
Di dalam ruang dimensi.
"Woah bagus banget pemandangannya, aku bagai melihat beberapa musim di waktu yang lama, " ucap Miya terkagum kagum dengan pemandangan yang ada di sekelilingnya begitu pula dengan Kanao dan Miao.
Di depan mereka ada hutan hijau yang rimbun dan sejuk, di sisi kirinya ada hutan yang dedaunannya menguning seperti musim gugur, di sisi kanannya ada hutan kandas yang tanpa adanya daun alias pepohonan yang mati.
Di sebelah pepohonan mati ada musim salju, dan di sebelahnya adalah musim bunga di mana pohon sakura, wisteria dan plum bersatu menjadi kesatuan yang sangat indah.
Dan terakhir yang menghubungkan hutan bunga dan hutan musim gugur adalah hutan bambu yang menawan.
Tidak hanya di kelilingi oleh hal itu di sana ada juga air terjun, kolam, pegunungan, danau besar dan juga yang paling membuat Miya terkejut adalah tiga mall 10 lantai.
10 vila mewah nan besar.
1 armada laut dan juga kapal pesiar mewah.
Beberapa helikopter, tank, mobil mewah, beberapa kendaraan tempur, segudang senjata yang tak akan pernah habis, perpustakaan yang sangat besar, satu istana besar nan mewah dan masih banyak lagi.
Jangan lupakan beberapa goa yang ada di sana merupakan tambang langka yang bisa membuat orang mendadak kaya.
"Hei kak kita tidak sedang bermimpi kan?, " tanya Miya.
"Tentu saja tidak, selamat datang tuan di ruang dimensi, kami adalah hewan kontrak milik anda, kami berada di tingkat ilahi boleh kah kami minta di beri nama?, " tiba tiba suara itu muncul dari bawah membuat ketiganya mengalihkan pandangan ke arah bawah mereka dannnn.
"Huaaaaaa, kucing bisa bicara ni dunia udah mau kiamat, mamak tolong!!!!, " kaget Miya refleks.
"Tenang saja tuan kami memang bisa bicara kok ini sudah biasa di dunia ini, " ucap salah satu kucing yang berwarna putih.
"Oh iya aku kan ada di dunia fantasi jadi ga papa hehehe, oke kalian minta nama kan kalau begitu, " ucap Miya nggantung sembari memeriksa boko*g mereka satu persatu untuk memastikan jenis kelamin mereka. Pasalnya Miya tak bisa membedakan kucing selain lewat sononya.
"Oke kalian sepasang kan?, aku akan memberikan nama yang simpel saja. Kau yang cewek, karena bulu mu putih jadi Shiro ae, terus kau yang cowok karena warna mu hitam kau namanya Kuro gerti ga?," ucap Miya di akhiri dengan pertanyaan.
"Mengerti tuan, " ucap keduanya sedikit malu karena aset mereka di lihat oleh Miya.
"Oke kalian kan hewan legenda jadi kalian pasti tau soal kultivasi kan?, " tanya Miya di jawab anggukan oleh mereka berdua.
" Kalau begitu tolong ajari kami dan didik kami untuk berkultivasi dong, aku harus kembali sebelum kuliah ku berlanjut, " pinta Miya.
"Sebuah kehormatan tuan, " ucap Kuro.
"Baiklah kalau begitu Shiro kau ajari kakak kakak tuan, dan tuan serahkan pada ku, " ucap Kuro pada Shiro.
"Oke, kakak kakak ayo ikut dengan ku aku akan melatih kalian. Kalau kalian khawatir soal waktu kalian bisa melupakannya karena di sini satu jam di luar sama dengan satu hari di sini, " ucap Shiro sembari pergi bersama dengan Kanao dan Miao.
"Tuan, tubuh mu penuh racun dan meridian mu tersumbat. Kau harus berendam di air suci terlebih dahulu untuk menghilangkan racunnya setelah itu membaca buku di perpustakaan dan lalu mulai menerapkannya sambil berkultivasi, " jelas Kuro.
"Dan untuk mencegah kau lalai, selama pelatihan ini kau tidak akan bertemu dengan kedua kakak mu agar bisa cepat selesai, apa kau mengerti?, " tanya Kuro.
__ADS_1
"Baiklah tapi di mana air sucinya?, " tanya Miya.
"Di sana, berendamlah di dalam kolam itu dan jangan sampai kehilangan kesadaran, tahan rasa sakitnya jika kau merasa tidak lagi sakit jika berada di kolam itu maka racun yang ada di tubuh mu berarti sudah bersih, " ucap Kuro sembari menunjuk ke arah sebuah kolam yang jernih dengan bunga lotus yang menghiasi.
