Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 35 Mandi


__ADS_3

"Uhm, bau amis apa, nih?" tanya Daffin sambil pura-pura mencari sumber bau. Padahal, sudah jelas bahwa bau amis itu berasal dari badan Alena.


Alena yang merasa tersindirpun langsung membuat raut muka masam. "Ya, itu bau badanku." bentaknya kesal.


"Hha, ayo sini mandi!" ajak Daffin langsung menggendong tubuh mungil Alena.


"Mas, kamu apa-apaan, sih? Turunin aku pokoknya turunin, aku bisa mandi sendiri!" Alena terus saja berontak sambil terus memukul dada Daffin.


Daffin tidak peduli terus meenggendongnya dan menurunkannya kedalam bathup. "Kamar mandi sangat licin, aku tidak mau kamu jatuh." ucapnya.


"Aku bisa jaga diri," Alena langsung berdiri dan hendak turun dari dalam bathup. Saat kaki kirinya menginjak lantai, dia tidak sengaja menginjak sabun.


"Argghhh.." Alena pasrah. Daffin dengan sigap langsung menangkap dan memeluk tubuh Alena.


"Sudah aku bilang kamar mandi itu licin!" Daffin memarahi Alena dalam dekapannya. Terdengar jelas detak jantung Daffin yang memburu. "Ada apa dengan jantungnya?" batin Alena.


Daffin benar-benar merasa khawatir, dia tidak mau kalau Alena kenapa-kenapa lagi. Saat itu dia merasa sudah gagal menjaganya. kali ini dia tidak mau melihat Alena terluka lagi.


"Aku takut kamu terluka lagi," bisik Daffin. "Bual, aku setiap hari terluka karena kebohonganmu!" batin Alena.


Daffin terus saja memeluk tubuh Alena. Semakin Alena mencoba lepas, semakin erat pula pelukan Daffin. Alena hanya terdiam malas sambil menunggu sampai kapan Daffin akan seperti itu.


"Alena!"


"Hemm?"


"Aku ingin seperti ini terus," ucap Daffin sambil mempererat pelukannya. Alena semakin bisa merasakan bahwa jantung Daffin berdegup sangat cepat. "Ada apa dengan dia ini?" pikir Alena heran.


"Ughh, aku bisa mati karena pelukanmu, Mas!" rintih Alena sambil mendorong tubuh Daffin. "Tidak!" Daffin langsung mempererat lagi pelukannya.


Alena menghela napasnya berat. "Kamu itu kenapa sih, Mas? Lepasin, hari sudah mau gelap. Aku mau mandi!" ketus Alena. Daffin masih juga tidak mau melepas pelukannya.


Alena memutarkan bola matanya karena kesal dengan apa yang Daffin perbuat. Dia pun tersenyum setelah mendapatkan ide untuk terbebas dari pelukan maut itu.


"Aduhh, kaki ku sakit, Mas!" rintih Alena. Benar saja Daffin langsung melepas pelukannya dan langsung membawa Alena untuk duduk di tepi bathup.


"Sakit ya? Sini biar aku lihat!" ujar Daffin sambil berjongkok didepan Alena dan memeriksa kaki kanannya.


Alena hanya terdiam saat melihat Daffin mengelus kakinya. Dia heran, kenapa Daffin terus berakting seolah-olah mencintai dirinya.


"Apa perlu kita ke Rumah Sakit?


"......."

__ADS_1


Alena terus melamun sambil menatap Daffin. "Hey, apa yang sedang kamu pikirkan, Alena??" tanya Daffin sambil menyentuh kedua pipi Alena. Mata mereka beradu pandang dengan hanya jarak satu jengkal saja. Alena bisa merasakan hangatnya napas daffin.


"A-apa?" Alena terkejut dan langsung mendorong wajah Daffin.


Daffin hanya menahan senyumnya kemudian berjongkok lagi. "Apa sangat sakit? Ayo aku antar periksa ke Dokter!" ajak Daffin sambil mengelus kaki Alena.


"Tidak, aku mau mandi!" jawab Alena sedikit menaikan nada bicaranya.


"Hmm, baiklah." balas Daffin dengan tatapan bingung. Daffin langsung mengisi bathup dengan air hangat. "Buka bajunya!" suruh Daffin sambil menatap tubuh Alena.


"Aku akan buka baju kalau kamu sudah keluar!" bantah Alena sambil menyilangkannya tangannya didada.


"Aku akan memandikan kamu!" balas Daffin sambil menjauhkan tongkat agar Alena tidak kabur.


"Mas! Kamu jangan keterlaluan lah, aku bukan bayi, aku bisa mandi sendiri." omel Alena sambil menyiram Daffin dengan air dari bathup. "Hey, airnya sudah ku isi sabun, apa kamu ingin aku mandi juga!" Alena langsung menghentikan siramannya. Tentu saja dia tidak mau Daffin memandikannya, apalagi kalau mandi bersama.


"Aku ini suami kamu, kamu tidak perlu malu-malu. Cepat buka bajunya!" suruh Daffin lagi sambil bertolak pinggang.


