
Daffin langsung memakai kaos dan celana jeans pendeknya. Sedangkan Alena masih duduk ditepi ranjang dengan berbalut handuk. Ia pun terus melirik Alena sambil menahan senyumnya.
"Pakai bajunya, nih! aku mau urus tamu tak di undang dulu." Ucap Daffin sambil memberikan Alena baju.
"Tunggu, Mas! Aku ikut."
"Tidak, kamu diam disini." jawab Daffin cepat. Dia langsung berjalan menuju pintu.
Alena kesal dan langsung melempar baju yang Daffin berikan kelantai. "Iya, kalau selingkuhannya datang ya gitu," gerutu Alena.
Daffin langsung menghentikan langkahnya. Dia lalu berbalik dan berjongkok mengambil baju dari lantai. "Aku gak selingkuh, tapi mau ngusir Serli agar tidak menganggu kita," balas Daffin dengan sangat lembut. Alena masih berpura-pura marah. Dia terus saja memanyunkan bibirnya dan tidak mau melihat Daffin.
"Hey, lihat aku!" Daffin memegang kedua pipi Alena agar dia menatapnya. Cuuppp
Deghh..
Daffin sekilas mengecup bibir ranum Alena. Alena langsung terdiam, jantungnya serasa berhenti berdetak saat Daffin tiba-tiba mengecup bibirnya. Perasaannya bercampur aduk kesal, ingin marah tidak karuan.
"Pakai bajunya, kamu tunggu disini!" Daffin menahan senyumnya. Ia langsung meninggalkan Alena yang sedang terkesima karena perbuatannya.
Setelah Daffin pergi Alena dengan cepat langsung memakai pakaiannya. "Sialan! Bibirku ternodai." gerutu Alena sambil memakai baju.
Perlahan Alena langsung berjalan menuju pintu. Dia tidak ingin melewatkan pertengkaran antara Serli dan suaminya. "Hihi, aku akan menjadi satu-satunya penonton setia." gumam Alena dengan senyum seperti hantu.
"Loh, terkunci?" gumam Alena sambil memutar-mutar handle pintu. "Mas Daffin, sialan! Kamu mengurungku!!" teriak Alena sangat kesal.
Daffin mendengar teriakan Alena dari dalam kamar. Dia sengaja menguncinya karena khawatir jika saja Serli menyakitinya lagi.
"Haiss, sialan kamu, Mas! Aku tidak bisa mendengar apapun dari sini." gerutu Alena sambil menempelkan telinganya pada daun pintu. Alena pun pasrah dan dengan kesal kembali duduk ditepi ranjang untuk menunggu Daffin.
Daffin menuruni anak tangga dengan tatapan kesal. Serli yang melihat Daffin pun langsung beranjak dan memeluk Daffin. "Mas Daffin, kamu lama banget, sih?" tanya Serli manja.
"Lepas!" bentak Daffin sambil menepis tangan Serli. "Katakan kenapa kau kemari?" sambungnya lagi. Dia lalu duduk di sofa sambil menumpangkan kakinya. "Gerak-geriknya masih normal. Sepertinya dia belum mengetahuinya," pikir Daffin sambil memperhatikan Serli.
"Mas, kapan kamu mau nikahin aku?" tanya Serli sambil menghampiri Daffin dan bermanja-manja.
"Aku sudah punya istri, tak akan aku menikah lagi." jawab Daffin. Daffin lalu berpindah duduk menjauhi Serli.
Serli kesal dan langsung berdiri dihadapan Daffin. "Lalu bagaimana dengan Vivi? Vivi masih kecil dia butuh seorang ayah. Sekarang saja kondisinya belum pulih normal. Kamu bahkan tidak menjenguknya, Mas!!" pekik Serli.
Daffin hanya tersenyum sinis menanggapi omelan Serli yang terdengar geli di telinganya. Dia pun langsung berdiri dan mendekati Serli. Serli tersenyum senang karena dia pikir Daffin ingin memeluknya. "Vivi memang senjata paling ampuh," batin Serli.
