Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 7 kebaikan kecil


__ADS_3

Alvin ternganga melihat sikap sahabatnya itu. Dia tidak percaya kalau Daffin akan benar-benar pergi bulan madu bersama Alena. Karena yang dia tau Daffin dan Alena sekarang sudah seperti kucing dan tikus tidak ada lagi kecocokan di antara mereka.


"Bersenang-senanglah," batin Alvin sambil menggenggam erat beberapa helai rambut Daffin.


Daffin melajukan mobilnya menuju jalan raya, saat di persimpangan lampu merah dia pun memberhentikan mobilnya. Dia termenung teringat kepada putri kecilnya yang masih berumur sekitar 2 tahun. Sudah hampir 2 bulanan Daffin tidak pernah menemui Vivi kecilnya. Setelah berpikir lama Daffin pun memutuskan untuk menemuinya karena dia merasa sangat merindukannya.


Setelah sampai di depan rumah yang di tinggali Vivi dan Serli, Daffin pun masuk kedalam rumah dengan beberapa oleh-oleh di tangannya. Daffin menoleh sekeliling ruangan namun tidak mendapati putrinya dimana pun. Saat Daffin mulai panik, tiba-tiba saja jemari kecil Vivi menyentuh tangan besar Daffin.


"Papa.!" panggil Vivi sambil memeluk kaki Daffin.


"Vivi kecil kamu membuat papa khawatir," balas Daffin sambil menggendong tubuh mungil Vivi dan mengecup keningnya.


"Maaf Pak, tadi saya mengajak Vivi ke halaman belakang. Tidak tau bahwa Pak Daffin berkunjung kemari." ucap Dini pengasuhnya Vivi.


"Tidak apa-apa, dimana Serli?" tanya Daffin sambil fokus menimang-nimang putri kecilnya.


Dini tidak langsung menjawab pertanyaan Daffin dia malah meremas-remas bajunya sendiri karena merasa takut dan gugup di hadapan Tuannya.


"A-anu, i-itu Pak, sa-saya tidak tau," jawab Dini menahan gugupnya.


Daffin tidak bertanya lagi, karena dia sudah tau kemana Serli pergi. Daffin sedang menantikan kebohongan apa lagi yang akan keluar dari mulut Serli untuk menutupi kebusukan hatinya.


Setelah puas bermain bersama Vivi, tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 1 siang. Daffin pun langsung menidurkan putrinya agar dia tidak menangis saat Daffin akan meninggalkannya.


"Vivi kecil, kalau pun kamu bukan darah dagingku, aku akan tetap menjadikan mu sebagai putri kecilku. Karena cepat atau lambat Mama brengs*k mu itu akan aku masukan ke dalam penjara," gumam Daffin sambil mengecup kening Vivi.


"Dini tolong jaga Vivi ya, jangan biarkan dia menangis.!" pinta Daffin lalu pergi meninggalkannya.


Daffin melajukan mobilnya kembali kerumah untuk menjemput Alena. Setelah sampai rumah Daffin langsung melepas jasnya karena merasa sangat gerah, dia lalu mencari Alena dan mengajaknya untuk segera berangkat kerumah ayah dan bundanya.


"Alena ayo berangkat.!!" ajak Daffin sedikit berteriak sambil berdiri di ujung bawah tangga.


"Apa sih Mas jangan teriak-teriak aku di sini," jawab Alena muncul dari arah dapur.


"Aku kira kamu lagi di kamar," ketus Daffin sambil menenteng jas di lengannya dan memberikannya kepada Alena.



"Kamu bilang cuman sebentar, ini sudah jam berapa mas??" ketus Alena sambil menunjukan jam tangannya kewajah Daffin.

__ADS_1


"Jam 2," jawab Daffin singkat.


Daffin tidak merasa bersalah sedikitpun walau sudah membuat Alena menunggunya terlalu lama. Dia tidak berniat untuk menjelaskan atau memberikan alasan kenapa dia baru kembali setelah jam 2 siang.


Alena hanya cemberut menahan kesal karena menunggunya terlalu lama. Dia pun langsung pamit kepada bu Agis yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.


"Kalian hati-hati di jalan, salam buat ayah dan bunda ya Alena," ucap bu Agis dan Alena langsung menganggukinya.


"Alena pamit ya, Ma!" balas Alena sambil mencium punggung tangan bu Agis.


