
Di waktu yang sama, Daffin sedang berkumpul bersama Alvin, Haikal dan Haiden disebuah markas rahasia. Bukan hanya mereka bertiga, tapi ada Mery dan juga Dinar yang baru saja datang ikut bergabung.
"Dimana no 1 dan no 2?" tanya Haikal ketika melihat Dinar hanya datang sendiri tanpa mereka berdua.
"Mereka sedang bersama Serli. Serli menyuruhnya untuk menemani dia kesuatu tempat." jawab Dinar sambil menundukan wajahnya.
"Kembali ke topik!" tegas Daffin sambil melihat Haiden yang sedang mengotak-ngatik laptopnya.
Kemarin Dinar berhasil memasang sebuah chip dan mencuri semua data dari ponsel Serli. Saat ini Haiden dengan sangat mudah bisa mengontrol dan memantau Serli dari ponselnya. Bahkan Haiden bisa membuat sebuah recording melalui ponsel Serli sehingga membuatnya mudah mendengarkan apapun yang Serli katakan selagi dia dekat dengan ponselnya.
"Waw, aku baru tahu kalau kau adalah seorang hacker." Mery sangat kagum dengan kecerdasan Haiden dalam dunia komputer.
"Tentu saja karena aku ini anaknya Jonathan James." balas Haiden dengan nada sombong.
"Ha? Jadi kau anaknya Jonathan James, dan nama mu Haiden James, kakakmu Haikal James?" Mery semakin terperangah mendengar pengakuan dari Haiden.
Tuukkkk,
Haikal dengan cepat langsung menjitak kening Mery. "Hanya orang bodoh yang percaya dengan kata-kata Haiden!" ledek Haikal. Haiden dan Alvin pun tak kuasa menahan tawanya.
"Cih, Sial!" ketus Mery sambil mengusap keningnya.
"Dengar! Ini rekaman saat dia menelepon ayah angkatnya tepatnya sekitar jam 7 malam."
Haiden langsung membesarkan Volume laptopnya.
"Itu berarti saat dia keluar dari rumahku," Daffin dengan serius langsung mendengarkan percakapan mereka.
Voice recording on.
"Halo Ayah, aku hampir saja mati oleh Daffin. Apa dia mengetahui sesuatu? Aku mohon bantu aku, Ayah!"
"Kamu tenang saja dia tidak akan mengetahui apapun tentang rencana kita. Kita sudah cukup untuk bermain-main. Cepat katakan kepada Alena kalau Vivi adalah anak kau dan Daffin. Setelah itu tinggal rencana selanjutnya katakan kepada Bagas dan istrinya. Sisanya biar aku yang bertindak untuk membalaskan dendamku."
"Iya, Ayah... Iya aku mengerti.... Hem, aku akan melakukan sesuai rencanamu. Tapi, ayah boleh balas dendam asal jangan menyakiti Daffin."
"Kamu tenang saja aku akan mengecualikan Daffin. Aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan dua keluarga itu. Ingat! Jangan sampai kau menghancurkan rencana yang sudah bertahun-tahun aku susun."
"Baik. Ayah. Aku tutup dulu teleponnya."
Voice recording off.
Brakkk
Setelah mendengarkan rekaman itu emosi Daffin langsung memuncak. Dia langsung menggebrak meja membuat anak buahnya langsung terkejut.
__ADS_1
"Siapa? Siapa sebenarnya ayah angkat Serli. Kenapa dia membicarakan tentang balas dendam dan ingin menghancurkan 2 keluarga?" gumam Daffin sambil mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
"Dia juga ada menyebut nama ayahmu, Fin." timpal Alvin dengan penuh rasa khawatir dipikirannya.
"Hemm, dua keluarga, ya? Dan juga balas dendam. Apa ini ada kaitannya dengan orangtua kau dan Alena?" tanya Haikal mencoba untuk menebak titik permasalahannya.
"Haiden, coba kau lihat isi kontak atau galerinya, siapa tahu ada petunjuk tentang ayah angkatnya." pinta Daffin sambil melihat ke layar laptop Haiden.
Dengan cepat Haiden langsung mengotak-ngatik laptopnya. Tetapi, selain kontak Daffin dan foto-foto Daffin tidak ada apa-apa lagi didalam kontak dan galerinya.
"Tidak ada apapun," ucap Haiden sambil menggaruk kepalanya.
"Apa... Apa kalian sudah mengecek riwayat telepon dan chatnya?" tanya Dinar dengan sangat hati-hati.
"Sudah, tapi sama tidak ada apapun kosong sampai hampir berjamur dan penuh dengan sarang laba-laba." jawab Haiden sambil bercanda.
"Terus saja bercanda!" bentak Mery sambil menjambak rambut Haiden. "Arghh, ampun, ampun. Makkk! Sakit!!" rintih Haiden dan Mery tambah memperkuat jambakannya karena dia beraninya memanggilnya emak.
Semua orang terlihat kembali fokus dan melihat ke layar laptop. Daffin masih tidak bisa menebak siapa orang itu. Satu-satunya cara adalah bertanya kepada orangtuanya apa mereka memiliki musuh atau tidak.
