
Pada malam harinya setelah kondisi Alena mulai membaik, Daffin menyiapkan makan malam romantis diatas balkon kamar Hotel yang khusus ia pesan untuk mereka berdua. Dari situ pemandangan hamparan pantai terlihat sangat jelas.
Daffin ingin membuat Alena agar dapat memaafkan semua kesalahannya. Dengan susah payah ia pun mengatur sendiri dan membuat tempat yang seromantis mungkin untuk Alena.
Setelah dirasa siap, Daffin langsung menuju kamar Alena untuk membawanya ketempat tersebut. Sebelum mengajak Alena, Dokter terlebih dahulu melepas jarum inpus karena kondisi Alena sudah membaik dan satu kantong inpus pun sudah habis.
"Sayang, bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya Daffin sambil memeluk Alena dari belakang.
"Aku sudah baikan, Mas. Tapi..." jawab Alena lalu menggantung kata-katanya.
"Kenapa, Sayang? Apa masih ada yang sakit? Bagian mana yang masih sakit biar aku periksa?" tanya Daffin khawatir memegang tubuh Alena mencari bagian mana yang terasa sakit.
"Perutku lapar, Mas." jawab Alena geram sambil mencubit pipi Daffin.
"Augh, sakit!" rintih Daffin sambil mengelus pipinya.
"Ya sudah kalau begitu aku akan mengajakmu untuk makan malam," sambung Daffin sambil merangkul Alena.
"Let's go!" balas Alena penuh dengan semangat.
Daffin pun mengajak Alena ke kamar yang sudah ia pesan. Saat didepan pintu kamar, Alena menjadi bingung karena dia pikir Daffin akan mengajaknya ke sebuah Restaurant.
"Kenapa kesini, Mas?" tanya Alena sambil menunjuk pintu kamar yang belum di buka.
"Aku punya kejutan," jawab Daffin sambil menutup kedua mata Alena dari belakang menggunakan tangannya.
"Haha, apaan sih, Mas, jangan lebay lah!" ledek Alena sambil berjalan mengikuti arahan Daffin.
"Bukan lebay, tapi romantis." bisik Daffin.
Alena langsung mengangkat sebelah pundaknya karena merasa sangat geli saat hembusan napas Daffin masuk kedalam telinganya.
Mereka berdua pun masuk kedalam kamar yang super mewah. Walau mata Alena tertutup, tapi dia bisa merasakan betapa luasnya kamar yang mereka masuki. Dari udaranya yang begitu segar membuat Alena semakin penasaran apa yang sebenarnya Daffin lakukan.
"Mas, apa masih belum sampai??" tanya Alena yang sudah tidak sabar lagi.
"Sudah sampai, kamu duduk dulu disini!" jawab Daffin, Alena pun meraba-raba kursi lalu duduk sesuai perintah suaminya.
"Syuprise!!" ujar Daffin sambil membuka mata Alena.
Saat membuka mata, Alena benar-benar sangat terkejut karena dihadapannya saat ini banyak sekali bunga mawar merah. Ditambah lagi cahaya lilin disekitar balkon membuat suasana semakin romantis.
"Ini semua kamu yang buat, Mas?" tanya Alena tidak percaya.
"Ya iya lah, memangnya siapa lagi?" jawab Daffin sambil memeluk Alena dari belakang. "Kamu suka?" tanyanya lagi sambil menatap Alena tepat disamping wajahnya.
"Suka banget, Mas." jawab Alena sambil menoleh kesamping.
Wajah mereka berdua menjadi sangat dekat ketika Alena menoleh kesamping. Tidak ada jarak diantara mereka berdua. Wajah Alena pun langsung memerah dan jantungnya pun jadi berdetak kencang. Dia langsung memalingkan wajahnya agar menjauh dari wajah Daffin.
Namun, siapa sangka, saat Alena memalingkan wajahnya, Daffin malah menarik kembali wajah Alena agar seperti semula berdekatan dengan wajahnya.
