
Saat ini sudah waktunya jam pulang kantor. Hanya Alena yang masih terduduk lemas tidak bergegas untuk pulang. Dia sudah kehabisan tenaga karena terus berjalan naik turun lift dan terus berdiri didepan mesin foto copy.
"Huhu, kaki ku sangat sakit. Pak Erick pasti sengaja menyuruhku ini dan itu tanpa henti agar aku mengundurkan diri." gerutu Alena ingin menangis.
"Kalau dia tahu aku istri Presdir, dia pasti akan bersujud meminta maaf kepadaku. Akan aku pukul hingga penyot kepalanya itu!" geramnya sambil memukul-mukul meja.
"Karena kau belum juga pulang, foto copy dokumen ini sampai 50 rangkap!" perintah Manager Erick yang tiba-tiba muncul dihadapan Alena. Dia langsung melemparkan lembaran kertas yang ia sebut sebagai dokumen.
"Tapi, Pak. Ini sudah jam pulang kerja. Lagian Bapak ini kenapa sih apa-apa serba di foto copy berkas tidak pentingpun di foto copy hingga beratus-ratus lembar. Mubazir tinta tahu, Pak!" omel Alena. Dia sudah sangat kesal dan malas terus diperintah bahkan disaat jam pulang kerja.
"Lakukan atau kamu besok temui Manager Alvin!" ancam Manager Erick dengan wajah datarnya.
"Tapi, Pak. Saya sudah lelah dan kaki saya sudah sangat pegal berdiri terus didepan mesin foto copy." Alena terus menolak untuk melakukan perintah dari atasanya.
"Yang kerja kan mesinnya bukan kamu, kamu tinggal klik dan menunggu saja banyak alasan." tegas Manager Erick lalu berbalik kembali ke meja kerjanya.
"Iya-iya, dasar cerewet! Memangnya siapa yang jam segini butuh foto copy-an sebanyak itu. Hantu kali yang akan bekerja tengah malam nanti." omel Alena sambil mengambil dokumen dan membawanya ke tempat foto copy.
Alena terus melempar langkah kakinya. Dia sudah sangat lelah untuk melakukan itu semua. Perasaannya ingin sekali mencakar wajah Manager yang dingin dan angkuh itu.
"Astaga! Dia menyuruhku mem-foto copy hingga 50 rangkap dan ini ada 10 lembar. Berarti aku harus foto copy sebanyak 500 lembar? Dasar gila!" pekik Alena sambil menendang mesin foto copy.
"Aku harus protes, memangnya buat apa foto copy sebanyak ini?" ketus Alena kembali keruangan Manager Erick.
Alena berjalan dengan penuh emosi. Dia tidak ingin lagi terus dikerjain oleh bos yang angkuh itu.
"Lihat saja, kali ini aku tidak akan patuh seperti kucing peliharaan!" ketus Alena sambil memegang handle pintu.
"Aku sudah membuat rencana, saat ulang tahun perusahaan besok kita bisa menghabisi keluarga Permana tanpa tersisa." Terdengar suara Manager Erick yang sedang berbicara tidak tahu dengan siapa.
Alena terkejut dan langsung menjauhkan tangannya dari handle pintu. Jantungnya berdetak kencang saat mendengar kata 'Akan menghabisi keluarga Permana'. Dia langsung memundurkan langkahnya sambil menutup mulutnya rapat-rapat.
"Apa maksud dari yang aku dengar barusan? Kenapa Manager Erick ingin menghabisi keluarga Daffin?" batin Alena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Anda tenang saja rencana ini tidak akan gagal. Balas dendam anda yang sudah dipendam selama bertahu-tahun pasti akan terbalaskan satu minggu lagi." Terdengar lagi suara Manager Erick yang membuat Alena semakin terkejut.
Alena benar-benar terkejut setengah mati. Dia terus memundurkan langkahnya menjauh dari pintu ruangan Manager Erick. Keringan dingin mulai menjalar dari wajahnya. Dia pun langsung berbalik dan berlari meninggalkan ruangan itu.
"Aku harus segera katakan semuanya kepada mas Daffin," ucap Alena sambil memencet tombol lift.
Alena panik dan berkali-kali terus memencet tombol lift karena lift didepannya tidak segera terbuka. Dia takut kalau saja Manager Erick menyadari kalau ada orang yang sudah menguping pembicaraannya.
