Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 19 Kabur dari Mata-mata Daffin


__ADS_3

Di sebuah taman di UNJA, terlihat seorang gadis sedang sibuk dengan buku-bukunya. Ya gadis itu adalah Fira salah satu sahabat Alena. Dia sedang duduk menunggu sahabatnya, Adel.


❤Al-fira Khumaira


(Ig: lida_nabila23)



"Ya Allah Adel kemana sih, panas nih." ketus Fira sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan buku.


Saat dia tengah kepanasan, tiba-tiba saja seseorang berdiri menghalangi sinar matahari yang menyorot wajah Fira. Sontak Fira terkejut dan langsung menatap laki-laki itu. Ya siapa lagi tentunya kalau bukan Dafka, laki-laki yang saat ini sedang dia hindari.


"Dafka?? Ngapain kamu disini??" tanya Fira sambil mengalihkan pandangannya.


"Kamu yang ngapain disini, sudah tau panas masih aja duduk disini," balas Dafka masih berdiri didepan Fira.


"Ck, bukan urusan kamu," ketus Fira sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Fira, tunggu!!" teriak Dafka sambil menahan lengan Fira.


Fira menghentikan langkahnya tanpa melihat Dafka yang sedang menahan tangannya. Perasaannya kini menjadi tidak karuan. Fira mengkuatkan hatinya agar tidak menoleh.


"Mau sampai kapan kamu pura-pura pacaran dengan Fahri?" tanya Dafka lirih.


"Hah? Siapa yang pura-pura, aku sama Fahri seriusan kok, kami pacaran dan saling cinta." jelas Fira sambil menepis genggaman tangan Dafka.


"Fir, kamu sadar gak sih, bukan cuman aku yang cemburu saat kamu sama Fahri, tapi asal kamu tau. Tanpa kamu sadari ada sahabat kamu sendiri yang cemburu karena kedekatan kalian." jelas Dafka.


Fira sedikit terkejut mendengar kata-kata Dafka. Dia tidak mengerti apa maksud dari kata-katanya.


"Maksud kamu apa sih??" tanya Fira sambil berbalik menatap Dafka.


Dafka tersenyum senang karena akhirnya Fira berbalik untuk melihatnya.


"Kamu tidak tau kan, kalau sebenarnya Adel sama Fahri itu saling suka, tanpa kamu sadari sedikit demi sedikit kamu sudah nyakitin perasaan Adel." jelas Dafka mencoba untuk membuat Fira percaya.


Fira hanya menyipitkan kedua matanya ketika mendengar penjelasan Dafka. Dia tidak percaya dengan apa yang Dafka katakan. Fira berpikir bahwa Dafka sengaja mengarang cerita agar dia merasa bersalah dan memutuskan hubungannya dengan Fahri. Setelah itu Dafka bisa mendekatinya kembali dengan mudah.


"Dafka, aku bukan anak kecil yang mudah percaya dengan kata-kata kamu itu," ketus Fira sambil mendorong tubuh Dafka lalu berlari meninggalkannya.


"Fira tunggu!! Kamu akan menyesal karena tidak mempercayaiku!" teriak Dafka mencoba untuk meyakinkan Fira lagi.


Namun, Fira tidak mempedulikan teriakan Dafka. Dia hanya terus berlari hingga keluar dari gerbang kampusnya.


"huufft.. Huhh.. Hanya anak kecil yang percaya dengan cerita bodoh mu itu," omel Fira sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Fira akhirnya berjalan tidak tau mau kemana. Awalnya dia sedang menunggu Adelia untuk pergi bersama. Namun pada akhirnya dia pun harus pergi sendiri karena Dafka terus saja mengganggunya.


Fira terus berjalan sambil menundukan wajahnya. Sepasang matanya hanya melihat langkah kakinya yang sedang berjalan sambil menendang-nendang botol plastik. Dia sebenarnya terus kepikiran tentang apa yang dikatakan oleh Dafka. Dia takut kalau kata-katanya itu adalah benar adanya. Jika memang benar, maka ia akan sangat merasa bersalah kepada sahabatnya.