"Baju ganti mu juga sudah ada di sana, semoga kau bisa mengganti hanfu mu nanti, kau kan bukan orang sini, " ejek Kuro.
"Cik aku kan punya ingatan pasti bisa lag, kalau begitu aku pergi dulu sampai jumpa, jangan ngintip lho, " ujar Miya sembari berjalan menuju kolam air suci tadi.
Miya kemudian masuk ke dalam kolam yang tak terlalu dalam itu dan mulai merasakan sakit yang sangat teramat baginya.
Tulangnya bagai di patahkan satu persatu dengan palu lalu di perbaiki lagi, kulitnya seakan di bakar menggunakan api yang sangat panas kemudian di bentuk kembali, otaknya seakan di tusuk ribuan jarum.
Karena Miya tak kuat menahan semua itu ia pun menangis dengan sangat keras namun tidak pingsan, entah kenapa Miya tidak pernah pingsan sedari kecil dulu.
Tiga hari kemudian 🕕
Pagi hari itu untuk pertama kalinya Miya membuka mata setelah tiga hari mengalami yang namanya penyiksaan.
Berbarengan dengan saat Miya membuka mata, kolam penuh teratai yang tadinya berbau sangat busuk dan berwarna coklat tua membuat teratai layu kembali bersih dan para teratai pun berbunga kembali dengan indah.
Ia keluar dengan pelan dari dalam kolam yang sekarang terasa sangat menyegarkan itu lalu mengeringkan tubuhnya yang basah.
Rambut yang dulunya bergelombang sekarang menjadi lurus dan panjang sampai menyentuh mata kaki.
Kulit yang semula coklat berubah menjadi putih dan halus juga kenyal bak marshmello.
"Mengesalkan rambu ini sangat panjang tapi aku tak tega untuk memangkasnya, " ucap Miya sembari mengeringkan rambutnya dengan segera karena telanjang di alam terbuka seperti ini membuatnya sangat risih.
Setelah memastikan sekujur tubuhnya kering Miya berusaha menggunakan hanfu putih yang sudah ada di sana dengan bekal sebuah ingatan masa lalu.
Mengikat tinggi tinggi rambutnya dengan asal dan melipatnya menjadi dua agar rambutnya tidak kotor oleh tanah.
"Aku harus mencari Kuro, " ucap Miya sembari berjalan ling lung mencari Kuro.
"Kuro!!?, di mana kau woi Kuro?!, jangan nyia nyiain suara gw dong!, " teriak Miya sukses membuat Kuro keluar.
"Jangan berisik nona, jika kau sudah selesai maka cepatlah pergi ke perpus untuk membaca buku tentang kultivasi dan alchemist secepatnya dan mulai lah berkultivasi dan mempelajari beberapa jurus. Aku bukanlah orang yang lunak jika mengajar orang jadi jangan bermalas malasan, " ucap Kuro panjang kali lebar sembari membelakangi Miya agar Miya tidak tau kalau dia lagi ngeblush.
ps : Alkimia ku ganti alchemist.
"Heeeh, apa ga boleh istirahat dulu gw pengen rebahan nih, " protes.
"Lakukan!, jika tidak aku akan menghukum mu untuk pus up 100 kali, sit up 100 kali dan yang lainnya, " ucap Kuro tegas membuat Miya merinding.
Pasalnya ia sama sekali tidak bisa pus up apa lagi di suruh 100 kali, butuh berapa tahun tu biar selesai hukumannya?.
"Ok.. oke aku ke perpus nih jangan suruh orang pus up dong, " pasrah Miya sembari berjalan ke arah perpus.
__ADS_1
"Kalau begitu cepat lakukan dan jangan lupa lari beberapa kali setap hari berkeliling tempat ini agar tubuh mi menjadi sehat dan cukup kuat untuk menerima kekuatan yang akan kau dapatkan nanti. Kalau tidak ku jamin kau akan mati, " ucap Kuro seirus membuat Miya tambah merinding dan hanya bisa menirut saja.
"Mamak pengen muleh (╥﹏╥)," gumam Miya menyesal. Ternyata hidup di dunia fantasi itu tidak semudah yang di bayangkannya.
...Vila 1 ...
...Vila 2...
Vila 3
...Vila 4 ...
...Vila 5...
...Vila 6 ...
...Vila 7 ...
...Vila 8 ...
...Vila 9 ...
...Vila 10...
...Istana...
__ADS_1