
Setelah makan malam selesai Alena dibantu oleh pembantu membereskan meja makan dan sisa makanan lainnya. Begitu pula dengan Tomy yang membereskan bekas makan malamnya sendiri. Tomy sejak kecil memang sudah terbiasa mandiri. Itulah sebabnya dia terbiasa mencuci piring setelah makan.
"Ehh, biar aku aja kak yang cuci!" Pinta Alena sambil mengambil piring kotor dari tangan Tomy.
"Tidak apa-apa, nih?" Tanya Tomy merasa tidak enak.
"Ya gak papa, Kak. Kan sudah biasa kalau yang cuci piring itu cewek." Jawab Alena menuju westafel.
"Tapi aku juga sudah biasa tuh cuci piring sendiri," timpal Tomy ikut berdiri didepan wastafel tepat disamping Alena.
"Iya juga, sih. Kakak kan sudah biasa hidup mandiri ya dari kecil. Kalau dibandingkan dengan aku kayaknya aku gak sanggup kalau harus hidup mandiri sendirian." Ucap Alena sambil membayangkan betapa susahnya hidup sendirian.
Tomy pun merasa gemas saar melihat wajah melamun Alena. Niat jahilnya pun langsung muncul untuk mengerjai Alena.
"Hayo, mikir sampai kemana?" Tanya Tomy sambil mengambil busa sabun dan mencoleknya ke wajah Alena.
"Arghh.. Kak Tomy kok jahil sih, kan wajahku jadi basah!" Rengek Alena sambil mengelap wajahnya menggunakan bajunya sendiri.
"Haha, habisnya kamu melamun, sih."
"Ya aku kan cuman lagi bayangin saja ada diposisi Kakak pasti hidup sendirian itu sangat mengerikan," Ucap Alena melanjutkan bayangannya.
Tomy langsung ikutan terdiam membayangkan hidupnya saat masih terpuruk. Memang betul saat itu kondisi yang sangat mengerikan pernah dialami Tomy. Hidup sendiri dialun-alun kota yang ramai dengan orang-orang yang rata-rata tidak peduli dengan hidup anak jalanan. Beruntung saat itu Tomy di bawa ke panti asuhan oleh seseorang yang baik hati.
"Sebenarnya tidak semengerikan itu," ucap Tomy setelah beberapa saat terdiam.
"Sudahlah jangan ungkit-ungkit masa lalu lagi, mulai sekarang kakak tidak akan sendirian lagi karena ada aku, ada Mamah dan yang lainnya. Pokoknya semoga kakak betah ya tinggal disini." Balas Alena memberi harapan agar Tomy tidak merasa kesepian lagi.
Tomy pun hanya mengangguk membalas kata-kata Alena. Mereka berdua pun terus bercanda ria sambil mencuci piring dan merapikan dapur.
"Aku nungguin kamu di kamar ternyata kamu malah asyik disini?" Daffin yang melihat Alena sedang berdua dengan Tomy pun langsung memanas melihatnya.
"Eh, Mas? Aku baru saja siap cuci piring." Jawab Alena santai.
Tomy yang melihat kedatangan Daffin pun langsung pergi begitu saja. Saat ini dia tidak ingin ada perselisihan dengan Daffin. Ia pun kembali kekamarnya tanpa memperdulikan Daffin.
Daffin yang melihat Tomy pergi langsung kembali ke kamar. Alena pun mengikuti Daffin yang terlihat sedang kesal. Ia belum menyadari bahwa Daffin sedang cemburu karena kedatangan Tomy yang diketahui menyukainya.
"Mas, kamu kenapa sih, seperti tidak suka dengan Tomy?" Tanya Alena dengan sangat lugu.
Daffin yang baru saja mengambil Laptop kemudian langsung duduk diatas kasur tanpa memperdulikan pertanyaan Alena.
Alena yang terus diabaikan pun merasa sedikit kesal. Ia masih berdiri didepan Daffin sambil menekuk wajahnya. "Mas? Kok aku dicuekin, sih?" Tanya Alena dengan mimik wajah yang dibuat-buat seperti orang merajuk.
__ADS_1
"Kamu mau tahu kenapa?" Daffin bertanya balik sambil menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya memberi kode bahwa menyuruh Alena agar duduk disampingnya.
