AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS

AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS
150 KOIN EMAS.


__ADS_3

Malam saat Rashia kemabli ke kamar.


"Mia.. Mia"


Rashia membangunkan Mia.


"Hmm"


Mia bangun, Ia duduk sambil mengucek matanya.


"Maaf, aku membangunkan mu"


"Hmm, tidak apa-apa. Ada apa Rashia?"


"Aku ingin bertanya"


"Hm, apa?"


Rashia melihat Phobus.


"Apa kau memiliki kekuatan untuk.... Agar orang tidak bisa mendengar percakapan kita?"


Phobus menggelengkan kepalanya.


"Maaf kekuatan ku belum sampai tahap itu" Menunduk.


"Ah, tidak apa-apa"


"Aku... Bisa" Ujar Laksita yang terbangun.


"Oh, Kucing"


"Hm"


Laksita mengeluarkan kekuatannya.


"Bicaralah" Ujar Laksita.


"Terima kasih" Senyum.


"Hmm" Tidur Lagi.


"Baiklah Mia"


Mia menatap Rashia yang sedang menatapnya dengan serius Clay dan Doyle terbangun.


"Apa kau bisa mengobati penyakit Madam?"


"Oh, kau juga tau" Terkejut.


"Tidak, tapi merasakan"


"Ha?"


"Udah jawab saja, kau bisa?"


Mia mengangguk.


"Benarkah?!!"


"Iya, Aku juga bisa membuat obatnya"


Rashia memeluk Mia,mereka yang terbangun terkejut.


"Bagus, kau terbaik" Tatap.


Mia menunduk karena malu.


"Kau kenapa?" Bingung.


"Ah, kau pasti terkejut karena Aku tiba-tiba memeluk" Melihat Mia.


Mia menggelengkan kepalanya.


"Apa.. Aku keterlaluan, maaf. Sakit ya?" Canggung.


Mia menatap Rashia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau baik-baik saja?" Bingung.


Mia tersenyum sambil mengangguk, ia memeluk lagi Rashia.


"Haaa, ada apa dengan mu? Kau membuatku takut" Menepuk pelan pundak Mia.


"Ini pertama kalinya dia mendengar pujian dan pelukan" Ujar Doyle.


Rashia terkejut.


"Biasanya, kekuatan Mia di manfaatkan lalu... "


"Cukup"


Rashia menatap Mia.


"Dengar aku, Mulai Sekarang Kekuatan Mu Hanya Bisa Di Keluarkan Jika Kamu Menyetujui Nya Bukan Karena Paksaan" Tatap.


Mia mengangguk.


"Walaupun itu di minta oleh KAMI, jika kau tidak mau jangan lakukan OK"


Mia tersenyum dan mengangguk sambil menangis.


"Aish, sudahlah jangan menangis"


"Aku mau mengobati orang jika kau menyuruhnya" Ujar Mia.


"Ha?" Bingung.


"Jika kau yang menyuruhnya, aku tidak akan pernah menolak" Tatap penuh keyakinan.


"Haha ok, ok terima kasih" Canggung.


Mia berdiri, mengambil sebuah buku tebal dari barang-barangnya, lalu Ia kembali lagi duduk di depan Rashia.


Mia membuka buku selembar lagi selembar mencari obat untuk Madam Gilda.


"Ini" Tunjuk Mia pada Rashia, sebuah tanaman berbentuk daun dan juga batu kecil berwarna biru yang bisa menghilangkan racun.


"Ini apa?" Bingung


Rashia menunjuk sebuah Batu.


"Itu inti mana seekor siput langit"


"Siput langit?" Rashia melihat ke atas.


Mereka semua tertawa meliat tingkah Rashia.


"Hahaha, dia bukan di langit" Ujar Doyle.


"Lalu?"


"Tempat siput itu biasanya di ranting pohon tinggi yang sudah tua, karena terlalu tinggi jadi mereka menamakan siput langit" Ujar Clay.


"Aa, begitu. Hahaha aneh"


"Tapi pohon itu di jaga oleh peri"


"Peri??"


"Iya, pohon yang sudah tua itu memiliki peri penjaga"


"Wahhh, di dunia ini ada peri juga" Takjub.


"Itu yang susah" Ujar Doyle.


"Apa? Kenapa?"


"Beast langit bersayap hitam saja susah untuk mencapai ujung pohon untuk mengambil siput itu"


"Kenapa?"


