
Rey melihat Rashia.
"Apa kau tersenyum?" Kesal
Mereka semua meliahat Rashia, Rashia juag melihat mereka dengan muka polosnya.
"Lalu kau mau aku harus berduka, sedangkan tidak ada yang mati?"
"Kau.." Alhena menatap tajam Rashia
Tiba-tiba angin masuk entah dari mana, angin itu mulai kencang , Lola dan lainya mulai merasakn sakit tapi tidak dengan Phobus dan kedua beast Rashia.
"Hentikan" Rashia menatap Alhena dengan mata kuningya dan aura yang dia keluarkan sampai menagakibatkan awan mendung , tiba-tiba bunyi gemuruh yang mengaggetkan mereka semua.
Mereka menaatap Rashia.
"Berapa banyak kekuatanmu?" Pikir mereka semua.
Angin yang di ciptakan Alhena pun berhenti. Rashia berdiri lalu menatap Leofrik dan lainya
"Berapa harga wilayah itu?" Tanya Rashia dingin.
Mereka semua melihat Rashia.
"Itu...Rashia begini.." Leofrik berdiri.
Rashia menatap Leofrik dengan dingi, Leofrik terkejut.
Laksita melompat ke pelukan Clay sedangkan Novika pergi ke pelukan Lola.
"Aku tanya berapa harga wilayah itu?" Tatap
"200 koin emas" jawan Ella.
"Baiklah, mana suratnya?" Tegas.
Mereka semua terkejut, Clay ingin menghentika Rashia tapi di tahan Lakisita. Clay melihat Laksita, Laksita menggelengkan kepalanya.
"Entah kenapa, aku merasa takut padahal dia hanya manusia" Pikir Laksita.
"Kekuatannya di atasku" Pikir Novika
"Kekuatan mendominasi yang sangat kuat,seperti seorang Raja. Sebenarnya siapa kau Rashia, dari mana asalmu?" Pikir Phobus
"Tunggu Rashia, tolong tenanglah" Ujar Dallen pelan.
"Iya rashia tolng tenanglah" Lanjut Leofrik.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Tanya Rey pada kedua temannya dengan kesal.
"TUTUP MULUTMU" Leofrik menbatap tajam Rey.
Mereka semua terkejut dengan tatapan dan perkataan Leofrik.
Rashia melihat Lola dan lainnya.
"Kalian baik-baik saja?"
"Iya" Jawab Doyle menahan sakit.
"Ayo kita pergi" Rashia berbalik pergi.
"Tidak, tunggu.." Cegah Dallen.
Rashia tetap berjalan pergi di ikuti oleh Clay dan lainya
"Tunggu ku mahon" cegah Dallen menghalangi jalan Rashia.
"Apa yang di lakukan Kak Dallen?" Tanya Alhena.
"Dallen sampai melakukan itu,berarti..." Gart pergi menghampiri Dallen.
"Tolong tenanglah.." Gart juga mencoba menenangkan Rashia.
"Minggir" Rashia menatap dingin Dallen dan Gart.
"Rashia ku mohon, Rashia" Leofrik sampai berlutut di depan Rashia.
""MATANYA BELUM BERUBAH Pikir Laksita.
"KEKUTANYA TIDAK BERATURAN, TANGANNYA DARI TADI GEMETERAN" Pikir Phobus yang memeprhatika Rashia dari belakang.
"Aku tidak perduli berapa banyak atau bagaimana cara kalian menyakitiku. TAPI aku tidak terima jika kalian menyentu orang-orangku" Ujar Rashia menatap tajam Dallen.
Mereka semua terkejut dengan perkataan Rashia. Aura yang di keluarkan Rashia semakin kuat, gemuruh di laur semakin kuat.
"JADI KARENA ITU DALLEN MENGHENTIKANNYA" Pikir Gib.
Alhena dan lainnya pun mengertimengerti, kenapa Dallen menghentikan Rashia pergi, karena DIA BISA DI PERCAYA.
"AKU TIDAL BISA BERNAFAS" Pikir Rashia.
"AKU TIDAK BISA BERGERAK..AKU.. IBU TOLONG"
"ALANA" Teriak Duchess Bangun Dari Tidurnya.
"Cia" Duke Yang Sedang Membaca Terkejut, Duke langsung memeluk Duchess.
"Cia, ada apa?" Duke Menatap Duchess
"Alana, Alanaku" Menangis.
