Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 60 Gara-gara handuk (SS2)


__ADS_3

"Akhirnya sampai rumah juga," ucap Alena sambil menghirup udara segar.


Saat ini mereka pulang ke rumah utama keluarga Permana. Dari halaman depan rumah, Alena dan Daffin langsung disambut meriah oleh para pelayan. Didepan pintu pula sudah ada ibu tercinta yang siap memeluk kedatangan anak dan menantunya.


"Mamah!"


Ketika melihat bu Agis yang sudah berkaca-kaca, Daffin pun langsung memeluk erat ibunya. Alena hanya tersenyum haru menunggu giliran untuk dipeluk.


"Kalian berdua sehat, kan?" Tanya bu Agis ketika ingin memeluk Alena.


"Alhamdulillah, kita berdua sehat kok, Mah." Alena langsung membalas pelukan ibu mertuanya. "Maafin kita, ya, Mah. Disaat Mamah butuhin kita, kita malah asik liburan." Sambungnya lagi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting setelah ini tidak lama lagi mamah akan segera menggendong cucu." Ucap bu Agis dengan penuh harapan.


Alena dan Daffin pun langsung saling pandang ketika mendengar kata cucu. Daffin langsung melirik kearah perut Alena, sedangkan Alena dengan sigap langsung menutupi perutnya dengan kedua tangannya.


"Jangankan dapat cucu, buat aja belum." Pikir mereka berdua serempak.


"Mau sampai kapan kita berdiri didepan pintu?" Lagi-lagi Dafka terus berceletuk memecahkan suasana.


"Ya sudah, ayo masuk! Mamah sudah siapkan masakan enak kesukaan kalian." Timpal bu Agis sambil merangkul menantunya.


Mereka pun masuk kedalam rumah tanpa ada yang menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari dalam mobil di tepi jalan.


"Bersantailah kalian, i,m come back!" Gumam seorang wanita sambil memakaikan kacamata hitamnya. "Jalan, Pak!" Sambungnya lagi kepada sopir.


***


Malam harinya, Daffin sedang duduk bersandar diatas kasur. Ia sibuk dengan laptopnya untuk mengerjakan dokumen-dokumen yang sudah menumpuk.


Sedangkan Alena yang baru saja siap mandi menatap Daffin dengan tatapan heran. Dihadapannya saat ini, Daffin yang gila kerja sudah kembali dan Daffin yang humoris sudah tertinggal di pulau Batam sana.


Daffin yang menyadari Alena terus menatapnya dari meja rias langsung melipat laptopnya kemudian ikut menatap Alena dari ujung kepala hingga ujung kaki. Alena pun merasa malu karena Daffin tiba-tiba menatapnya tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


"Kenapa,sih,Mas? Ada yang salah ya sama aku?" Tanya Alena sambil membalikan badannya menghadap cermin.


Saat ini Alena hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya dengan rambut yang tergerai basah. Alena hanya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Dimata Daffin penampilan Alena yang hanya menggunakan handuk membuat libidonya naik turun. Tubuh Alena memang sangat ideal dan montok. Hanya Daffin lah laki-laki yang kuat iman sanggup menahan ***** kepada istrinya sendiri.


"Mas, kamu kenapa, sih?" Tanya Alena lagi karena Daffin masih menatapnya tanpa sepatah katapun.


Daffin pun langsung menyeringai menampakan barisan giginya yang putih. Ia kemudian beranjak dari atas kasur menghampiri sang istri.


"Sini biar aku bantu keringkan rambut kamu." Ucapnya sambil mengambil hairdryer.


Alena tidak menolak tawaran suaminya. Ia pun membiarkan Daffin menyentuh rambut dan kepalanya.


Daffin yang berdiri dibelakang Alena melihat jelas belahan dada istrinya karena posisi Alena yang sedang duduk. Ia pun berkali-kali menelan air liurnya ketika melihat dua belahan bak buah apel segar. Si junior Daffin pun hampir berdiri sempurna, tapi Daffin mencoba untuk menahannya agak tidak disadari oleh Alena.


Alena yang masih sibuk memakai perawatan kecantikannya belum menyadari bahwa wajah Daffin sudah memerah seperti kepiting rebus. Daffin yang tidak fokus terus melirik dada Alena pun membuat hairdryer yang dipenganya mengenai telinga Alena.


"Aww, Panas, Mas!" Sontak Alena pun langsung berdiri dan tidak sengaja menumpahkan handbody yang sedang ia gunakan hingga berceceran di lantai.


"Ehh, maaf, Sayang. Tadi aku melamun." Jawab Daffin segera.