"Para peri memiliki elemen angin jadi... "

__ADS_1


"Ah... Jika memiliki elemen angin, kita juga harus memeiliki elemen angin"


Mereka mengangguk.


"Kalian berisik, tidurlah nanti aku yang akan mengambilnya" Ujar Novika yang kembali tidur.


Mereka semua terkejut lalu saling memandang.


"Baiklah, baiklah mari kita tidur"


Rashia kemabli ke tempat tidurnya lalu memeluk Novika, Laksita mendekat Rashia juga memeluk Laksita.


"Cih"


Novika menendang Laksita.


Sekarang.


Setelah membantu Madam, mereka berkumpul lanjut bernegosiasi tentang wilayah.


Teman-teman Leofric melihat Rashia dan lainnya.


"Mereka lumayan kuat, tapi mereka tidak ada apa-apaanya di banding kan Eurik" Ujar Laksita.


"Lalu bagaimana dengan mu?" Tanya Novika.


"Yang di tengah itu, di agak susah" Menatap Dallen.


"Ouh, sesusah apa?" Tanya Rashia.


"Bukan dia tapi beastnya"


"Ouh"


Rashia melihat Ella yang dari tadi menatapnya sambil tersenyum, Rashia menunduk lalu tersenyum.


"MEREKA SEMUA TERLIHAT CANTIK" Batin Rashia kesal.


Rashia melihat Leofric.


"PANTAS SAJA DIA SANGAT PERCAYA DIRI UNTUK MELAWAN PEROMPAK, JADI DI PUNYA BALA BANTUAN YA" Tatap.


"SEBENARNYA INI BAGUS JUGA SIH, TAPI BERAPA UANG YANG HARUS AKU KELUARKAN UNTUK MEREKA, AISH SIAL" Pusing


"Mereka teman-teman ku" Ujar Leofric


Rashia mengangguk.


"Hai namaku Ella" Berdiri.


Mereka semua terkejut.


"Hmm, Namaku Rashia" Tatap.


"Dia tertua di antara kami, namanya Dallen"


"Setua apa?"


"Apa?!!" Dallen menatap Rashia.


Mereka semua menahan tawa.


"Umur? Berapa?" Tatap.


"Namaku Alhena 11 tahun, Dallen 15 tahun" Berdiri.


"Ouh, ok. Aku 8 tahun"


"INTINYA AKU YANG TUA" Batin Rashia


Teman-teman Leofric tertawa.


"Aku Rey 12 tahun"


"Gib 13" Angkat tangan.


"Mosha 10"


"Gart 14" Senyum.


Brakkkk..... Pintu di dobrak.


Mereka semua terkejut.


Rashia melihat anak-anak.


"Pergi masuk"


Rashia menatap Phobus.


"Pergilah bersama mereka (Mia, Lola dan kedua anak kecil)"


"Apa tapi.. "


"Aku tidak ingin kau mengeluarkan kekuatan mu"


"Kau tau?" Terkejut.


"Tidak, aku merasakannya. Pergi"


Rashia, Doyle, Mort dan Clay juga kedua Beast keluar melihat bersama Leofric dan lainnya.


"Apa-apa kalian" Ujar Madam Gilda.


"Oho, mantan Baronnes" Ujar salah satu pria.


Tiba-tiba seorang wanita masuk dengan pakaian yang glamor.


"Apa dia perempuan penghibur?" Tanya Rashia.


"Apa? Siapa yang bilang... " Menatap Rashia.


"Anak kurang ajar"


Wanita itu berjalan menghampiri Rashia tapi di hadang oleh Leofric, Clay, Doyle dan Mort.


Wanita itu berhenti lalu pria bertubuh besar yang ada di belakangnya maju.


Rashia mengambil sebuah tongkat, lalu mematahkannya.


"Minggir" Ujar Rashia.


"Ahhhkkkkkkkk" Teriak kedua pria itu.


Rashia memukul telur kedua pria itu dengan kuat.


Plak


"Ahk, sakit, ahk"


Plak


"Pergi, dasar wanita gila, pergi sana"


"Ahk, anak ahk, kurang ahjk, yakk"


Rashia menatap Wanita itu.


"Aish" Kesal.


Rashia mengayunkan tongkat dengan kekuatan tapi di tahan Madam.


"Sudah Rashia"


Rashia melepaskan tongkat, lalu mengambil sepatunya dan melempar tepat di kepala wanita itu.


