Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 21 Golongan Darah yang Sama


__ADS_3

Daffin merasa darahnya tiba-tiba saja terasa mengalir begitu cepat kesekujur tubuhnya. Jantung juga tidak kalah cepat berdetak membuat tubuh menjadi bergetar dan lemas. Terasa disambar petir disiang bolong ketika mendengar bahwa anak yang Alena tabrak ternyata bernama Vivi.


Daffin terduduk lemas di kursi tunggu di depan IGD. Alena dan Fira kebingungan ketika melihat Daffin tiba-tiba seperti orang mau pingsan. Mereka pun hanya saling pandang dengan wajah bingung bercampur cemas.


"Al, kenapa dia tiba-tiba seperti itu?" tanya Fira sambil menghampiri Alena dan merangkul tangannya.


"Gue mana tau," jawab Alena sambil menggelengkan kepalanya.


Alena sangat merasa cemas melihat Daffin yang masih terduduk lemas. Dia sama sekali tidak bisa menebak kenapa Daffin tiba-tiba seperti itu. Alena hanya berpikir apa mungkin itu gara-gara dirinya yang sudah menabrak anak orang.


Perlahan Alena menghampiri Daffin lalu duduk disampingnya. "Mas, sebenarnya ada apa dengan kamu jangan bikin aku takut dan jadi bingung," tanya Alena.


"Apa kondisi Vivi tadi sangat parah??" tanya Daffin dengan tatapan kosong tanpa menatap wajah Alena.


Daffin tidak mengindahkan pertanyaan Alena. Dia malah bertanya balik tentang kondisi Vivi parah atau tidaknya. Alena jadi semakin bingung, apa mungkin Daffin mengenal Vivi, pikir Alena.


"Apa kamu mengenal Vivi, Mas? Kamu kenal orang tuanya??" tanya Alena penasaran.


"Aku bertanya apa tadi kondisi Vivi sangat parah??" bentak Daffin sambil mencengkram kuat bahu Alena.


Seketika air mata Alena langsung menetes. Ini pertama kalinya Daffin membentak Alena dengan penuh amarah. Sepasang mata Daffin membulat dengan sorot mata yang sangat tajam dan penuh dengan amarah. Belum lagi kedua tangan Daffin begitu kuat mencengkram kedua bahu Alena.


"Hiks, sakit Mas, kamu kenapa sih? Aku pikir kamu bakalan baik sama aku, tapi sekarang kamu malah marah seolah-olah kamu seperti orangtua anak itu." isak Alena sambil mengusap kasar air matanya.


Daffin terkejut dengan apa yang Alena katakan. Dia tidak sadar kalau sudah membentak dan mencengkram kuat bahu Alena. Perlahan Daffin pun menurunkan kedua tangannya dari bahu Alena. Daffin melihat dengan jelas bahwa saat ini dia sudah membuat istrinya menangis.


"Maaf!!" ucap Daffin sambil mengusap air mata diujung sudut mata Alena.


"Hiks... Hiks... Kamu kenapa, Mas?" tanya Alena tak tahan menahan air matanya.


"Aku..."


Daffin terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Alena. Dia kembali tertunduk tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Ceklekk..


"Keluarga pasien!!" panggil seorang Suster yang tiba-tiba keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


"Saya, bagaimana kondisi Vivi sekarang??" tanya Daffin sontak langsung berdiri menghampiri Suster.


"Pasien memerlukan donor darah, apa anda Ayahnya?" tanya Suster itu lagi.


"Mmm... Saya walinya, Sus." jawab Daffin ragu sambil melirik Alena yang sejak tadi terus saja mengkerutkan keningnya.


"Kami butuh golongan darah A+, kebetulan sekali stok Rumah Sakit hanya tinggal 1 kantong dan kami masih membutuhkan 1 kantong lagi. Kami mohon keluarga cepat memberi donor darah secepatnya!" jelas Suster membuat Daffin terlihat sangat cemas.


Alena sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa darah yang dibutuhkan sama dengan golongan darah suaminya.


"Ma-mas, golongan darah kamu bukannya A+, ya?" tanya Alena ragu.


Daffin sebenarnya sejak tadi sangat ingin langsung mengatakannya kepada Suster bahwa golongan darahnya sama,tapi dia ragu takut Alena curiga kenapa kebetulan sekali darahnya sama persis.


"I-iya aku tau," lirih Daffin.


"Kalau begitu cepat ikut saya," pinta Suster dan Daffin langsung mengikuti suster itu untuk mendonorkan darahnya.


Alena hanya menghela napasnya dengan kasar sambil menatap punggung Daffin yang sudah berlalu. Dia berusaha untuk berpikir positif bahwa itu hanya kebetulan saja jika golongan darah Daffin sama dengan anak yang ia tabrak. Namun, pikirannya terus saja berpikiran aneh tidak bisa berpikir jernih. Alena merasa bahwa ini bukan hanya kebetulan belaka.


