
Hari terus saja berganti, Alena sudah hampir satu minggu dirawat di Rumah Sakit. Pada hari ini Dokter mengizinkan Alena untuk melakukan rawat jalan saja. Saat ini luka di kepalanya sudah sembuh hanya tinggal pemulihan di kaki kanannya.
"Alena, kamu pulang kerumah bunda saja, ya?" pinta bu Dewi. Bu Dewi mengkhawatirkan keadaan Alena. Saat ini Alena tidak berjalan dengan normal. Jika dia pulang kerumah suaminya, bu Dewi takut kalau Alena akan dibuly oleh Daffin dan selingkuhannya itu.
"Tapi Bun, Alena kan istriku jadi dia harus pulang kerumahku," protes Daffin sambil meraih tangan Alena.
"Tanyakan saja kepada Alena nya langsung dia mau pulang kemana." usul pak Bisma sambil menatap Daffin sedikit tidak senang.
Alena tersenyum sambil menatap kedua orangtuanya bergantian. "Aku sudah punya suami jadi sudah seharusnya aku ikut pulang ke rumah suamiku," jawab Alena dengan percaya diri.
Daffin merasa lega dan senang setelah mendengar jawaban dari Alena. Kedua orangtua Alena pun tidak punya pilihan lain selain mengizinkan Alena untuk tinggal bersama suaminya.
Tentu saja Alena sudah memiliki rencana yang matang. Dia bahkan sudah tidak sabar ingin bermain kucing sumput bersama Daffin.
Disisi yang tidak jauh dari mereka, terlihat Serli sedang menguping pembicaraan Daffin dan yang lainnya. Serli merasa kesal karena Daffin malah mengajaknya untuk tinggal bersama.
"Apa-apaan Daffin ini, dia malah mengajak Alena untuk tinggal bersamanya. Rencanaku gagal gara-gara Alena!" gerutu Serli sambil mengepalkan kedua tangannya.
Serli pun marah dan langsung berbalik meninggalkan tempat itu. Dia langsung menuju kamar rawat Vivi dan langsung mengambil ponselnya.
"Bagaimanapun caranya aku harus berada di sisi Daffin, kalau tidak, maka Alena busuk itu juga jangan harap bisa di sisi Daffin ku." gumamnya sambil mengetik pesan.
Alex yang tadi tidak sengaja melihat Serli sedang mengupingpun langsung bergegas menemuinya. Dia khawatir bahwa Serli akan membuat rencana busuk lagi.
"Serli!!" panggil Alex sambil membuka pintu.
"Ada apa??" tanya Serli dengan segera langsung menyembunyikan ponselnya.
"Aku harap kamu jangan ganggu kehidupan mereka lagi!" ujar Alex sambil menyentuh kedua pipi Serli.
Plakkk...
Serli dengan cepat langsung menepis kedua tangan Alex. "Mas, kamu jangan pernah ikut campur dengan urusanku!" bentak Serli.
"Aku tidak akan pernah ikut campur jika kamu tidak melibatkan putriku dan sepupuku!" balas Alex dengan nada tinggi.
"Ho, jadi Alena adalah sepupu kamu? Bagaimana bisa Alena terlahir dikeluarga kaya, sedangkan kamu miskin!" ledek Serli dengan tatapan hina.
"Serli, demi kamu aku melakukan segala cara untuk membahagiakan kamu. Lihat! Usaha restoranku di Batam sudah sukses sekarang." jelas Alex dengan ekspresi senang.
__ADS_1
"Tapi kamu masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Daffin. Daffin sejak lahir sudah kaya dan kekayaannya tidak akan pernah habis. Sedangkan kamu, dari lahir sudah miskin dan sampai sekarangpun kamu masih miskin." ucap Serli penuh dengan penghinaan.
Alex benar-benar sangat marah. Bagaimana bisa dia mencintai wanita sepicik Serli. Alex menahan emosinya karena tidak ingin menyakiti ibu dari putrinya.
"Serli, kesabaranku ada batasnya, jika sudah sampai batasnya mungkin aku tidak akan diam lagi. Ingat! Dunia itu berputar ada saatnya yang diatas akan jadi dibawah begitupun sebaliknya. Jika orangtua Daffin tahu tentang Vivi yang kau akui sebagai anak kandung Daffin. Bisa saja dia diusir dari rumah dan jadi melarat. Karena yang kaya bukan Daffin, tapi orangtuanya."
Alex pun langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata yang panjang. Namun, Serli sedikitpun tidak peduli dengan kata-kata Alex.
***
"Dari mana saja, Kakak??" tanya Alena ketika melihat Alex baru keluar dari Rumah Sakit. Alena dan yang lainya sudah menunggu di mobil sejak tadi.
"Perutku tadi sakit jadi lama di toilet." jawab Alex sambil mengelus perutnya.
Alex berjalan melewati Daffin. Dia menatapnya dengan tatapan yang sangat datar. "Daffin ini hanya korban kejahatan Serli, tapi karena dia Alena juga jadi korban. Apa yang harus aku lakukan, jika aku membocorkan rahasianya maka nasibku akan buruk. Aku khawatir Serli akan nekat untuk menyakiti anakku." batin Alex. Dia merasa kesal dan mengepalkan kedua tangannya.