"Cepat, cepat! Kenapa lama sekali?" ucap Alena panik sambil terus menggerak-gerakan kakinya.
Lift pun terbuka, Alena langsung masuk kedalamnya.
"Tunggu!" ucap seseorang sambil menahan bahu Alena.
Jantung Alena serasa langsung berhenti berdetak. Sesuatu yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Dia pikir dirinya sudah tertangkap basah dan akan tamat riwayatnya.
"Aku pasti akan mati, karena hanya orang mati yang dapat menjaga rahasia." batin Alena berteriak.
Alena perlahan langsung berjongkok ke lantai. "Aku... Aku sungguh tidak mendengar apapun. Telingaku tuli, tolong lepaskan aku!" ucap Alena dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Pantas saja, aku memanggilmu sejak tadi dan kamu tidak menoleh. Jadi penyebabnya telingamu tuli, iya?" celetuk Daffin sambil menjewer telingan kanan Alena.
"arghhhh, sakit, sakit!!" rintih Alena dan langsung berbalik. "Huaaa, Mas Daffin, aku pikir siapa tadi. Hiks." Alena menangis dan langsung memeluk Daffim dengam sangat erat.
"Oughh, tulang punggungku bisa remuk jika kamu memelukku sekuat ini." rintih Daffin sambil menahan napasnya.
Alena langsung melepaskan pelukannya dan menarik Daffin agar segera masuk kedalam lift. Daffin heran melihat tingkah Alena yang seperti baru melihat hantu. Dia pun langsung menyentuh kening Alena dan membandingkan suhunya dengan kepalanya sendiri.
"Tidak panas, apa kamu baru melihat hantu?" tanya Daffin sambil mengkerutkan keningnya.
"Mas, ayo cepat pulang ada sesuatu yang ingin aku katakan." ucap Alena sambil menarik kuat kerah baju Daffin.
"Hey, jangan tarik kerah baju, aku bisa tercekik!" pekik Daffin sambil mencubit pipi Alena.
Setelah keluar dari dalam lift, Alena lagi-lagi langsung menarik tangan Daffin hingga ke parkiran. Daffin hanya terperangah dan terus mengikuti tingkah Alena yang aneh itu.
"Sebenarnya ada apa sih, Alena sayang??" tanya Daffin sangat geram.
"Cepat tancap gas, Mas! Nanti aku kasih tahu saat tiba di rumah." jawab Alena sambil memperhatikan area parkiran.
Daffin pun hanya menghela napasnya lalu melajukan mobilnya keluar dari area parkir. "Sepertinya Manager Erick sudah membuat mental istriku bermasalah." gumam Daffin heran.
Sampai di rumah Alena langsung berlari menuju kamar. Dia langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa kaku.
Daffin menunggu Alena di dalam kamar sambil menghidupkan Televisi.
"Huuh, segarnya otakku langsung refresh lagi." gumam Alena setelah keluar dari dalam kamar mandi.
"Cepat! Katakan apa yang mau kamu bilang tadi!" pinta Daffin tidak sabar ingin mengetahui apa yang sudah membuat Alena seperti orang yang habis melihat hantu.
"Mas, tadi aku mendengar sebuah percakapan rahasia." ucap Alena serius.
Tubuh Daffin langsung bergetar karena menahan tawanya. Menurutnya wajah serius Alena sangat lucu dan menggemaskan.
"Ya, rahasia apa itu?" jawan Daffin pura-pura ikut serius.
"Aku mendengar Manager Erick berbicara dengan seseorang. Dia mengatakan ingin menghabisi keluarga Permana tanpa sisa. Terus, rencananya akan dilakukan saat ulang tahun perusahaan besok, Mas." jelas Alena dengan wajah yang lebih serius lagi.
Daffin langsung membulatkan kedua bola matanya. Kini ia tidak berpura-pura serius lagi. Dia bahkan terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut Alena.
"Alena, apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan ini?" tanya Daffin sambil memegang kedua bahu Alena.
Alena langsung mengangguk cepat. "Benar, Mas. Aku gak bohong apalgi bercanda. Dia mengatakan tentang balas dendam yang sudah dipendam selama bertahun-tahun. Apa kamu punya musuh, Mas?" tanya Alena khawatir.