"Fira, bagaimana bisa golongan darah Daffin sama dengan anak yang aku tabrak?" tanya Alena kepada sahabatnya.


"Tapi ini aneh, Fira. Mulai dari ekspresi Daffin sampai golongan darahnya yang kebetulam sama. Ini pasti bukan hanya kebetulan." ucap Alena merasa bingung.


"Terus emangnya lo berpikir kalau Daffin itu ayah dari anak yang kita tabrak, iya??" tanya Fira sambil membulatkan kedua matanya menatap Alena.


Alena hanya menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang sangat sedih. Jika yang dikatakan Fira benar, maka itu adalah bencana yang kedua dihati Alena.


"Al, bilang sama gue! Sebenarnya ada hubungan apa antara lo dengan Daffin?" tanya Fira sambil menggenggam erat kedua tangan Alena.


"Lo pasti bakalan kaget dan bahkan mungkin lo bakalan marah kalau gue cerita sekarang," jawab Alena.


Alena merasa belum siap kalau harus menceritakan semuanya saat ini. Dia takut kalau Fira akan marah karena sudah tidak jujur sejak awal tentang pernikahannya dengan Daffin. Sahabatnya hanya tau bahwa sudah sejak lama Alena dan Daffin sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.


"Gue siap buat dengarin apapun yang mau lo katakan, Al." ucap Fira.


"Sebenarnya Daffin itu..." Alena menghentikan kata-katanya karena takut sahabatnya akan terkejut dan marah.

__ADS_1


"Daffin itu kenapa, Al?? Kenapa diam??" tanya Fira lagi bertambah penasaran.


"Daffin itu suamiku, Fir." jawab Alena lirih.


Benar saja, Fira langsung tercengang saat mendengar jawaban bahwa Daffin ternyata suami Alena. Fira tidak menyangka bahwa sahabatnya itu sudah menikah tanpa sepengetahuannya dan bahkan menikah dengan laki-laki yang membuat dirinya kabur ke Singapura.


"Alena, lo becanda, kan??" tanya Fira tidak percaya.


"Aku serius, kami baru menikah seminggu yang lalu. Bukannya aku mau main rahasiaan, tapi aku masih nyari momen yang tepat buat ngasih tau ini ke lo dan sahabat lainnya. Lagi pula saat itu gue baru pulang dari Singapura dan kita belum sempat kontak lagi. Gue berharap lo mau ngertiin keadaan gue, sekarang gue belum bisa cerita sedetail mungkin. Lo bisa tanya apapun tentang gue ke Sania, dia tau semuanya." jelas Alena.


Walau tidak percaya dan sedikit kesal, Fira mencoba untuk memahami sahabatnya. Dia mengerti pasti apapun yang dilakukan sahabatnya itu ada alasan tersendiri yang dia tidak bisa ceritakan.


"Gue bisa ngertiin lo, Alena!" lirih Fira sambil memeluk erat tubuh Alena.


"Makasih ya Fira. Lo memang sahabat gue banget," balas Alena sambil membalas pelukan sahabatnya.


Setelah merasa tenang, mereka berdua akhirnya menunggu sambil terduduk di kursi tunggu. Sudah satu jam berlalu, tetapi satu Dokter pun belum ada yang keluar dari ruang IGD. Bahkan Daffin pun yang sedang mendonorkan darahnya belum kembali dari ruang perawatan.


"Fira, memangnya anak yang kita tabrak tadi kondisinya sangat parah ya, kenapa belum keluar juga sih dari dalam ruang IGD." tanya Alena sambil sesekali melihat kearah pintu IGD.


"Mmm... Lumayan parah sih, darahnya saja sampai nempel di baju kita nih," Fira menunjukan bercak darah di baju depannya. Alena tidak sadar bahwa bajunya juga penuh dengan bercak darah.


"Lo pulang aja gih, biar gue yang nungguin disini!" pinta Alena.


"Enggak apa-apa ni gue tinggal sendiri?" tanya Fira.


"Gue kan sama Daffin, lo pulang aja gak apa-apa kok,"


"Oke deh gue pulang ya, nanti gue langsung kesini lagi," ucap Fira sambil melambaikan tangannya lalu pergi dari Rumas Sakit.


Kini tinggal Alena sendiri yang menunggu di depan ruang IGD. Dia terus saja menatap lorong dimana Daffin berlalu yang sampai detik ini masih juga belum kembali.


Alena merasa sangat bosan, ia akhirnya beranjak dari tempat duduk dan berjalan-jalan santai sambil membaca apapun yang tertera di dinding koridor Rumah Sakit. Saat tiba di depan pintu keluar, Alena dikejutkan dengam suara perempuan yang menanyakan keberadaan putrinya.


"Sus, bagaimana kondisi anak saya, dia berumur dua tahunan dan korban tabrak lari!" tanya seorang wanita di meja Resepsionis.


•Serli Gabriella

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2