
Skip keesokan harinya
Hari ini adalah hari untuk lomba menyulam, memasak dan membuat puisi.
Dan hari ini adalah hari berat untuk Miya, karena apa? Karena dia tidak bisa menyulam.
Tapi walau begitu dia tetap harus mengikuti pertandingannya agar tidak kena marah ayahnya ya walau yang jadi bintang utama pasti putri Miki sih.
Hari ini adalah hari yang cukup dingin karena tadi malam hujan lebat. Oleh karena itu Miya menggunakan pakaian tertutup yang tidak terlalu tebal dan sebuah jilbab.
Setelah siap ia dengan loyo pergi ke tempat perlombaan yang sudah banyak nona dan tuan putri yang datang dan saling berbincang.
Miya duduk di sembarang tempat lalu mulai melamun. Walau ia sempat belajar dengan singkat saat berada di ruang dimensi tapi tetap saja dia tidak bisa.
"Hahhh, buat apa aja lah yang penting jadi, " gumam Miya.
Lomba menyulam memakan waktu hingga dua jam lamanya dan tentu saja membuat Miya jenuh dan pinggangnya encok karena duduk terus.
Bahkan dia juga bingung ingin menyulam apa hingga pada akhirnya membuat seekor anak kucing yang duduk dengan di hiasi lope lope di sekitarnya padahal yang lain menyulam sesuatu yang indah dan elegan.
Dan tentu saja Miya tidak menjadi pemenangnya.
Di lomba kedua setiap peserta di suruh membuat tiga makanan dan satu minuman terserah mau apa itu.
Para laki laki boleh melihat kerja mereka begitu pula yang tidak ikut perlombaan dengan syarat tidak mengganggu.
Miya memilih memasak di bangku paling belakang menggunakan kompor gas yang sudah di siapkan oleh Kanao tanpa sepengetahuan orang.
Ps : lomba ini bebas ya mau pakai tungku sendiri, bahan sendiri atau apa yang penting hasil kerjanya yang akan menilai adalah para pangeran putra mahkota dari tiga kekaisaran atas usul para kaisar sendiri. Ps ngomong ngomong Haru ama Lia ada di ruang dimensi bersama para kewan.
"Nona apa yang akan kau buat?, " tanya Miao yang datang bersama dengan Kanao dan Arnius sementara Rei sedang menggoda para gadis dan Kazuo sedang memberi saran beberapa orang.
"Bayam rebus, brokoli rebus, sambel sama pop ice, " ujar Miya malas.
"Apa?!, yang niat dikit napa kok gitu bat lu, " kesal Kanao.
"Lah bukannya yang lain cuma bisa ngerebus sama ngebakar doang ya gw masak kek gitu ga papa dong, " protes Miya.
"Ga harus lebih niat dong!, " suruh Kanao.
"Oke tapi tolong beliin bakso tusuk lima ribu yang pedes ya terus sama jus nangka, oh iya jangan lupa chiki chiki, " pinya Miya.
Baru saja Kanao mau bicara sudah di potong oleh Miya.
"Kalau ga mau ya udah gw bikin nasi putih aje, " ucapnya.
__ADS_1
"Hahhh, oke oke kalo gitu gw pergi dulu bay, " ujar Kanao pasrah lalu pergi ke tempat sepi dan membuat gate.
Miya pun akhirnya memasak sup ayam, nasi goreng dan jelly rasa jambu merah yang di beri serutan es dan susu. Terakhir untuk minuman Miya membuat pop ice rasa coklat.
"Sungguh sangat sederhana ๐ , " gumam Miao.
Beberapa waktu pun berlalu dan kini semua hidangan di tata di atas meja panjang dan ketiga pangeran pun sudah siap untuk mencicipi satu persatu.
Sementara itu Miya sedang asik menikmati bakso tusuknya sembari duduk di tempatnya.
Pujian dan sorakan tiba tiba menggila ketika para pangeran menyukai makanan putri Miki membuat si empu tersenyum puas tanpa di sadari oleh orang lain.
Tetapi setelah memakan masakan milik Miya, ketiga pangeran merasa tidak bisa melepaskan makanan itu dan akhirnya memakannya sampai habis.
