
Setelah beberapa menit, Alena tersadar dengan posisi mereka yang sangat canggung itu. Spontan Alena langsung menendang juniornya Daffin hingga membuatnya terjungkal dan kesakitan.
"Arghhh Alena sialan.!!" teriak Daffin kesakitan.
"Rasakan itu," ketus Alena sambil berjalan mengambil bantal dan selimut dari lantai. Alena pun merebahkan tubuhnya ke atas sofa, akhirnya dia mengalah untuk tidak memperebutkan siapa yang akan tidur di kasur. Pasalnya dia hanya malu untuk berdebat lagi dengan Daffin gara-gara hal yang tadi membuatnya merasa sangat canggung.
"Wanita memang sangat merepotkan," gerutu Daffin masih kesakitan dan langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur.
"Coba dari tadi ngalah kan gak ribut dan bisa tidur dari tadi," Omel Daffin sambil memasukan tubuhnya kedalam selimut.
Setelah hari yang panjang dan melelahkan, merekapun akhirnya terlelap dan masuk kedalam mimpi masing-masing. Saat tengah malam Alena meringkukkan tubuhnya dan terus bergerak kekanan dan kekiri Karena merasa tidak nyaman tidur di atas sofa. Daffin pun menyadarinya, dia langsung berdecak kesal dan beranjak dari tempat tidur menghampiri Alena.
"Ck wanita memang benar-benar merepotkan," keluh Daffin sambil menggendong Alena memindahkannya keatas tempat tidur, pada akhirnya merekapun tidur bersama di atas ranjang.
⛅⛅⛅
Ke esokan paginya, Alena terbangun karena sinar matahari pagi sudah menyapanya dari balik jendela. Alena terduduk sambil meregangkan kedua tangannya dan mengucek kedua matanya. Dia sedikit terkejut karena mendapati dirinya terbangun di atas kasur. Padahal seingat dia karena semalam terus saja berdebat Alena memutuskan untuk tidur di sofa, tapi paginya dia malah terbangun di atas kasur.
Alena tidak terlalu memikirkan itu, dia pun beranjak dari atas tempat tidur menuju balkon kamar Daffin. Alena menghirup udara yang sangat segar di pagi hari sambil meregangkan lagi kedua tangannya.
"Huaahh, udaranya bikin rileks," ucap Alena sambil menarik napasnya dalam-dalam.
Daffin yang sudah berpakaian rapi dan sudah selesai sarapan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia meletakkan beberapa pakaian baru di atas nakas yang baru saja dia pesan untuk Alena. Daffin pun menghampiri Alena yang sedang duduk di balkon kamarnya.
"Alena cepat mandi dan sarapan, baju ganti mu sudah aku siapkan. Sambil menunggu kamu bersiap-siap aku pergi kekantor dulu ada yang mau aku urus." jelas Daffin sambil berdiri melipatkan kedua tanganya di dada.
"Emang setelah ini kita mau kemana?" tanya Alena penasaran.
"Ke rumah kamu," jawab Daffin singkat.
Alena pun langsung tersenyum senang saat Daffin mengatakan akan pergi kerumahnya. Dia langsung bergegas ke kamar mandi, sedangkan Daffin pergi ke kantornya.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Alena langsung keluar dan turun menuju dapur. Di sana sudah ada papa dan mamanya Daffin sedang sarapan bersama. Alena pun tersenyum dan langsung menyapa mereka berdua.
"Pagi Paman.!! Pagi Bibi.!!" sapa Alena lalu duduk di samping bu Agis.
"Loh kok masih manggil kita paman dan bibi sih, panggil mama papa dong seperti Daffin," protes pak Bagas disertai senyuman.
Alena hanya mengangguk dan merasa canggung karena tidak biasa memanggil mereka berdua dengan panggilan Papa dan Mama.
__ADS_1
"Daffin pagi-pagi sekali mau pergi kemana??" tanya Pak Bagas disela-sela makannya.
"Mas Daffin bilang katanya ada urusan sebentar di kantornya, Pa," jawab Alena.
"Tadi dia bilang kalau hari ini mau kerumah kamu, kan?" tanya Bu Agis sambil memberikan lauk pauk ke dalam piring Alena.
"Eh biar Alena sendiri aja Ma..... iya tadi Mas Daffin sudah bilang kok Ma," balas Alena sambil meraih sendok lauk dari tangan bu Agis.
"Sukur deh kalau begitu," ucap bu Agis merasa tenang.
Mereka bertiga pun melanjutkan sarapannya dengan serius tidak di selangi dengan obrolan lagi.
