
"Waw, tampan banget ni cowok, mas Daffin aja kalah." gumam Alena sambil menatap wajah pria itu.
"Mbak? Kok malah bengong? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi dengan wajah heran.
Alena langsung tersadar kalau dia ternyata malah terkesima dengan ketampanan pria di hadapannya.
"Eh, ada apa, Mas?" tanya Alena bingung.
"Hemm, saya lihat Mbak dari tadi seperti orang bingung dan sepertinya Mbak karyawan baru ya soalnya saya baru lihat sekarang, apa ada yang bisa saya bantu??" tanyanya lagi untuk yang kedua kalinya.
"Ohh, ini aku disuruh ngantar berkas penting katanya keruang Office, tapi aku aku tidak tau dimana ruangannya," jawab Alena sedikit malu-malu.
"Ohh, kebetulan saya bekerja dibagian Office, mari saya tunjukan ruangannya!" ajak pria itu dengan sangat sopan dan ramah.
"Hemm, siapa nama kamu dan sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" tanya Alena sambil berjalan mengikuti pria yang menurutnya sangat mudah diajak bicara.
"Nama saya Faisal, Mbak. Saya baru tiga tahun bekerja di sini, tapi saya sudah paham betul tentang ruangan-ruangan di kantor ini," jelasnya dengan wajah santai.
Alena hanya mengangguk sambil melihat-lihat ke dalam ruangan karena mereka sedang berjalan di koridor kantor.
"Mbak sendiri karyawan baru ya dari Departemen mana? Dan... kalau boleh tau namanya siapa??" tanya Faisal penasaran.
"Ahahaha, aku..."
Alena bingung mau menjawab apa, faktanya dia bukan karyawan melainkan istri atasan mereka. Dia pun hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena tidak ingin berterus terang kepada Faisal. Dia tau, jika dia mengatakan bahwa dia adalah istri atasannya. Maka Faisal akan bersikap terlalu formal terhadapnya.
"Sal, ngapain kamu disini bukanya kerja?" teriak seorang wanita sambil berjalan menghampiri mereka berdua.
"Ani? Kamu juga ngapain disini?" tanya Faisal balik bertanya.
"Aku lagi mau ngantarin dokumen ke pak Alvin nih, siapa ni Office baru ya?" tanya Ani sambil melirik Alena yang sedang membawa kardus.
"Mau dibawa kemana sampah ini?" tanya dia lagi sambil melihat isi kardus.
"Sembarangan kalau ngomong, dia bilang berkas penting!" timpal Faisal sambil ikut memeriksa isi kotak.
Alena hanya bengong membiarkan mereka berdua memeriksa isi dalam kardus. Karena dia juga mulai berpikir kalau memang itu dokumen penting kenapa di dalam kardus bukan di dalam Map atau sejenisnya.
"Apa aku bilang ini gak penting isinya cuman berkas potocopy yang sudah tidak diperlukan," jelas Ani sambil membaca kertas potocopy yang ia ambil dari dalam kardus.
"Iya benar, kayaknya ada yang ngerjain kamu deh," ucap Faisal sambil melirik Alena yang sudah membara menahan emosi.
"Argghhhh, sialan jadi aku cuman dikerjain!" pekik Alena sambil melempar kardus yang ia pegang sejak tadi.
"Hihi, sabar Mbak, karyawan baru memang suka kena usil sama para senior," ucap Faisal sambil mengusap ujung kepala Alena.
__ADS_1
"Enggak, pokoknya aku enggak terima!!" pekik Alena sambil berjalan berbalik ingin mencari orang yang mengerjainnya.
Faisal dan Ani pun langsung menggelengkan kepalanya. Mereka berpikir bahwa Alena adalah satu-satunya karyawan baru yang berani marah karena dikerjai oleh salah satu senior.
"Hey, tunggu kamu jangan sembarangan!!" teriak Faisal dan Ani serempak sembari mengejar Alena yang berjalan sedikit cepat.
Alena pun tiba-tiba memperlambat langkah kakinya kemudian berhenti tepat di depan pintu kantor Daffin. Dia berpikir dari pada dia meluapkan amarahnya, lebih baik dia memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur selagi Daffin masih sibuk di ruang rapat.
"Aku rasa kamu mengerti sekarang," ucap Faisal sambil berjalan menghampiri Alena dan membaca tulisan Precident yang tertera di pintu.
"Sal, memang dia ini siapa sih?" tanya Ani sambil melirik Alena yang masih terlihat sedang berpikir.
"Hehe... aku juga belum tau siapa namanya, kami baru bertemu tadi dan dia belum sempat memberitahukan siapa namanya," jawab Faisal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Namaku Alena, sepertinya kalian asik untuk diajak berteman!" ucap Alena sambil menjulurkan tangannya didepan Faisal dan Ani.
"Baiklah, karena kamu memaksa mari kita berteman," balas Ani sambil menyambut tangan Alena.
"Dih, aku gak maksa kali," bantah Alena sambil tersenyum nakal.
"Hahaha, namaku Ani, aku dibagian Office juga sama seperti Faisal," sambung Ani sambil menyenggol Faisal.
Faisal hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Ani. Mereka bertiga pun langsung menuju kantin yang berada didalam kantor. Walau mereka baru saling kenal tidak membuat mereka saling merasa canggung, tetapi mereka malah terlihat akrab seperti sudah berteman sejak lama.
