AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS

AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS
MEMBELI GELAR.


__ADS_3

Leofric dan Phobus mengikuti Madam Gilda dan Rashia.


Rashia tiba-tiba berhenti.


"Ada apa?" Tanya Madam.


Rashia berbalik, lalu melihat Phobus.


"Apa ini tidak apa-apa?"


Phobus bingung.


"Apanya yang tidak apa-apa?"


"Berbicara seperti ini"


"Ha?"


"Ya ampun goblok"


"Apa?"


Leofric tertawa.


Rashia menatap Leofric lalu menatap Phobus.


"Clayy" Panggil Rashia.


Clay keluar dari ruangan.


"Ada apa?"


Clay melihat ke atas ke arah Rashia dan lainnya.


Rashia berbalik melihat Madam Gilda.


"Madam kita bicara di bawah saja, bersama mereka"


"Kau yakin?"


Rashia tersenyum lalu mengangguk.


Mereka pun turun kembali.


"Sebenarnya aku tidak terlalu yakin pada mereka tapi aku yakin pada kekuatanku yang mendominasi lawan jadi, sepertinya akan ada yang menangis" Batin Rashia


"Aku akan menyiapkan minuman" Ujar Madam Gilda.


Rashia tersenyum.


Madam Gilda melihat Leofric.


Leofric mengangguk.


Rashia dan lainnya berjalan masuk ke dalam ruang tamu.


Mereka semua terkejut.


"Apa sudah selesai?" Tanya Laksita.


"Belum"


Rashia duduk di ujung sofa, lalu melihat ana-anak panti.


Rashia menatap Phobus.


"Apa kekuatan mendominasi ku bisa mempan pada Phobus?" Batin Rashia.


"Haaaa"


Mereka semua melihat Rashia.


Rashia berfikir.


"Uang... Apa uangku cukup"


Rashia melihat uangnya tinggal 9 koin emas.


"Berapa lagi uang yang akan ku ambil di cincin milik orang ini?"


"Haaa, sial" Guman Rashia.


Mata Novika berubah.


"Biarkan dia, jangan mengganggunya"


Semua orang melihat Novika, mata Novika kembali normal.


Madam Gilda masuk sambil membawa teh, Mia dan Lola berdiri membantu Madam Gilda.


"Terima kasih" Ucap Madam Gilda.


"Jika aku minta di cincin ini, bisa tidak ya?" Batin Rashia sambil melihat cincin.


"Ada efek sampingnya tidak ya?!" Berfikir keras.


"Nak" Panggil Madam Gilda


"Ya?!" Rashia terkejut.


"Oh, anda sudah kembali" Senyum.


Madam Gilda duduk di depan Rashia.


"Saya ingin membicarakan bisnis dengan Anda Madam" Tatap.


"Bisnis?!"


Rashia melihat sekeliling.


"Berapa orang yang tinggal di sini?"


"Itu.. Hanya kami berdua" Canggung.


Rashia mengangguk, lalu ia berdiri melihat dalam toko Madam Gilda yang terisi dengan beberapa pakaian yang sedikit terlihat kuno.


Rashia berjalan ke arah salah satu pakaian lalu melihat kualitas pakaian itu.


"Boleh, ini bagus tapi.... "


Rashia berjalan ke arah pintu melihat orang yang berjalan-jalan tapi tidak melihat kearah toko ini.


"Pakaian yang mereka kenakan terlihat lebih indah dan bagus juga baru"


"Karena itu baju yang lagi ngetren sekarang" Ujar Mia.


Madam Gilda menunduk.


"Apa kau sedang.... "


"Diamlah manusia" Ujar Laksita.


Leofric terdiam.


Seseorang yang memiliki hewan Beast akan mengerti apa yang di katakan hewan Beast lainnya, kecuali mereka berbicara lewat pikiran.


Rashia berbalik melihat Madam Gilda.


"Madam apa kau mau bekerja sama denganku?"


Madam Gilda melihat Rashia.


"Melihat kondisi toko mu ini, yang di mana jarang pengujung dan semua pakaian mu terlihat kuno dan membosankan,juga... "


Rashia melihat kondisi toko.


"Toko ini sudah tua"


Madam Gilda sangat tersinggung dengan perkataan Rashia tapi dia hanya bisa diam karena semua yang di katakan Rashia itu benar.


Leofric maju menuju ke arah Rashia tapi di tahan Phobus, Ia menatap Leofric dan Beastnya dengan mata perak nya.


Leofric dan Beast nya terkejut, saking terkejutnya Beast milik Leofric pingsan.


"Jadi maksud mu? Kamu ingin... "


"Begini"

__ADS_1


Rashia memegang tangan Madam Gilda lalu membawanya masuk ke dalam ruang tamu lagi.