🍃🍃🍃
Di sisi lain Daffin yang baru saja sampai di kantornya langsung menuju keruang kerjanya Alvin. Hari ini sebenarnya Daffin tidak bekerja karena cuti selama 2 hari. Namun, Alvin menyuruhnya untuk pergi ke kantor karena ada urusan mendesak, Daffin pun langsung segera menemui Alvin di kantornya.
"Alvin apa yang kamu dapatkan??" tanya Daffin setelah masuk ke dalam ruangan Alvin tanpa mengetuk pintu lagi.
"Aku sudah menemukan keberadaan Serli," jawab Alvin dengan wajah seriusnya.
"Coba aku lihat," Daffin langsung menatap layar laptopnya Alvin. Di sana terlihat foto Serli sedang berlibur bersama seorang pria disebuah pantai di Pulau Batam. Foto itu di ambil oleh seorang paparazzi suruhannya Alvin, angle fotonya tidak jelas dan pria yang bersamanya pun wajahnya tidak terlihat.
"Memangnya apa lagi yang perlu di lakukan? Jangan bilang kamu berpikir bahwa aku akan menyusulnya ke Batam dan memohon penjelasan kepadanya, gitu? Lihat saja dia yang akan mengemis kepada ku dan memohon agar aku mendengarkan penjelasannya," tegas Daffin dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Daffin memang pria yang berhati keras, dia tidak akan peduli jika ada orang yang mengkhianatinya. Justru dia akan membuat orang itu menyesal dan mengemis kata maaf darinya.
"Sudah seperti ini, kenapa tidak akhiri saja hubungan kalian??" Saran Alvin kepada sahabatnya.
"Apa?? Akhiri kamu bilang?? Kalau aku mengakhirinya bagaimana dengan Vivi??"
"Apa kamu yakin Vivi benar-benar darah dagingmu?? Memangnya malam itu kamu benar-benar melakukannya?" tanya Alvin terlihat sangat bingung.
Daffin pun menghela napasnya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia mengingat kembali kejadian 3 tahun yang lalu saat dia terbangun tanpa busana bersama Serli di sebuah kamar Hotel. Daffin tidak pernah ingat bahwa dia pernah melakukannya bersama Serli, yang dia ingat hanya dia terbangun di atas ranjang dengan posisi memeluk tubuh Serli yang sudah tidak memakai baju sehelai pun.
"Fin, kamu itu pintar, tapi kenapa kamu tidak berpikir bahwa malam itu kamu di jebak. Serli membuatmu mabuk dan bahkan memberi mu obat." ucap Alvin menahan emosinya.
"Ya aku tau bahwa aku memang di jebak, tapi aku sudah membuatnya hamil mau bagaimana pun Vivi tetap anakku dan aku harus tanggung jawab," balas Daffin.
"Tes DNA.!" saran Alvin dengan sangat tegas.
__ADS_1
"Apa kamu lupa, saat Vivi lahir aku langsung melakukan tes DNA dan hasilnya 99% dia anakku," jawab Daffin.
Alvin merasa kesal kepada sahabatnya, karena hanya dia yang sangat yakin bahwa Vivi bukanlah darah daging Daffin. Alvin hanya kasian terhadap Alena, tiga tahun lalu dia harus menahan sakit Karena pengkhianatan Daffin. Bahkan 3 tahun kemudian, saat ini Alena harus menanggung lagi rasa sakit itu untuk menjadi perisai bagi pernikahan Daffin.
"Lalu, bagaimana dengan Alena? Sekarang kamu melibatkan dia lagi, kamu akan menyakitinya untuk yang kedua kalinya." tanya Alvin dengan perasaan cemas.
"Tenang saja pernikahan ini hanya sementara, setelah 5 bulan aku akan menceraikannya dan itu sudah kesepakatan kami," balas Daffin.
"Haishh, gara-gara Serli otak mu jadi tumpul," gerutu Alvin sambil menarik rambut Daffin.
"Aww, kau menjambak rambutku!!" pekik Daffin kesakitan.
"Ya agar otakmu sadar bahwa kau terlalu bodoh," ledek Alvin sambil menunjukan wajah geramnya.
"Ck, merepotkan.! Kalau tidak ada urusan lagi aku pergi dulu, biarkan saja dia bersenang-senang untuk beberapa hari ini," ucap Daffin sambil mengusap-ngusap kepalanya lalu berbalik meninggalkan Alvin.
"Kenapa terburu-buru memangnya kamu mau kemana?" tanya Alvin penasaran.
"Bulan madu," jawab Daffin singkat sambil mengangkat tangan dan menunjukan jari tengahnya.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Note: Dilarang Promosi, kecuali tinggalkan..
*Like.
*Komentar sewajarnya tentang isi cerita.
*Rate 5 🌟
*Vote.
__ADS_1
Buat para readers tercinta juga jangan lupa tinggalkan jejak seperti diatas yah!!😊