Alena yang tidak sengaja menginjak handbody yang tumpah kelantai langsung terpeleset. Daffin pun dengan sigap langsung meraih tubuh Alena. Namun, ternyata Daffin kurang sigap, saat ia hendak menarik tangan Alena yang ia dapatkan hanya helaian handuk yang tidak sengaja ia tarik. Sedangkan Alena sudah terjatuh ke lantai.


"Aduhh!" Rintih Alena kesakitan karena bokongnya terhantam ke lantai.


Daffin yang masih memegang handuk yang ia tarik semakin tercengang ketika melihat tubuh Alena tanpa sehelai benangpun. Junior Daffin kini semakin tak terkendali, libidonya bukan hanya naik turun, tapi sudah naik hingga ke puncak tertinggi.


Alena masih belum menyadari kalau handuk yang ia pakai sudah terlepas karena ditarik oleh Daffin. "Mas, tega kamu, ya. Sakit tahu, kenapa malah bengong." Bentak Alena.


"Ayo bangun!" Daffin langsung menjulurkan tangannya.


"Kenapa kamu pegang handuk, Mas? Perasaan tadi..." Alena langsung melihat tubuhnya. Sontak ia terkejut bukan main saat melihat tubuhnya sendiri tanpa sehelai benang pun.


"Arghhh, Mas, cepat tutup mata!" Pinta Alena sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan merapatkan kedua kakinya.

__ADS_1


"Tidak, aku sudah terlanjur melihatnya." Daffin menolak untuk menutup mata. Tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuh Alena dan membawanya ke atas kasur.


"Mas, kamu mau apa jangan macam-macam, deh!" Alena terus berontak karena tatapan Daffin sangat mengerikan.


Daffin langsung membaringkan Alena ke atas kasur. Ia langsung menghimpit kaki Alena menggunakan kakinya yang panjang. Tangan kirinya memegangi kedua tangan Alena diatas kepala, sedangkan tangan kanannya membelai leher Alena.


"Aku macam-macam pun memangnya kenapa, kamu istriku." Jawabnya sembari hendak mengecup bibir Alena. Alena dengan sigap langsung memalingkan wajahnya.


"Jangan buat aku takut, Mas." Suara Alena mulai gemetar. Jantungnya berdebar kencang ketika merasakan ada sesuatu yang keras dari balik celana.


"Kamu jangan takut, apa kamu tahu sudah lama aku menahan semua rasa ini. Kamu istriku, apa aku tidak boleh?" Bisik Daffin tepat di telinga Alena.


Alena merasa merinding disekujur tubuhnya. Bukan hanya rasa malu yang ia rasakan, tetapi rasa takut pun terus menjalar karena itu pertama kalinya Daffin terlihat sangat buas.


"Bukannya tidak boleh, Mas. tapi... ahh!" Alena terdesah ketika Daffin tiba-tiba menyentuh ujung area sensitif di dadanya. Karena itu pertama kalinya membuat darah di sekujur tubuh Alena terasa mengalir deras.


"Mas, aku belum siap kalau tiba-tiba seperti ini. Jangan malam ini, ya. Kasih aku waktu untuk mempersiapkan diriku terlebih dahulu."


Daffin menghentikan permainan tangannya. Ia merasa tidak tega ketika melihat Alena yang sudah hampir menangis. Daffin pun melepaskan tangan Alena kemudian menyelimuti tubuh Alena dengan selimut.


"Besok malam, aku beri waktu sampai besok malam. Bagaimana?" Tanya Daffin dengan wajah sedikit kecewa.


Alena pun dengan cepat langsung mengangguk. Daffin pun tersenyum kemudian sekilas mengecup bibir Alena. Ia kemudian beranjak dari kasur lalu mengambil laptopnya dari atas nakas.


"Kamu mau kemana, Mas?" Tanya Alena. Alena sebenarnya takut membuat Daffin jadi marah karena terlihat jelas ada kekecewaan di wajahnya.


"Kamu tidurlah duluan, aku mau memeriksa beberapa dokumen dulu di ruang kerja." Jawab Daffin sedikit datar kemudian berlalu meninggalkan Alena.


Alena menarik napasnya dalam-dalam kemudian membuangnya. Ia merasa lega karena untuk sementara bisa terbebas dari suaminya sendiri. Namun, disisi lain ia merasa bersalah karena sudah membuat suaminya terlihat marah.


"Maafin aku ya, Mas. Aku tadi terlalu takut." Gumam Alena sambil memandang pintu yang baru saja tertutup.


Alena pun langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju ruang ganti untuk memakai baju tidurnya. Kemudian ia kembali keatas kasur dan tertidur lelap.

__ADS_1


Bersambung...


(Next episode: Kembali bekerja)


__ADS_2