Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 10 Rencana Pindah Rumah


__ADS_3

Alena berjalan menuruni anak tangga sambil menekuk wajahnya karena masih kesal dengan sikap Daffin. Dia bahkan melewati Ayah dan Bundanya tanpa menyapa ataupun tersenyum. Ayah dan Bunda Alena pun saling pandang saat melihat Alena menekuk wajahnya bahkan mengabaikan mereka berdua.


"Bun, kenapa tu anak kamu?" tanya pak Bisma sambil melirik Alena yang sedang membuka pintu kulkas.


"Gak tau, biasalah mungkin ada keinginanannya yang tidak terkabul," jawab bu Dewi sambil mengangkat bahunya.


Alena langsung duduk di meja makan karena ini sudah waktunya makan malam. Dia lalu mengambil satu centong nasi dan beberapa lauk pauknya.


"Daffin tidak kamu ajak buat makan malam ya, kok belum turun?" tanya bu Dewi sambil menatap kearah anak tangga.


"Biarin saja dia sudah besar Bun, kalau lapar ya cari makan sendiri," jawab Alena dengan nada yang sangat ketus.


"Al, tidak boleh seperti itu dia itu suami kamu, cepat panggil suruh makan malam.!" pinta pak Bisma ngotot.


"Ck, iya-iya," balas Alena berdecak kesal.


Alena pun dengan wajah malas langsung kembali ke kamarnya. Saat dia hendak memegang handle pintu, dari dalam kamar ternyata Daffin juga sedang membuka pintu. Alena yang sedang terburu-buru hendak membuka pintu pun langsung tersungkur kearah depan dan hampir terjatuh, untungnya dengan sigap Daffin langsung menahan Alena dengan tubuhnya.


Bukkk..


"Aduhh," rengek Alena ketika hidungnya terbenam di dada Daffin.


"Alena kamu kok ceroboh banget sih, kalau apa-apa tuh hati-hati.!" celoteh Daffin sambil menahan tubuh Alena.


"Iss, Mas Daffin tuh yang main buka pintu aja, gak lihat aku mau buka pintu apa," gerutu Alena sambil memegang hidungnya.


"Tidak, aku tidak lihat," jawab Daffin sambil menggelengkan kepalanya dan memasang wajah tanpa dosa.


"Ahhh Mas Daffin nyebelin.!!" omel Alena sambil memukul-mukul dada Daffin.


"Aww, aduhh duhh, iya-iya aku minta maaf," ucap Daffin sambil menangkap tangan Alena.


Mata mereka pun bertemu pandang, Alena mengangkat kepalanya menatap wajah Daffin. Begitu pun dengan Daffin yang masih dalam posisi memeluk tubuh Alena. Ini kedua kalinya mereka sedekat ini setelah mereka menikah. Jarak wajah Daffin dan Alena saat ini hanya satu jengkal tangan saja, Daffin tidak tahan melihat bibir ranum Alena yang seksi dan natural itu. Perlahan Daffin pun mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat lagi ke wajahnya Alena.

__ADS_1


Jantung Alena berdegup kencang, baru segitu saja tubuhnya sudah seperti terhipnotis serasa tidak bisa di gerakan. Alena sadar bahwa Daffin mencoba untuk mendekatkan wajahnya, namun tubuh Alena kaku seperti menjadi patung tidak bisa menghindari godaan Daffin.


Saat Daffin sudah hampir mengecup bibir Alena, tiba-tiba saja dari bawah terdengar teriakan bundanya memanggil Alena dan Daffin agar segera turun untuk makan malam.


"Alena cepat suruh suami mu untuk makan malam,!" teriak bu Dewi langsung membuat mereka berdua terkejut.


Plakk


"Aduhh," Sontak Alena pun langsung menampar pelan pipi Daffin hingga membuatnya langsung melepaskan pelukannya.


Alena merasa sangat canggung, dia langsung menundukan wajahnya untuk menyembuyikan rasa malunya. Sedangkan Daffin hanya tertawa kecil sambil berjalan melewati Alena.


"Ayo makan, kamu kesini buat ngajak aku makan malam, kan?" ajak Daffin sambil tersenyum lalu berjalan menuruni anak tangga.


"Alena kamu bodoh banget sih, kalau begini malah kamu yang bakalan jatuh cinta lagi sama dia," batin Alena sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri lalu menyusul Daffin ke ruang makan.


Setelah selesai makan malam, Alena membantu bi Sari untuk membereskan dapur, Sedangkan Daffin dan pak Bisma langsung duduk di ruang keluarga. Mereka bersantai sambil membicarakan hal-hal mengenai pekerjaan. Karena keluarga Daffin dan Alena sudah bersahabat sejak lama, Daffin pun tidak pernah merasa canggung saat mengobrol dengan pak Bisma, tentunya jika tidak membicarakan soal bulan madu. ;D


"O iya saya mau minta izin sama Ayah buat bawa Alena untuk pindah dari sini," ucap Daffin setelah tidak ada lagi pembicaraan lain di antaranya.