"Jangan berteriak atau aku akan memusnahkan kamu!" ancam Daffin sambil mencekik leher Serli.
"Arghh. Mas, apa yang kamu lakukan? Uhukk uhukk." Serli terkejut melihat perlakuan Daffin. Dia mengerahkan sekuat tenaga agar terlepas dari cengkraman Daffin. "Uhukkk uhuukkk, Mas, tolong kepaskan! Aku bisa mati."
"Kau takut mati??" tanya Daffin sambil mengendurkan cekikannya, tapi tidak melepaskannya. "Aku sejak dulu ingin menyingkirkanmu, tapi demi mengetahui siapa dalang dibalik rencanamu. Aku harus tetap sabar." Batin Daffin menahan emosinya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Serli, Daffin menempelkan CCTV sebesar kancing baju dibalik tasnya. Daffin sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri permainan Serli.
Serli ketakutan bukan main saat melihat sorot mata Daffin yang tajam. Ini pertama kalinya dia melihat Daffin semarah itu hingga berani mencekik lehernya. Selama ini Daffin selalu bersikap sabar kepadanya. Mungkin kali ini adalah puncak dari kesabarannya. "Bagaimana ini? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Daffin. Apa dia mengetahui sesuatu?" batin Serli.
"Setelah aku melepaskanmu, apa kau bersedia langsung pergi dari hadapanku?" tanya Daffin sambil mempererat lagi cekikannya.
"Arrgghhh. Uhuukk uhuukk." Serli sudah tidak bisa bicara lagi. Dia hanya menganggukan kepalanya. Itulah yang bisa ia lakukan.
Daffin melepaskan cekikannya. Serli langsung terkulai lemah dan jatuh kelantai. "Ma-mas... Kamu..."
"Apa yang tadi aku katakan!!" bentak Daffin hendak mencekik lehernya kembali.
"Arghhh, iya aku pergi," teriak Serli. Serli berjalan dengan sedikit sempoyongan. Kali ini dia benar-benar merasakan amarah yang mungkin selama ini sudah Daffin pendam. "Menakutkan sekali,"
Saat tiba diluar pagar rumah Daffin. Serli langsung menghentikan sebuah Taxi dan masuk kedalamnya. Serli kali ini merasa bahwa Daffin benar-benar sudah berubah. Diapun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Halo?"
"Halo Ayah, aku hampir saja mati oleh Daffin. Apa dia mengetahui sesuatu? Aku mohon bantu aku, Ayah!" rengek Serli kepada seseorang dari dalam teleponnya.
"Iya, Ayah... Iya, aku mengerti.... Hem, aku akan melakukan sesuai rencanamu. Tapi, ayah boleh balas dendam asal jangan menyakiti Daffin. Baik, Ayah. Aku tutup dulu teleponnya." Serli langsung menutup pembicaraannya dari balik telepon.
Daffin yang tadi memasang alat perekam di tas Serli pun langsung bisa mendengarkan apa yang dia katakan. Namun, sayang dia tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang dari balik telepon.
"Sudah ku duga pasti ada orang lain dibalik rencananya." gumam Daffin sambil terus mendengarkan recording suara Serli dari dalam laltopnya.
Tlinggg.. Tliiingg
Dering ponsel Daffin berbunyi. "Siapa yang menelepon malam-mala begini!" omel Daffin kesal. "Ck, Alvin?" gumamnya saat melihat layar ponsel ternyata Alvin yang meneleponnya.
"Halo, ada apa?" tanya Daffin malas.
"Kabar baru dari Dinar." ucap Alvin dari balik telepon.
"Apa??"
"Serli memiliki ayah angkat, tapi tidak ada yang tau siapa ayah angkatnya. Dinar tidak sengaja memegang ponsel Serli dan kebetulan ada yang menelepon bernama 'Ayah angkat'. Serli sampai mengancam Dinar untuk tidak mengatakan apapun tentang ayah angkatnya." Jelas Alvin.