Jantung Alena pun semakin berdegup kencang. Tidak tahu apa yang sebenarnya Daffin inginkan, Alena hanya terdiam sambil merasakan hangatnya hembusan napas Daffin yang mengenai wajahnya.
__ADS_1
Daffin kini mulai menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh dagu Alena. Dia sedikit mengangkat dagu Alena agar semakin dekat dengan wajahnya. Wajah Alena yang semakin memerahpun hanya diam mengikuti arahan Daffin.
"Alena akan marah tidak ya jika aku menciumnya sekarang?" batin Daffin bertanya kepada dirinya sendiri. "Coba saja dulu, kalau marah aku akan segera minta maaf." sambungnya lagi dalam hati.
Dengan memberanikan diri Daffin langsung mengecup bibir Alena yang tanpa lipstik itu. Tentu saja mata Alena langsung terbelalak saat Daffin mengecup bibirnya. Jantung Alena langsung berdegup kencang seperti mau meledak.
Daffin terus mengecup bibir Alena tanpa henti. Karena Alena hanya diam, Daffin pun mencoba menerobos masuk lebih dalam lagi. Alena yang semakin terkejutpun sontak langsung berdiri dan mencoba mendorong tubuh Daffin. Daffin pun melepas kecupannya dan langsung memeluk erat tubuh Alena.
"Apa kamu marah?" bisik Daffin didalam telinga Alena.
Tubuh Alena langsung merinding saat hembusan napas Daffin mengenai telinganya. Alena hanya terdiam mematung tidak menjawab pertanyaan Daffin.
"Kenapa diam??" tanya Daffin lagi sambil mengangkat dagu Alena.
"A-aku..."
Baru saja Alena membuka mulut, Daffin langsung mengecup kembali bibir ranum Alena. Alena hanya pasrah lalu menutup erat kedua matanya. Perlahan dia pun membalas kecupan Daffin dan menyambutnya dengan sangat lembut hingga membuat Alena kehabisan napas. Daffin pun menyudahinya dengan menggigit kecil bibir Alena.
"Arghh," rintih Daffin saat dia menggigit bibir Alena. Alena mencengkram kuat pinggang Daffin saat Daffin menggigit bibirnya. Itulah kenapa Daffin merintih kesakitan karena Alena mencengkram tepat dibekas lukanya yang belum sembuh.
"Kenapa kamu yang sakit?" tanya Alena sambil menyentuh bibirnya yang tadi di gigit Daffin.
"Haha, tidak apa-apa." jawab Daffin canggung.
"Aku ambil minuman dulu, ya!" sambung Daffin sedikit merasa malu.
Alena pun hanya mengangguk sambil kembali duduk dikursinya. Dia benar-benar merasa malu dan sangat canggung karena kejadian tadi.
"Mas Daffin kan suamiku, kenapa aku harus malu." gumamnya sambil menepuk kedua pipinya dan menghentakkan kaki karena sangking senangnya bercampur malu.
"Kenapa... Kenapa rasanya seperti sedang honeymoon?" gumam Alena terkejut. "Itu tidak mungkin." sambungnya lagi sambil menepuk kepalanya sendiri.
Tidak menunggu lama Daffin pun datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Dia bersikap seolah-olah menjadi pelayan untuk melayani Alena.
"Tuan putri, makanannya sudah siap!" ucap Daffin bertingkah seperti pelayan kerajaan.
"Haha, apaan sih kamu, Mas?" Alena merasa malu saat diperlakukan lain oleh Daffin.
"Mulai sekarang dan hari berikutnya, aku akan melayani kamu sepenuh hati." ucap Daffin sambil mengecup punggung tangan kanan Alena.
Alena langsung tersipu malu melihat perlakuan Daffin terhadapnya.
"Kenapa sebenarnya dengan kamu, Mas? Please, jangan buat aku dilema!" batin Alena.
Daffin kembali duduk di kursinya. Bibirnya tak berhenti tersenyum setiap memandang wajah Alena. Alena pun hanya diam dan membalas senyuman Daffin dengan penuh rasa malu.