"Wow makanan Mimi enak sekali, bagaimana kau bisa membuat makanan seenak itu Mimi?," kagum Rei.
"Boleh juga kau Miya, " puji Kazuo.
"Masakan mu selalu enak, Miya, " puji Arnius.
"Hmmm " acuh Miya.
Dan begitulah akhirnya lomba memasak di menangkan oleh Miya membuat putri Miki menggerutu marah dalam diam.
Setelah itu lomba terakhir yaitu lomba membuat puisi dimulai.
"Kenapa waktunya begitu lama?, bukankah cuma membuat puisi?, ngomong ngomong puisi di sini ama puisi di dunia gw sama apa beda ya?, " batin Miya bingung.
" Bodo amat lah mending cepet selesai biar bisa rebahan, " gumam Miya.
Ia pun mulai menulis sebuah puisi di kertas hfs dan setelah sepuluh menit berlalu akhirnya dia sudah selesai membuatnya.
"Gw ga bakat sama puisi ya?, keknya baru sepuluh menit deh kok gw udah maen selesai aja ye (๏ฝกล_ล)," batin Miya sembari melihat jam di layar hp nya.
"Au ah, " acuh Miya tapi dia jadi sangat pengen ngamuk ketika melihat sebuah pesan masuk ke hpnya.
Apa lagi kalau bukan tugas.
"Aaaa ganggu bat ni tugas (ยฌ_ยฌ)," kesal Miya.
Pada akhirnya sisa waktu yang di miliki Miya ia gunakan untuk menyelesaikan tugasnya.
"We nona keknya liat hp deh, dia ga plagiat karya orang kan?, " tanya Kanao.
"Paling ngerjain tugas kuliah, " sahut Miao.
__ADS_1
Tiga jam kemudian pertandingan selesai dan semua hasil di periksa oleh para permaisuri.
Dan pada akhirnya pertandingan di menangkan oleh Miya dengan puisinya yang berisi........
Sebutir pasir di gurun
Setetes air di lautan
Seekor burung di langit nan luas
Kita hanya sebagian kecil dari besarnya dunia
Bahkan kita tak terlihat
Di mata Tuhan
( maaf kalo author buatnya jelek, soalnya ga tau yang begituan).
Puisi yang mengingatkan kita bahwa kita hanya sebagian kecil dari dunia yang tidak ada apa apanya jika di hadapkan dengan sang Tuhan.
Tentu saja itu membuat orang orang yang menyayangi Miya sangat senang, berbeda dengan selir Gina dan putri Miki yang mukanya menggelap karena marah.
"Mayan lah gw ikut tujuh belasan menang dua kali hahahahaha, " batin Miya merasa bangga.
"Tugas juga udah pada selesai lagi, bisa leha leha nih hehehehehe, " lanjutnya sambil cengar cengir ga jelas.
"Yul lu gil@ ya? ๐, " tanya Kanao.
"Enggak kok gw sehat walafiat, " bantah Miya.
"Terus kok lu cengar cengir kek orgil gitu sih?, " tanya Kanao.
"Halah kek g tau kelakuannya aje, " ujar Miao.
"Kakak!, " teriakan itu tiba tiba terdengar membuat Miya menoleh dan mendapati selir Minori, Sachie dan Fudo yang menghampirinya dengan senyum yang merekah.
"Selamat ya kak, kau memang kakak terbaik ku ๐," puji Sachie dan Fudo.
"Selamat ya nak, sekarang orang yang mencaci mu akan bungkam karena bakat mu, " puji selir Minori.
"Tunggu ada yang mau aku tanya. Semua wanita di sini bisa semua itu dari kecil ya?," tanya Miya ketika mengingat sesuatu.
"Iya memangnya kenapa?, " bingung selir Minori.
"Berarti yang gw lawan udah pro semua dong, kambing pantes aje pada santuy, tapi untung menang โ.ฬโ," ujar Miya.
__ADS_1
Dan obrolan pun berlanjut dengan penuh canda tawa sedangkan Ren hanya bisa tersenyum dari kejauhan karena jika dia dekat dengan Miya nanti akan ada yang syirik.
"Hari yang melelahkan, " batinnya.