***


Diwaktu yang sama, Alena yang sedang menuju arah pulang terus saja menekuk wajahnya. Kenapa?? Karena kebebasan yang dia pikirkan lenyap begitu saja. Daffin menyiapkan supir sekaligus orang untuk mengawalnya kemana pun dia pergi. Tentu saja Alena benar-benar kesal dibuatnya.

__ADS_1


"Sial banget, kalau begini percuma dia ngasih gue kartu ATM," gumam Alena sambil melirik sinis kedua orang didepannya.


Saat dipersimpangan tepat lampu merah menyala, mobil yang dinaiki Alena pun berhenti. Alena melihat kekanan dan kekiri mencari celah bagaimana caranya dia kabur dari dua orang suruhan suaminya itu. Alena melihat ada toko Ice Cream, seketika itu juga senyumnya langsung merekah.


"Duh mau Ice Cream," ucap Alena memberi kode.


Seketika supir dan bodyguard pun langsung menoleh menatap Alena. Mereka paham apa yang dimaksud oleh majikannya.


"Mbak Alena mau Ice Cream rasa apa? Biar saya belikan," tanya pak Sapri bodyguard yang mengawal Alena.


"Mmm... Rasa vanila dan coklat strowberry," jawab Alena riang.


Pak Sapri pun langsung bergegas keluar dari dalam mobil, ia langsung menuju ke toko ice Cream untuk membeli apa yang Alena pesan. Setelah melihat Pak Sapri pergi, Alena tambah bersemangat untuk mengusir satu orang lagi yaitu pak Jamil sang supir mobil.


Alena memutar otaknya, memikirkan bagaimana caranya mengusir pak Jamil sebelum lampu hijau menyala dan pak Sapri kembali dari membeli Ice Cream.


Tentu saja bukan Alena namanya, jika dia tidak segera menemukan ide. Alena langsung menjentikan jarinya karena baru saja menemukan ide cemerlang.


"Ehh itu jualan apa? Kelihatan enak banget," ucap Alena sambil melihat penjual jajanan di sebrang jalanan.


"Oh itu bakso bakar pedas manis, Mbak. Kalau Mbak Alena mau tunggu Sapri kembali dari beli Ice Cream ya!" balas Pak Jamil.


Seketika saat mendengar kata-kata Pak Jamil, Alena langsung merubah ekspresinya menjadi tidak senang. Pak Jamil pun langsung merasa bersalah, dia juga teringat dengan kata-kata Daffin bahwa harus mengawasi Alena tanpa membuatnya merasa tidak nyaman.


"A-anu Mbak, biar saya belikan," ucap Pak Jamil segera pergi membeli jajanan di sebrang jalan.


Alena langsung tersenyum lebar, dia langsung mengubah posisi duduknya dari kursi belakang ke kursi kemudi. Alena sangat geram menunggu lampu merah yang tak kunjung berubah menjadi hijau. Dia takut kalau kedua orang yang dia usir akan segera kembali dan rencana kaburnya akan gagal.


Tidak menunggu lama lagi lampu kuning menyala dan berganti hijau. Alena langsung melancarkan aksinya untuk kabur membawa mobil sendiri. Dari belakang terlihat pak Sapri dan pak Jamil berlari-lari dan berteriak memanggil namanya. Namun, tentu saja Alena tidak akan mempedulikannya.


"Dadahhh!!"


Dengan santai Alena melambai-lambaikan tangannya dari jendela mobil. Dia tertawa puas karena akhirnya bisa bebas dari mata-mata Daffin.


"Yes! Bisa juga kabur dari mereka. Duh aku kemana nih? Gara-gara takut terkejar aku jadi asal belok."


Alena bingung karena belum tau jalan mana yang sedang ia lalui saat ini. Dia terus saja mengemudi lurus mengikuti jalanan yang sangat ramai itu. Sebenarnya ia sedikit gugup karena baru kali itu mengemudi mobil sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun.


"Ehh aku sampai nyasar ke Universitas UNJA," gumam Alena sambil membaca tulisan besar disebuah gerbang kampus.


Alena terus berjalan lurus sambil berpikir ada bagusnya juga jika dia melanjutkan sekolahnya di Universitas UNJA. Selain kampusnya yang terlihat bagus lokasinya juga sangat jauh dari kantor suaminya yang resek itu.


