
Mia dan Lola kembali.
Mia memberikan air yang sudah di Mia dan Lola kembali.
Mia Memberikan air yang sudah di panaskan nya pada Rashia.
Mia menaruhnya di atas meja, Rashia mencelupkan roti ke dalam air agar rotinya sedikit lembek agar bisa di makan anak yang sedang di pangkuannya.
"Siapa namanya?" Tanya Rashia sambil menyuapkan roti ke anak yang ada di pangkuannya.
"Than" Jawab Mia.
"Than!?" Tatap.
Mereka mengangguk.
Rashia melihat Laksita.
"Aku tidak tau artinya" Ujar Laksita sambil memalingkan wajahnya.
Rashia tertawa kecil.
"Nama ku Rashia dan ini Laksita" Tatap.
"Namaku Mia"
"Aku sudah tau" Datar.
"Ah iya" Menunduk.
Laksita tertawa.
"Aku Clay, yang tertua di sini dan dia Lola" Menunjuk anak perempuan yang memarahi Mia.
Rashia mengangguk lalu menatap Lola, Laksita juga menatapnya.
Lola menunduk.
"Aku Doyle, dan dia Phobus" Menujuk Phobus yang sedang makan.
"Ouh ok" Mengangguk.
"Dia laki-laki tapi namanya seperti perempuan" Batin Rashia.
"Aku Mort dan dia Portia" Menunjuk anak kecil yang sedang makan dengan lahap.
"Ok" Senyum.
"Berapa umur mu?" Tanya Doyle
"Haa.. 8 tahun" Tatap.
"Kamu satu tahun di bawah ku" Ujar Lola.
"Terus kenapa?" Dingin.
"Ah" Kaget
"Tidak apa-apa" Menunduk.
Rashia menyuapkan roti lagi pada Than.
"Kenyang" Ujar Than.
Rashia tersenyum, Ia membersihkan mulut Than.
Clay dan anak-anak panti tersenyum melihat Rashia.
"Apa dia punya baju yang lain?"
Mereka menggelengkan kepala.
"Kami hanya punya dua pasang baju" Ujar Mia.
"Ya sudah, ambil baju anak ini yang satunya" Jawab Rashia.
"Itu kotor" Ujar Lola.
"Huftt"
Mereka semua menunduk.
"Apa dia Beast?" Tanya Phobus.
"Apa-apaan anak itu, apa dia buta. Apa dia tidak melihat perubahanku tadi" Ujar Laksita marah.
Rashia tertawa.
Mereka menatap Rashia.
Pasar.
Novika berubah menjadi Kelinci
Novika berada di pelukan Eurik.
Novika memberitahu Eurik apa saja yang harus di belinya.
Setelah membeli, Eurik menyimpan pada gelap dimensinya.
"Ternyata kamu punya itu juga" Ujar Novika.
"Tentu saja, aku kan Clan mata merah" Jawab Eurik.
"Hm, baiklah" Kesal.
Leofric mencari Eurik dan Novika.
"Di man mereka"
Ia menelusuri pasar.
Eurik dan Novika sampai di depan toko Madam Gilda.
"Berhenti"
"Kenapa"
Mereka berdua melihat toko Madam Gilda.
"Apa kamu mau beli sesuatu?" Tanya Eurik.
"Baju anak-anak di panti itu... " Berfikir.
"Kita tidak tau ukuran tubuh mereka"
"Benar juga"
"Kita juga kan sudah membeli beberapa kain penghangat, jadi.. "
"Baiklah, ayo kembali"
"Ok"
__ADS_1
Eurik pergi secepat angin.
"Woeeee pelan-pelan sajaaaa" Teriak Novika sambil memegang Eurik sampai menancapkan kukunya di pakaian Eurik.
Eurik tertawa kecil.
Leofric lelah mencari Eurik dan Novika.
"Di mana?" Melihat sekeliling.
"Di mana mereka?"
"Mereka sudah pergi" Ujar Seekor burung yang keluar dari gelang Leofric.
"Pergi kemana mereka?" Tanya Leofric.
Seekor burung kecil bersayap putih hinggap di bahu Leofric.
"Kemana arah mereka Poouli?"
"Tapi kau benar-benar anak mengikuti mereka?"
"Iya"
"Bagaimana dengan ibumu? Sepertinya sakit ibumu kambuh lagi"
Leofric menunduk.
"Tapi jika aku kembali tanpa minta maaf pada mereka ibu akan marah"
"Besok, besok kita cari mereka lagi"
"Tapi... "
"Sebentar lagi malam"
"Baiklah"
Leofric berbalik pergi ke arah rumahnya dengan perasaan gelisah.
Brak... Eurik membuka pintu masuk.
"Oh, kalian kembali" Sapa Rashia.
Eurik menatap Rashia.
"Ya, kami kembali" Tatap
"Ka-mi pul-ang" Ujar Novika pusing.
Rashia mendekati Eurik.
"Kau baik-baik saja kelinci?"
Rashia mengambil kelinci dari pelukan Eurik.
Novika hanya diam sambil menutup mata.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Tatap.
"Dia saja yang lemah"
Eurik berjalan pergi.
"Oi di mana makannya?" Tanya Laksita.
Eurik menujukan gelang merah yang di pakaiannya.
"Di mana anak itu?" Tanya Rashia.
"Ah itu.... "
Eurik melihat Novika.
