Aku Jadi Putri?

Aku Jadi Putri?
No. 57 yang bersangkutan dengan kuliah gw bener bener ngawur, soalnya gw gatau.


__ADS_3

Tiba tiba, Raja kegelapan memeluk Yuli dari belakang membuat sang empu yang sedang merapikan bagian depan jilbabnya sedikit kaget.


Mencium aroma wangi khas yang dimiliki Yuli, Raja kegelapan dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi sopirnya.


Yuli berbalik ke belakang dengan antusias dan bertanya, "Benarkah? Yang bener? Ga bohong kan? Mau banget dong!"


Raja kegelapan tersenyum, mencium ujung bibir Yuli dan berkata dengan percaya diri, " tentu saja! "


.


.


.


Dengan begitu Yuli berangkat kuliah dengan Raja kegelapan sebagai supirnya.


"Haaahhhhh masih ngantuk, " keluh Yuli menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil.


"Bukankah kamu baru saja bangun tidur? "


Yuli mengambil ujung rambut Raja kegelapan yang panjang dan memainkannya. " Apa masalahnya? Ngantuk ya ngantuk, aku sih gitu aja. "


"Terlalu banyak tidur itu tidak baik. "


"Aku tau. "


"Tapi........, hhaaaaaah aku malas kuliah! Kak Ren bagaimana jika aku putus kuliah? " tanya Yuli menoleh untuk melihat wajah dingin nan tampan Raja kegelapan yang tengah menyetir mobil.


Raja kegelapan menatap wajah Yuli yang mau dari mana pun di lihat membuatnya ingin menghujaninya dengan ciuman dan menjawab, "Jika itu mau mu aku tidak masalah. "


Yuli menatap Raja kegelapan dengan tatapan ragu. " Meragukan sekali kata kata itu. Jika aku putus kuliah aku merasa bersalah dengan keluarga ku yang sudah membiayai ku hingga saat ini, juga si Eka yang rela ngambil dua jurusan cuma gara gara aku pengen dia sejurusan sama aku. Tapi aku pengen kerja ga jadi pengangguran and beban keluarga, kan selama aku kuliah ga pernah kerja. " keluh Yuli kembali membayangkan masa masa panjang ketika ia masuk kuliah. Yah, bukan universitas terkenal sih, tapi yakan kalau yang namanya universitas ga bakalan semurah sd, smp dan sma.


Raja kegelapan terlihat berpikir sebentar lalu bertanya, "Haruskah aku mengembalikan semua biaya sekolah mu dan biaya sekolah teman mu itu? "


"Hah?! "


Yuli menatap Raja kegelapan dengan horor. Ya dia tau sih kalau suaminya ini tajir melintir, ayah gula tapi kan ya...... Gimana ya...... Santuy banget gitu ngomongnya.


"Kak kau bercanda ya? "


"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda? "


Yuli terdiam membisu. "Tidak. "


Yuli melihat ke depan untuk menikmati jalan yang sangat di kenalinya ini. Samar samar dia bisa melihat Universitasnya yang bercat putih itu. Ia kembali memainkan ujung rambut Raja kegelapan dan berkata, " Jangan deh. Entar kasihan sama mereka pada tekanan batin semua. Ngomong ngomong gw heran si eka tu kayanya seberapa. Masuk dua jurusan kok kek ga ada beban gitu ga kayak gw yang satu jurusan aja udeh klepek klepek. Tajir kali ya si dia kok bisa gitu, pinter banget lagi, yah walau di jurusan ku sama jurusan pilihannya sendiri bagusan jurusan pilihannya sendiri. "

__ADS_1


Yuli terus mengoceh tentang hal hal yang tidak biasanya ia bagikan dengan seorang teman apa lagi laki laki dan tanpa terasa mereka pun sudah berada di depan gerbang besar kampus yang berwarna hitam. Yang sangat bertolak belakang dengan cat seluruh gedung yang berwarna putih.


Raja kegelapan melepas sabuk pengamannya dan milik Yuli sebelum dengan posesif mendudukkannya di pangkuan dan memeluknya. "Lakukan apapun yang kau mau, ingat bahwa aku akan selalu mendukung mu. " ucapnya sembari mengecup punggung tangan sang istri.


"Hahaha budak cinta!" ejek Yuli.


Raja kegelapan menghirup wangi khas yang di miliki Yuli. "Hanya kepada mu. "


"Ya iyalah, kalau sampe ada orang lain ku bogem kau. Eh dah ya kak aku masuk dulu, tadi aku liat si Nia sama Sintia."


Yuli berusaha lepas tapi tidak bisa. Memutar matanya dengan malas, Yuli berkata, "Kak lepasin ya? Yuli mau belajar dulu. Entar kalau dah pulang aku telepon deh. "


Takut istrinya marah karena lagi masa masa sensitif, Raja kegelapan dengan berat hati mengalah. Namun sebelum benar benar melepasnya, Raja kegelapan tak lupa untuk mencuri kecupan pada bibir merah yang manis itu.


