AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS

AKU PUTRI DARI SEORANG DUCHESS
RAS MATA MERAH.


__ADS_3

Rashia dan lainnya sedang makan.


Selesai makan.


Rashia sedang duduk di kursi sambil melihat ke arah jendela.


Laksita melompat ke pangkuan Rashia.


"Aku ingin bertanya" Ujaran Laksita.


Rashia tersenyum.


"Apa?"


"Kenapa kau tidak takut pada Eurik?"


"Eurik?!"


"Iya, aku kan sudah bilang dia itu dari bangsa Iblis" Tatap.


Rashia diam sambil berfikir.


Novika melompat ke pangkuan Rashia.


"Ahk" Jerit Laksita karena Novika melompat tempat di kepala Laksita.


Rashia tertawa.


"Maaf" Ujar Novika sambil tersenyum.


"Kau.. " Laksita kesal.


Novika dan Laksita bertengkar, Rashia menghentikan perkelahian mereka sambil tertawa.


Phobus melihat mereka dari jauh.


2 menit kemudian.


Rashia memindahkan Laksita yang tertidur karena lelah bertengkar.


"Rashia ayo kita bicara" Ujar Novika.


Rashia melihat Novika.


"Baiklah"


Rashia meletakkan Laksita dengan pelan lalu Ia pergi keluar bersama Novika.


Novika dan Rashia melihat atas pohon.


"Hufttt, kita tidak bisa naik"


"Benar"


Rashia bisa naik di atas pohon karena bantuan Laksita.


Rashia dan Novika saling memandang.


"Perlu bantuan?" Ujar Phobus yang mendekati mereka.


Rashia dan Novika berbalik ke belakang.


Rashia tersenyum.


"Hm, tolong ya"


Phobus mendekati Rashia.


"Kau tau siapa aku?"


"Tidak"


Rashia tersenyum.


"Kamu sangat menyebalkan"


"Terima kasih atas pujiannya"


Phobus menggendong Rashia sedangkan Novika di peluk Rashia.


Clay melihat mereka.


"Tunggu"


"Kenapa?"


Phobus menatap Rashia.


"Nanti saja"


"Haaa... "


Rashia tertawa kecil.


Shuttt


Shuttt


Phobus naik ke atas dengan dua kali lompatan.


"Dia lebih cepat dari Kucing" Batin Rashia.


Rashia dan Novika duduk lalu Phobus turun kembali.


Rashia menatap Novika.


"Kami ingin menanyakan apa?"


Novika menatap Rashia.


"Siapa kamu?"


"Dari mana asalmu?"


"Kamu memeiliki kekuatan kan? Apa kekuatan mu"


Rashia terkejut.


"Oi oi oi, tanya satu-satu"


"Maaf" Menunduk.


"Aku sangat penasaran karena aku... "


Rashia tersenyum.


"Namaku Rashia Rania. Aku seorang penulis yang meninggal karena kecelakaan"


Novika menatap Rashia.


"Kalo di dunia ini aku tidak tau siapa diriku, terakhir ingatan tubuh ini dia... " Berfikir.


"Lemah, dan.. "


"Seperti sesuatu yang dia ambil secara paksa... "


Novika melihat kedua tangan Rashia gemeteran.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Novika.


"He?"


Novika menatap tangan Rashia, Rashia melihat tangannya.


"Sepertinya itu ingatan yang buruk" Ujar Rashia.


"Ya intinya seperti itu, saat aku bangun aku sudah di hutan"


"Lalu bagaimana dengan mu?"


"Aku Novika Naura, aku meninggal karena sakit" Menunduk.


Rashia mengangguk.


"Berapa umur mu saat meninggal?"


"10 tahun"


Rashia terkejut.


"Kalau begitu, kamu sudah sangat lama di sini"


Novika tersenyum.


"Begitulah"


"Berapa umur mu sekarang?"


"99 tahun" Tatap


"Heeee?" Terkejut.


"Aku tua setahun di atas mu" Ujar Laksita dari belakang.


Novika dan Rashia melihat ke belakang.


"Oh, oh, oh"


Karena bergerak teralu berlebihan Rashia kehilangan keseimbangannya.


"Aaakkkkkkk"


Rashia jatuh.


"Shiaaaaa" Teriak Novika dan Laksita.


Buk...


"Tidak sakit" Batin Rashia.


Rashia membuka matanya.


"Ce-phat ber-dir-i" Ujar Clay yang ada di bawah Rashia.


"Oh"


Rashia kaget, Ia langsung berdiri.


"Rashia kau tidak apa-apa?" Tanya Novika dan Laksita.


Clay berusaha berdiri di bantu oleh Doyle.


"Clay, kamu baik-baik saja?" Tanya Rashia.


Novika dan Laksita saling memandang.


"Clay kamu.. baik-baik saja?" Tanya Novika canggung.


"Rashia kau baik-baik saja?" Tanya Phobus sambil berlari ke arah Rashia.


Rashia melihat Clay.


"Terima kasih" Senyum.


"Sama-sama" Blushing.


"Jadi kalian ada di sini" Ujar Leofric.


Mereka semua melihat Leofric.


"Siapa kamu?" Tanya Phobus


Phobus mengeluarkan warna abu-abu juga perak.


Rashia mendekati Phobus.


"Tenang" Ujar Rashia sambil memegang pundak Phobus


Phobus melihat Rashia.


Leofric melihat sekitar.


"Mereka banyak orang!!" Batin Leofric.


"Lama tidak bertemu" Ujar Rashia.


Leofric melihat Rashia, Ia hanya mengangguk.


"Menyebalkan" Ujar Novika.


Novika masuk ke dalam.