Disisi lain, Daffin yang sejak tadi terlihat gelisah terus saja memandang kearah jam tangannya. Semua orang menyadari bahwa tidak biasanya Daffin yang sangat giat bekerja itu sekarang malah terlihat tidak fokus dengan rapat paginya. Alvin yang paham dengan situasi Daffin pun hanya dapat mengusap kepalanya sendiri.
Daffin sangat mengkhawatirkan Alena, takutnya Alena membuat masalah dengan orang seisi kantor. Dia menyesal sudah mengerjai Alena dan membiarkannya keluyuran di dalam kantor.
"Vin, percepat rapatnya!" perintah Daffin sambil lagi-lagi melihat jam tangannya.
"Maaf, tapi rapat kali ini sangat penting. Sepertinya tidak bisa dipercepat." jawab Alvin sambil melihat ke layar monitor.
"Kalau begitu aku pergi sebentar," sambung Daffin sambil berdiri kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
Sontak sikap Daffin langsung membuat para klien kebingungan karena dia yang tiba-tiba pergi begitu saja tanpa meninggalkan satu katapun. Alvin langsung terlihat geram melihatnya.
"Daffin, dasar sialan!! Mentang-mentang ada istrinya, seenaknya saja meninggalkan rapat!!" ketus Alvin sambil meremas kertas di atas mejanya.
Alvin pun langsung menghela nafasnya dengan kasar, dia pun segera menghendle dan memimpin berjalannya rapat agar para klien tidak kebingungan lagi karena kepergian Bos mereka yang tidak jelas itu.
Saat tiba di luar ruangan, Daffin langsung mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Alena. Namun, Alena dengan sengaja tidak menjawab telepon dari Daffin. Daffin pun marah dan langsung segera mencari Alena melalui GPS ponselnya.
"Alena, beraninya kamu mengabaikan panggilan ku!" ketus Daffin sambil menggenggam erat ponsel di tangannya.
Alena yang sedang asik mengobrol bersama kedua teman barunya tidak sadar bahwa ada seseorang yang emosi karena sikapnya yang cuek itu. Dia tau bahwa Daffin gila kerja, jadi walau dia tidak menjawab telponnya pun Daffin tidak akan marah. Namun, seepertinya Alena salah kali ini. Daffin saat ini sedang marah karena Alena berani mengabaikannya.
__ADS_1
"Aku mau kerja lagi nih, duluan ya." ucap Ani setelah menyeruput habis segelas kopinya.
"Oke, aku juga 10 menit lagi dipanggil oleh Manager," balas Faisal sambil melihat jam tangannya.
Saat kedua temannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Alena masih dengan wajah santainya menyeruput Capuccinonya. Di otak kecilnya saat ini hanya sedang berpikir bagaimana caranya keluar dari kantor, sedangkan saat ini dia tidak memegang uang sepeserpun.
"Al, kamu itu sedang santai atau lagi bengong sih??" tanya Faisal sambil menepukan kedua tangannya didepan wajah Alena.
"Ehhh kaget aku," Alena terkejut karena dia memang sedikit melamun.
"Kenapa??" tanya Faisal sambil mengkerutkan keningnya.
Saat itu juga Alena langsung tersenyum sambil memandang wajah Faisal. Dia berpikir bahwa Faisal orang baik dan jujur, dia pasti bisa menolongnya untuk keluar dari kantor.
"Mmm... Sal, kamu mau bantuin aku gak??" tutur Alena dengan sangat hati-hati.
"Hmm,, bantu apa nih??" tanya Faisal mulai menyipitkan kedua matanya.
Alena kemudian duduk di sebelah kursi Faisal, dia langsung mendekatkan mulutnya di telinga Faisal. Faisal merasa sangat geli saat napas Alena mulai berhembus di telinganya.
"Geli.." pekik Faisal sambil menutup telinganya.
"Haha... Apaan sih, Sal. Aku baru aja mau ngomong," ucap Alena sambil tertawa kecil.
"Jangan bisik-bisik ngapa sih, ngomong biasa aja." bantah Faisal karena dia merasa geli dan malu.
"Disini banyak orang yang mau aku omongin tu bikin malu banget," jawab Alena sedikit menurunkan nada bicaranya sambil melihat kesekelilingnya.
"Ya udah cepat mau ngomong apa," balas Faisal siap mendengarkan kata-kata Alena.
Alena pun langsung mengangguk dan langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Faisal. Faisal reflek sedikit mendekatkan lagi kepalanya kearah Alena. Posisi mereka berdua saat ini bisa saja membuat orang lain salah paham karena mereka terlalu sangat dekat. Alenapun langsung meluncurkan ide nya,dia mulai mengatakan apa yang tadi ingin ia katakan.
"Apa yang sedang kalian lakukan??" tanya seseorang dengan nada yang penuh amarah.
BERSAMBUNG
**Hay hay...
Author masih punya pembaca setia gak ya?😢
kalau gak ada author tau diri kok karena up seenak kepala sendiri jadinya pada kabur deh..
buat yang masih setia makasih banget ya masih mau baca cerita abal-abal dari aku..
I Love You readers**....
__ADS_1