
"Mari masuk, Chelsi!" Ajak Alena setelah sampai di kamar hotel.
"Terimakasih, sebenarnya aku bisa mengobati luka ku sendiri. Aku merasa tidak enak jika..."
"Ssuuttt... kamu sudah menolongku. Jadi sudah kewajibanku untuk mengobati luka kamu." Ucap Alena segera memotong kata-kata Chelsi.
Chelsi pun hanya terdiam dan mengikuti apa kata Alena. Ia menunjukan wajah sopan dan polosnya didepan Alena. Terlihat jelas dimata Alena bahwa Chelsi wanita yang lugu dan sangat baik hati.
"Chelsi, kamu bebas mau duduk dimana saja." Ucap Alena ringan. "Dan kamu, Mas. Tolong ambil kotak P3k lalu obati luka Chelsi, ya!" Sambungnya lagi kepada Daffin.
Daffin terkejut dan langsung menolak perintah istrinya. "Kenapa aku yang mengobatinya, dia bisa mengobati lukanya sendiri atau kamu saja yang mengobatinya kan sesama perempuan." Bantah Daffin.
"Mas, aku mau buat minuman. Kalau dia mengobati lukanya sendiri akan susah. Jadi kamu harus membantunya." Jelas Alena lagi.
"Aku tidak mau," Daffin bersikukuh tidak mau mengobati luka Chelsi.
"Suami kamu benar, Al. Aku bisa mengobati lukaku sendiri, kok. Kalau aku kesulitan mengobatinya aku bisa nunggu kamu sampai selesai buat minuman, kok." Timpal Chelsi sambil meringis menahan sakit.
Alena semakin kesal dengan Daffin yang tidak mau melihat keadaan. Dia pun langsung mengambil kotak P3K dan memberikannya kepada Daffin.
"Mas, hanya mengobati luka saja kamu tidak mau. Coba kamu pikir kalau tidak ada Chelsi mungkin aku..."
"Oke, aku akan mengobatinya. Jadi stop ya jangan bilang mungkin-mungkin lagi," potong Daffin sambil mengecup kening Alena.
Alena pun merasa puas ketika Daffin mengikuti perintahnya. Sementara itu Chelsi langsung terlihat kesal ketika Daffin mengecup kening Alena.
"Hmm.. suami istri yang mesra," batin Chelsi merasa iri.
Alena pun langsung bergegas menuju dapur, sedangkan Daffin dengan terpaksa mulai mengobati luka dilengan kanan Chelsi.
Daffin dengan cepat dan sembarangan langsung siap mengobati luka di tangan Chelsi. Ia tidak mau terlalu lama dekat-dekat dengan wanita asing dihadapannya.
"Terimakasih, Mas!" Ucap Chelsi dengan suara yang lembut.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Daffin dengan wajah datar tanpa melihat lawan bicaranya.
"Mmm, tadi saya sedang melakukan pemotretan diatas speedboat, kemudian tidak sengaja melihat seorang wanita yang tiba-tiba pingsan diatas speedboat yang sedang melaju kencang. Aku curiga kemudian bersama supir dan cameraman langsung mengikuti speedboat tersebut." Jelas Chelsi terputus.
"Lalu terjadi sedikit perkelahian, Chelsi juga ikut membantu itulah sebabnya dia bisa terluka." Sambung Alena sambil membawa beberapa gelas minuman.
__ADS_1
"Kamu kan pingsan, bagaimana bisa tahu?" Tanya Daffin heran.
"Sebenarnya aku tidak pingsan, Mas. Setelah minum air mineral aku langsung merasa ngantuk dan kepala ku pusing." Jelas Alena lagi. "Tapi kamu jangan khawatir pria itu sudah dibawa dan akan dijebloskan kedalam penjara kok, Mas." Sambungnya lagi meyakinkan Daffin agar tidak khawatir.
Daffin pun percaya dengan apa yang diceritakan Alena. Baginya yang terpenting adalah tidak terjadi apa-apa dengan Alena.
"Mas, kamu belum bilang terimakasih loh sama Chelsi." Bisik Alena menyenggol bahu Daffin.
"Terimakasih, Chelsi. Karena sudah menolong istriku. Apa hadiah yang kamu inginkan sebagai tanda terimakasihku."
"Haha, tidak perlu hadiah apapun, bukannya sudah kewajiban kita semua untuk saling menolong, ya." Chelsi menolak tawaran hadiah dari Daffin.
"Kamu benar-benar wanita yang sangat baik, Chelsi." Ucap Alena sambil menghampiri Chelsi dan memeluknya.
"Haha, kamu bisa saja, Alena." Chelsi pun dengan senang hati membalas pelukan Alena.
"Pokoknya mulai sekarang kamu adalah sahabat aku, untuk kedepannya jika kamu butuh apa-apa bilang saja sama aku, ya!"