Alena sangat kesal, dia langsung berbalik membelakangi Daffin dan membuka bajunya. "Hais, tidak apa-apa ini hanya mandi. Aku harus patuh padanya kalau ingin membuatnya cinta mati padaku." gerutu Alena dalam hati.


Daffin langsung tersenyum puas saat melihat Alena patuh. "Luruskan kakinya agar tidak sakit!" perintahnya lagi.


"Teruskan saja perintahkan aku!" ketus Alena sambil memanyunkan bibirnya.


Alena merasa sangat malu saat Daffin lebih dekat dengan punggungnya. Dia pun langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya.


Mereka sudah menikah lebih dari 2 minggu, tapi mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri. Jangankan seperti itu, bahkan tidur bersama pun baru satu kali.


"Aku sudah mencuci rambut dan menggosok punggungmu, sekarang tinggal dep..." Belum selesai Daffin bicara, Alena dengan cepat langsung memotongnya. "Bagian depan aku bisa sendiri," ucap Alena.


Daffin terkekeh tidak bisa menahan tawanya lagi. "Haha, iya-iya. Apa segitu malunya terhadap suami sendiri. Baiklah aku akan menunggu diluar." Daffin pun keluar sambil menertawakan Alena.


"Cih, tidak ada yang lucu." ketus Alena. Ia pun dengan cepat langsung menggosok seluruh badannya.


Saat Alena ingin membilas tubuhnya menggunakan air bersih. Dia terlihat kesulitan untuk menggapai tongkat yang berada didekat pintu. Bagaimana dia bisa berdiri untuk menghidupkan shower jika dia tidak dapat meraih tongkat.


"Masss!!!!!" Dengan terpaksa Alena harus berteriak memanggil suami super nyebelinnya itu.


"Akhirnya kamu manggil aku juga," ucap Daffin sambil membuka pintu. Daffin masuk hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. "Apa dia ini sudah menunggu dibalik pintu, kenapa cepat sekali?" gerutu Alena dalam hati.


"Kenapa tidak pakai baju?" tanya Alena sambil mengalihkan pandangannya.


"Bajuku basah karena di siram olehmu," jawab Daffin santai.

__ADS_1


"Hemm, bantu aku berdiri, hidupkan showernya, pejamkan matamu!!" bentak Alena kesal.


"Baik, istriku!" jawab Daffin sambil memejamkan kedua matanya.


Daffin perlahan memapah Alena menuju shower, dia lalu menghidupkan shower dan membasahi tubuh Alena. Ya, semua itu ia lakukan sambil memejamkan kedua matanya.


Alena dengan segera langsung menggosok tubuhnya menggunakan kedua tangannya agar busa yang menempel segera hilang. Setelah bersih Alena langsung mematikan shower dan mencari handuk.


"Dimana lagi handuknya??" ketus Alena. "Aku akan mengambilnya!" ucap Daffin sambil membuka kedua matanya. Kebetulan Alena sedang menghadap kearah Daffin. Sontak Daffin pun langsung melihat tubuh Alena dengan dua bukit kembar dihadapanya.


Mata Daffin terbelalak. Plaakkkk


Alena dengan cepat langsung menamparnya."Mesum!" pekik Alena.


"Padahal aku suaminya, lihat sedikit saja kena tampar." gerutu Daffin sambil berjalan mengambil handuk.


"Tidak akan aku biarkan laki-laki sepertimu melihat tubuhku!" batin Alena sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


Setelah tubuh Alena terbalut handuk. Daffin langsung menggendongnya untuk pergi keruang ganti. Namun, saat keluar dari dalam kamar mandi. Mereka dikejutkan dengan keberadaan Serli yang sudah berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Kalian??" pekik Serli.


Alena terkejut kenapa bisa Serli berada di dalam kamarnya. Dia pun langsung merangkul bahu Daffin agar membuat Serli tambah kesal. Daffin menyadari bahwa Alena mempererat rangkulannya hanya untuk memanas-manasi Serli.


"Tidak ada kupu-kupu, bagaimana bisa tiba-tiba ada tamu masuk bahkan sampai ke dalam kamar. Dasar tidak tahu malu!" ucap Alena sinis.


Serli terkejut karena melihat Daffin hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Begitupun dengan Alena yang hanya memakai handuk saja.


"Kalian mandi berdua??" tanya Serli dengan nada yang meninggi.


"Memangnya kenapa, kami kan suami istri." jawab Alena sambil mempererat lagi rangkulannya. "Ayo, bertengkarlah kalian! Hihi" batin Alena tidak sabar ingin menonton pertengkarang mereka lagi.


Daffin masih terlihat sangat santai sambil tetap berdiri menggendong Alena. Dia pun lalu berjalan melewati Serli dan menurunkan Alena di atas kasur.


"Keluarlah! Kami akan memakai baju." ucap Daffin tanpa menoleh Serli. "Untuk apa dia kemari, apa tiga anjing kecil belum ada yang mengadu kepadanya. Hemm, sepertinya mereka benar-benar takut mati." batin Daffin.


"Aku belum selesai bicara!" bentak Serli lalu keluar dari dalam kamar.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2