Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 45 Manager yang menyebalkan


__ADS_3

Satu minggu kemudian, situasi kembali dingin dan tidak ada sedikitpun pergerakan dari Serli. Kondisi Haiden juga semakin membaik. Namun, Daffin tetap siap siaga jika ada perlawanan dari musuhnya.


Sementara itu, Alena yang hanya dapat bernapas sambil makan tidurpun sudah mencapai puncak kebosanannya. Daffin melarangnya untuk keluar rumah karena khawatir Serli akan datang untuk menyakitinya.


"huufftt, sangat membosankan!" hela Alena sambil tengkurap diatas sofa.


"Dimana Alena, bi?" Terdengar suara Daffin yang baru saja pulang dari kantor langsung menanyakan Alena kepada para pelayan.


"Sedang diruang keluarga, Pak." jawab bi Yani.


Alena yang mendengar suara Daffin pun langsung terbangun dan berlari menghampirinya. Dia berdiri didepan Daffin sambil melipat kedua tangannya didada dengan tatapan yang tajam.


"Ada apa ini??" tanya Daffin bingung.


"Mas, mau sampai kapan kamu jadiin aku seperti kucing peliharaan? Aku tidak boleh keluar rumah, tidak boleh bertemu dengan teman-temanku. Aku bosan, Mas!" bentak Alena sambil menurunkan kedua tangannya di pinggang.


"Kalau bosan, kamu kan bisa menonton Tv." jawab Daffin sambil melewati Alena yang sedang terbakar api amarah.


"Berhenti kamu, Mas!" ucap Alena sambil menahan tangan Daffin. "Jangan pergi kalau aku belum selesai bicara!" teriak Alena langsung mencubit lengan Daffin sekuat tenaganya.


"Awww, aduh duh sakit banget!" rintih Daffin sambil mengelus bekas cubitan Alena.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Daffin. Dia hendak mengusap kepala Alena, tapi dengan cepat Alena langsung menepis tangan Daffin.


"Aku mau kuliah," jawab Alena singkat.


"Kamu kan sudah kuliah, buat apa kuliah lagi." Daffin tidak setuju jika Alena harus kuliah dan jauh dari pantauannya.


"Pokoknya aku mau lanjut kuliah, jika tidak aku akan berhenti makan!" ancam Alena lalu berjalan dengan penuh emosi menuju kamar.


Daffin terkekeh menahan tawanya. Dia berpikir itu mustahil bagi Alena untuk mogok makan. Alena memang orang yang takut gemuk, tapi tidak tahan jika melihat makanan yang enak. Dia bahkan sanggup menghabiskan dua sampai empat porsi makanan.


Daffin langsung menyusul Alena ke dalam kamar. Alena terlihat sedang bermain ponsel dan langsung merubah ekspresinya ketika melihat Daffin. Daffin terus menahan tawanya sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Saat waktunya makan malam, Daffin sengaja tidak mengajak Alena untuk makan. Dia tahu pasti Alena akan dengan sendirinya pergi ke ruang makan karena tidak tahan menahan rasa laparnya.


Namun, kali ini tidak seperti apa yang Daffin pikirkan. Daffin sudah menghabiskan makan malamnya, tapi Alena masih juga belum keluar dari dalam kamar.


Daffin masih tetap membiarkannya. Dia pun mengambil laptopnya dan duduk di ruang keluarga. Sambil menyeruput kopi panas, Daffin mengerjakan sebuah dokumen sambil menunggu Alena keluar dari dalam kamar.


Namun, saat Daffin selesai mengerjakan sebuah dokumen dan menyeruput habis segelas kopi, Alena masih juga belum keluar untuk makan malam.


"Ini sudah lewat waktunya makan malam, kenapa dia belum keluar juga?" ucap Daffin sambil melirik kearah jam dinding.


Saat ini sudah jam sepuluh malam. Daffin pun khawatir dan langsung pergi ke kamar untuk menyuruh Alena makan. "Sepertinya kali ini ancamannya serius," pikir Daffin.


Daffin membuka pintu kamar. Alena masih terlihat sedang memainkan ponselnya.


"Kamu tidak makan malam?" tanya Daffin sambil menghampiri Alena dan duduk ditepi ranjang.


Alena masih terdiam dan terus fokus dengan ponselnya tanpa melirik Daffin sedikitpun.


Daffin langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Alena sepertinya tidak main-main dengan kata-katanya yang akan mogok makan jika tidak diizinkan kuliah.


