
"Benarkah?" Rashia Terkejut
"Benar Nona, Syukurlah Ada Tuan Exel Dan Tuan Muda Cassius Yang Bisa Merasakan Detak Jantung Nona Yang Masih Berdetak Pelan, Kalau Tidak Kami Mungkin Sudah Mengira Anda Sudah...." Menangis
"Hahaha, Sudah Jangan Menagis. Sekarang Aku Baik-baik Saja" Rashia Menumpuk Pelan Bahu Kelton
Rashia Kembali Ke Kamarnya Bersama Kelton
"Bagaimana Situasi Di Luar?"
"Mereka Semua Sangat Mencemaskan Anda Nona, Apa Lagi Para Pelaut. Mereka Ingin Bertemu Dengan Anda Tapi Di Hentikan Oleh Tuan Muda Cassius Karena Mereka Tak Henti-hentinya Menangis"
Rashia Terkejut Lalu Tertawa
"Rashia" Panggil Dallen Dan Leofric
Rashia Melihat Ke Arah Dallen Dan Semua Orang Yang Melihat Ke Arahnya Dengan Khawatir.
"Hai" Sapa Rashia
Dallen Dan Leofric Berlari Ke Arah Rashia Lalu Memeluknya "Kau Dari Mana Saja?"
Mereka Semua Terkejut
Dallen Dan Leofric Melepaskan Pelukan Mereka "Maaf"
Rashia Tersenyum "Tidak Apa-apa" Rashia Melihat Ke Belakang "Apa Ada Yang Ingin Memeluk Ku Juga?" Senyum.
Mereka Pun Saling Bergantian Memeluk Rashia
"Terima Kasih Atas Bantuan Anda Tuan Exel, Saya Berhutang Budi Pada Kalian Ras Mata Merah" Peluk
"Sama-sama...Saya Bingung Harus Memanggil Anda Dengan Sebutan Apa" Melepaskan Pelukan
"Hmm, Panggil Saja Rashia"
"Saya Tidak Bisa Melakukan Itu"
"Kalau Begitu, Nona Saja"
"Baiklah Kalau Begitu, Jangan Sungkan Meminta Bantuan Kami Nona Rashia"
"Begitu Juga Dengan Kalian, Tuan Exel" Senyum
Rashia Melihat Cassius "Maaf Merepotkan Mu"
__ADS_1
Cassius Menghampiri Rashia Lalu Memeluknya "Jika Bukan Karena Kami Bisa Mendengar Suara Jantung Mu, Mungkin Sekarang Kau Sudah Di Dalam Peti Mati Sekarang"
Plak... Rashia Memukul Punggung Cassius
Mereka Semua Terkejut
Rashia Melepaskan Pelukannya Lalu Menatap Tajam Cassius "Cih"
Mereka Semua Tertawa Kecil
Rashia Melihat Para Beastnya "Nanti Kita Bicara Dan Hanya Kita" Senyum
Mereka Semua Menangguk.
2 Jam Kemudian, Cassius Pamit Kembali Ke Wilayah Nya Dengan Membawa Bangkai Dua Hewan Dan Beberapa Anak Kikker, Untuk Di Teliti Oleh Ras Mata Merah Budislav.
Mereka Kembali Istirahat
Paginya
Rashia Sedang Merencanakan Dan Mulai Menggambar Tata Letak Baru Wilayah Utara
"Nona, Kapal Yang Di Naiki Raja Efraim Dan Duchess Asadel Sudah Terlihat" Ujar Ivy
"Baik, Nona"
"Huftt"
Keempat Beast Rashia Melihat Ke Arahnya
"Kamu Baik-baik Saja?" Tanya Venian
Rashia Melihat Venian Lalu Mengangguk "Bagaimana Dengan Goa Itu?"
"Banyak Harta Karun Di Sana, Tapi Karna Belum Ada Keputusan Darimu. Aku Menutup Goa Itu" Jawab Tome
"Begitu Ya"
Ivy Dan Kedua Pelayan Rashia Saling Memandang.
Rashia Melihat Ivy "Kumpulkan Semua Orang Di Ruang Debat"
"Baik Nona" Ivy Berbalik Pergi
"Hufttt" Rashia Menghembuskan Nafas Kasar
__ADS_1
"Joy" Panggil Ivy
"Selamat Pagi Menjelang Siang Nyonya" Sapa Joy Sambil Membungkuk
Ivy Melihat Obat Yang Di Pegang Joy "Apa Ini Untuk Nona?"
"Iya Benar, Apa Nona Ada Di Dalam?"
Ivy Tersenyum "Masuklah"
"Terima Kasih Nyonya" Menunduk
Ivy Pun Pun Pergi, Joy Masuk
Tok..Tok..Tok..
"Nona" Panggil Joy
Mereka Semua Melihat Joy
"Masuklah Joy" Uajr Rashia
Joy Masuk Lalu Menuduk
"Ada Apa Joy?"
"Ini Obat Buat Nona" Menaruh Dua Botol Obat Di Atas Meja
Rashia Tersenyum "Terima Kasih. Apa Aku Harus Minum Sekarang?"
"Iya Nona, Botol Warna Biru Harus Anda Minum Sekarang Sedangkan Warna Hijau Malam Nanti Sebelum Tidur" Jelas Joy
Rashia Mengangguk
"Ini Agak Sedikit Pahit Nona" Ujar Joy
Rashia Tersenyum Lalu Melihat Kedua Pelayannya.
Zena Mengbil Air Lalu Zola Mengambil Manisan.
Rashia Pun Meminum Obat Botol Warna Biru, Ia Mengerutkan Keningnya. Ia Dengan Cepat Minum Air Lalu Makan Makan Manisan.
"Masih Pahit" Ujar Rashia
Mereka Semua Tertawa Kecil.
__ADS_1