Daffin terdiam. Baru saja dia berpikir bahwa Serli tidak memiliki keluarga. Ternyata sekarang ada kabar baru bahwa Serli memiliki ayah angkat.
"Terus awasi pergerakannya!" balas Daffin. Matanya masih fokus dengan layar laptopnya. "Siapa sebenarnya ayah angkat Serli, kenapa dia merahasiakan tentang ayah angkatnya" pikir Daffin sangat curiga.
"Mas Daffin!!! Buka pintunya!!" teriak Alena bak petir menyambar hingga terdengar sampai ke telinga Alvin.
"Apa kau mengurung Alena?" tanya Alvin. "Ya, aku lupa kalau sedang mengurungnya," jawab Daffin langsung menutup teleponnya.
Daffin benar-benar lupa kalau sedang mengurung Alena didalam kamar. Dia pun langsung bergegas menuju kamar untuk meredakan amarah Alena.
__ADS_1
"Alena, maaf, ya!" ucap Daffin sambil membuka pintu.
Buughh..
Seketika bantal langsung mendarat diwajah Daffin. "Kenapa tidak tinggalkan aku saja sekalian, pergi sana sama Serli, pergi pergi pergi!!" teriak Alena sambil terus melempar Daffin dengan bantal dan guling.
"Alena, stop jangan lempar lagi, ya!" pinta Daffin sambil memegang bantal untuk menutupi wajahnya. Karena tidak ada lagi bantal untuk dilempar, Alena terdiam sambil melipatkan kedua tangannya didada.
"Kamu jangan marah, ya! Dia sudah pulang dari tadi. Aku tadi sedang bicara dengan Alvin lewat telepon jadi tidak segera kemari." jelas Daffin sambil memungut bantal-bantal yang tergeletak dilantai.
"Bohong!" bentak Alena tidak percaya. "Kamu itu raja pembohong aku tidak akan percaya. Gara-gara kamu aku jadi tidak bisa menonton dan menyulut api." batin Alena kesal.
"Cup cup, jangan marah ya, aku tidak berbohong." Daffin langsung memeluk dan mengecup kening Alena.
Wajah Alena langsung memerah. Antara malu dan kesal bercampur aduk dalam dada. "Pergi sana! Aku mau tidur." bentak Alena sambil mendorong Daffin agar menjauh darinya.
"Kamu memang harus cepat tidur, besok pagi kita ke rumah sakit untuk chek up." ucap Daffin. Lagi-lagi dia mengecup kening Alena.
Alena berbaring membelakangi Daffin. Daffin hanya menahan senyumnya dan ikut berbaring di sebelah Alena. Alena yang masih menahan amarahnyapun tidak ingin tidur satu ranjang dengan Daffin.
"Aku tidak mau tidur denganmu!" bentak Alena sambil mendorong tubuh Daffin.
"Apa segitunya kanu marah sama aku?" tanya Daffin dan Alena sama sekali tidak menjawabnya. "Hem, oke aku akan tidur di kamar tamu," sambungnya lagi pasrah.
Alena langsung melempar bantal dan guling kelantai. "Kamu tidur tetap tidur di kamar ini, Mas. Tapi, kamu tidur dilantai!" ucap Alena sambil menunjuk bantal dan guling di lantai.
Daffin mengkerutkan keningnya. Dia tidak mau kalau sampai harus dilantai. "Lantainya sangat dingin," tolak Daffin. "Anggap saja itu hukumanmu!" jawab Alena sambil menarik selimut.
Daffin hanya dapat menghela napasnya. Demi Alena dia pun pasrah mengikuti apa maunya Alena.
"Hais, kenapa kejadian ini seperti pernah terjadi?" pikir Daffin sambil berbaring dan memeluk guling.
Alena terkekeh menahan tawanya didalam selimut. "Hihi, rasain tuh, dulu saat malam pertama kamu juga nyuruh aku tidur dilantai," gumamnya dalam hati.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Buat yang sudah mampir jangan lupa tinggalin jejak kalin yah, supaya author tetap semangat buat up eps baru☺☺
__ADS_1