"Tidak punya, tapi mungkin papa punya. Aku harus tanyakan ini kepada papa." jawab Daffin sambil beranjak dari tempat tidur.
"Kamu mau kerumah papa, ya? Aku ikut ya aku gak mau sendirian di rumah." pinta Alena yang juga langsung beranjak dari tempat tidur.
Daffin pun langsung mengangguk sambil mengusap pipi Alena. Dia langsung pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu mereka berduapun langsung melajukan mobilnya menuju rumah orangtua Daffin.
***
Disisi lain, bos X dan Erick sedang berada diruang senjata milik X. Mereka sedang sibuk menyiapkan sebuah senjata api.
__ADS_1
Bos X terus mengelap dan mengelus sebuah senjata api kesayangannya. Senjata itu sudah ia siapakan sejak lama untuk membalaskan dendamnya yang belum terbalaskan.
Bos X sudah tidak sabar menanti satu minggu yang akan datang untuk melancarkan rencananya yang sudah disusun rapi.
"Senjata ini yang akan menembus kepalamu besok! Sama seperti kau menembus kepala istriku saat itu." ucap X bergumam sendiri dengan nada penuh amarah.
Erick yang disampingnya hanya diam tanpa banyak berkomentar.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Erick datar.
"Apa??"
"Apa dia saudara anda, Bos??" tanya Erick penasaran.
X pun langsung terdiam saat mendengar pertanyaan Erick. Dia seperti tersulut api saat mendengar pertanyaan itu.
"Bukan," jawabnya sambil beranjak dari tempat duduk. "Sejak saat itu, dia bukan saudaraku lagi!" sambungnya lagi sambil menggertakan giginya.
Erick pun terdiam, dia sudah paham dengan maksud dari kata-katanya itu. Bos X yang sudah dipenuhi amarah itu langsung pergi meninggalkan Erick.
Sedangkan Erick, setelah membereskan senjata-senjatanya, dia juga langsung beranjak dari tempat duduk dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Erick memberhentikan mobilnya didepan rumah kecil. Ya, rumah itu adalah rumah neneknya. Neneknya tinggal bersama adik Erick yang masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar.
Erick pun langsung turun dari mobil sambil membawa sekeresek makanan dan beberapa hadiah untuk adiknya.
Tokkk tokkk..
"Itu pasti kakak!" Terdengar suara gadis kecil berteriak senang saat mendengar suara ketukan pintu.
"Kakak, kau bodoh dan jahat! Bagaimana bisa baru menemui kami?" omel Andin sambil memeluk Erick dengan sangat erat.
"Maaf, ya! Kakak terlalu sibuk di kantor akhir-akhir ini." jawab Erick sambil berjongkok membelai rambut Andin. "Ini hadiah buat kamu, dan ini berikan martabak coklat buat nenek." sambungnya lagi sambil memberikan beberapa bingkisan kepada Andin.
"Yey, banyak hadiah dan makanan. Lihat, Nek! Ini makanan kesukaan Nenek." teriaknya penuh semangat.
"Singkirkan makanan itu jauh-jauh dari hadapanku!" bentak neneknya sambil beranjak dari kursi goyang.
"Aku sudah hampir bahagia karena kau tidak menginjakkan kaki lagi di rumah ini, tapi sekarang kau sudah menghancurkan kebahagiaanku karena kedatanganmu. Pergi kau ke neraka! Bawa semua barang dan makanan haram mu itu! Dasar pembunuh!" teriak neneknya sambil melempar makanan dan barang yang Andin pegang.
Erick hanya dapat menghela napasnya. Dia tidak berani untuk membalas amarah neneknya. Keadaannya memang selalu seperti itu. Erick pun dengan enggan melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah neneknya.
"Pembunuh??" batinnya sambil menatap kedua tangannya. "Demi kalian aku bahkan rela menjadi pembunuh dan masuk neraka." batinnya lagi lalu pergi dari rumah neneknya.
"Hiks, hiks, Kakak!! Huu huuu." Andin terus menangis saat melihat kakanya pergi lagi meninggalkannya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Buat yang sudah mampir, kalian semua wajib minimal tinggalkan like, ya!
Murahkan juga hati kalian buat beri vote novel ini!