Chelsi terlihat sangat gembira ketika mendengar kata-kata tersebut. Begitu pula dengan Alena, dia merasa sangat beruntung bisa bertemu wanita sebaik Chelsi. Mereka pun dengan penuh semangat terus bertukar cerita satu sama lain. Lain halnya dengan Daffin yang terus diam, tidak tahu kenapa dia malah merasa tidak senang saat melihat Chelsi. Belum lagi suaranya yang mirip dengan seseorang yang ia benci membuatnya tambah tidak senang.
"Oya, Alena. Hari sudah sore aku pamit pulang, ya. Besok pagi-pagi sekali aku ada jadwal terbang jadi harus siap-siap." Ucap Chelsi.
"Kamu ada pemotretan di luar kota lagi, ya?" Tanya Alena penasaran.
"Wah, ternyata kita berasal dari kota yang sama, ya. Besok kita juga mau pulang ke Jambi. Semoga kita bisa ketemu lagi, ya!" Alena semakin bersemangat ketika mengetahui bahwa mereka berdua berasal dari kota yang sama.
"Iya, ya. Kebetulan sekali. Kita memang ditakdirkan untuk bersama, nih." Sambung Chelsi ikutan merasa senang.
Daffin semakin mengkerutkan keningnya ketika mengetahui bahwa Chelsi berasal dari kota yang sama.
"Ya sudah, aku pamit dulu,ya. Sampai ketemu dilain waktu." Ucap Chelsi dengan wajah sumbringah.
"Iya, semoga kita bertemu lagi!" Balas Alena penuh semangat.
Setelah kepergian Chelsi suasana pun mendadak sepi. Daffin yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa malah semakin menunjukan muka masamnya. Alena hanya tersenyum kecil seraya mendekati suaminya.
"Kenapa lagi, sih, Mas?" Tanya Alena sambil mencubit gemas pipi Daffin.
"Aku tidak suka kamu terlalu akrab dengannya." Ketus Daffin.
__ADS_1
"Kenapa, Mas? Dia baik, kok. Orangnya juga ramah, sopan, dan supel banget." Jelas Alena terus membela sahabat barunya.
"Terserah kamu, deh. Yang penting kamu tetap harus hati-hati dengannya. Walau bagaimana pun kamu baru kenal dengannya belum tahu aslinya dia orang seperti apa." Jelas Daffin merasa khawatir.
"Iya-iya, sayang!" Alena pun langsung memeluk erat Daffin dan membenamkan wajahnya didada Daffin.
***
Keesokan paginya, mereka berdua sudah lepas landas dari Airport Hang Nadim menuju Airport Sultan Thaha Saifudin, kota Jambi. Alena merasa sedikit kecewa karena dia tidak bertemu dengan sahabat barunya, Chelsi. Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan pesawat pun akhirnya Landing, Alena ingin segera turun dari pesawat. Ia masih berharap akan bertemu dengan Chelsi saat turun pesawat nanti.
Daffin hanya terdiam melihat tingkah Alena yang sangat ingin bertemu kembali dengan wanita yang bernama Chelsi. Tidak tahu pelet apa yang digunakan Chelsi hingga membuat Alena dengan mudah menganggap orang asing sebagai sahabatnya, pikir Daffin.
"Sayang, ayo cepat! Dafka sudah menunggu kita." Daffin mulai tidak sabaran mengikuti Alena yang sejak naik hingga turun dari pesawat terus celingukan mencari Chelsi.
"Apa Chelsi tidak jadi pulang hari ini ya, Mas? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya?" Tanya Alena dengan wajah lesu.
"Mana aku tahu," jawab Daffin jutek. "Sudahlah, jangan pedulikan orang asing itu." Sambungnya lagi seraya merangkul pinggang Alena.
"Iss, kamu masih saja menganggapnya orang asing, Mas." Celetuk Alena kesal.
"Memang kenyataannya dia orang asing, kan?" Timpal Daffin lagi tidak mau kalah.
"Dia baik,kok, Mas. Kalau tidak ada dia yang menolongku aku bisa saja saat ini tidak berdiri disini." Sambung Alena lagi tak mau kalah.
"Jika tidak ada dia pun maka aku yang akan menolong kamu istriku sayang!" Ucap Daffin mulai geram.
"Iya, tapi coba pikir, Mas. Jika kamu terlambat datang bisa saja aku..."
"Aku menunggu lama di mobil ternyata kalian malah berdebat disini?" Celetuk Dafka yang tiba-tiba menyusul mereka.
Daffin dan Alena pun langsung terdiam ketika mendengar ocehan Dafka. Alena masih memasang wajah cemberut karena tidak terima sahabat barunya dibilang orang asing.
"Ayo cepat pulang! Mamah sudah menunggu kepulangan kalian." Ucap Dafka dengan wajah datarnya.
"Huh,"
Alena dengan wajah sewot langsung berjalan mendahului Daffin. Dafka menatap Daffin seolah-olah bertanya ada apa dengan Alena. Daffin pun reflek mengangkat bahunya seperti menjawab bahwa ia tidak tahu. Ia pun langsung berjalan meninggalkan Dafka untuk menyusul Alena.
"Sekarang malah aku yang ditinggalkan," ketus Dafka sembari menyusul mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung....
(Next episode: Gara-gara handuk)