Aku Jadi Putri?

Aku Jadi Putri?
No. 58 nongkrong dulu dong


__ADS_3

"Eh gw mau nanya, lu pada iri ga sih sama bocil bocil jaman sekarang? " tanya Yuli sambil memainkan sedotan di gelas berisi jus mangga miliknya.


Nia yang sedang memakan kentang goreng menghentikan aktivitasnya." Iri bagian mananya dulu ni? "


"Coba pikir deh, di jaman kita dulu sd cuma dikasih uang saku dua rebu kecuali jumat yang empat rebu, itu pun yang dua rebu buat infak."


Dengan santai Sintia memotong cerita Yuli, " Itu sih elu, kita mah sd dikasih uang saku lima ribu. "


Nia, "Hooh"


Eka, " Yul, sabar Yul."


Yuli, "........."


"Oke! Dulu pas kalian kecil minta ini itu ga di bolehin kan? Apa lagi mainan mainan ga guna gitu? "


Kali ini ketiga orang itu mengangguk sebagai tanda setuju.


"Nah kalo jaman sekarang ini itu mesti diturutin. Apa lagi kalo bocilnya kek Yuyu ama Fardan yang punya paman bibi sak jagad. Pengen ini itu mesti di turutin, gw iri banget njir."


Yuli bercerita dengan sepenuh hati membayangkan masa masa kecilnya dan masa masa setelah ia besar.


Eka memasukkan potongan daging terakhir ke dalam mulutnya dan menimpali. "Sadar diri lah woi, beda tahun beda zaman beda kebutuhan. Lu ngomong gitu apa kabar dengan mbak mbak kita yang cuma di kasih seribu buat jajan itu hemmm? "


Yuli, "Iya juga ya, tumben bener lu Ka."


Eka, "Yeeee gw selalu bener ya. "


"Oke deh Eka selalu benar. "


Mereka sibuk berbicang dan tertawa hingga melupakan yang namanya waktu. Memang saat saat bersama teman itu bikin orang lupa waktu ya.


Sampai ketika tiba tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang, jantungnya serasa ingin copot saking kagetnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Raja kegelapan berdiri menatapnya dengan ekspresi datar.


"Kak Ren? Kok bisa di sini? "tanya Yuli heran. Perasaan dia tidak bilang kepada Raja kegelapan kalau dia akan kesini setelah selesai kuliah.


"Wow di jemput suami ni gais, " bisik Nia pada Sintia.


"Masih cakep seperti biasa, " batin Eka.


"Kau bilang akan menghubungi ku setelah kelas, karena kau lupa melakukannya aku datang ke sini."


Yuli segera tersenyum canggung. Merasa sangat bersalah kepada pria baik yang ada di sampingnya ini.


"Hehehe maaf maaf, aku benar benar lupa. Maklum, pikun sejak dini, " ucapnya dengan bercanda.


Raja kegelapan melirik ke arah Sintia, Nia dan kemudian Eka sebelum kemudian duduk di kursi kosong yang di himpit oleh Yuli dan Sintia. "Hm, Jangan ulangi lagi lain kali, kau akan membuat orang menjadi khawatir. "


"Siap bos! "


"Lu belum izin Yul? " tanya Sintia yang sedari tadi nyimak. Pengennya sih kenalan sama suaminya si Yuli tapi pembawaannya bikin nyalinya ciut. Udara di sekitarnya tiba tiba jadi dingin lagi.


"Hooh, lupa gw. Ini kan acara dadakan πŸ˜…."


"Parah lu Yul, kita aja izin dulu sebelum ke mari. Yah walau cuma ngirim pesan spam sih wkwkwk, " sahut Nia.


"Apa lagi kalau baliknya lama, kan nanti bikin orang khawatir. "


"Bukan Yuli namanya kalau ga bikin orang khawatir, " tukas Eka.


"Iya ih tau gw salah! Di bully mulu, " kesal Yuli.


"Karena wajah terbully mu itu mempesona." goda Nia memberikan kedipan sebelah mata.

__ADS_1


"Iyuuuhh jijik anjlr!! "


"Hahahahaha"


"Tuh kan, ngegoda kamu tuh seru Yul!" kata Nia.


"Oh iya, Si masnya ga keberatan kan ya kita ngegoda istrinya dikit? " tanya Nia mengajak bicara Raja kegelapan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan istrinya melulu.


"Tidak! Dia keberatan! " bukan Raja kegelapan yang menjawab malah Yuli yang menjawabnya.


"Yang ditanya siapa yang jawab siapa, " ujar Sintia.


"Biarin! Suami harus nurut istri dong! "


Kalimat ini, sangat aneh di mata Eka.


"Yul...... "


Yuli dan yang lainnya serempak menoleh ke arah Eka yang menyimak sambil meminum boba miliknya.


"Apa? " tanya Yuli.


"Lu bukannya dulu takut banget sama suami mu ini ya? Kok sekarang kebalik banget sih? "


Yuli berpikir keras, " Iya juga ya. "


Yuli mengamati Raja kegelapan yang terus memperhatikannya. " Kadang masih takut sih, tapi sebagian besar enggak. "


"Hmmm?? Kak apa kau ingin pesan sesuatu? " tanya Yuli ketika sadar bahwa Raja kegelapan tidak menyentuh apapun.