"Serahkan ini kepada kami, kau pulanglah dan katakan semuanya kepada orangtuamu sebelum Serli membawa kejutannya." ucap Alvin.
"hemm, aku percayakan penyelidikan ini kepada kalian." Daffin pun langsung berlari dan melajukan mobilnya menuju rumah orangtuanya.
***
"Makasih banyak, Mas. Udah mau nemenin aku dan ngantar pulang juga." ucap Alena sambil menunjukan senyumnya.
"Sudah aku bilang kapanpun kamu butuh, aku siap seperti super hiro." balas Daffin membuat Alena tertawa.
"Haha, kamu ada-ada aja, Mas. Oya, mampir dulu kerumah, Mas!" ajak Alena.
Tomy terdiam sejenak sambil melihat suasana rumah Alena yang terlihat sepi. "Mmm, lain kali aja deh, sepertinya di rumah sepi." jawab Tomy.
"Iya, sih. Biasanya jam segini ayah dan bunda memang belum pulang dari kantor."
"Lain kali aja aku mampirnya, kamu gak apa-apa kan aku tinggal?" Tomy terlihat khawatir saat akan meninggalkan Alena.
"Aku oke, Kok." jawab Alena sambil menunjukan dua jempolnya.
Tomy pun tersenyum dan langsung melambaikan tangannya. "Masuklah ke dalam rumah, aku akan tetap disini sebelum kamu masuk." ucapnya.
"Baiklah, dadah!!" Alena pun melambaikan tangannya dan perlahan berjalan memasuki rumahnya. Setelah melihat Alena masuk ke dalam rumah, Tomy langsung masuk kedalam mobilnya.
Dia melamun sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Mengusap wajahnya dengan kasar hingga beberapa kali. Dia ingin membantu Alena, tapi di sisi lain itu adalah masalah rumah tangganya Alena tidak mungkin baginya untuk ikut campur.
__ADS_1
"Arghh, apa yang harus aku lakukan!" gerangnya sambil menghidupkan mobil. Tomy pun melaju menuju arah jalan pulang.
***
Alena berjalan tertatih menuju ruang keluarga. Tidak ada satu pun orang di rumahnya. Orangtuanya belum pulang dari kantor, sedangkan para pembantu mungkin sedang belanja atau entah kemana.
Alena terduduk lemas di sofa ruang keluarga. Dia tidak bisa lagi membuat senyum palsu di bibirnya. Tangis air matapun kembali tumpah membasahi pipinya.
"Alena! Pliss jangan menangis!" ucapnya sambil menghapus kasar air matanya. Dengan cepat dia langsung mengambil tissu dari atas meja.
Prankk
Karena terburu-buru tangan Alena malah tidak sengaja menyenggol foto keluarga hingga jatuh ke lantai dan pecah. Alena panik dan langsung mengambil foto itu.
"Ya tuhan, kenapa foto keluarganya pecah gini, sih. Padahal cuman ke senggol dikit." gumam Alena sambil membersihkan pecahan kaca dan mengambil lembar fotonya.
"Semoga tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi,"
Alena memperhatikan foto keluarganya. Ingin rasanya dia kembali ke masa lalu yang selalu bermanja-manja dengan ayah dan bundanya. Alena memeluk foto itu karena merasa rindu dengan ayah dan bundanya.
"Kalian cepat pulang dong, aku sendirian di rumah, nih." rengek Alena sambil mencium foto ayah dan bundanya. "Ehh, apa yang terjatuh?" tanya Alena saat ada yang jatuh dari balik foto keluarganya.
Ternyata ada foto lain di balik foto keluarganya. Alena pun langsung mengambil foto tersebut.
"Inikan foto ayah dan papanya mas Daffin. Lalu yang ditengah ini foto siapa? Mereka terlihat sangat akrab, apa dia ini sahabat mereka berdua, tapi kenapa aku sekalipun tidak pernah melihatnya. Foto ini juga terlihat disembunyikan." gumam Alena penuh dengan pertanyaan.
"Alena? Kamu pulang ke rumah kok gak bilang sama bunda, sih?" tanya bu Dewi yang baru saja pulang dari kantor.
"Alena kangen sama Bunda, jadi Alena mau buat kejutan." jawabnya berbohong.
"Terus Daffin kemana?" tanya Bu Dewi sambil celingukan mencari Daffin.
"Mmm, itu... Mas Daffin masih di kantor, Bun." jawab Alena terus berbohong.
Alena tidak mau membuat bundanya sedih karena masalahnya. Walaupun cepat atau lambat orangtuanya akan mengetahui semua masalah Alena, tapi dia tidak ingin secepat itu membuat orangtuanya bersedih.
"Ohh, ya sudah kalau gitu bunda mau ganti baju dulu ya, habis itu mau masak buat anak bunda tercinta, muachh." ucap bu Dewi sambil mencium kening Alena.
"Oke, Alena saaayang Bunda, muachh." Alena langsung memeluk dan mengecup pipi kanan bundanya.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung