Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 62 Kehadiran Tomy (SS2)


__ADS_3

Sore harinya, Daffin yang sudah berjanji untuk menjemput Alena langsung bergegas meninggalkan kantor. Seharusnya ia menjemput Alena saat jam makan siang, tapi karena banyak pekerjaan ia pun terpaksa menundanya jadi sore hari.


Tiiitttt.. tiittttt..


Sesampainya di rumah, Daffin langsung menghidupkan klakson mobil untuk memberi tanda agar Alena segera keluar. Namun, hingga beberapa menit kemudian tidak ada tanda-tanda kemunculan Alena.


"Pada kemana orang didalam rumah?" Gumam Daffin sembari keluar dari dalam mobil.


"Mang, tolong panggilkan Alena suruh dia cepat keluar!" Pinta Daffin kepada tukang kebun yang sedang membersihkan rumput.


"Non Alena sudah pergi, Mas. Tadi bareng ibu katanya mau menjenguk bapak." Jawab mang Jaja.


Daffin pun tanpa basa-basi lagi langsung bergegas melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Ia sedikit kesal karena Alena tidak mau sabar menunggu sampai ia menjemputnya.


Sesampainya di kantor polisi, Daffin dengan sangat tergesa-gesa langsung berjalan cepat menuju tempat kunjungan. Namun, karena tidak hati-hati, ia malah tidak sengaja menabrak seorang wanita.


"Aduh!" rintih seorang wanita yang tidak sengaja ia tabrak.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja." Ucap Daffin sambil membantu wanita itu untuk berdiri.


"Tidak apa-apa, Mas." Jawab wanita itu sambil berdiri.


Seketika wanita itu langsung terlihat gugup ketika mengetahui siapa laki-laki yang baru saja menabraknya. "Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa kalau papanya mas Daffin juga di tahan di kantor ini. aku harus bersifat sewajarnya." ucapnya dalam hati.


Ia pun langsung merubah ekspresi dengan wajah santai dan anggun yang ia miliki.


"Loh, Mas Daffin, kan?" Tanya wanita itu yang tidak lain adalah Chelsi, wanita yang pernah menolong Alena saat di pantai.


Daffin sedikit mengkerutkan keningnya sambil menatap wanita itu. Ia mencoba untuk mengingat siapa wanita dihadapannya itu.


"Aku Chelsi, Mas." Chelsi segera mengingatkan namanya kepada Daffin karena ia merasa Daffin tidak mengingatnya.


Daffin masih tidak bereaksi ketika mendengar nama itu. Dalam hatinya ia malah menjadi tidak senang setelah mengingat siapa wanita dihadapannya.


"Masih belum ingat aku ya, Mas. Aku yang waktu itu..." belum selesai Chelsi menjelaskan lebih rinci, Daffin langsung segera meninggalkan Chelsi begitu saja.


Tidak tau apa penyebabnya, Daffin sangat tidak suka ketika melihat Chelsi apalagi ketika mendengar suaranya.

__ADS_1


"Hmm," Chelsi hanya tersenyum ringan sambil memperhatikan punggung Daffin yang berlalu meninggalkannya. "Mas Daffin, kamu tidak akan bisa menghindar dariku!" Batinnya.


Setelah merasa aman dari tatapan Chelsi, Daffin langsung menghentikan langkahnya dan berdiri dibalik tembok. Ia sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat Chelsi yang sedang berjalan menuju mobilnya.


"Ada urusan apa wanita mengerikan itu datang ke kantor polisi?" Gumam Daffin heran.


"Ada apa, pak Daffin?" Tanya salah satu polisi dan ia pun ikut memperhatikan wanita yang sedang Daffin perhatikan.


"Apa wanita itu sering datang kemari?" Tanya Daffin.


"Mmm, seingat saya nona itu baru dua kali datang kemari, Pak." Jawab polisi sedikit ragu.


"Siapa yang ia kunjungi?" Tanya Daffin lagi semakin penasaran.


"Dia mengunjungi pak..."


"Ada apa ini, pak Daffin?" Tanya pak Irwan seorang inspektur polisi. Pak Irwan mencengkram kuat bahu polisi yang tadi mengajak bicara Daffin. Seolah-olah mengerti apa maksud pak Irwan, ia pun segera pergi meninggalkan Daffin.


"Tidak," jawab Daffin singkat lalu pergi menuju ruang kunjungan.


Daffin merasa ada yang aneh dengan Inspektur itu. Seperti ada yang ditutupi dari wanita yang bernama Chelsi itu, pikirnya.


Daffin tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya, tetapi senyumnya langsung saja hilang ketika melihat laki-laki yang duduk sangat dekat disamping Alena. Laki-laki itu adalah Tomy yang baru diketahui ternyata dia adalah anak kandung anak pamannya, Hendra. Disana juga ada pamannya yang ikut duduk layaknya seperti keluarga yang sedang berkumpul.


Daffin menatap sinis kedua laki-laki itu, ia pun langsung duduk disebelah papanya.


"Papa apa kabar? Maaf aku baru sempat mengunjungi papa." Ucap Daffin sambil memeluk pak Bagas.


"Tidak apa-apa, papa tahu kamu sangat sibuk." Jawab pak Bagas membalas pelukan putranya.


"Baiklah karena ini di kantor polisi dan waktunya terbatas, kita langsung saja bicara kepada intinya." Sambung pak Bagas tanpa basa-basi lagi.