"Ahk" Jatuh.


Mereka semua terkejut, banyak yang berkumpul di depan toko Madam Gilda.


Rashia berbalik lalu menatap Leofric.


"Ayo kita pergi ke wilayah itu"

__ADS_1


Leofric terkejut.


Rashia pergi ke atas.


"Cepat bereskan semuanya" Ujar Rashia.


"Baiklah" Jawab Leofric.


Rashia menuju ke arah kamar, dengan kesal. Teman-teman Leofric terkejut deng sikap Rashia.


"Marahnya sangat menyeramkan" Bisik Gib.


Teman-teman Leofric mengangguk.


"Oh, bagaimana. Kau baik-baik saja? " Tanya Phobus.


Rashia mengangguk sambil tersenyum menahan marah.


"Kita pergi"


"Pergi?"


"Ke wilayah kita" Senyum.


"Kita sudah memiliki wilayah?"


Rashia mengangguk.


Phobus dan lainnya tersenyum bahagia.


"Kita beres-beres"


Phobus mengangguk.


Rashia dan lainnya, membersihkan kamar lalu memasukkan barang mereka ke dalam cincin milik Phobus. Rashia pun turun bersama Phobus dan lainnya.


"Ayo kita pergi" Ujar Leofric.


"Emang kalian sudah... " Melihat dalam toko yang sudah kosong.


"Barang-barangnya mana?"


"Sudah ku masukan dalam cincin"


"Ah.ok" Canggung.


"SEANDAINYA ABAD 21 SEGAMPANG INI, MAIN DI MASUKAN KE DALAM CINCIN TANPA PERLU MERAPIKAN BARANGNYA" Batin Rashia.


Rashia menghampiri wanita itu.


"Bayar"


"Apa?"


"Bayar kataku"


"Kalian.. "


"Apa" Tatap.


"Aku terluka"


"Bersyukurlah, Beast ku tidak membunuhmu"


"Beast?" Terkejut.


Laksita keluar dari ruang tamu dengan wujud besarnya.


Mereka semua terkejut.


"Itu... Itu.... Beast.. Tingkat tinggi" Kata salah satu pria yang bersama wanita itu.


"Cepat bayar" Bentak.


"Be.. Berapa?"


Rashia melihat Madam Gilda.


"Itu... " Madam Gilda bingung.


"150 koin emas" Jawab Leofric tegas.


"APA? Itu sangat banyak" Ujar Wanita itu kaget.


"Cepat berikan"


Rashia melihat Laksita.


Laksita mengerang.


"Uaa, ua, uang ku tidak cukup"


"Berapa yang kau punya?"


"8.. 80"


"Mana?"


"In.. Ni"


Memberikan uang, Rashia mengambil lalu melemparkan pada Eurik.


"Apa yang terjadi di sini? Siapa mereka?" Bisik Mia pada Caly.


"Shtttt, diam dan lihat saja"


Rashia berdiri


"Aish, makan dia saja" Berdiri.


"Tidak tunggu..." Melepaskan kalung dan antingnya


"Ini.. Jika kalian jual bisa dapa 50 koin emas"


Rashia mengambil kalung dan anting wanita itu lalu memberikan pada Leofric.


"Hey masih 20 koin lagi"


"Aku, habis.. " Menangis.


"Beast ku benci orang berbohong"


"Aku.. Aku bersumpah"


"Hey kalian"


Rashia menatap kedua pria yang bersama wanita itu.


"20 koin cepat" Tatap.


"Kami.. Kami tidak... "


Laksita mendekati kedua pria itu.


"Wuaaa.. Ini ambil"


Rashia berdiri sambil tersenyum puas.


"Surat tanahnya" Melihat Leofric.


Leofric menyerahkan surat tanah.


"Ini"


Memberikan surat pada wanita itu.


"Selamat" Senyum.


"Ayo kita pergi"


Semua orang takjub dengan keberanian Rashia.


"CIH, KALIAN MAU MELAWAN KU. KALIAN HARUS HIDUP LAMA SEPERTI DIRIKU, HIDUP DENGAN SUSAH DAN PENUH LUKA SEPERTI DIRIKU, HIDUP DUA KALI SEPERTI DIRIKU DAN DI KHIANATI JUGA SEPERTI DIRIKU" Batin Rashia.

__ADS_1


Mereka pun pergi tanpa melihat kebelakang.


__ADS_2