"Belajarlah dengan baik, jika ada yang mengganggu mu segera beritahu aku," ucapnya mengelus pipi lembut Yuli.


"Hehehe bisa bisa pingsan aku di bucinin cogan mulu. Oke deh, Kak Ren aku pergi ya Assalamualaikum! " ujar Yuli mencium punggung tangan sang suami.


"Waalaikumsalam. "


Yuli kemudian keluar dari mobil dengan senyum sumringah di wajahnya. Senang sekali diberi kasih sayang sebelum belajar yekan. Sedangkan Raja kegelapan mengawasi punggung wanita pujaan hatinya sampai menghilang ke dalam bangunan sebelum pergi dari sana.


^_^ ^_^ ^_^


"Oh? Waalaikumsalam." Sintia.


"Waalaikumsalam, santai banget lu jalan Yul, biasanya kek lagi di kejer setan karena takut telat," ujar Nia.


"Hehehe tau ae lu. Oh ya si Eka mana? " tanya Yuli cengengesan.


"Lagi di jurusannya yang satunya lagi. "


Yuli, " Owh, kok gw jadi kasihan banget ye sama si Eka, harus kuliah dua jurusan pasti berat banget. "


Nia memutar bola matanya dengan malas, " Lu ngomong gitu sadar kagak kalo penyebabnya tu si elu? "


Yuli, " Ya sadar lah! Makanya gw pengen ngelakuin sesuatu buat dia, tapi bingung apa. "


"Sering sering ae traktir si dia." saran Sintia.


"Jangan lupa kita juga di traktir ya, " ujar Nia memberikan acungan jempol.


"Emangnya gw pernah ngerepotin kalian? "


Dengan sangat yakin Nia menjawab, " Tingkah mu sehari hari aja udah ngerepotin tau ga? "

__ADS_1


Yuli," iye dah serah. "


Skip selesai kelas ^o^


"Eka! Eka Eka Eka!"


Eka yang berjalan di koridor sepi untuk menikmati ketenangan tiba tiba merasa ada sesuatu yang di rebut darinya akibat panggilan ini. Ia tak perlu menoleh ke belakang untuk tau siapa pemilik suara ini.


Dan benar saja, tubuhnya tiba tiba menjadi berat kala Yuli mulai bergelantungan di tubuhnya. Ia sudah terbiasa dengan ini, karena Yuli selalu melakukannya dari saat mereka smp dulu. Masa dimana mereka pertama kali bertemu. Dan mungkin karena ini juga dia sulit tumbuh tinggi padahal rajin minum susu dan olahraga (¬_¬)


"Apa? " tanya Eka pada Yuli.


"Mampir kuy"


Eka mengangkat alisnya, "kemana? "


"Ya lu maunya kemana? Tolong rekomendasinya dong zeyeng."


Eka, "Hah? Salah makan apa lu Yul? Tiba tiba jadi baek bener, sangat mencurigakan! "


Yuli, " Ya kan gw selalu ngerepotin lu jadi ya gw pengen bales dengan traktiran gitu. "


Eka melirik ke arah duo manusia yang sedari tadi mengikuti mereka tanpa bersuara. Melihat cengiran Nia yang di sertai dengan acungan jempol, Eka langsung tau apa yang sedang terjadi.


"Oke deh, kuy! "


"Kemana nih kita? " tanya Nia antusias.


"Ke tempat langganan gw kalo lagi ada uang aja gimana? Makanannya enak tapi mahal. Deket dari sini juga sih soalnya. "


Yuli,"Oke deh gapapa, tapi gw nebeng ya, ga bawa motor soalnya. "


"Lah terus lu tadi berangkatnya kek mane? " tanya Sintia.


"Di sopirin suami (•ω•)"


"Ealah pasturi baru. "


"Hehehe"


Begitulah akhirnya mereka pergi mampir sebelum pulang dengan Yuli nebeng motornya Eka. Yuli tidak merasa bahwa teman temannya sedang memerasnya. Karena dia tahu bahwa perilakunya yang absurd dan manja kadang membuat orang lain repot dan tidak suka. Lagi pula dia juga ada duit tapi gatau buat apa, ya walau sebagian besar digunakan untuk kepentingan organisasi berbagi kasih karya dua pelayannya itu sih.


Gini banget ya, dulu pas ga da duit pas pasan banget sampe bingung mau gimana. Lah sekarang? Udah punya duit tapi gatau buat apa. Pengennya sih buat bapaknya haji ke mekah, tapi bapaknya ga mau. Padahal kan banyak yang pengen, tapi si bapak satu ini ngotot ga mau


Alasannya? Ga mau pisah ama cucu cucu tersayangnya padahal ya bagi Yuli duo bocil tu laknatnya minta ampun. Yah mau gimana lagi? Kedua bocil itu sudah menjadi maskot keluarganya semenjak mereka lahir.

__ADS_1


__ADS_2