Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 52 Pertarungan


__ADS_3

Daffin yang baru saja sampai langsung berlari menuju kedalam rumahnya. Rumah terlihat sangat gelap tidak ada satupun lampu yang menyala. Daffin semakin panik dan sangat mengkhawatirkan kedua orangtuanya.


Dia berjalan sambil menelusuri dinding untuk mencari tombol lampu. Setiap langkahnya dia selalu menginjak benda-benda kecil yang seperti berserakan di lantai.


Tak lama Daffin pun menemukan tombol lampu dan langsung menyalakannya. Terkejut bukan main saat melihat isi rumah berantakan seperti kapal pecah. Belum lagi ada beberapa bodyguard yang bergeletakkan di lantai sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Apa... Apa yang sudah terjadi?" gumam Daffin. Tubuhnya bergetar tidak percaya melihat semua itu.


"Ma! Pa! kalian dimana??" teriak Daffin sambil melihat kesemua penjuru tempat.


"Tu-tu-tuan..." Salah satu bodyguard tersadar dan langsung memanggil Daffin sambil menunjuk kearah anak tangga.


Tanpa banyak bertanya lagi, Daffin langsung berlari menuju lantai atas. Perasaan cemas tak henti-hentinya memburu didalam kepalanya. Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan kedua orangtuanya.


Dorrr...


"Arrghhhhh."


Saat dipertengahan tangga tiba-tiba suara tembakan terdengar dibarengi dengan suara jeritan ibunya. Daffin langsung mempercepat larinya mencari keberadaan orangtuanya.


Daffin langsung menuju ke ruang kerja ayahnya karena hanya ruangan itu yang terdapat berkas-berkas penting tentang perusahaan.


Saat membuka pintu, kedua mata Daffin langsung terbelalak saat melihat kedua orangtuanya sudah bersujud didepan kaki pamannya.


"Terlambat sedikit saja kau tidak akan memiliki kesempatan berbicara untuk yang terakhir kalinya kepada mereka," ujar Bos X yang tidak lain adalah pamannya, Hendra.


"Paman, jadi kau benar-benar masih hidup?" tanya Daffin sambil berjalan menghampirinya.


"Kenapa aku harus mati? Aku belum merasakan kebahagiaanku, dan saat ini lah detik-detik kebahagiaanku, hahaha." jawab Hendra tertawa terbahak-bahak.


Daffin terdiam sambil memperhatikan situasi disekitarnya. Sejauh yang ia ketahui hanya ada Empat anak buah pamannya yang berdiri dibelakangnya. Jika melakukan perlawanan hanya sedikit kesempatannya untuk menang. Dia tidak akan mudah melawan mereka berempat sendirian tanpa senjata apapun.


Satu-satunya cara hanya mengulur waktu sampai bantuan datang. Karena yang terpenting adalah keselamatan kedua orangtuanya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Daffin kepada pamannya.


"Hah, apa yang aku inginkan? Tentu saja aku menginginkan nyawa dia." jawab Hendra sambil menunjuk ayahnya menggunakan pistol.


"Jangan bercanda dengan sebuah nyawa, Paman. Jika kau mau ambilah semua harta dan perusahaan, lalu bebaskan kami semua." ucap Daffin.


"Hahahahaha,"


Hendra langsung tertawa terbahak-bahak ketika mendengar perkataan Daffin. Perkataan Daffin serasa menggelitik didalam pendengaraannya. Tentu saja yang Hendra inginkan bukanlah hanya sebatas harta, tetapi balas dendamlah tujuan utama keinginannya.


"Aku tidak butuh harta, saat ini aku bahkan sanggup membeli perusahaanmu. Yang aku inginkan hanyalah..."


Hendra menggantunngkan kata-katanya. Dia kembali menodongkan pistolnya keatas kepala pak Bagas.


"Kematiannya." sambungnya lagi.


Daffin tidak tahan lagi melihat sikap Hendra. Dia merasa tidak ada waktu lagi sampai menunggu bantuan datang. Dengan cepat Daffin pun melakukan perlawanan kepada musuh dihadapannya.


"Beraninya kau.." bentak Daffin sambil melayangkan pukulannya kearah Hendra.


Dengan cepat keempat anak buah Hendra pun langsung menghalangi Daffin. Daffin pun bertarung melawan empat orang anak buahnya sekaligus.

__ADS_1


Mereka terus mengayunkan senjata tajam kearah Daffin. Daffin yang hanya menggunakan tangan kosongpun merasa kewalahan menghindari setiap pukulan dan ayunan pisau yang terus menyerangnya.


"Kalau begini terus aku tidak akan menang," pikir Daffin mulai kelelahan.


"Menyerahlah dan aku akan membiarkan kamu hidup, wahai keponakanku!" ujar Hendra sambil menyilangkan kakinya duduk di kursi.


"Kalian yang akan menyerah," teriak Daffin tidak putus asa.


Daffin berhasil melumpuhkan satu anak buahnya dan berhasil mengambil senjata tajam dari musuh. Kini satu musuh berkurang dan Daffin mulai menghabisi yang lainnya menggunakan senjata tajamnya.


Sringgg...


Jlebbbb...


Satu lagi musuh berhasil dia kalahkan. Tinggal dua orang lagi yang masih sanggup berdiri dan itu pun sudah mulai kelelahan. Daffin menyobekkan kemeja putihnya dan mengikatkan ke lengan kanannya yang terluka karena terkena sayatan pisau.


Dengan modal senjata tajam ditangannya membuat ia mudah mengalahkan dua anak buah yang tersisa. Kini tinggal tersisa Hendra seorang karena keempat anak buahnya sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi.


