Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 53 Kemenangan


__ADS_3

Bukk...


Haikal melayangkan tinjunya diwajah Hendra saat ia lengah. Hendra pun kesakitan dan langsung membalas pukulannya. Namun, dengan cepat Haikal langsung mengelak dan memindah posisinya berada didepan Daffin.


Haikal langsung menodongkan sebuah senjata api kearah Hendra. Sedangkan anak buah lainnya sedang bertarung melawan para anak buah Hendra.


"Daffin, apa kau sudah melepaskan talinya. Kalau sudah sebaiknya cepat pergi." bisik Haikal memperingati Daffin.


"Tapi, bukannya dibawah kita sudah dikepung?" tanya Daffin ragu.


"Hihi, siapa yang mengepung siapa? Percayalah kepadaku, aku sudah mengatur semuanya. Dibawah sudah ada Alvin yang akan membawa kalian pergi. Serahkan yang disini kepadaku." jelas Haikal.


Tanpa banyak bertanya lagi, Daffin pun pergi dari ruangan itu sambil membawa kedua orangtuanya. Keadaannya semakin rumit, untuk saat ini membawa orangtuanya ke tempat aman itu yang lebih penting.


"Daffin, bagaimana dengan lukamu?" tanya bu Agis mengkhawatirkan putranya.


"Jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa." jawabnya sambil menahan sakit.


Setelah susah payah menuruni anak tangga akhirnya mereka lolos dari anak buahnya Hendra. Diluar rumah sudah ada polisi yang sedang mengurus para anak buah Hendra.


Polisi kerepotan menangani mereka kerena tidak ada yang mau menyerah dan terus melakukan perlawanan. Polisi berkali-kali menembakkan peluru ke langit guna memberikan peringatan. Tentu saja bukan anak buah Hendra jika merasa takut dengan peringatan tersebut.


Polisi pun terpaksa menembak kaki mereka dengan peluru karet untuk melumpuhkannya. Namun, karena banyaknya jumlah anak buah Hendra, polisi pun terus kewalahan menangkap mereka semua.


Daffin langsung memapah kedua orangtuanya menuju mobil yang sudah disiapkan. Disana sudah ada Alvin yang siap membawa mereka ke tempat yang aman.


"Tolong bawa kedua orangtuaku ke tempat yang aman, Vin!" pinta Daffin sambil memasukan kedua orangtuanya kedalam mobil.


"Kau juga ikut!" balas Alvin. "Tidak, aku akan membantu Haikal. Kau pergilah!" sambung Daffin sembari menutup pintu mobil.


"Tapi kau sedang terluka,"


"Tidak masalah." jawab Daffin cepat.


Alvin pun terpaksa hanya membawa kedua orangtua Daffin ke tempat yang aman. Sedangkan Daffin, dia kembali ke lantai atas untuk membantu Haikal membereskan pamannya.


"Alvin, hentikan mobilnya!" Pak Bagas tiba-tiba saja meminta Alvin agar menghentikan mobilnya. Alvin terkejut dan tidak mengikuti perintah pak Bagas. Namun, pak Bagas menjadi sangat marah saat Alvin tidak mengindahkan perintahnya.


"Alvin, jika kau tidak menghentikan mobilnya maka aku akan loncat!" Ancam pak Bagas sambil bersiap membuka pintu.


Walau tidak mungkin pak Bagas bisa loncat dari pintu mobil yang terkunci, tapi perkataannya membuat Alvin menjadi kesal. Secara tiba-tiba, Alvin pun langsung menginjak rem dan langsung menghentikan mobilnya.


"Sebenarnya apa yang paman inginkan?" tanya Alvin dengan nada tinggi.


"Aku ingin membantu anakku," jawab Pak Bagas dengan sangat antusias.


"Paman! Kau itu ingin membantu Daffin atau malah ingin merepotkannya?" tanya Alvin lagi semakin kesal.


Pak Bagas langsung terdiam saat mendengar pertanyaan Alvin. Memang benar apa yang dikatakan Alvin. Dengan kondisi pak Bagas yang lemah jantung saat ini hanya akan membuat Daffin kerepotan untuk melindunginya.