Setelah sampai di rumah Daffin. Alena langsung dibawa ke dalam kamar Daffin. Pak Bisma dan Alex menunggu di ruang tamu. Sedangkan bu Dewi, dia pergi ke dapur untuk memasak sesuatu.
"Daffin, kemari!" panggil pak Bisma ketika melihat Daffin turun dari lantai atas.
"Ya, ayah. Ada apa??" tanya Daffin setelah duduk didepan pak Bisma.
"Apa kamu ingin selamanya bersama putriku?" tanya pak Bisma to the point.
"Tentu saja aku ingin bersama Alena sampai menua," jawab Daffin mantap.
Alex yang merasa tidak enak dengan pembicaraan mereka berduapun langsung pergi membantu bu Dewi untuk memasak.
"Kalau begitu kamu harus berjanji pada ayah!" ujar pak Bisma sangat tegas.
Daffin langsung menatap ayah mertuanya dengan tatapan sedikit terkejut. Dia pikir ayah mertuanya akan membuat penghalang antara dia dan Alena, tapi sepertinya tidak begitu. Pak Bisma masih memberikan kesempatan kepada Daffin untuk hidup bersama putri sulungnya.
"Ya, aku berjanji tidak akan menyakiti Alena. Aku pastikan akan membuat Alena bahagia." Dengan begitu mantap Daffin berjanji didepan ayah mertuanya.
Alena yang menguping pembicaraan mereka berduapun hanya tersenyum sinis saat mendengar janji yang Daffin ucapkan. Dia menganggap bahwa Daffin hanya sedang membual didepan ayahnya.
"Cih, manis sekali janjimu, Mas!" ketus Alena sambil berbalik menuju kamar.
"Ayah pegang kata-kata mu itu, jika ayah melihat Alena menangis sekali saja. Jangan salahkan ayah jika ayah ikut campur dalam rumah tangga kalian." ujar pak Bisma dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Daffin hanya mengangguk, perasaannya menjadi bercampur aduk. Dia bingung bagaimana tentang rahasia besarnya. Dia berjanji untuk tidak menyakiti Alena, tapi dia memiliki rahasia yang Alena tidak ketahui.
"Bagaimana ini, apa aku beritahu saja kepada Alena. Tapi aku takut Alena tidak akan bisa menerimanya." pikir Daffin.
Daffin merasa sangat frustasi dengan masalah yang ia buat. Beribu kali pun ia berpikir tidak ada satupun jalan keluar yang ia dapatkan.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Orangtua Alena dan Alex sudah pulang kerumah masing-masing. Kini tinggal Alena dan Daffin yang sedang berada di dalam satu kamar.
Daffin baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana pendek dan kaos putihnya. Alena diam-diam melirik Daffin. Bohong jika Alena tidak tergoda dengan ketampanan Daffin.
"Sial! Pantas saja Serli melakukan segala cara untuk bisa bersama Daffin. Dia bukan hanya banyak duit, tapi super tampan." batin Alena sambil pura-pura fokus dengan ponselnya.
Daffin terus memperhatikan Alena yang sedang fokus dengan ponselnya. Dia merasa heran dengan sikap Alena yang tiba-tiba berubah drastis semenjak pulang dari Rumah Sakit.
"Alena, kamu... Apa kamu tidak masalah tidur satu kamar denganku?" tanya Daffin sambil duduk disebelah Alena.
"Tidak masalah, tapi aku setelah ini ingin tidur di kamar lantai bawah, agar aku tidak perlu naik turun tangga, Mas." jawab Alena santai.
Sebenarnya jantung Alena sangat dag dig dug, tapi ini salah satu rencananya untuk tidur satu kamar dengan Daffin. "Aku sedang sakit, Mas Daffin tidak akan berani macam-macam, kan?" pikir Alena merasa khawatir.
"Baiklah, mulai besok kita tidur di kamar bawah, ya. aku juga akan mencarikan asisten rumah tangga untuk masak dan berws-berea rumah." balas Daffin dengan sangat lembut membelai rambut Alena.
Alena terdiam sambil menatap kedua manik mata Daffin. "Andai saja dibalik kelembutan sikapmu ini tidak ada kebohongan, Mas. Pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Sayangnya... Sikap lembutmu ini palsu hanya untuk mengecohku, kan??" batin Alena.
"Alena, aku memang mencintaimu, tapi maaf. Aku belum siap untuk menceritakan semuanya kepadamu. Aku takut kamu tidak bisa menerimanya lalu pergi meninggalkan aku. Aku tidak ingin kamu pergi." batin Daffin sambil memeluk Alena dengan penuh kasih sayang.
"Tunggu dan lihat saja, aku akan meninggalkan kamu dan membuat mu sakit lebih dari yang aku rasakan, Mas." pikir Alena sambil membalas pelukan Daffin.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.
Jangan lupa Like, comment dan vote ya!!