"Wah, wah, ternyata keponakanku sangat hebat!" ujar Hendra sambil menepukkan kedua tangannya.


"Jika kau berhasil mengalahkan semua anak buahku, aku akan benar-benar mengakuimu yang terhebat." sambungnya lagi sambil menoleh kearah pintu.


Sungguh tidak disangka segerombolan anak buah Hendra tiba-tiba datang memenuhi ruangan. Jumlahnya lebih dari 20 orang, tidak mungkin bagi Daffin untuk mengalahkan mereka semua.


"Sial," gumam Daffin dengan napas yang sudah terengah-engah.


Tidak ada pilihan lain selain bertarung melawan mereka semua. Daffin pun menyiapkan kuda-kudanya bersiap untuk melawan mereka semua.


"Ku mohon hentikan!" teriak pak Bagas dengan nada yang melemah.


"Hemm, awalnya aku memang hanya menginginkan nyawamu, tapi ternyata ada keseruan lain yang sangat menyenangkan. Aku senang melihat anakmu bertarung melawan para anak buahku." jawab Hendra dengan senyuman licik.


"Daffin, bagaimana jika kita bermain game. Jika kau berhasil mengalahkan 10 anak buahku maka aku akan melepaskan ibu mu." ucap Hendra sambil mengusap rambut kakak iparnya.


Daffin terlihat sangat emosi saat melihat Hendra mengusap rambut ibunya.


"Lalu?" tanyanya sambil menahan emosi.


"Selanjutnya jika kau berhasil mengalahkan 10 anak buahku lagi, maka aku akan membebaskan ayahmu." sambungnya lagi sambil menepuk-nepuk pipi ayahnya.


"Aku terima tantanganmu," jawab Daffin dengan tatapan yang tajam.


"Tidak, Nak! Kau tidak akan sanggup melawan semua anak buahnya sendirian. Lebih baik biar Papa yang berkorban, kasihan Alena jika sampai terjadi sesuatu kepadamu." Pak Bagas mencoba untuk mencegah Daffin agar tidak melawan mereka semua.


Tetapi, Daffin sudah tidak ada pilihan lain. Saat ini yang diinginkan Hendra bukan hanya satu nyawa, tapi dia ingin menyaksikan kesengsaraan semua keturunan ayahnya.


"Alena, maafkan aku. Jika aku mati semoga kamu bisa bahagia dengan pria lain." pikir Daffin sambil melayangkan senjatanya untuk menyerang musuhnya.


Secara bergantian musuh terus melawan Daffin yang hanya seorang diri. Walau kalah jumlah tidak membuat Daffin mudah untuk dijatuhkan.


"Mati kau," teriak Daffin terus mengelak dan menghujamkan senjatanya kearah lawan.


Sriingg,,


Bukkk..

__ADS_1


Jlebb..


"Arghhh," Satu tusukan mendarat diperut sebelah kiri Daffin. Daffin pun langsung berjongkok menahan sakit diperutnya. Darah mulai mengalir membuat tubuh Daffin semakin lemas.


"Tidak... Aku tidak boleh kalah!" Daffin mencoba untuk berdiri dengan mengerahkan sekuat tenaganya.


Kedua orang tua Daffin yang masih terikatpun hanya bisa menangis dan berteriak memanggil nama Daffin.


Wenggg... Wengggg..


Tiba-tiba terdengar suara Helikopter dari balik jendela. Daffin merasa bahwa riwayatnya benar-benar akan tamat karena musuh yang dihadapannya saja belum habis sudah datang lagi musuh lainnya.


Dorrrr...


Pranggg....


Peluru menembus dan memecahkan kaca jendela. Terlihat Haikal melompat masuk dari jendela dengan senjata apinya.


"Maaf, kami terlambat!" ucap Haikal sambil menodongkan senjatanya kearah anak buah Hendra.


Semua anak buah Haikal masuk dari segala arah. Lengkap dengan senjatanya masing. Namun, itu semua tidak membuat Hendra merasa takut. Tidak sedikitpun raut wajah Hendra berubah menjadi takut karena bala bantuan Daffin yang datang lebih banyak dari orang-orangnya.


"Waw, lagi-lagi penolong datang tepat waktu." ucap Hendra menunjukan rasa takjubnya.


"Menyerahlah, kalian sudah terkepung!" tegas Haikal sambil mengarahkan pistol kearah Hendra.


"Oh, aku terkepung? Aku rasa tidak." jawab Hendra santai.


Dorr..


Dorr..


Suara tembakan tiba-tiba menggelegar menghantam langit. Saat Haikal melihat dari arah jendela ternyata dibawah terlihat anak buah Hendra dengan jumlah yang sangat banyak sudah mengepung lantai bawah.


Lagi-lagi mereka kewalahan, tapi itu tidak membuat Haikal takut. Walau jumlah musuh lebih banyak dari yang dipikirkan, kali ini Haikal sudah mempersiapkan rencana yang sangat sempurna.


"Semuanya lakukan sesuai rencana kita, bawa semua polisi untuk mengepung rumah ini," bisik Haikal melalui Earphone.


"Baik, akan dipastikan rencana kali tidak akan gagal." balas Merry dari balik Earphone.


Haikal mengedipkan sebelah matanya kearah Daffin. Daffin yang sudah kehabisan tenaga pun tersenyum kecil dan mangangguk tanda mengerti apa yang dimaksud Haikal.


Daffin perlahan merangkak menghampiri kedua orangtuanya. Saat ini Hendra sedang teralihkan oleh Haikal. Dengan cepat dia pun melepaskan ikatan dikaki dan tangan kedua orangtuanya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


Buat yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!!

__ADS_1


__ADS_2