__ADS_1


Orangtua mana yang tidak merasa khawatir saat anaknya sedang bertarung, sedangkan dia berada di tempat yang aman. Tentu saja pak Bagas juga ingin membantu anaknya. Apalagi musuhnya adalah musuh bebuyutan pak Bagas.


"Paman, sebaiknya kita ikuti saja apa yang dikatakan Daffin. Percayakan semua kepadanya, dia tidak sendiri jadi jangan terlalu mengkhawatirkannya." jelas Alvin sembari menginjak pedal gas dan kembali melaju ke tempat tujuan.


Disisi lain, Daffin yang sedang melawan anak buah Hendra merasa sangat kelelahan. Luka diperut yang membuatnya tidak bebas bergerak. Bertarung sambil menahan sakit membuat Daffin merasa sangat kerepotan melawan mereka semua. Walau bala bantuan sudah datang untuk menolong. Namun, jumlah musuh yang lebih banyak membuat Daffin dan yang lainnya terus kewalahan.


Daffin berjongkok menopang tubuhnya yang semakin melemah. Napasnya semakin memburu tidak karuan. Saat Daffin lengah tiba-tiba dari belakang salah satu anak buah Hendra mengayunkan senjata tajam kearah punggungnya. Daffin sudah menyadarinya, tetapi karena tubuhnya yang melemah akhirnya dia tidak sempat untuk mengelak lagi.


"Ughh," Daffin pun pasrah jika dia harus di tikam dari belakang.


Dorr..


Peluru tepat sasaran mengenai punggung pria yang hendak menikam Daffin. Daffin pun akhirnya selamat dari maut yang hendak menjemputnya.


"Kau tidak apa-apa??" tanya Erick. Dia adalah orang yang baru saja menyelamatkan nyawa Daffin.


"Erick, kenapa kau kemari?" tanya Daffin terduduk lemas.


Erick tidak menjawab pertanyaannya dan langsung saja membantu Daffin berdiri membawanya ke tempat yang aman.


"Kau sudah terluka parah lebih baik istirahat disini. Biar aku yang membantu Haikal." ucap Erick dengan wajah datarnya.


"Maafkan aku!" lirih Daffin merasa bersalah atas kejadian yang menimpa nenek dan adiknya Erick.


Erick hanya diam kemudian berlalu meninggalkan Daffin sendiri. Daffin benar-benar sangat merasa bersalah karena tidak bisa melindungi orang berharganya Erick. Padahal Erick sudah membantunya hingga saat ini, tetapi Daffin malah tidak bisa menjaga keluarganya.


"Bos, ada kabar baik." ucap salah satu anak buah Daffin dari balik earphone.


"Adik Manager Erick berhasil diselamatkan. Namun, karena kami terlambat membawa mereka ke Rumah Sakit, Dokter tidak bisa menyelamatkan seorang nenek yang bersama anak tersebut." jelasnya.


"Syukurlah, setidaknya Erick tidak akan sendirian dalam hidupnya." balas Daffin merasa sangat lega.


Setelah luka diperutnya tidak mengeluarkan darah lagi, Daffin pun berjalan mencari yang lainnya. Masalah ini adalah masalah keluarganya, itulah yang membuat Daffin tidak bisa hanya berdiam diri disaat teman-temannya sedang bertarung.


Saat Daffin keluar dari sebuah ruangan, terlihat Hendra tunggang langgang berlari menuruni anak tangga. Tubuhnya sudah penuh dengan luka memar dan sayatan pisau. Sepertinya Haikal dan Erick berhasil memojokan pamannya yang sangat berhati kejam itu.


"Mau lari kemana kau?" teriak Haikal penuh dengan amarah.


Hendra terus berlari mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Daffin yang melihat pamannya ingin melarikan diripun langsung berjalan menghalangi langkah kakinya.


"Sebaiknya kau menyerah saja, Paman!" ucap Daffin sambil mengarahkan senjata api kearah Hendra.