Rashia dan semua orang melihat Novika.


Rashia melihat warna yang di keluarkan Novika.


"Merah hitam" Batin Rashia


Rashia melihat Leofric.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Rashia.


Mereka semua melihat Rashia.


Rashia menatap Leofric.


Leofric menunduk.


"Aku.. Tidak sengaja menyinggung nya" Jawab Leofric.


"Aa.. "


Rashia mendekati Leofric.


Tap... Rashia memegang pundak Leofric.


"Kalo begitu, berhati-hatilah dalam berbicara dan usahakan berfikir dulu" Tatap.


Leofric mengangguk.


"Aura nya... Menakutkan" Batin Leofric.


Beast milik Leofric ketakutan.


Mereka semua tercengang melihat Rashia.

__ADS_1


Rashia berbalik.


"Ok, baiklah"


Mereka semua terkejut.


Rashia melihat semua orang.


"Biasanya kalo di novel atau komik, kita harus mencari sekutu agar dapat bantuan" Batin Rashia.


"Mereka memang lemah, tapi jika di ajarkan pasti bisa"


"Seandainya ada Eurik"


Rashia menunduk.


"Aku juga harus mencari tau tentang ku di kehidupan ini dan.. "


Rashia melihat mereka semua satu persatu.


"Aku juga harus mencari tau arti warna dari mereka"


Laksita menghampiri Rashia.


"Hey, kau baik-baik saja?"


"Ha? Ah ya, aku baik-baik saja" Senyum.


"Dari tadi kau hanya bengong dan melihat kami" Ujar Clay.


"Ah, itu aku sedang berfikir"


Rashia tertawa kecil.


"Sebelum mendapatkan sekutu, aku harus mencari tempat untuk kami tinggal" Batin Rashia.


"Hey, kamu mulai lagi" Ujar Laksita.


"Hehehe maaf, maaf"


Rashia melihat Leofric, lalu tersenyum.


Leofric melihat Rashia dengan senyumnya.


"Persaan ku tidak enak" Batin Leofric.


"Ayo kita pergi ke toko madam Gilda" Ujar Rashia.


"Apa?"


Leofric terkejut.


"Siapa madam Gilda?" Bisik Lola pada Mia.


Mia mengangkat kedua bahunya.


"Ada perlu apa dengan Ibuku?" Tanya Leofric.


"Bisnis, anak kecil tidak boleh ikut campur"


Leofric menatap Rashia dengan datar.


"Kaulah yang anak kecil"


Rashia melihat Leofric yang sedikit lebih tinggi darinya.


"Benar juga"


"Sudahlah ayo kita pergi"


Mereka membereskan barang mereka.


"Hey tunggu" Ujar Leofric.


Novika menatap Leofric dengan tajam.


Leofric dan beastnya ketakutan.


Rashia melihat kearah rumah.


"Eurik" Batin Rashia.


"Ayo pergi" Ujar Laksita.


Rashia berbalik pergi.


WILAYAH FLOCHIRD, wilayah utama klan atas mata merah.


Saat Eurik kembali, Ia berhenti di depan kastil besar tempat di mana ia di lahirkan dan juga di usir secara sepihak.


KASTIL FLOCHIRD, ialah Kastil utama bagian utara klan mata merah. Pemimpin klan atas mata merah ialah VLADAMIR VLAD LIONCART yang tak lain adalah ayah dari CASSIUS VLAD LIONCART atau Eurik.


Yang mengusir Eurik adalah pamannya ELDON VLAD FRASSENG,ia adalah pemilik Kastil bagian timur KASTIL LEIRECKENCE.


WILAYAH LEIRECKENCE, adalah wilayah yang mengurus buruan dan juga makanan dan minuman ras mata merahmerah, mereka sangat hebat dalam berburu.


Cassius masuk ke dalam,langsung menghadapi ayahnya VLADAMIR VLAD LIONCART di ruang kerjanya.


Semua orang yang ada di dalam ruang itu melihat Cassius, beberapa orang menutup hidung mereka.


"Sepertinya kau memiliki banyak teman anakku" Ujar Vladamir.


"Begitulah"


Cassius berjalan ke arah ELDON VLAD FRASSENG, pamannya yang mengusirnya sedang terikat dengan rantai matra kutukan yang hanya bisa di keluarkan oleh keluarga utama.


Cassius berjongkok di depan pamannya.


"Sudah ku bilang, larilah sebelum dia(Ayahnya) bangun" Ujar Cassius.


Vladamir tersenyum kecil.


Saat Cassius di usir, ayahnya VLADAMIR tidak ada. Ia tidur bersama abu istrinya ELLENA VLAD LIONCART yang seorang manusia.


Cassius berdiri lalu melihat ke arah kedua sepupunya anak dari pamannya, DAMIEN VLAD FRASSENG dan THANA VLAD FRASSENG.


Damien dan Thana menunduk memberi salam pada Cassius.


"Selamat datang kembali CASSIUS VLAD LIONCART, putra pertama dari pemimpin klan mata merah VLADAMIR VLAD LIONCART dan calon penerus pemimpin klan mata merah yang tersembunyi"


Cassius tersenyum.


Mereka semua terkejut.


"Angkat wajah kalian"


Damien berlutut di ikuti oleh adiknya Thana.


"Maafkan ayah kami, tidak maafkan keluarga kami"


"Kakak"


"Diam"


"Untuk urusan ayah kalian aku tidak bisa melakukan apa-apa karena itu menjadi urusan pemimpin klan, sedangkan aku masih jadi calon penerus atau mungkin tidak"


"Apa!!"

__ADS_1


Mereka semua terkejut sambil melihat Cassius.


__ADS_2