AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS

AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS
ANAK-ANAK GUILD YELLOW


__ADS_3

Guild Yellow. 


Leofric melihat berkas wilayah yang di jual.


"Bagaimana dengan wilayah Timur Vrik" Ujar Rey teman Leofric di Guild,


Rey 12 tahun, pemilik pedang aura hitam. Pembunuh para monster.


"Tidak"


"Kenapa? Itu bagus dan gelarnya lebih tinggi" Ujar Alhena teman Leofric.


Alhena 11 tahun, seorang penyihir elemen angin.


"Ada apa ini?" Tanya Dallen teman Leofric.


Dallen 15 tahun, seorang yang sudah melakukan kontrak dengan Beast tingkat sedang Burung Alkonost yang suaranya bisa membuat orang lupa jika mereka sudah bertemu dengan Dallen dan orang-orang Dallen.


Alhena dan Rey melihat Dallen


"Leofric mencari sebuah gelar" Jawab Alhena.


Dallen melihat Leofric.


"Apa ada yang membelinya?"


"Hm"


"Berapa umurnya?"


Leofric terdiam.


"Itu.... "


Dallen mengambil berkas wilayah yang di pegang Leofric.


Leofric menatap Dallen.


"Kau sudah gila" Tatap.


"Sepertinya begitu"


Leofric mengambil lagi berkasnya lalu berbalik.


"Viscount!! Wilayah utara" Leofric berfikir.


"Jangan macam-macam Leofric"


Leofric berbalik llu menatap Dallen.


"Kita bisa percaya padanya"


"Tidak lagi Vric, cukup" Ujar Alhena berdiri.


Mia, Lola dan Novika kembali dari pasar.


Mereka langsung merapikan tempat tidur mereka, setelah itu menyiapkan makan malam.


Madam Gilda khawatir karena Leofric belum kembali.


"Saya akan menyusulnya" Ujar Rashia.


Madam Gilda terkejut.


"Tidak, jangan sebentar lagi malam jadi... "


"Tenang saja"


"Ku mohon jangan"


"Sepertinya Anda tau ya" Senyum.


"Apa!?"


"Pekerjaan yang di lakukan Leofric diam-diam"


"Itu.... Kau juga tau"


"Begitulah" Senyum.


"Tapi bagaimana??"


"Sebenarnya aku tidak tau, tapi Eurik yang mengatakannya karena mereka pernah bertemu belum lagi aura atau warna yang di keluarkan Leofric.. Terlalu banyak warna aku jadi bingung" Batin Rashia.


"Itu, rahasia" Senyum.


"Leofric sangat benci itu" Tatap.


"Saya juga benci orang yang terlalu banyak rahasia" Senyum.


Madam Gilda terkejut.


"Karena itu, jangan menyembunyikan apa pun dari saya"


Rashia menatap Madam Gilda.


"Saya sangat benci adanya kebohongan dan PENGHIANATAN" Senyum.


Madam Gilda menunduk.


1 jam kemudian Leofric belum kembali juga.


"Kaka lapar" Ujar Than dan Portia.


"Tunggu sebentar" Mia menenangkan kedua anak itu.


"Kenapa tunggu?"


Mereka semua melihat Rashia.


"Ayo kita mulai makan"


"Tapi" Mia melihat Madam Gilda yang sedang menunggu Leofric.


"Mungkin dia sudah makan di luar, ayo makan"


Mereka mulai makan.


Leofric dan ketiga temannya diam setelah berdebat.


"Apa kau yakin" Tanya Gib.


Gib 13 tahun, sihir pertahanan.


"Iya" Jawab Leofric yakin.


"Aku tidak mau kehilangan lagi" Ujar Mosha.

__ADS_1


Mosha 10 tahun, kekuatan kecepatan. Sepupunya mati karena di hianati orang yang pernah mereka percayai.


"Tidak akan terjadi"


"Apa dia kuat?" Tanya Gart.


Gart 14 tahun, sihir berubah menjadi hewan.


"Itu,, aku tidak yakin tapi orang di sekitarnya terlalu kuat"


"Di sekitarnya? Ada berapa orang?" Tanya Ella.


Ella 11 tahun, campuran ras mata mereh. Kekuatan membaca pikiran orang dengan menyentuhnya.


"Itu... " Berfikir.


"Banyak, aku lupa"


"Aku jadi penasaran dengan isi pikiran mereka" Senyum.


"Jika ada pikiran jahat langsung bunuh saja" Rey mengeluarkan pedangnya.


"Haaaa" Leofric melihat jam sakunya, dia berdiri karena terkejut melihat jam.


"Sial, ini sudah larut aku harus pulang"


Leofric berdiri lalu pergi tidak lupa membawa berkasnya.


"Tunggu" Dallen mencegah.


"Apa?"


"Anak itu, berapa umurnya?"


"8 tahun"


"Heeeeee?" Mereka semua terkejut.


"Jika kalian penasaran datanglah ke tempatku, aku pergi"


Leofric berlari ke rumahnya.


Sampainya di rumah, semua orang sudah tidur.


Madam Gilda menunggu Leofric sampai tertidur, Rashia memakaikan kain penghangat pada Madam Gilda dan itu di lihat Leofric.


"Haaaa"


Rashia tersenyum melihat Madam.


"Apa jika dia masih hidup dia(Ibu) akan menungguku seperti ini" Batin Rashia.


Kamar Putri Alana.


Duke menggendong Duchess yang tertidur di depan batu sihir yang terhubung dengan cincin putri.


Rashia berbalik , ia terkejut melihat Leofric.