Duke Memeluk Duchess Dengan Erat
"Tenanglah Cia"
Deches Menagis Di Pelukan Duke, Tanganya Juga Gemeteran. Duke Memegang Tangan Duchess.
"Kumohon tenanglah Cia"
Plak.. Phobus membuat Rashia pingsan dengan memukul bagian belakang kepala Rashia , ia pun jatuh pingsan. mereka semua terkejut, Phobus menggendong Rashia.
"Apa yang kau lakaukan?" Tanya Laksita terkejut.
"Baringkan dia di sofa" Ujar Novika
__ADS_1
Phobus mengangguk lalu membaringkan Rashia di sofa.
Mata Novika berubah menjadi warna pink lalu menatap Leofrik dan teman-temannya.
"Biaarkan dia istirahat"
"Apa dia baik-baik sja?" Tanya Leofrik khawatir.
"Dia baik-baik saja" Novika melihat Rashia.
"Kalian semua keluarlah" Ujar Laksitata dalam wujud aslinya.
Mereka semua terkejut melihat wujud besar laksita yang berwarna biru dan bermata hijau.
"Kalian keluarlah, lalu panggilkan Mia kesini"
Laksita meliahat lola
"Itu..Baiklah" Lola ketakutan menjawab.
Lola berlari keluar memanggil Mia,semua orang juga keluar tinggal Phobus yang di dalam memandangi Laksita.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Novika pada Phobus
Novika melihat Laksita yang sedang memandangi Rashia. Novika tersenyum, Mia pun sampai ,ia segera mengobati Rashia tapi tidak bisa.
"Kenapa?" Tanya Laksita.
"Aku tidak tau? tapi menurutku ini bukan sakit"
"Lalu?"
Mia menggelengkan kepalanya.
"Dia memang tidak sakit, dia hanya kelelahan karna aura yang dia keluarkan begitu besar juga kekuatanya yang tidak beraturan. Belum lagi tubuh kecil ini" jelas Novika sambil menatap Rashia.
"Ah, begitu" Laksita melihat tubuh Rashia.
"Benar dia masih sangat kecil, tubuh ini hanya satu kali makan langsung habis itu pun tidak sampai kenyang" Laksita tertawa kecil.
Phobus ikut tertawa melihat Laksita tertawa.
"Sampai Kapan Kau Akan Terus Menatapku?" Tanya Laksita Pada Phobus Sambil Menatapnya Dengan Tajam
Phobus terkejut , Mia dan Novika tertawa kecil.
"Nomong-ngomong.."
Mereka semua melihat Mia
"Ada apa?" Tanya Laksita.
"Itu..aku bisa mendengar suaramu dan kelinci?!" Mia melihat Laksita dan Novika
"Tentu saja, karna aku dalam wujudku seperti ini, dan aku mengijinkan kalian mendengarnya"
"Mataku" Novika menatap Mia.
"Ah, begitu" masih binggung
Mia tersenyum canggung
"Terima kasih"
"Untuk?" Tanya Laksita
"Untuk mengijinkanku me..."
Rashia bangun.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Laksita.
"Hmm" Rashia berusaha membuka matanya.
"Uakkkkk" Teriak Rashia terkejut melihat wujud Laksita.
"Uaaakkkk" Teriak Laksita karna terkejut dengan teriakan Rashia.
Mia, Phobus Dan Novika Terkejut. Saking Terkejutnya Novika Jatuh Dari Sofa.
"Ada apa?" Tanya Clay membuka pintu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Leofrik.
Semua orang yang menunggu di luar masuk ke dalam dengan panik.
Mereka melihat Rashia, Leofrik dan anak-anak panti berlari ke arah Rashia.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Leofrik dan Clay bersamaan.
Rashia mengangguk, lalu ia melihat Laksita.
"Ada apa dengan tubuhmu?"
"Ini wujud asliku, kau seperti tidak pernah melihatnya saja" Kesal.
"Kau mengagetkan ku, Aku hampir saja pingsan lagi"
"Itu lebih baik" kesal
Mereka semua menahan tawa. Rashia mentap tajam Laksita.
"Ahk" Jerit Rashia sambil memegang kepalanya.
"Kamu baik-baik sajaa?" Tanya Mia.
Rashia menggelengkan kepalanya.
"Tenanglah ,jangan terlalu mengeluarkan aura mu" Ujar Novika yang naik lagi.
"Aura?" Rashia binggung.
