
Sepuluh menit sudah berlalu orang yang ditunggu masih juga belum datang. Serli ketakutan bukan main, jika Daffin tidak juga segera datang takutnya nyawa Alena tidak tertolong lagi dan dia bisa jadi tersangka.
"Alena, ada bagusnya juga kalau kamu mati karena sejak dulu aku sangat muak dengan mu. kamu punya segalanya harta,orang tua dan bahkan bisa mendapatkan cinta Daffin." pikir Serli saat melihat Alena tidak sadarkan diri.
"Tidak... kalau Alena mati aku bisa-bisa jadi tersangka. jika dia masih hidup setidaknya dia bisa membela ku kalau seandainya kejadian ini menjadi kasus. Ck Mas Daffin lama banget, aku tidak bisa menunggu lagi," ucap Serli sambil berlari mencari pertolongan.
Serli berlari keluar dari tangga darurat. Dia mencari Dokter atau siapa pun yang bisa ia mintai pertolongan.
"Dokter!! Suster!! Siapa pun itu tolong!!" teriak Serli sambil berlari di koridor Rumah Sakit.
"Ada apa, Mbak??" tanya seseorang yang sedang duduk di Koridor Rumah Sakit.
"Tolong!! ada orang yang jatuh dari tangga lantai tiga," jawab Serli sambil menunjuk kearah menuju tangga.
Orang-orang yang mendengarnya langsung terkejut. Mereka langsung mengikuti Serli saat akan menunjukan keadaan Alena. Salah satu dari mereka ada yang memanggil Dokter.
"Ya Allah kondisinya parah sekali," gumam orang-orang yang melihat keadaan Alena.
"Kasian sekali ya, kenapa dia bisa jatuh dari tangga??" tanya orang-orang lagi saling bertanya satu sama lain.
Tidak menunggu lama lagi beberapa perawat datang sambil membawa brankar. Alena diangkat dan dibaringkan di atas berankar. Saat para perawat membawa Alena ke ruang IGD, Daffin datang dan berpapasan dengan Alena yang sedang terbaring dengan bersimbah darah.
Daffin kaget setengah mati, baru saja dia tenang dengan kondisi Vivi yang sudah melewati masa kritis. Sekarang malah istrinya sendiri yang mengalami kejadian yang sangat tragis.
"Apa-apaan ini... Kenapa bisa seperti ini... Alena apa yang terjadi kepada mu?? Tadi kamu baik-baik saja... Aku hanya pergi sebentar dan sekarang kamu seperti ini... Alena bangun!!"
Daffin benar-benar panik melihat kondisi Alena yang tak sadarkan diri dan penuh dengan darah. Dia terus mengikuti perawat sampai ke ruang IGD. Namun, para perawat itu melarang Daffin untuk masuk dan menyuruhnya menunggu di luar ruangan.
"Maaf, Pak. Silahkan anda menunggu di luar!" pinta seorang Suster.
"Tidak bisa, Sus. Istri saya belum bangun saya mau melihatnya!" pekik Daffin mencoba untuk menerobos masuk.
"Tidak bisa, Pak! Jika anda peduli dengan istri anda, maka biarkan kami segera menanganinya!" balas salah satu Suster lalu segera menutup pintu IGD.
"Haishh Sial!! Kenapa bisa seperti ini!" keluh Daffin sambil mengusap rambutnya dengan kasar.
Daffin benar-benar kesal dengan dirinya sendiri. Sejak awal dia menyesal kenapa membiarkannya pulang sendiri. Jika dia mengantarnya sendiri mungkin tidak akan pernah jadi seperti ini.
Daffin merasa sangat setres, dia berjalan gontai menjauh dari ruang IGD dan duduk disebuah kursi dikoridor Rumah Sakit.
"Mas... Mas Daffin??" panggil Serli dengan sangat hati-hati.