Leofric tersenyum.


"Aku pulang"


"Ah, iya selamat datang" Canggung.


"Ayo kita bicara"


"Ok"


"Ini"


Leofric menyerahkan berkas.


Rashia melihat berkas yang di berikan Leofric.


"Butuh waktu lama ya"


"Begitu lah"


"Pelabuhan? Oldbrook wilayah utara"


Rashia menatap Leofric.


"Apa tidak ada nama yang bagus?"


"Kau bisa menggantinya"


"Tapi itu harus dapat persetujuan dari Kerajaan"


"Tidak perlu"


"He?"


"Itu wilayah mu, dan kau adalah pemilik barunya. Dan wilayah itu ada tepat di perbatasan antara Kerajaan Belgium dan Kerajaan Darch, Kerajaan para penyihir"


"Jadi?"


"Wilayah itu di bangun oleh Viscount Lyra.. "


"Viscount!! Wah itu gelar yang lumayan tinggi"


Leofric mengangguk.


"Lalu?"


"Gelar yang di setujui oleh kedua Kerajaan dan mereka juga yang memberikan wilayah itu pada Viscount Lyra sebagai penanggung jawab pelabuhan antar dua Kerajaan"


"Wahhh"


"Dia juga di berikan hak untuk melakukan apa pun tentang wilayah itu KECUALI Jika itu merugikan kedua Kerajaan, wilayah itu akan dihancurkan"


"Oh my god"


"Ha?"


"Ah tidak. Lalu kenapa wilayah itu di jual?"


"Anaknya hobi berjudi"


"Ah.... Sungguh menyedihkan lalu Viscount?"


"Dia meninggal karena di serang oleh perompak"


"Apa!!? Tunggu jangan bilang wilayah itu sekarang... " Tatap.


"Benar, sekarang wilayah itu di huni oleh para perompak"


Rashia berdiri.

__ADS_1


"Haaa.. Dan kau mau aku membeli ini" Kesal.


"Itu wilayah yang bagus, dan itu... "


"Yaakkkk" Teriak.


Leofric terkejut, Teman-teman Leofric juga terkejut.


Mereka diam-diam mengikuti Leofric dan mendengarkan pembicaraan Leofric dan Rashia.


"Apa kau tidak waras, kau ingin aku dan yang lainnya tinggal bersama para perompak" Kesal.


"Mereka itu bodoh, mereka hanya berbadan besar saja, kita bisa melawan mereka"


"KAMU YANG BODOH"


"APA!!?"


Teman-teman Leofric tertawa diam-diam.


"Haaaa.. Kamu fikir melawan arus ombak yang besar di laut dan bisa selamat kamu berpikir mereka bodoh?"


Leofric terdiam.


"Aku di marahi anak kecil" Batin Leofric.


"Lupakan, cari yang lain"


Rashia memberikan berkas kembali pada Leofric.


"Kita bisa menundukkan mereka"


Rashia kesal.


"KITA!! KITA siapa? Anak-anak, ibu kamu, aku hah?"


Leofric berdiri.


"Sebenarnya... "


"Haaa, kita lanjutkan besok ini sudah larut malam. Aku pusing"


Rashia berbalik pergi.


"Haaaa, bisa gila aku lama-lama"


Berjalan Pergi.


Leofric diam di tempat.


"Keluar kalian" Dingin.


Teman-teman Leofric keluar.


"Hahaha, kau baik-baik saja?" Tanya Rey.


"Apa aku terlihat baik-baik saja" Datar.


"Maaf"


Rey menahan tawa.


"Haaaa, selamat malam"


Leofric kembali ke dalam.


Teman-teman melihat Leofric.


"Ini kedua kalinya aku melihat wajah stressnya" Ujar Dallen.


"Pertama?" Tanya Mosha.


"Penyakit ibunya" Jawab Ella.


"Ah, iya benar" Garuk kepala.


Alhena berbalik pergi lalu menatap Mosha.


"Bodoh"


"Apa!!?"


"Sudah lah, ayo pulang" Ujar Dallen.


Besoknya.


"Anak-anak mari makan"


Madam Gilda selesai mempersiapkan makan siang, yang bahannya di beli Rashia menggunakan sisa uang yang pertama kali di ambilnya.


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan.


"Siapa mereka?" Tanya Lola.


Anak-anak panti terkejut karena melihat anak-anak baru yang duduk bersama Leofric.


"Kenapa kalian berhenti?" Tanya Rashia yang ada di belakang bersama kedua beastnya dan Phobus.


"Itu... " Ujar Mia canggung.


"Ah, kalian sudah datang. Kemarilah" Ujar Madam Gilda pada anak-anak panti.


Rashia melihat teman-teman Leofric.


"Ah,mereka teman-teman Leofric" Ujar Madam Gilda khawatir membuat semua orang canggung.


"Oh"


Rashia duduk di kursi yang kosong.


"Duduklah,mereka tidak akan memakan kalian"


Rahsia melihat anak-anak panti. Mereka perlahan-lahan mendekat lalu duduk di kursi yang kosong.


Madam Gilda tersenyum.


"Hai... " Ucap Ella.


Ella ingin menyentuh Rashia.


"Jangan menyentuh ku" Tatap.


Ella terkejut, Rashia menatap Leofric.


"Haaaa"


Mereka semua melihat Rashia yang terlihat kesal.

__ADS_1


Mereka pun makan dalam keadaan canggung.


Selesai makan, Rashia dan lainnya membantu Madam Gilda membersihkan meja makan.


__ADS_2