Mereka kembali duduk.


"Sebelum ku bernegosiasi, ada yang ingin ku katakan pada kalian semua"


Mereka semua melihat Rashia.


Rashia mengeluarkan aura mendominasinya beserta mata kuning nya menatap tajam Semua orang.


"Aku sangat benci adanya penghianatan, jadi.. " Tatap.


Mereka semua terkejut, Than dan Portia bersembunyi di belakang Mia dan Lola.


"Aku tidak menerima adanya penghianatan, mau itu dari manusia atau pun Beast"


Rashia menatap Novika dan Laksita.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi pada Beast" Ujar Novika.


"Benar, apa lagi jika Beast itu mengakui kalian sebagai orangnya atau  kontraktor nya" Lanjut Laksita.


Rashia tersenyum.


"Baguslah kalau begitu, dan kalian"


Rashia menatap Madam Gilda dan anak-anak Panti.


"Itu tidak akan terjadi" Ujar Leofric.


"Jika itu terjadi, aku akan langsung membunuhmu tanpa perlu penjelasan" tatap.


"Baiklah"


Madam Gilda takut.


"Aku bisa melakukan sumpah darah" Ujar Phobus.


Mereka semua terkejut.


"Aku juga" Ujar Mia tegas.


Anak-anak lainnya saling memandang.


"Sumpah darah itu apa?" Tanya Rashia pada Novika melalui pikiran.


"Jika mereka melanggar sumpah itu, darah di tubuh mereka berangsur-angsur mengering dan mereka pun mati tanpa ada yang bisa menolong mereka" Jawab Novika.


Rashia tersenyum.


"Kami juga" Ujar Clay.


"Kalau begitu lakukan" Tatap.


"Apa?"


Mereka semua terkejut.


"Lakukan sumpah darah kalian" Tatap.


"Tapi itu punya batas usia" Ujar Doyle.


"Umur 7 tahun sudah bisa melakukan sumpah itu" Ujar Laksita pada Rashia lewat pikiran.


Rashia mengangguk.


"Aku tau, jadi lakukan"


Leofric dan Madam Gilda terdiam.


"Itu... Baiklah" Ujar Clay.


"Terus, gimana?" Tanya Rashia pada kedua Beast.


Novika naik ke atas meja, lalu warna matanya berubah.


"Singkirkan semua ini"


"Mereka terlalu berlebihan" Batin Madam Gilda.


Novika menggambar sebuah lambang sihir segitiga yang memeiliki 6 titik lalu di bulatkan.


Setelah selesai, Novika menatap Rashia.


"Ikuti gambar ini memakai darahmu"


"He? Darah!!? Darahku?" Terkejut.


"Iya"


"Ah, ok"


"Aku benci darah" Batin Rashia.


"Kucing bantu aku" Memberikan tangan.


Laksita mendekati Rashia lalu membuat luka di salah satu jari Rashia.


"Ahk"


Rashia mulai mengikuti gambar yang di gambar Novika.


"Jijik, geli pingin muntah" Batin Rashia.


"Selesai"


"Letaknya jarimu di tengah bintang" Ujar Novika.


Rashia mengangguk.


Novika dan Laksita menatap anak-anak Panti.


Anak-anak panti melukai salah satu jari mereka, lalu meletakkan jari yang terluka di atas titik segitiga.


"Mulai" Ucap Novika.


"KAMI BERSUMPAH,TIDAK AKAN MENGHIANATI RASHIA SAMPAI KAMI MATI" Ucap mereka semua.


Tiba-tiba ada cahaya yang keluar dari lingkaran itu juga angin, lalu darah mereka berangsur-angsur mengering karena di serap ke dalam tengah bintang.


Rashia terkejut.


"Sumpah sudah selesai" Ujar Novika.


"Wahh, hebat" Takjub.


Madam Gilda memberikan obat pada anak-anak .


"Terima kasih"


Madam Gilda tersenyum sambil mengangguk.


Novika dan Laksita tersenyum, Novika kemabli ke tempat duduknya.


"Kau senang?" Tanya Mort.


"Tentu saja" Tatap.


Mort memalingkan wajahnya.


Rashia tersenyum lalu melihat Leofric.


"Leofric, berapa harga sebuah bangunan?"


"Ha? Kenapa kau bertanya padaku"


"Menurutmu kenapa aku bertanya padamu"


Leofric menatap Rashia begitu pun sebaliknya.


"Mau aku katakan pada ibumu pekerjaan mu di belakang nya"


Rashia berbicara lewat pikiran dengan Leofric.


"Aku akan mencari tau"


Rashia tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah"


Madam Gilda melihat Rashia dan Leofric.