Daffin dan yang lainnya pun langsung mengangguk paham apa yang dimaksud pak Bagas. Sedangkan Alena dan bu Agis hanya terdiam siap mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan.


"Papa tidak akan menjelaskan siapa nak Tomy ini dan kenapa dia ada disini. Kamu pasti sudah tahu bukan? Bahwa Tomy adalah anak pamanmu. Walau bagaimana pun...."


Pak Bagas menjelaskan secara detail tentang pembagian saham yang akan dimiliki Tomy sebagai anak dari Hendra. Tomy akan memegang tiga puluh persen saham hasil pembagian dari kakeknya. Begitu pula dengan Daffin yang memiliki hak yang sama. Pak Bagas menginginkan Daffin agar melupakan masa lalu pamannya yang pernah berniat jahat. Ia menginginkan keluarganya hidup rukun tanpa ada pertumpahan darah lagi.

__ADS_1


"Jadi... mulai sekarang kalian berdua kelola lah perusahaan kita bersama-sama." Jelas pak Bagas.


Tomy sejak tadi hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Pasalnya ia masih marah perihal ayahnya yang dulu membuang dia begitu saja dan saat ini ia malah harus bersekutu dengan keluarga Daffin. Sejak awal ia sangat membenci Daffin karena ia menganggap bahwa Daffin adalah saingan cintanya dan telah merebut Alena dari tangannya.


"Tomy, kamu setuju,kan? Apa kamu kurang puas dengan pembagian saham yang paman berikan?" Tanya pak Bagas. Ia merasa khawatir dengan Tomy yang tanpa ekspresi itu. Pak Bagas takut hanya gara-gara pembagian saham kejadian bertahun-tahun lalu terulang kembali. Oleh sebab itu, jika memang Tomy tidak merasa puas dengan pembagian saham, ia rela memberikan bagiannya untuk Tomy.


"Tidak, Paman. Aku akan menerima apapun yang paman berikan." Jawab Tomy datar.


Pak Bagas pun merasa tenang mendengar jawaban dari Tomy. Tomy tidak dididik oleh ayahnya, ia percaya bahwa sifat ayahnya yang serakah tidak akan menurun kepada putranya.


Daffin hanya terdiam dengan raut wajah tidak senang. Bukan karena pembagian saham yang membuatnya tidak senang, melainkan ia takut bahwa dibalik diamnya Tomy ada rencana jahat seperti ayahnya.


"Kalau begitu mulai sekarang Tomy tinggal bersama bibi, ya! Kita tinggal bersama-sama, karena semenjak paman disini bibi kesepian tinggal di rumah." Pinta bu Agis kepada Tomy.


Mendengar kata itu, Daffin semakin tidak senang jika Tomy harus tinggal bersama ibunya. Ia takut jika saja Tomy akan balas dendam karena bagaimana pun ia adalah anaknya Hendra dan lagi ia adalah laki-laki lain yang menyukai istrinya.


"Maaf, Bibi. Bukannya saya tidak mau, tapi saya sudah punya rumah sendiri." Tomy menolak permintaan bu Agis. Sifatnya yang sudah mandiri sejak kecil membuatnya tidak suka tinggal bersama orang banyak apalagi itu keluarganya Daffin.


"Walau Tomy sudah punya rumah sendiri, ada baiknya kan kita tinggal bersama-sama. Nanti ada Alena dan Daffin juga yang akan menemani Bibi. Kita tinggal bersama, ya!" Rayu bu Agis sangat menginginkan Tomy tinggal bersamanya.


Daffin terkejut ketika mendengar jika mereka juga harus tinggal bersama ibunya. Bukannya tidak mau menemani ibunya, tapi Daffin tidak suka jika Alena harus sering-sering bertemu dengan Tomy.


Namun, lain halnya dengan Tomy. Mendengar bahwa Alena juga akan tinggal bersama di rumah besar keluarga Permana. Tomy merasa senang dan akan mempertimbangkan keputusannya untuk tinggal bersama mereka demi Alena.


"Maaf, Mah. Kita kan sudah punya rumah sendiri. Kita akan sering berkunjung ke rumah Mamah, tapi tidak perlu tinggal." Bantah Daffin tidak setuju jika dia juga harus tinggal serumah bersama Tomy.


Bu Agis pun langsung menunduk sedih mendengar jawaban dari Daffin. Ia juga sedih mendengar penolakan dari Tomy yang tidak mau tinggal bersamanya. Semenjak suaminya masuk penjara, bu Agis benar-benar sangat kesepian. Walau masih ada Dafka, tetapi Dafka jarang sekali berada di rumah untuk menemani ibunya.


"Mamah jangan sedih, ya. Alena mau kok tinggal bersama Mamah. Kita akan tinggal sama-sama dengan begitu Mamah tidak akan kesepian lagi." Ucap Alena sambil memeluk ibu mertuanya.


Tomy pun tersenyum puas mendengar kata-kata Alena. Ia langsung merubah keputusannya untuk tinggal bersama keluarga Permana.


"Jika ada Alena, maka aku bersedia tinggal di rumah keluarga Permana." Batin Tomy tersenyum ringan.


"Sial, kenapa Alena malah menyetujuinya?" Umpat Daffin dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


(Next episode: Keluarga besar Permana)


Jangan lupa like,comment,m dan vote novel ini, ya!!


__ADS_2