"Tidak, saya sudah punya rumah sendiri, saya akan membawa Alena untuk tinggal disana kalau Ayah mengizinkan," jawab Daffin.


"Ayah sih pastinya akan mengizinkannya karena Alena sekarang sudah tanggung jawab kamu, tapi ayah mohon dengan sangat tolong jaga lahir dan batinnya Alena. Dia putri ku satu-satunya, aku merestui kalian berdua untuk menikah karena percaya Nak Daffin pasti bisa membuatnya bahagia. Alena masih belum dewasa tolong bimbing dia agar menjadi istri yang baik. Wataknya memang sangat pemarah dan keras kepala, jadi ayah mohon kamu yang lebih dewasa harus mengalah dan terus membimbingnya." Jelas Pak Bisma panjang lebar.


Daffin termenung sejenak memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut ayah mertuanya. Jika memikirkan tentang masalahnya, Daffin sendiri tidak yakin bisa membuat Alena bahagia. Karena faktanya masih banyak rahasia yang belum dia ceritakan dan tidak tau Alena akan menerimanya atau tidak.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Alena bahagia, Ayah tidak perlu khawatir." balas Daffin disertai senyuman.


"Heeem, ayah percaya dengan Nak Daffin. Kalau begitu Nak Daffin beristirahatlah, hari sudah malam.!" ucap pak Bisma dan langsung di angguki oleh Daffin.


Daffin langsung menaiki anak tangga menuju kamar Alena. Dia masih kepikiran tentang apa yang sudah ia ucapkan tadi. Ya, Daffin khawatir bahwa dia tidak akan bisa membuat Alena bahagia dan akan membuatnya terluka lagi seperti di masa lalu.


"Haish, sepertinya pilihan untuk menikahinya adalah pilihan yang salah," pikir Daffin sambil mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Saat Daffin membuka pintu kamar, terlihat Alena sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan yang sangat tajam sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Daffin terkejut melihat Alena berdiri dengan wajah menyeramkan karena sedang memakai masker coffe di wajahnya.


"Alena kamu membuatku terkejut.! Apa yang ada di wajahmu?" pekik Daffin sambil memegang dadanya.


"Ini perawatan wajah... Kenapa lama sekali??" tanya Alena sambil bertolak pinggang dan mengangkat dagunya menatap Daffin.


"Memangnya kenapa kalau lama? Apa kamu tidak sabar mengingin...."


"Diam.!!" bentak Alena memotong dengan cepat pembicaraan Daffin.


Daffin langsung terdiam, dia bingung memikirkan kapan dia pernah membuat salah. Apa mungkin kejadian sore tadi saat dia mengerjai Alena atau mungkin saat dia hendak mencium Alena. "Wanita memang sangat merepotkan," pikir Daffin.


"Alena aku ngantuk kalau kamu marah-marah terus aku tidak tau dimana letak kesalahanku," ketus Daffin sambil berjalan lalu duduk di tepi ranjang.


"Mas, aku tuh nungguin kamu dari tadi lama banget, tadi kamu ngobrol apa sama ayah?" tanya Alena sambil berdiri di depan Daffin.


"Tidak ada yang penting, aku cuman minta izin buat bawa kamu pindah ke rumahku mulai besok," jawab Daffin lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


"Mas, aku belum selesai bicara!" ketus Alena sambil menarik tangan Daffin agar tidak berbaring.


"Apa lagi sih, Alena? Memangnya tidak bisa bicara sambil rebahan?" tanya Daffin sambil menepuk-nepuk kasur dan tersenyum nakal.


"Malam ini kamu tidur di lantai, Mas!"


"Ogah, kamu aja yang tidur di lantai," balas Daffin lalu kembali tidur dan berbalik memeluk guling.


"Mas, pokoknya aku gak mau tidur di lantai," rengek Alena sambil menggoyang-goyangkan tubuh Daffin.


Daffin pun menjadi kesal dan langsung menarik tubuh Alena lalu menindihnya. Alena ketakutan karena mata Daffin sekilas terlihat sangat buas. Alena hanya dapat memalingkan wajahnya karena takut Daffin akan berbuat sesuatu kepadanya.


"Tenang saja jika kamu patuh aku tidak akan melakukan apa-apa, aku capek jadi cepatlah tidur jangan berisik. Besok pagi cepat beresin semua keperluan kamu." ucap Daffin dengan wajah sangat serius lalu melepaskan Alena dan langsung tidur.


Alena mengelus-ngelus dadanya karena merasa baru selamat dari cengkraman singa jantan. Lain kali dia tidak akan membuat Daffin menjadi marah lagi saat di atas ranjang, karena tatapan mata Daffin tadi seperti bukan Daffin yang dia kenal.

__ADS_1


"Huuft, menakutkan," gumam Alena lalu berbalik membelakangi Daffin.


BERSAMBUNG


__ADS_2