Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 15 Perkelahian Kecil


__ADS_3

Ketika selesai sarapan, Alena langsung kembali ke dalam kamarnya. Daffin yang melihat Alena pergi meninggalkannya tanpa bicara pun langsung menyusul Alena ke kamarnya.


"Al, bukannya kamu udah maafin aku?" tanya Daffin sambil berdiri di pintu kamar Alena.


"Ya terus kalau aku udah maafin kamu, memangnya aku harus bagaimana?" balas Alena bertanya balik.


"Ya kamu jangan abaikan aku lah, aku ini suami kamu," jelas Daffin sambil menghampiri Alena yang sedang duduk di meja belajar.


"Suami palsu," ketus Alena lirih.


"Al, cukup!! Aku ini suami sah kamu, walau kita punya kesepakatan hanya menikah selama 5 bulan saja, selama itu juga aku adalah suami kamu, jadi kamu harus patuh terhadapku!" jelas Daffin sedikit ngotot.


"Baiklah, hamba akan patuh kepada baginda raja!" ucap Alena sambil bergaya layaknya tuan putri lalu berlari secepat kilat.


"Alena!!!! Mau lari kemana kamu?" teriak Daffin sangat geram.


Alena langsung berlari hingga terbirit-birit sampai dia berhenti di depan pagar rumahnya. Dia mengatur napasnya yang hampir habis karena sudah berlari sekuat tenaga.


"Huuft, Mas Daffin kita lihat saja nanti, aku pasti secepatnya akan menaklukan kamu dalam genggaman ku!" gumam Alena sambil mengepalkan tangan kanannya.


Tiitttt... Tiiitttt


"Alena, ini rumah kamu?" tanya seseorang dari dalam mobil, ya dia adalah Tomy yang akan selalu melewati rumah mereka.


"Kak Tomy antar aku ke Caffe BTS, ya!" pinta Alena tanpa basa-basi lagi langsung nyerobot masuk ke dalam mobil Tomy.


Tomy pun menuruti permintaan Alena dan mereka langsung melaju menuju Caffe. Daffin yang baru saja mengeluarkan mobilnya dan melihat Alena masuk ke dalam mobil orang lain pun hanya terdiam sambil mengepal erat kemudi mobil.


"Sial, mau pergi kemana kamu Alena dan pergi sama siapa?" gumam Daffin kesal.


Daffin pun langsung menancapkan gasnya untuk mengejar mobil yang sudah membawa Alena. Dia benar-benar sangat kesal karena Alena bukan hanya sulit diatur, tapi dia juga sudah berani jalan bersama pria lain. Setelah mobil Daffin tepat berada di belakang mobil yang Alena kendarai, Daffin langsung menyalip dengan sangat cepat dan langsung berhenti tepat di depan mobil Tomy.


Ckiiittttt...


Brukk


"Aww, aduh sakit!" rintih Alena karena kepalanya terbentur ke samping.


"Alena, maaf ya aku tadi mendadak nginjak rem dan banting setir karena ada mobil gila yang tiba-tiba nyalip dan berhenti di depan mobilku. Kamu tidak apa-apa, kan?" jelas Tomy dan langsung mengkhawatirkan keadaan Alena.

__ADS_1


"Gak apa-apa, cuman memar aja kayaknya nih," jawab Alena sambil mengelus memar di keningnya.


"Loh, itukan mobil Mas Daffin," batin Alena.


Tomy yang merasa sangat emosi pun langsung keluar dari dalam mobil. Dia langsung menghampiri mobil hitam yang tiba-tiba saja menyalip dan berhenti tepat di depan mobilnya.


Dokkk dokkk dokkkk


"Hey, cepat keluar! Apa kau tidak bisa mengendarai mobil dengan benar?" pekik Tomy sambil menggedor-gedor mobil Daffin.


"Ada masalah apa??" tanya Daffin dengan wajah santai sambil menurunkan kaca mobilnya.


"Daffin??"


Tomy terkejut karena ternyata orang yang ada di dalam mobil adalah Daffin, pria yang sangat tidak dia sukai karena dulu sudah membuat Alena menangis karenanya.


"Apa kita saling kenal?" tanya Daffin heran karena orang yang menurutnya asing itu sudah memanggil namanya.


Tomy masih terdiam menahan amarahnya karena Daffin dengan wajah santai pura-pura tidak mengenalnya. Jelas-jelas dia dulu sering berkelahi dengannya gara-gara memperebutkan Alena. Saat terakhir Tomy berkelahi dengannya adalah saat Daffin meninggalkan Alena dan pergi bersama wanita lain.


"Aku rasa kita tidak saling kenal, tapi sekarang kita harus berurusan karena kamu sudah berani membawa wanita ku!" ucap Daffin sambil turun dari mobil dan langsung melirik kearah Alena yang masih duduk di dalam mobil Tomy.


"Brengs*k, siapa yang kamu bilang wanita mu?" tanya Tomy sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.