Daffin sedikit terkejut, dia sampai lupa bahwa Serli sudah kembali dan ada di Rumah Sakit. Bahkan dia yang menjawab telepon darinya saat menelepon Alena.
"Apa yang sebenarnya terjadi... Kau ada di tempat kejadian bukan?" tanya Daffin tanpa menatap Serli.
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat peduli padanya, dan tadi kamu bilang dia istri kamu, itu bohong kan, Mas??" tanya Serli mencoba untuk tenang.
"Ya, Alena adalah istriku." jawab Daffin dengan ekspresi datar.
"Mas, aku tau kamu marah sama aku, tapi kamu enggak bisa begitu lah, Mas!" protes Serli tidak bisa menerima kenyataan bahwa Daffin sudah menikah dengan Alena.
"Apa hak kamu??" tanya Daffin dengan ekspresi yang masih datar.
"Aku..."
Serli terdiam tidak dapat menjawab pertanyaan Daffin. Sejak awal ini memang salahnya yang sudah tidak datang dihari pernikahannya sendiri. Daffin juga sudah tidak ingin marah lagi. Disisi lain dia sangat berterimakasih jika memang tidak menikah dengan Serli.
"Mas, aku ini ibu dari anak kamu. Kamu seharusnya menikah dengan ku tidak boleh menikah dengan orang lain." sambung Serli dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
Emosi Daffin mulai memuncak saat Serli berkata seperti itu. Seolah-olah dia yang salah karena tidak menikahi Serli. Daffin mengepalkan kedua tangannya menahan emosi di dalam hatinya.
"Serli, aku sedang tidak ingin berbicara denganmu. Sekarang kau lebih baik pergi atau aku benar-benar akan meluapkan amarah ku! dan satu hal lagi bukan aku yang tidak ingin menikahimu, tapi kamu sendiri yang pergi." ucap Daffin masih tanpa menatap Serli.
"Mas, aku benar-benar minta maaf. Semuanya memang salahku karena tidak datang dihari pernikahan kita, tapi aku punya alasan, Mas!" isak Serli sambil terduduk dihadapan Daffin.
"Ini yang terakhirnya kalinya aku katakan padamu, pergi atau aku benar-benar akan marah padamu!" gertak Daffin sambil berdiri dari duduknya.
Tatapan mata Daffin benar-benar tajam seperti mau membunuh. Perasaannya saat ini campur aduk, mulai dari Vivi yang tertabrak mobil, dan Alena yang tiba-tiba jatuh dari tangga, hingga Serli yang tiba-tiba muncul kembali dihadapannya membuat kepalanya terasa mau pecah. Ini memang sebuah cobaan baginya, tapi yang dia tidak habis pikir kenapa harus orang-orang terdekatnya yang tersakiti bukan dia.
"Hiks, Mas aku mohon beri aku kesempatan. Tidak apa-apa kamu menikahi Alena, tapi aku mohon nikahi aku juga. Kalau kamu membenci ku setidaknya lakukanlah demi Vivi, Mas!!" rengek Serli sambil memeluk erat kaki Daffin.
Daffin memang tidak suka main kasar terhadap wanita. Bukan karena dia lemah, tetapi memang prinsipnya bahwa seburuk apapun wanita itu maka mereka tetaplah wanita yang perlu dijunjung tinggi derajat dan harga dirinya. Jika dia memang sudah membenci wanita hingga batasnya, maka yang dia lakukan hanya mencampakkannya dan membuangnya jauh-jauh dari hadapannya.
"Hmm... Aku tau hati Daffin sangat lemah terhadap wanita, dia tidak akan tega melihat wanita tersakiti. Tinggal menunggu saja Daffin pasti akan menikahi aku walau demi Vivi. Setelah aku menikahinya aku tinggal melempar Alena dari posisi istri pertama. Semoga saja dia menjadi cacat karena kejadian tadi." Batin Serli.
