dengan panik segera bergabung menjadi satu, menundukkan kepala dan meminta maaf, " Memberi hormat kepada nyonya, maafkan kami karena tidak menyadari kedatangan anda! "
"Oh tidak, tidak perlu. Ngomong ngomong apa yang sedang kalian lakukan? " ucap Miya ikut ikutan panik.
"Kami menyesal akan hal ini tapi semua pakaian yang kami jemur tiba tiba menghilang. Nyonya tolong maafkan kami! " sesal para pelayan.
Miya sebagai dalang hilangnya pakaian pakaian itu segera merasa bersalah. " Tidak perlu meminta maaf, ini salah ku karena mengambil pakaian pakaian itu sesuka hati. Ini, aku tidak tahu ini milik siapa, " ucap Miya dengan canggung, memberikan tumpukan pakaian yang ia bawa ke salah satu pelayan.
Pelayan itu memandangi pakaiannya yang sudah terlipat dengan rapi dan halus, merasa sangat senang. Terbukti bahwa pakaian itu adalah miliknya. "Terimakasih banyak nyonya! " ucap pelayan itu setulus hati.
__ADS_1
Dengan segera Miya mengguncangkan tangannya di depan dada dan menyangkal, " Kau tidak perlu berterima kasih. Ini salah ku karena mengambil semua pakaian itu sesuka hati dan membawanya pergi untuk di lipat, membuat panik kalian di sini aku sungguh minta maaf. "
"Nyonya anda tidak perlu meninta maaf, anda adalah tuan sedangkan kami hanyalah pelayan rendahan. Namun lain kali biarkan kami saja yang melakukan hal hal yang rendah ini, " ucap salah seorang pelayan mewakili.
Hati Miya kembali menjadi sedih. " Tapi aku hanya ingin melakukan pekerjaan seorang istri. Bukankah semua istri melakukan ini? aku sudah menjadi orang yang tidak berguna, apakah setelah menikah aku menjadi istri tidak berguna? "
Suasana suram Miya segera mempengaruhi para pelayan yang merasa bersalah. Mereka merasa nyonya mereka ini baik tapi juga aneh. Bagaimana mungkin seorang nyonya bangsawan mau melakukan hal kotor seperti ini dan memperlakukannya sebagai tugas seorang istri seperti nyonya mereka? tapi dengan ini terbukti betul bahwa nyonya mereka adalah orang yang baik.
Merasa terkalahkan, para pelayan dengan hati hati mulai berunding dengan Miya. "Nyonya maaf atas kelancangan hamba, bagaimana kalau nyonya lakukan apa yang nyonya inginkan dan kami akan lakukan sisanya asal tuan mengijinkan? "
Seketika semangat kembali memenuh i diri Miya, " Oke! kak Ren tadi setuju kok, ingat janji kalian ya! aku akan pergi bersiap untuk kuliah, sisanya ku serahkan pada kalian! " Miya segera berlari sembari melambai kepada para pelayan sebelum melakukan kegiatannya lagi sebelum berangkat kuliah.
Bersambung.
.
.
.
.
.
Halo, aku mau nanya. Aturan orang kuliah itu gimana ya? kayak berangkat hari apa aja, pelajarannya gimana, susunan sekolahnya gimana, dan waktu kuliah itu berapa tahun. Soalnya aku nulis cerita ini si Miya di bikin kuliah itu biar afdol masak 19 thn udah kerja jadi guru yekan, ya mungkin ada tapi kan...... terus aku nulis cerita ini ga pake dasar apa pun tentang kuliah, aku pakainya dasar smp :v jadinya keliatan banget kan wkwkwk
maaf ya kalau cerita ku gaje banget, tapi aku nulis cerita ini itu cuma mau nggambarin kebucinannya Raja kegelapan ke Miya wkwkwk, jadi ku sarankan fokus aja ke cintanya mereka yang bikin ngiri 😂
Udah dulu ya, papay
TBC
__ADS_1