"Tunggu!!" cegah Tomy menahan bahu Daffin.


"Jika kau berani mendekatinya, aku tidak akan bisa menahan emosiku lagi!" ancam Tomy sambil mencengkram kuat bahu Daffin.


Daffin hanya tersenyum sinis saat mendengar gertakan dari Tomy. Perlahan dia pun berbalik dan langsung menatap Tomy dengan tatapan tajam.


"Aku pun begitu, jika kau masih berani untuk menghentikan ku, aku juga tidak akan bisa menahan emosiku lagi," ucap Daffin sambil melepaskan cengkraman tangan Tomy.


Suasana semakin mencekam, Alena yang masih di dalam mobil pun mulai merasa panik dan khawatir ketika melihat Daffin dan Tomy saling tatap dengan tatapan saling membunuh. Dia takut mereka berdua akan berkelahi hingga babak belur. Alena pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobil untuk menghentikan mereka berdua sebelum terjadinya perkelahian.


"Kalian berdua sudah jangan bertengkar lagi!" teriak Alena sambil berjalan menghampiri Daffin dan Tomy.


"Siapa bilang sedang bertengkar? Kami ini sedang mengobrol, aku hanya sedang memperingati bahwa jangan membawa wanitaku sembarangan," ucap Daffin sambil tersenyum sinis kepada Tomy dan merangkul bahu Alena.


Alena langsung menghela napasnya dengan kasar, dia benar-benar takut akan terjadi perkelahian diantara mereka. Alena tau bahwa Daffin memang pandai menyembunyikan emosinya, tapi sekali dia marah maka jangan berpikir bisa lolos darinya.

__ADS_1


"Oke, sekarang gini aja kak Tomy duluan aja ya, aku gak jadi pergi ke Caffe mau balik lagi aja ke rumah," jelas Alena merasa tidak enak.


"Aku antar kamu pulang, ya?" ucap Tomy merasa khawatir.


"Dia akan pulang bersama ku, kamu tidak perlu khawatir," timpal Daffin sambil menunjukan senyum liciknya.


"Justru aku akan lebih khawatir jika Alena bersama dengan pria brengs*k seperti mu," ketus Tomy.


"Alena apa di mata mu aku juga pria breng*k?" tanya Daffin sambil menyentuh tangan kanan Alena.


"Kau berani menyentuhnya!!" gertak Tomy sambil mengangkat tangannya hendak meninju Daffin.


"Stooppp.!! kalau kalian berani berkelahi di depan ku, aku akan benar-benar sangat membenci kalian berdua!" teriak Alena dan dengan cepat Tomy langsung menghentikan niatnya.


Daffin lagi-lagi hanya tersenyum sinis melihat Tomy tidak bisa memukulnya. Tomy pun benar-benar sangat kesal dan langsung berjalan menuju mobilnya.


"Daffin lo selamat karena Alena membela lo, kalau tidak habis lo!!" gertak Tomy lalu masuk kedalam mobilnya.


Daffin tidak peduli dengan kata-kata Tomy, dia langsung saja menyeret Alena agar segera masuk ke dalam mobilnya.


"Awww, sakit Mas biasa aja kenapa, sih?" rintih Alena sambil menepis tangan Daffin.


"Alena, selama kamu masih menjadi istri aku, selama itu juga kamu tidak boleh dekat dengan laki-laki mana pun!" gertak Daffin sambil memaksa Alena agar segera masuk ke dalam mobil.


"Jadi, termasuk ayah, papa dan juga Dafka?" tanya Alena sangat konyol.


"Alena, jangan membuatku tambah kesal," ucap Daffin sambil meremaskan jari-jarinya di depan wajah Alena.


Alena hanya terdiam sambil memasang wajah tidak pedulinya. Daffin pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena jika dia tidak mengalah maka urusannya akan semakin panjang.


Daffin langsung memutar balik mobilnya menuju jalan pulang. Namun, saat sampai di depan rumah, Daffin tidak memberhentikan mobilnya dan langsung saja bablas melewatinya.


"Loh, kamu kenapa gak berhenti, Mas?" tanya Alena sambil melihat kebelakang.


"Kamu ikut aku ke kantor, jangan harap mau kabur lagi," jawab Daffin sambil terus melajukan mobilnya.


"Aku gak mau ke kantor kamu, Mas? Ngapain kesana nanti aku bosan!" rengek Alena sambil menggoyang-goyang lengan Daffin.


"Alena, kamu bisa tenang sedikit tidak sih? Bahaya, aku lagi nyetir," ketus Daffin sambil melirik Alena.

__ADS_1


Alena pun hanya menghela napas kesalnya, dia langsung melipatkan kedua tangannya di dada dan hanya menatap lurus dengan ekspresi cemberutnya. Daffin yang melihat itu pun hanya tersenyum tipis karena jarang sekali Alena menjadi sedikit penurut.


BERSAMBUNG


__ADS_2