
Exel masuk ke dalam kamar, Ia sangat terkejut melihat ekspresi Eurik yang khawatir sambil menatap anak perempuan dan kedua hewan beast yang ada di sebelah anak perempuan itu.
"Rashia"
"Kelinci"
"Hey kucing bangun"
Eurik memanggil ketiga temannya.
Eurik menatap Exel.
"Bagaimana.. Bagaimana ini"
"Ekspresi yang tak terbanyangkan pada ras mata merah klan atas" Batin Exel.
"Apa ini karena tuan Cassius sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan manusia dan belum lagi..."
Exel mendekati Eurik.
"Saya akan memberikan ramuan untuk memulihkan tenaga mereka asalkan dengan syarat anda harus ikut dengan saya kembali ke kastil"
"Beraninya kamu memberi syarat padaku" Tatap.
"Anda juga belum bisa mengontrol kekuatan Anda tuan muda"
Eurik terdiam.
"Lihat, Anda hampir saja membunuh mereka dengan aura Anda yang tak beraturan"
Eurik menunduk sambil menatap Rashia dan lainnya.
"Belum lagi anak-anak manusia di ruang sebelah"
"Sial"
Eurik sangat kesal.
"Haa, baiklah"
Eurik menatap Exel.
"Berikan pada mereka semua, dan cari tempat tinggal sementara untuk mereka bertiga"
Exel tersenyum.
"Siap laksanakan"
Exel melihat salah satu prajuritnya.
2 menit kemudian prajurit itu kembali.
"Saya sudah menemukannya jendral"
Eurik dan Exel melihat prajurit yang menemukan tempat tinggal.
"Mari kita pindahkan mereka tuan muda"
Eurik mengangguk.
"Tuan"
Panggil salah satu prajurit.
"Izinkan kami ikut" Ujar Phobus.
Exel terkejut.
"Beast tingkat tinggi, SANG LION PERAK RAJA HUTAN " Batin Exel.
"Tidak" Dingin
"Apa?! Kenapa?"
"Karena aku tidak mau" Tatap.
"Mereka saja ku mohon"
Exel menatap Eurik.
Phobus maju tapi di tahan oleh perajurit.
"Ku mohon Eurik" Tatap.
"Eurik? Siapa Eurik?" Batin Exel bingung.
"Baiklah dengan syarat" Tatap.
"Ha? Tuan muda.. Eurik!?" Batin Exel.
"Baik"
"Lindungi mereka dengan nyawamu"
Eurik menatap Phobus dengan mata merah terangnya.
Phobus terkejut.
"Iblis ras mata merah klan atas" Batin Phobus.
"Baiklah, Aku VENIAN ULVAREN LION PERAK PENGUSAHA HUTAN berjanji akan menjaga Rashia dan kedua beastnya sampai Eurik ras mata merah kembali"
Phobus berubah ke wujud aslinya yaitu seekor singa perak yang besarnya setengah tubuh Exel (tinggi Exel 195).
Eurik turun dari atas kasur.
"CASSIUS VLAD LIONCART" Tatap.
Phobus terkejut.
"Dia keluarga utama" Batin Phobus.
"Ulangi"
"Haa, Baiklah"
"Aku VENIAN ULVAREN LION PERAK PENGUSAHA HUTAN berjanji akan menjaga Rashia dan kedua beastnya dengan nyawaku sampai CASSIUS VLAD LIONCART ras mata merah kembali" Tatap.
__ADS_1
Eurik tersenyum.
"Pindahkan mereka semua" Perintah Eurik.
"Baik"
Mereka pergi ke sebuah rumah yang tak berpenghuni di dalam hutan, rumah itu cukup luas untuk mereka.
Prajurit Exel sudah selesai membersihkan rumah itu, lalu mengalas tempat untuk meletakkan Rashia dan lainnya.
Eurik menatap Rashia.
"Tunggu aku kembali"
Eurik membelai rambut Rashia lalu memberikan gelangnya pada Rashia, Ia juga melihat Laksita dan Novika.
"Mari kita kembali tuan muda"
Eurik berdiri.
Exel memberikan beberapa ramuan pada Phobus.
"Mereka akan bangun besok pagi"
Phobus mengangguk(Kambali ke wujud manusia).
Eurik menatap Phobus.
"Tenang saja, aku akan menjaga mereka"
Eurik mengangguk.
"Kau harus mengatakan siapa dirimu"
"Apa?"
"Rashia, dia terlalu peka dan... "
Eurik melihat Rashia.
"Dia seperti dewa yang maha tau"
Phobus melihat Rashia.
"Ya kau benar"
"Tuan muda"
"Aku pergi"
"Baiklah"
Eurik pun pergi lalu Phobus memberikan ramuan pada Rashia dan lainnya.
Besoknya.
"Ahkkkkkkkkk" Teriak pemilik panti.
"Di mana anak-anak ku"
Ia melihat seluruh ruangan, beberapa perabotan juga menghilang.
Ia pun jatuh pingsan.
Rashia bangun.
"Ahk"
Rashia memegang kepala.
Laksita dan Novika menatap Rashia dan juga anak-anak panti menatap Rashia.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Mia.
Rashia mengangguk.
"Eurik"
Rashia melihat Laksita.