"Tidak perlu. "


"Kalau begitu minum punya ku aja, " ucapnya mendorong gelas berisi jus mangga ke hadapan Raja kegelapan.


"Dunia serasa milik berdua.... Yang lain ngontrak! " batin ketiga nyamuk.


"Eh gais tahun baru mo ngapain kalian? " tanya Nia.


"Hmm?? Udah mau akhir tahun aja ya, padahal dulu pas kecil setahun lama banget. Pas gede jadi cepet banget, " sahut Sintia.


"Iya ya, kalau aku mah seperti biasa bakar bakar di rumah kalo ga ada acara masing masing. " ujar Eka.


"Maksud lu apa? " tanya Sintia.


"Yah sapa tau mbak gw di ajak kencan seseorang, nah kan gw yang harus tanggung jawab. Ato bapak ibu gw ada acara gitu kan gw jadi di rumah sendiri jaga adek."


"Lah kan kakak lu ga cuma satu. "


"Mereka mana mau jaga dia. Orang yang di jaga aja bikin emosi. "


"Owh, kalo lu Yul? " tanya Nia pada Yuli yang asik dengan kentang gorengnya.


"Sama, bakar bakar juga kalo ga ada acara. "


"Bakar apa nih? " tanya Nia lagi.


"Bakar rumah. "


"Oke sip gw siap telpon pemadam kebakaran dehπŸ‘" Nia.


"Itu becanda neng." Sintia.


"Tau tuh, bakar apa aja ga papa yang penting jangan bakar mantan yekan? Ga enak soalnya. " ujar Yuli.

__ADS_1


"Emang lu punya mantan? "


"Ga juga sih. Kan cuma buat keren kerenan aja. "


"Permisi maaf mengganggu pembicaraan unfaedah kalian. "


Lagi lagi perhatian terpusat pada Eka.


"Gw pulang dulu yah? Adek gw di rumah sendiri, kata ibu gw di suruh pulang nemenin. " Pamit Eka menunjukkan pesan percakapannya dengan sang ibu.


"Hmm? Eh udah jam segini ternyata, kita berdua juga pamit pulang ya Yul? Gw harus bantu bantu ibu gw buka angkringan. " ujar Nia.


"Oke gapapa, ati ati di jalan ya, " sahut Yuli.


"Yoi, eh ini bayarnya...... "


"Biar aku yang bayar. " Raja kegelapan.


Nia dan yang lainnya merasa sungkan. Namun melihat wajah datar tanpa celah itu, mereka tak tahu harus mengeluh di bagian mana.


"Oke deh, makasih ya kami duluan Assalamualaikum, " ucap Nia yang kemudian pergi bersama Sintia.


"Gw juga pergi ya Yul, Tuan Raja Kegelapan (?) makasih traktirannya. " Ucap Eka tulus.


"Tidak perlu, Yuli sudah banyak merepotkan mu. Di masa depan jika kau butuh bantuan, katakan saja kepada ku, " sahut Raja kegelapan di sertai anggukan Yuli.


"Oh oke, terimakasih aku ga sungkan ya kalo gitu." Eka.


"Sip! Ka entar kalo ada kontak baru itu artinya milik suami ku ya, " Yuli mengacungkan jempolnya dengan semangat.


"Oke, kalo gitu aku pulang dulu Assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam."


Eka juga menghilang ke balik pintu dan kini tinggal Yuli dan Raja kegelapan di meja bundar itu.


"Kak pinjem hp nya dong, ku kasih nomornya si Eka, " pinta Yuli.


Raja kegelapan menatap Yuli dengan sedikit kejutan di matanya. "......Katakan lagi."


"Apa? "


"Yang tadi, panggil aku seperti yang tadi."


"Hah?? " bingung Yuli.


"Bukankah tadi kau memanggilku suami? Maka gunakan panggilan itu mulai sekarang." ujar Raja kegelapan.


Blusssh!


Ada yang memerah tapi bukan tomat. "Yang.... Yang tadi itu keceplosan! Sudahkah kak berikan hp mu pada ku! " elak Yuli.


"Panggil aku suami dulu. "


"Nantangin nih? " kesal Yuli.


"Jika kau menganggapnya begitu."


"......"


Yuli merasa kesal tapi juga senang di saat bersamaan. Biasalah, wajah tamvan suaminya ini masih saja sangat berdamage.


Mengumpulkan keberanian, Yuli menunduk dan mulai bergumam. "Su... Suami ku, tolong berikan ponsel mu! "

__ADS_1


Raja kegelapan tersenyum, memberikan benda persegi panjang itu di tangan Yuli dan berkata dengan gembira. "Bagus, tetaplah seperti itu di masa depan. Ayo pulang!" tanpa menunggu jawaban Raja kegelapan menyeret Yuli ke kasir untuk membayar dan kemudian pergi keluar tempat makan itu.


__ADS_2