"Kamu beneran mau mogok makan?" tanya Daffin sekali lagi dan Alena pun masih tetap diam.

__ADS_1


"Alena, aku ngelarang kamu keluar rumah, ngelarang kamu buat kuliah bukan karena apa, aku cuman khawatir sama kamu. Aku takut nanti Serli atau orangnya datang buat nyakitin kamu." jelas Daffin. Dia berpindah duduk disamping Alena.


"Pergi sana!" bentak Alena sambil mendorong Daffin hingga terjungkal kelantai. "Kalau kamu khawatirkan bisa sewa bodyguard, anak buah kamu banyak, kan?" sambungnya lagi kesal.


"Aku tidak percaya kepada mereka, terakhir dua anak buahku saja gagal melindungi kamu. " jawab Daffin sambil bersila di lantai. "Kamu cuman bosan, kan? Bagaimana kalau kerja di kantorku saja?" sambungnya lagi memberi saran.


"Malas! Hari-hari ketemu sama kamu di rumah. Kalau aku kerja di kantor 24 jam hidupku cuman ketemu kamu terus!" pekik Alena lalu memasukan tubuhnya kedalam selimut.


Daffin terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Apa segitu marahnya Alena hingga tidak ingin terus bertemu dengannya, pikir Daffin.


"Kecuali... " Alena langsung terbangun dan menggantung kata-katanya.


"Kecuali apa?" tanya Daffin penasaran.


"Kecuali, kita jangan satu lantai." jawab Alena.


Daffin terdiam sejenak. "Memangnya kenapa?" tanyanya heran.


"Kenapa?? Satu, aku tidak ingin melihatmu terus-terusan. Dua, orang satu kantormu tahu semua kalau aku istri kamu. Tiga, tentu saja aku ingin kebebasan." jawab Alena santai.


Tanpa pikir panjang Daffin langsung menyetujui permintaan Alena. "Oke, mulai besok kamu ikut aku kerja ke kantor." balas Daffin. Dengan cepat dia langsung masuk kedalam selimut dan memejamkan kedua matanya.


Alena hanya terdiam bingung. Tidak biasanya Daffin langsung menyetujui permintaannya itu.


"Tumben, jangan-jangan ada udang dibalik batu?" pikir Alena sambil berbaring membelakangi Daffin.


***


Keesoakan paginya, Alena langsung bersiap-siap memakai baju ala orang kantoran. Setelah siap berdandan dan sarapan, Alena dan Daffin pun langsung menuju kantor.


"Tentu saja, hari ini adalah kesan pertamaku menjadi karyawan kantoran," jawabnya santai.


Daffin merasa kesal karena Alena berdandan cantik untuk orang lain. Tetapi, dia masih diam selagi Alena masih bersikap sewajarnya.


"Kamu pergi duluan temui resepsionis, bilang ingin menemui GM Erick." perintah Daffin setelah sampai didepan gedung perusahaannya.


"Itu di lantai berapa? Apa aku akan bekerja dengannya?" tanya Alena sedikit gugup.


"Sudah pergi saja sana, Alvin sudah mengatur semuanya untuk kamu." jawab Daffin lalu pergi untuk memarkirkan mobilnya.


Alena pun hanya berdecak kesal sambil berjalan menuju resepsionis. Ini masih terlalu pagi, dia berpikir bisa saja orang yang dimaksud Daffin belum datang.


"Halo, permisi!" sapa Alena di meja resepsionis.


"Halo, selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan itu dengan sangat ramah.


"Saya karyawan baru disini, apa bisa tolong saya beritahu dimana ruangan Manager Erick?" tanya Alena.


"Maaf, Bu. Orang yang anda maksud tepat dibelakang anda. Anda mungkin bisa langsung mengikutinya." jawab karyawan itu sambil menunjuk sopan orang yang dia maksud.


Alena pun langsung membalikkan badannya. Ya, tepat sekali berdiri dibelakangnya karena dia sedang mengantri untuk melakukan Fingerprint.


"Gila! Ini orang ganteng banget lebih ganteng dari mas Daffin. Brrrrr hawanya sangat cool," batin Alena membuat jantungnya tak mau diam.


Alena pun langsung menggeser kakinya memberikan akses untuk Manager Erick. Manager Erick pun tanpa basa-basi langsung meletakkan jempolnya diatas fingerprint.

__ADS_1


"Ikut aku!" perintah Manager Erick setelah selesai melakukan absensi.


"Baik, pak." jawab Alena. "Aduhh, suara orang tampan memang beda." batin Alena meronta-ronta.