"Tunggu, tolong jelaskan dulu maksud mu nak"


"Ah, maafkan saya. Anda pasti sangat bingung"


"Begini Madam, aku akan memeberikanmu modal dan membangun ulang atau membeli sebuah rumah atau jika kau ingin aku akan membeli sebuah gelar"


"Gelar?"


Madam Gilda terkejut.


"Hahaha, kau bercanda" Leofric menatap Rashia.


Rashia menatap Leofric.


"Tidak" Serius.


"Baron, menurut anda bagaimana Madam?"


Madam Gilda menunduk.


"Lalu syaratnya?"


Madam Gilda menatap Rashia.


"Jadilah Wali kami" Tatap.


Madam Gilda melihat semua anak-anak yang bersama Rashia yang sedang menatap Rashia karena terkejut.


"Wa-wali?!!"


"Benar, orang tua angkat Kami"


Madam Gilda tersenyum.


"Nak, tanpa kamu membeli sebuah Gelar pun, aku tetap akan mengakat kalian menjadi anak ku jika kalian menginginkan itu"


Rashia tersenyum.


"Saya tau itu, tapi saya tidak ingin berhutang pada siapapun dan melihat kondisi Madam saat ini, akan sangat susah memenuhi kebutuhan kami.. "


"Nak.. "


"Madam, sejujurnya aku ingin Madam menjadi orang ku, yang bisa aku percaya untuk mengelola apa yang akan aku lakukan di kemudian hari"


"Apa maksud mu?"


"Aku ingin membangun atau membuat sesuatu yang bisa aku hasilkan dengan kemampuan ku sendiri dan... "


"Mengembalikan uang yang aku pakai pada cincin ini, karena ini bukan milikku" Batin Rashia sambil melihat cincin.


Madam Gilda melihat Rashia yang sedang terpaku pada cincinnya.


"Baiklah"


Rashia dan lainnya terkejut, mereka melihat Madam Gilda yang sedang tersenyum pada Rashia.


"Ibu, apa kau yakin?"


Leofric khawatir.


Madam Gilda menatap anaknya lalu mengangguk.


"Haa.. Baiklah, aku akan mencari tau apa ada gelar yang di jual"


Rashia mengangguk.


Leofric berdiri pergi.


Madam Gilda menatap Rashia.


"Nak"


"Ya?"


Rashia menatap Madam Gilda.


"Siapa namamu?"


"Itu... Rashia" Senyum.


"Untuk saat ini ku pakai nama itu dulu,aku juga tidak tau namaku di kehidupan ini" Batin Rashia.


"Dan ini Phobus, Mia, Clay yang tertua, Lola, Doyle, Mort dan kedua anak kecil ini Portia dan Than"


Mereka semua berdiri.


"Senang bertemu dengan Anda Madam" Bungkuk.


"Dan ini, Kelinci dan Laksita"


Madam Gilda tersenyum.


"Senang bertemu dengan Kalian semua, uhuk.. Uhuk... "


Mereka semua terkejut.


"Anda baik-baik saja?" Tanya Mia.


"Hahaha iya, ini hanya batuk biasa"


Madam Gilda mengantarkan mereka ke sebuah ruangan.


"Sisa ruangan ini yang ada"


Mereka semua melihat ruangan kosong yang berdebu.


"Tidak apa-apa Madam, ini cukup"


"Baiklah, kalo begitu sebentar. Aku akan membersihkannya dulu"


"Tidak Madam, kami saja" Ujar Mia.


"Tidak.. "


"Berikan saja alat pembersihan nya Madam" Ujar Doyle.


"Baiklah"


Madam Gilda tersenyum lalu pergi mengambil alat pembersihan.


"Kau baik-baik saja Rashia?" Tanya Phobus.


Rashia mengangguk.


"Apa kalian baik-baik saja tidur di sini, maksudku dalam satu ruangan?"


"Tentu saja, ini lebih baik dari pada tidur di dalam panti yang dingin dan basah" Ujar Clay.


Rashia tersenyum.


"Baguslah kalo bagitu"


Rashia melihat Ruangan.


"Laki-laki di sebelah sana(Timur) dan perempuan di sebalah sana(Barat)"


Mereka semua mengangguk.


"Mia dan Lola juga Kelinci pergilah beli tempat untuk mengalas tempat kita tidur, ah dan juga makan malam kita"


Mia dan lainnya mengangguk.


Novika melompat ke pelukan Lola.


Rashia mengelus Novika.


"Selesai ini mari bicara"


Novika tersenyum.


"Baiklah"


Mereka pun pergi dan lainnya kebersihan kamar sedangkan Madam dan Rashia membicarakan dan mulai merencanakan apa saja yang harus mereka beli dan lakukan setelah mendapatkan wilayah.

__ADS_1


__ADS_2