Hendra pun merasa benar-benar terpojok. Dari arah anak tangga sudah ada Haikal yang juga siap untuk membidiknya. Sedangkan dibelakangnya Erick dengan penuh amarah siap melemparkan senjata tajam kearah punggungnya.


"Sial, apa aku sudah kalah?" batin Hendra sangat panik.


Dia melihat kearah luar. Terlihat dari pintu sebagian para anak buahnya banyak yang sudah dibekukan oleh para polisi. Sedangkan yang lainnya lebih memilih menyerah ketimbang harus ditembak lumpuh.


"Kalau aku harus kalah setidaknya kau harus mati!" teriak Hendra sambil menarik pelatuk pistolnya untuk membidik jantung Daffin.

__ADS_1


Dorr...


"Bangs*t!" teriak Erick sambil melempar pisau kearah tangan Hendra.


Beruntung Haikal dengan cepat mengacaukan tangan Hendra sehingga membuat peluru meleset kearah perut sebelah kiri Daffin.


Walau peluru berhasil meleset, tetapi tetap saja membuat perut Daffin kembali mengeluarkan darah. Akhirnya kali ini Daffin benar-benar melemah hingga membuatnya kehilangan kesadaran.


Erick dengan cepat langsung meringkus Hendra. Sedangkan Haikal langsung menghampiri Daffin yang sudah tergeletak dilantai.


"Cepat panggil Ambulance!" teriak Haikal kepada siapapun yang mendengarnya.


"Apa yang terjadi kepada putraku?" teriak pak Bagas yang tiba-tiba kembali.


"Maaf aku tidak bisa mencegahnya untuk tidak kembali," ucap Alvin merasa bersalah. "Apa yang terjadi?" tanya Alvin setelah melihat Daffin tidak sadarkan diri.


"Jangan banyak bertanya cepat bawa dia ke Rumah Sakit." ucap Haikal dan Alvin pun langsung membantu Haikal untuk membawa Daffi kedalam mobil.


Hendra sudah diamankan oleh para polisi. Saat hendak masuk kedalam mobil, dia menolak untuk masuk dan langsung berlari menghampiri pak Bagas.


"Bagas, aku akui lagi kemenanganmu." ucapnya dengan tatapan tajam.


"Jika hatimu tidak dibutakan oleh balas dendam, maka aku dengan senang hati berdamai denganmu." balas pak Bagas datar.


"Hahaha, kau sungguh munafik. Walau kau bersikap baik bukan berarti tidak ada yang tau bahwa kau juga seorang pembunuh." ucap Hendra kesal.


Pak Bagas pun langsung terdiam. Dia memang tidak bisa menyangkal bahwa dia juga pernah membunuh seseorang. Selama ini dia terus bersembunyi dan terus dihantui rasa bersalah. Mungkin saat inilah waktunya yang jahat akan membayar kejahatan yang telah mereka perbuat.


"Pak Polisi, jika aku harus dihukum mati setidaknya bawa dia kepenjara juga. Dia adalah orang yang sudah membunuh istriku 10 tahun yang lalu." jelas Hendra kepada polisi.


"Maaf, Pak Bagas. Apa yang dikatakannya itu benar?" tanya Polisi tidak percaya.


Pak Bagas pun terdiam kemudian mengangguk tanda mengakui semua kesalahannya. Demi hukum dan keadilan polisi pun ikut serta membawa pak Bagas menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan selengkap mungkin.


Masalahpun terselesaikan, gara-gara perbuatan Hendra banyak korban yang berjatuhan. Para anak buah Hendra yang terlukapun terlebih dahulu dibawa ke Rumah Sakit sebelum mereka dimasukkan kedalam penjara.


Kemenangan berada ditangan keluarga Daffin. Walau ayahnya dibawa kekantor polisi, setidaknya masalah dapat terselesaikan dalam waktu satu malam ini.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


Yang masih bingung kapan pak Bagas bunuh istri Hendra. silahkan baca ulang eps 47. Kejadian dimasa lalu.

__ADS_1


Seperti biasa yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak kalian untuk penyemangat author ya!!☺


__ADS_2