"Eurik pergi" Ujar Laksita.
Rashia terdiam.
"Aa, ternyata itu bukan mimpi" Batin Rashia.
Rashia mendengar suara Eurik yang berpamitan.
"Baiklah"
"Apa?"
Mereka semua bingung sambil menatap Rashia.
"Dia pasti akan kembali"
Rashia melihat Laksita sambil tersenyum.
Rashia melihat sisa warna yang tinggalkan Eurik dan para Ksatrianya.
"Warna putih? Ini bukan putih tapi... " Batin Rashia lalu melihat Phobus.
"Benarkan Phobus" Ujar Rashia sambil tersenyum.
"Haaa... Benar"
Phobus tersenyum kecil.
Mereka semua bingung juga kaget melihat Phobus tersenyum.
Rashia tertawa kecil.
"Tapi, berani-beraninya di pergi tanpa mengucapkan MINTA MAAF"
Rashia mengeluarkan aura membunuh.
Mereka semua terkejut.
__ADS_1
"Huaaa" Tangis Portia.
Mereka semua terkejut.
"Kenapa dia?" Tanya Rashia.
"Itu karena mu" Ujar Novika.
"Aku? Kenapa?"
"Dia ketakutan karena mu" Lanjut Laksita.
"Lihat, Than sampai memeluk Doyle karena takut"
"Emang aku kenapa?"
Rashia bingung.
"Haaaa"
Novika dan Laksita menggelengkan kepala.
"Siapa kau sebenarnya Rashia" Batin Venian/Phobus sambil menatap Rashia.
2 Hari telah berlalu.
Kerajaan Belgium.
Tempat pertemuan anggota keluarga kerajaan.
RAJA EFRAIM IMMANUEL DE BELGIUM, sedang duduk menunggu kedatangan seseorang.
Seseorang masuk.
"Saya kembali Ayah" Menunduk hormat.
"Bagaimana Balder? Apa sudah ada kabar?" Tanya Raja.
"Belum Ayah, kami sudah berpencar mencari Alana di seluruh wilayah kerajaan, tapi.. Kami tidak menemukannya" Jawab Balder sambil menunduk.
BALDER IMMANUEL DE BELGIUM, Putra Mahkota kerajaan Belgium kakak pertama dari Duchess Asadel.
Brakk... Raja memukul meja.
"Dimana mereka menyembunyikan cucuku?" Batin Raja sambil memegang kepalanya.
Balder menunduk juga menahan amarah.
Saat Baru sihir Putri bergetar, itu menandakan Putri masih hidup.
Berita itu sudah tersebar luas di kalangan bangsawan dan rakyat biasa.
"Bagaimana.. Bagaimana kondisi adikmu?" Tanya Raja.
"Dia seperti biasanya Ayah, tetap tenang" Jawab Balder.
"Haaaa... Putriku yang malang" Sedih
Balder menunduk "Saya akan berusaha mencari Alana Ayah" Tatap.
Raja mengangguk, Saat Balder mau keluar Duchess Asadel masuk.
"Cia" Kaget.
Raja berdiri "Putri" Terkejut.
Duchess tersenyum "Sekarang saya seorang Duchess, Yang mulia"
"Saya memberi salam kepada RAJA EFRAIM IMMANUEL DE BELGIUM YANG AGUNG dan Putra Mahkota BALDER IMMANUEL DE BELGIUM" Bungkuk.
Balder tersenyum "Selamat siang Duchess Asadel" Tatap.
"Selamat siang Putra Mahkota" Senyum.
Duchess melihat Raja, Ia pun menghampiri sang Raja lalu memeluknya.
"Jangan terlalu khawatir Ayah, kita pasti akan menemukannya" Memenangkan Raja yang terlihat kesal.
Raja membalas pelukan Duchess "Benar, kita pasti akan menemukannya"
Raja sangat menyayangi Putra Putrinya, ya walaupun Raja sempat memarahi Putri Patricia dan menentang hubungannya dengan Ksatria Edgar Asadel.
Tapi Raja kalah dengan sikap keras kepala Putri Patricia dan juga Putri punya dukungan dari kakaknya Putri pertama PRIYANKA IMMANUEL DE BELGIUM, karena saat itu Putri Priyanka juga menyukai seseorang Ksatria tapi sayangnya Ksatria itu gugur saat melawan monster.
Balder melihat Duchess lalu memalingkan wajahnya.
Duchess melihat Balder.
"Aku baik-baik saja kakak"
"Haaaa"
Balder berbalik.
"Setidaknya kita tau kalau Alana masih hidup" Ujar Duchess sambil menatap Raja.
Rashia duduk di atas pohon bersama kedua beastnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Laksita.
"Kita tidak bisa tinggal di sini terus"
Novika mengangguk.
"Pasti mereka sedang mencari anak-anak itu"
Laksita dan Novika juga berfikir.
"Wah lihat, kak Shia duduk di pohon"
Than melihat ke atas.
"Heyy apa yang kalian lakukan di atas" Teriak Phobus.
Mereka yang ada di atas melihat ke bawah lalu melambaikan tangan sedangkan Novika dan Laksita menggoyangkan ekor.
"Haaa"
__ADS_1
Phobus memegang kepalanya.
"Cepatlah kembali Eurik" Batin Phobus.