"Kau tidak tau aura?" Tanya Alhena
Rashia diam dan menatap Alhena dengan dingin, Alhena terkejut, Ia langsung menunduk.
__ADS_1
"Aku mau istirahat" Rashia turun dari sofa.
"Aku akan menggendongmu" Ujar Phobus mendekati Rashia.
Dallen menggendong Rashia.
"Whoaa" Rashia terkejut.
Mereka semua juga terkejut.
"Hey, lepasakan dia. Aku yang akan mengendongnya"
Dallen melihat phobus dengan datar
"Aku saja" Berjalan Pergi.
Mereka semua terdiam, Phobus melihat Dallen dari belakang, inginnya melihat Rashia tapi karna tubuh Rashia kecil ,ia tertutup oleh tubuh Dallen.
"Maafkan aku Eurik" Pelan.
Tempat Latihan Ras Mata Merah.
"Ahchoo" Bersin Cassius/Eurik.
"Tuan muda pertama ,Anda baik-baik saja?" Tanya salah satu prajurit ras mata merah yang berlatih bersama Cassius.
"Iya , aku baik-baik saja" Membersikan Hidung.
"SIAPA YANG SEDANG MEMBICARAKANKU? APA KAH DIA(RASHIA)? APA DIA MERINDUKANKU)?" Pikir cassius yang tersenyum kecil "PASTI DIA MERINDUKANNKU"
Cassius berdiri.
"Ayo kita lataihan lagi"
"Baik" jawab prajurit
"AKU HARUS BERTAMBAH KUAT DAN AHARUS BISA MENGGENDALIKAN KEKUTANKLU AGAR AKU HARUS BISA MELINDUNGI MEREKA DAN AURAKU DAN KEKUTANKU TIDAK MELUKAI DIA, BIKAN MEREKA" Pikir Cassius.
Cassius pergi latihan dengan semangat
Dallen mengantar Rashia di kamar.
"Kau baika-baik saja nak?" Tanya Madam Gilda.
"Saya baik-baik saja Bibi" Senyum
Dallen menurukan Rashia.
"Terima kasih" Rashia meliahat Dallen.
"Sama-sama" Senyum.
"Istirahat lah nak" Ujar Madam Gillda
"Baik Bi, terima kasih" Rashia siap-siap berbaring tapi dia bangun lagi.
"Ada apa nak?"
"Makan malam kita?"
Madam Gilda tersenyum
"Kau tidak usah khawatir, aku akan mengurusnya. tidur lah"
"Baik" Rashia berbaring lagi.
Madam Gilda keluar untuk pergi berbelanja untuk bahan makan malam mereka.
"BEAST" Panggil Rashia pada kedua beastnya lewat pikiran.
Laksita dan Novika pun masuk ke dalam, mereka yang ada di luar melihat Phobus yang ikut masuk ke dalam bersama Laksita dan Novika.
"Mau apa dia?" Tanya Doyle.
"Mungkin Rashia memanggilnya" Jawab Gart
"Tapi aku tidak mendengar suara Rashia memanggil" Bingung.
"Tapi kedua beast....kedua beast masuk ikut.." Gart berfikir.
"Apa yang kau katakan?"
"KEDUA BEAST MASUK!! DIA IKUT..?!" Pikir Gart.
"Hey kau baik-baik saja?" Doyle menatap Gart.
"Ha? iya, aku pergi membantu yang lain" Gart berbalik pergi meninggalkan Doyle
"Ada apa denganya?" Pikir Doyle bingung.
Rashia binggung melihat Phobus.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Rashia
"Kau kan memanggil"
"Iya aku memanggil, tapi..." menatap Phobus.
Phobus tersadarkan, ia pun berbalik pergi.
"Berhenti" Rashia bangun lalu melihat Phobus.
Laksita berubah ke wujud aslinya lalu medekati Phobus. Phobus terkejut, Laksita mengendus mencium bau phobus, Phobus menjauh dari Laksita.
"Apa, Apa yang kau lakukan?" Tanya Phobus gugup.
"Samar-samar, tapi seprtinya memang benar"
"Apa?" Tanya Rashia dan Novika.
"Apa, Apa yang kau katakan?" Phobus gugup.
"Tapi itu tidak mungkin, mereka sudah tidak ada tinggal sisa keturunan mereka itu pun..."
"Apa yang sedang kau bicarakan kucing?" tanya Novika bingung.
__ADS_1