Mereka berdua terus berbincang-bincang kecil sambil menikmati menu makan malam. Alena benar-benar dibuat meleleh karena Daffin terus menggodanya dengan rayuan manis.
Setelah menghabiskan makan malam dan bersantai, Daffin kemudian berdiri sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Alena hanya memperhatikan Daffin tanpa bertanya apa yang Daffin lakukan.
Daffin berjalan menghampiri Alena sambil menyembunyikan tangan kanannya kebelakang. Sedangkan Alena hanya mengkerutkan kening sambil tersenyum canggung.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Alena heran.
__ADS_1
Daffin tidak menjawab dan langsung saja berjongkok dihadapan Alena. Sontak Alena pun terkejut dan langsung berdiri.
"Mas, ada apa?" tanya Alena lagi semakin merasa heran.
"Mana tangan kanan kamu?" ujar Daffin sambil menengadahkan tangan kirinya seperti sedang meminta.
"Mmm, buat apa, Mas?" tanya Alena. Alena pun menjulurkan tangan kanannya dan tangan Daffin pun langsung menyambut tangan kanan Alena.
Daffin terus tersenyum tipis sambil memandangi punggung tangan kanan Alena. Alena hanya terdiam menunggu apa yang akan Daffin lakukan.
"Apa kamu masih ingat, Alena?" tanya Daffin sedikit terkekeh.
"Ehh, ingat apa sih, Mas?" ucap Alena bertanya balik.
"Waktu pernikahan kita. Waktu itu pak penghulu menyuruhku untuk memakaikan cincin dijari manis kamu, tapi ternyata cincinnya kebesaran." jelas Daffin menahan tawanya.
Alena terhentak saat Daffin mengingatkan hal itu. Dia malah teringat hal yang lebih jauh dari itu, yaitu saat mereka berjanji akan mengakhiri pernikahan mereka setelah 5 bulan berlalu.
"Kenapa Mas Daffin mengingatkan hal itu, apa dia sengaja menyindirnya agar aku mengingat perjanjian itu." batin Alena.
Alena berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak menetes. Dia berusaha tersenyum dan menutupi rasa khawatirnya.
"A-aku tentu saja mengingatnya." ucap Alena gugup.
"Kamu gak perlu khawatir lagi, sayang. Mulai sekarang jari kamu akan aku beri tanda bahwa kamu sudah ada yang punya." sambung Daffin sambil memasukkan cincin pernikahan yang sudah Daffin siapkan.
Seketika itu juga air mata alena langsung menetes. Antara bingung dan senang tercampur aduk dalam hatinya. Dia masih bingung apa maksud dari kata-kata Daffin dan maksud dari cincin yang ada dijari manis Alena.
"Kenapa kamu menangis?? Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Daffin langsung berdiri dan menghapus air mata Alena.
Alena dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya.
"Apa maksudnya ini, Mas?" tanya Alena terisak.
"Aku mencintamu, dari dulu sampai detik ini dan sampai besok aku tetap mencintamu. Aku ingin pernikahan kita menjadi selamanya. Lupakan masa lalu dan lalui masa depan bersamaku. Apa kamu mau selamanya hidup bersamaku?" jelas Daffin penuh dengan keyakinan.
Alena masih terdiam seribu bahasa. Memang itu yang dia inginkan, tapi dia masih belum menyangka bahwa perasaan Daffin sama dengan perasaannya.
"Aku tahu... Aku tahu selama ini aku selalu menyakiti hati kamu. Tapi, aku mohon beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu. Lupakan semua kesalah pahaman yang pernah terjadi. Aku berjanji tidak akan membuat kamu kecewa lagi." jelasnya lagi sambil memegang kedua pipi Alena.
Alena tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengangguk lalu memeluk Daffin dengan sangat erat. Daffin mengerti apa maksud dari pelukan Alena, dia pun lalu membalas pelukan Alena dengan sangat erat pula.
"Mulai detik ini kamu satu-satunya permaisuriku," ucap Daffin masih dalam pelukan Alena.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
MAAF YA KALAU UP NYA SEMAKIN LAMA...🙏🙏
BUAT YANG SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!!!