Tidak jauh dari kampus, terlihat seseorang sedang duduk di kursi didekat taman. Tentu saja Alena sangat mengenal siapa orang itu.


"Benar-benar keberuntungan ku," pikir Alena sambil memberhentikan mobilnya tepat didepan orang yang ia kenal.


Tiitttt tiiittttt...


Alena langsung membuka kaca mobil dan mulai bergaya seperti seorang pria.


"Halo gadis cantik sendirian saja ni? Mau ikut Abang tidak??" ledek Alena dengan suara yang dibesar-besarkan layaknya pria dewasa.


"Huahahaha Alena!!" teriak Fira langsung berjingkrak menghampiri Alena.

__ADS_1


"Lo ngapain sih duduk gak jelas disitu kayak lagi nungguin Om-om tau!" ledek Alena lagi sambil mencubit kedua pipi Fira.


"Auchh, sakit tau," rintih Fira sambil mengelus-ngelus kedua pipinya.


Tanpa menunggu lagi, Fira langsung masuk kedalam mobil Alena. Alena pun membiarkannya karena memang itu niat dia memberhentikan mobilnya agar Fira menemaninya jalan-jalan.


"Gila lo, Al. Gak salah nih nyetir sendiri nanti kena tilang polisi gimana coba?" ucap Fira terlihat khawatir.


"Ya gak lah, kalau kita lewat jalanan sepi, hehe." jawab Alena dengan wajah tanpa dosanya.


"Oke, kalau gitu nanti didepan belok kiri. Kita lewat perumahan Kencana disitu sepi dan aman dari polisi." ucap Fira.


"Asiaapp," balas Alena sangat bersemangat.


Sampai di persimpangan, seperti yang diarahkan Fira, Alena langsung belok kearah kiri. Benar saja jalanan menuju Perumahan Kencana sedikit sepi dari kendaraan. Apalagi setelah sampai di perumahannya lebih sepi lagi dari kendaraan.


"Fir, BTW tadi lo ngapain duduk sendiri sambil melamun, lagi mikirin apa sih? Banyak hutang ya?" tanya Alena sedikit meledek.


"Apaan sih Alena, sembarangan aja gue mana ada hutang." ketus Fira sambil mencubit lengan Alena.


"Haha, terus kenapa dong??" tanya Alena lagi penasaran.


"Tadi gue lagi berpikir... Gue mau akhiri hubungan gue dengan Fahri," jawab Fira sedikit lirih.


"What?? Kenapa Fir kalian ada masalah, masalah kan bisa di selesaikan dulu jangan asal main putus aja," ucap Alena sangat terkejut sambil melotot menatap Fira.


"Gue bingung Al, gue takut nyakitin hati seseorang."


Fira terlihat sangat bingung, dia menundukan wajahnya karena takut terlihat bahwa kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca. Alena yang mengetahuinya terlihat sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Fira, mending lo ceritain semua masalahnya biar nanti gue..."


Braakkkkkk


Belum selesai Alena bicara tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan sesuatu yang baru saja Alena tabrak.


"Alena, ki-kita nabrak apa barusan??" tanya Fira sangat gugup karena takut menabrak seseorang.


"Gue gak tau, tadi gue fo-fokus lihatin lo terus,"


Keringat mulai bercucuran dari pelipis mereka berdua. Mereka tidak berani untuk melihat apa yang baru saja mereka tabrak. Keadaan jalanan memang sangat sepi, mereka berhenti tepat didepan sebuah rumah dengan pagar besi yang masih tertutup.


"Alena, ayo kita lihat, berdoa saja semoga kita cuman nabrak hewan." ajak Fira sambil perlahan membuka pintu mobil.


"Lo aja yang lihat ya, walau hewan gue takut lihat darah,"


"Oke lo tunggu didalam!"


Fira keluar dari dalam mobil untuk memastikan apa yang baru saja mereka tabrak. Perlahan Fira berjalan menuju arah depan mobil sambil memejamkan kedua matanya. Ketika sampai didepan mobil Fira perlahan membuka kedua matanya dan seketika itu juga kedua matanya langsung terbelalak ketika melihat apa yang baru saja mereka tabrak.


"Ya Allah Astagfirullah Alena!! Kita nabrak anak kecil!!" teriak Fira sambil menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2