Daffin dan Alena pun masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumah keluarga Alena. Di perjalanan mereka berdua tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Alena memilih untuk menatap keluar kaca mobil dan sesekali memainkan ponselnya, sedangkan Daffin tentu saja hanya fokus dengan kemudinya.


Daffin menghentikan mobilnya karena di depan sedang lampu merah. Alena pun membuka kaca mobil dan melihat kesekeliling jalanan.


"Arghhh," teriak Alena membuat Daffin terkejut.


"Ada apa?" tanya Daffin sambil menatap Alena.


Daffin langsung menahan tawanya saat dia lihat ternyata Alena hanya terkejut ketika pedagang asongan menjulurkan tangannya untuk menawarkan beberapa tissu.


"Puuft,, kamu kelihatan banget kalau lagi ngelamun, gitu aja teriak." ejek Daffin sambil menahan tawanya.


"Kakak cantik beli tissunya ya cuman 5 ribu," tawar anak kecil penjual tissu.


"Ehh maaf ya saya ti..."


"Beli satu," sambung Daffin dengan cepat memotong pembicaraan Alena.


Daffin langsung membeli satu tissu dan mengeluarkan uang sejumlah 20 ribu. Alena hanya diam tanpa ekspresi memperhatikan Daffin sedang memberikan uang kepada anak kecil itu.


"Wah uangnya besar sekali tidak ada kembaliannya, Kak!" ucap anak kecil itu sedikit sedih.


"Ambil saja kembaliannya, makasih ya tissunya," balas Daffin disertai senyuman.


Anak kecil itu bahagia bukan main, dia berjingkrak kegirangan karena mendapatkan uang 20 ribu hanya dengan menjual satu tissu saja. Alena masih terkesima dengan sikap Daffin terhadap anak kecil itu.


"Kenapa beli tissu kita kan tidak butuh tissu," protes Alena tidak mengerti.


"Kita memang tidak membutuhkan tissu, tapi anak itu membutuhkan uang untuk membeli makanan. Memangnya kamu tidak lihat betapa bahagianya dia saat aku tadi membeli satu tissunya saja, dan dia lebih bahagia lagi saat aku memberikan uang kembaliannya. Mereka yang berada di jalanan bisa makan satu kali dalam sehari saja sangat bersukur. Jadi kita harus membantu menambah rezeki mereka." jelas Daffin membuat Alena tercengang kagum mendengar penjelasannya.

__ADS_1


"Coba kamu lihat.!!" sambungnya lagi sambil mengarahkan kepala Alena agar melihat anak-anak jalanan itu.


Ya banyak anak jalanan bertebaran di sepanjang lampu merah. Mereka semua bertahan hidup hanya mengandalkan hasil dari menjadi pedangan asongan. Bahkan dari mereka ada yang harus mengemis karena kurangnya hasil dari menjual dagangan.


"Kemana orangtua mereka??" tanya Alena dengan suara lirih.


"Mereka rata-rata anak yatim piatu, dan buat yang memiliki orang tua pasti mereka juga menjadi pemulung,pengemis dan menjadi pedagang asongan." jelas Daffin sambil memperhatikan beberapa anak jalanan di tepi jalan.


Alena merasa sedih melihat mereka semua, kehidupannya jauh berbeda di atas mereka. Alena terbiasa hidup mewah, apa pun yang dia inginkan akan terwujud karena dia selalu di manja oleh kedua orangtuannya. Saat memikirkan anak jalanan itu yang untuk makan sehari saja mereka harus jungkir balik mencari uang, hati Alena tersentuh dan ingin membantu menambah rezeki mereka semua.


"Mas, beli nasi kotak yuk.! Mereka pasti belum makan siang." ajak Alena.


Daffin pun tersenyum dan langsung mengiyakan niat baik Alena. "Kalau begitu panggil salah satu dari mereka, suruh kumpulkan semua teman-temanya." perintah Daffin.


"Siap boss," balas Alena semangat.


Alena pun melambaikan tangannya melalui jendela mobil kepada anak jalanan yang tadi menjual tissu. "Dek, sini!!" panggil Alena.


.


.


.


.


BERSAMBUNG


Note: Dilarang Promosi, kecuali tinggalkan..


*Like.


*Komentar sewajarnya tentang isi cerita.


*Rate 5 🌟


*Vote.


Buat para readerd tercinta juga jangan lupa tinggalkan jejak seperti diatas yah!!😊

__ADS_1


__ADS_2