Novika melompat ke bawah (sudah baikan)
"Nanti juga dia akan kesini"
Novika pergi ke arah kamar.
"Hey, keluarkan dulu pakaian hangatnya" Ujar Novika sambil melihat Eurik.
Eurik melihat Rashia.
Rashia mengangguk.
Eurik mengangguk lalu mengikuti Novika ke kamar.
Eurik mengeluarkan pakaian hangat yang mereka beli tadi di pasar.
Rashia dan Laksita mengikuti mereka berdua.
Novika naik ke atas tempat tidur.
"Tempat tidurnya basah"
"Aku akan menggantinya" Ujar Rashia.
"Aku saja" Jawab Phobus dari belakang mereka.
Eurik menatap Phobus.
"Aku saja" Ujar Mia
Rashia dan ketiga temannya menatap anak-anak panti yang sedang berkumpul di depan kamar mereka.
"Oh,Hai Than" Sapa Rashia sambil tersenyum.
Than bersembunyi di belakang Lola.
Novika tertawa.
"Wajahmu menyeramkan"
Rashia menatap kesal Novika.
Mereka tertawa kecil.
"Te-rima kasih" Ujar Than pelan.
Mereka melihat Than.
Rashia berjongkok, lalu tersenyum.
Rashia berdiri.
"Kalian harus pergi" Ujar Clay.
Rashia dan ketiga temannya menatap Clay.
"Dasar manusia... " Ujar Laksita terhenti.
"Kenapa?" Tanya Rashia.
__ADS_1
"Pemilik panti akan kembali" Jawab Clay.
Rahasia bingung.
"Pemilik panti? Bukannya 2 pria bertubuh besar itu pemilik panti?"
Mereka menggelengkan kepala.
'Hufttt.. Apa dia jahat?" Tanya Rashia.
Mereka diam.
"Ouh jadi jahat ya"
Rashia berfikir sambil melihat Eurik, Novika dan Laksita.
"Kami hanya akan tidur malam ini, besok kami akan pergi" Ujar Rashia melihat anak-anak panti.
"Ah, dan jika kalian masih lapar ini ada makanan"
Rashia melihat Eurik.
Eurik keluar dari kamar lalu pergi ke kamar sebelah, ia mengeluarkan makanan yang di belinya di pasar kecuali makanan Laksita dan Novika.
Anak-anak panti terkejut.
"Makanlah" Ujar Eurik.
Eurik berbalik pergi, kembali lagi ke kamar Rashia dan lainnya.
Rashia pergi ke kamar sebelah.
"Ahk"
Rashia dan Eurik bertabrakan.
"Hahaha, kita bertabrakan lagi"
Eurik hanya tersenyum melihat Rashia.
"Mau apa?"
"Ah ini"
Rashia menunjukkan pakaian hangat yang di bawanya dari kamar sebelah.
"Clay" Panggil Rashia.
Mereka semua melihat Rashia.
"Ambil ini"
Rashia memberikan kain penghangat pada Clay.
"Apa ini cukup?" Tanya Rashia.
Clay mengangguk.
"Kalo masih tidak cukup masih ada... "
"Ini cukup"
Clay menunduk.
Rashia melihat mereka semua yang menunduk.
"Terima kasih" Ujar Clay.
"Hey, hey, hey santai saja. Angkat wajah kalian"
Rashia merasa terbebani.
Mereka mengakat wajah mereka, lalu melihat Rashia sambil tersenyum kecil.
Rashia juga tersenyum.
Mereka pun kembali ke kamar mereka.
Rashia, Laksita dan Novika sudah tertidur, begitu juga anak-anak di kamar sebelah.
Eurik menatap Rashia dengan mata merahnya.
Eurik keluar dari panti.
"Akhirnya kami menemukan anda tuan muda" Ujar seorang pria tinggi yang bermata coklat terang sambil memberi hormat pada Eurik dengan membungkuk 90°
"Kalian hebat juga bisa menembus sihir penghalangku" Tatap.
"Terima kasih atas pujiannya tuan muda"
Eurik kesal.
"Kembalilah"
Eurik berbalik.
"Anda harus ikut kami tuan muda" Tatap.
Mata Eurik berubah menjadi warna mereka terang, lalu berbalik menatap pria yang juga sedang menatapnya.
"Kekuatan tuan muda bertambah" Batin Exel sambil menahan sakit karena aura yang di keluarkan Eurik.
EXEL VLAD GILYDARK, Seorang ksatria dari ras mata merah. Mereka adalah keluarga yang menghasilkan ksatria ras mata merah yang menjaga ras mata merah klan atas.
Para prajurit yang di bawah Exel tidak dapat menahan aura yang dikeluarkan Eurik, mereka jatuh karena menahan sakit.
"Ahk,, aku tidak bisa bernafas" Batin Rashia.
Anak-anak panti juga merasakan sakit bagian dada seperti yang di rasakan para prajurit Exel.
Laksita dan Novika juga kesakitan.
"Ke-lin-ci"
Panggil Rashia yang menahan sakit.
"Hmm, sa-kit"
Laksita merintih kesakitan.
"Rik.. Eu-rik"
Eurik berbalik.
Brak... Eurik membuka pintu kamar.
"Rashia"
Eurik langsung naik ke atas tempat tidur lalu memeluk Rashia.
"Sial"
Rashia, Novika dan Laksita pingsan, begitu juga dengan anak-anak panti.
__ADS_1