Mereka pun masuk kedalam lift khusus para Manager dan Direktur. Manager Erick menekan tombol lima dan nol yang berarti mereka akan menuju lantai lima puluh.


"Lantai lima puluh, ya? Yes, ternyata mas Daffin dapat dipercaya, aku tidak satu kantor dengannya." batin Alena senang.


Alena langsung mengikuti Manager Erick menuju ruang kantornya. Semua mata tertuju kepada Alena, mereka ada yang menatap kagum dan juga iri. Tentu saja itu semua karena Manager Erick yang tampan dan hebat. Semua karyawan ingin bekerja disampingnya khususnya para wanita.


Manager Erick duduk di kursinya dan langsung membaca sebuah file dari atas mejanya. Dia tidak mengatakan sepatah katapun membuat Alena bingung akan melakukan apa. Dia bahkan tidak memberitahu dimana tempatnya duduk.


Alena yang mudah marahpun mulai kesal. Dia langsung membuka mulutnya untuk menanyakan apa tugasnya.


"Kau belum ada riwayat kerja? Bagaimana bisa ditunjuk menjadi sekretarisku?" tanya Manager Erick membuat mulut Alena ternganga karena baru saja akan berbicara.


"Kau siapanya Manager Alvin? Kenapa diperlakukan khusus? Seharusnya karyawan dilevelmu ini harus merangkak dari nol." ucap Manager Erick dengan tatapan yang dingin.


"A..."


"Pergi temui Manager Alvin, aku tidak ingin kau menjadi sekretarisku, orang yang harus menjadi sekretarisku minimal sudah lima tahun menjadi seorang karyawan yang ulet. Sedangkan kamu, bekerja hanya mengandalkan orang dalam." sambungnya lagi tidak memberi Alena kesempatan untuk bicara.


Alena mengepal erat kedua tangannya menahan emosi. Dia memang belum berpengalaman dan mengandalkan orang dalam. Tetapi, dia juga bisa membuktikan bahwa dia juga memiliki kemampuan.


"Dasar Manager songong, ingin ku pentung rasanya kepalanya itu. aku tidak jadi kagum karena ketampanannya, ternyata sangat menyebalkan," batin Alena kesal dan membara.


"Tapi, Pak! Saya juga punya kemampuan. Saya bukan siapa-siapanya Manager Alvin. Dia menempatkan saya untuk menjadi sekretaris bapak karena dia tahu bahwa saya memiliki kemampuan." balas Alena tegas.


"Manager Alvin orang yang tegas dalam memilih karyawan. Sepintar apapun orang itu jika dia belum punya riwayat kerja, pasti akan ditempatkan seperti karyawan baru lainnya untuk melakukan training." ucap Manager Erick dengan tatapan tidak percaya dengan kemampuan Alena.


Alena menarik napasnya dalam-dalam untuk menahan emosinya. Dia tidak ingin menemui Alvin karena takut dipindahkan ke kantor Daffin.


"Argghhh, bisa-bisanya mas Daffin memberiku atasan yang songong ini, dia pasti sengaja melakukannya." batin Alena benar-benar sangat kesal.


"Pak, saya mohon beri saya kesempatan. Saya akan patuh dan menjadi karyawan yang ulet seperti yang bapak katakan." ucap Alena tegas dan penuh percaya diri.


"Baiklah..."


***


Disisi lain, Daffin yang sedang mengobrol dengan Alvin terlihat tak bisa menahan tawanya. Ya, dia saat ini sedang membayangkan Alena yang sedang menahan emosi karena sifat Manager Erick.


"Kau sungguh kejam, kenapa Alena ditempatkan untuk menjadi sekretarisnya Erick. Erick itu tegas dan sombong, Alena tidak akan tahan bekerja dengannya." ucap Alvin merasa prihatin dengan Alena.


"Hahaha, aku sengaja melakukannya. Jika dia tidak tahan pasti dia akan meminta lebih baik bekerja denganku dari pada dengan Manager yang dingin itu." jawab Daffin terus terkekeh.


Alvin hanya terdiam sambil mengusap keningnya. Ya, suami istri itu selalu saling siksa dan tidak pernah akur.


.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Episode kali ini mari bersantai dulu dan lupakan semua masalah yang ada. Bisa stres dan frustasi jika terus memikirkan semua masalah. Tunggu ulang tahun perusahaan tiba kita akan menyelesaikan masalah yang ada. Ikutin terus episodenya, ya!


__ADS_2