Tentu saja bukan Serli namanya jika dia tidak memiliki rencana yang sangat jahat. Dulu dia berhasil memisahkan Alena dengan Daffin. Saat ini dia juga masih percaya diri untuk dapat memisahkan kembali Alena dan Daffin.
"Serli aku benar-benar sudah muak denganmu, jika saja kamu laki-laki maka sejak tadi kamu sudah habis!" gertak Daffin sambil menepis tangan Serli yang memeluk kaki kanannya.
"Mas!! Aku mohon beri aku kesempatan, ini demi Vivi, Mas!" mohon Serli sambil memeluk erat tubuh Daffin.
Serli bukan hanya memeluk tubuh Daffin, dia bahkan memaksa untuk mencium bibir Daffin.
"Kau..." gertak Daffin.
Belum selesai Daffin bicara tiba-tiba seseorang datang membuat dia terkejut.
"Apa yang sedang kalian lakukan??" tanya Dafka yang tiba-tiba datang.
Daffin terkejut bukan main saat dia menoleh ke sumber suara. Ternyata bukan hanya ada Dafka, tapi semua keluarga datang dan melihat Daffin yang sedang dipeluk bahkan di cium oleh Serli. Dia tidak menyangka bahwa keluarganya akan datang secepat itu saat diberi tau bahwa Alena jatuh dari tangga Rumah Sakit.
__ADS_1
"Ka-kalian??" tanya Daffin terkejut bukan main.
Pak Bagas ayahnya Daffin merasa sangat marah melihat kelakuan putranya. Dia merasa tidak enak dengan pak Bisma dan bu Dewi yang juga datang dan melihat moment yang membuat darah menjadi mendidih.
Pak Bagas berjalan menghampiri Daffin yang masih dipeluk oleh Serli. Tanpa aba-aba lagi dia langsung mengangkat tangan kanannya dan...
Plakkk...
Plakkk...
"Arghh Mas Daffin!!" teriak Serli sangat terkejut.
Dua kali tamparan mendarat di pipi kanan dan kirinya Daffin hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Daffin tidak melawan karena dilihat dari sudut mana pun dia memang terlihat bersalah sudah membiarkan Serli memeluk tubuhnya.
"Wanita tidak tau diri menjauh kau dari putraku!!" tegas pak Bagas sambil mendorong tubuh Serli.
"Daffin Papa benar-benar kecewa denganmu, disaat istrimu sakit kau bahkan berani berbuat hal yang memalukan dengan wanita lain." ucap Pak Bagas sambil berjalan melewati Daffin.
Kedua orang tua Alena hanya terdiam dengan ekspresi yang sangat datar. Bu Agis juga tidak bisa berkata apapun walau sekedar membela anaknya. Walau terlihat seperti Serli yang memaksanya, tapi disaat seperti ini pasti siapapun akan salah paham.
"Kenapa kau tiba-tiba datang lagi, aku pikir kau sudah mati karena tidak datang dihari pernikahanmu sendiri," ketus Dafka sambil menatap Serli dengan tatapan sinis.
"Dafka, jangan urus dua orang tidak tau malu ini, lebih baik kita lihat kakak mu saja." ajak pak Bagas sambil terus berjalan menuju kamar rawat Alena.
Pak Bisma dan bu Dewi berjalan melewati Daffin tanpa menoleh atau mengatakan sepatah katapun. Begitu juga dengan Dafka yang merasa muak dengan Serli langsung pergi mengikuti yang lainnya.
"Kakak semoga kedepannya kau beruntung!!" Bisik Dafka sambil menepuk-nepuk bahu Daffin lalu pergi meninggalkannya.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Sampai sini menurut kalian gimana ceritanya?? kalian boleh beri masukan kalian di kolom kemntar ya!!
__ADS_1
Buat para readers yang sudah mampir jangan lupa tinggalin jejak kalian ya!!
Jangan lupa Like, comment dan Vote ya say!!😊😊**