Alena pun tanpa berpikir panjang langsung loncat ke samping Daffin. Ia duduk sangat menempel dibadan Daffin.
"Kenapa, Mas?" Tanya Alena lagi penasaran.
Daffin pun dengan cepat langsung mendorong tubuh Alena dan menindihnya. "Karena aku tidak suka kamu terlalu akrab dengannya," jawab Daffin berbisik di telinga kanan Alena.
"Ahh, Mas. Geli!" Desah Alena sambil memalingkan kepalanya.
Daffin terus menatap Alena dengan penuh mesra. Alena yang posisinya dibawah Daffin merasa sangat canggung dan gugup karena tatapan Daffin yang tidak seperti biasanya.
"Mas cepat bangun, kamu berat banget," ucap Alena sambil mendorong tubuh Daffin dengan kedua tangannya.
Lagi-lagi Daffin dengan cepat langsung meringkus kedua tangan Alena. Kini Alena benar-benar tidak bisa berkutik dihadapan Daffin.
"Jangan-jangan mas Daffin menagih janji?" Batin Alena semakin merasa gugup.
"Ya, aku sedang menagih janji yang kamu ucapkan kemarin malam."
"Haah???"
Alena terkejut mendengar kata-kata Daffin yang seolah-olah bisa mendengar apa yang di tanyakannya dalam hati.
"Kamu sudah siap,kan, Sayang?" Bisik Daffin.
"Kamu tidak perlu takut, aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut. Kamu hanya akan bisa menikmati rasanya..."
"Stop, jangan lanjutkan." Ucap Alena sedikit berteriak.
Alena merasa malu sendiri saat Daffin mengatakan hal yang berbau mesum. Kali ini memang tidak bisa menghindar lagi. Alena merasa bahwa itu memang kewajibannya sebagai istri untuk melayani suaminya sendiri.
"Ini yang pertama kalinya, Mas. Aku takut..."
"Tidak apa-apa, kamu tutup saja mata kamu.." bisik Daffin.
Alena pun hanya terdiam sambil menatap wajah Daffin. Ia pasrah menyerahkan seluruh hidupnya untuk laki-laki yang saat ini sudah menjadi suaminya.
"Aku rasa kamu sudah siap," Daffin dengan hasrat membara mulai membuka kancing baju Alena satu persatu. Alena hanya pasrah sambil menutup kedua matanya.
"I love you, Alena."
"Love you to, Mas."
__ADS_1
Daffin memulainya dengan memberikan kecupan sayang dibibir Alena. Alena pun pelan-pelan membalas kecupannya yang begitu lembut. Malam yang panjang pun dimulai. Kini dua insan yang saling mencintai sudah bersatu dalam balutan cinta dan hasrat yang menggebu.
***
Keesokan paginya, matahari pagi menyapa wajah Alena dengan begitu hangat. Alena yang baru saja terbangun merasakan sesuatu yang berbeda. Kisah semalam ternyata sudah menyisakan rasa perih pada bagian sensitif tubuh Alena.
"Aww, perih banget. Gila banget semalam kami benar-benar sudah melakukannya. O my god!" Gumam Alena sambil meremas kepalanya sendiri.
Membayangkannya membuat kedua sisi wajah Alena memerah bagai kepiting rebus. Ia kembali membenamkan wajahnya kedalam selimut. Rasa senang bercampur malu kini sedang berkecimpung didalam kepalanya.
"Kamu belum bangun, Sayang?"
Tiba-tiba saja suara Daffin terdengar membuat Alena terkejut. Alena langsung membuka selimut untuk melihat suaminya.
"Me... memangnya sudah jam berapa ini?" Tanya Alena sedikit gugup.
"Ini sudah jam 07:30, aku berangkat ke kantor dulu ya." Jawab Daffin santai.
Alena menghirup nafas lega karena ternyata Daffn tidak mengungkit hal semalam. "Huft, untung mas Daffin tidak mengungkit kejadian semalam," pikirnya.
"Kenapa pagi sekali, Mas?" Tanya Alena lagi penasaran.
"Hari ini pertama kali Tomy masuk kantor, aku mau tidak mau harus membimbingnya." Jawab Daffin tidak senang.
"Ohh, oke deh. Semangat ya, Sayang! Ganbatte!" Ucap Alena penuh semangat.
Daffin pun langsung mendekati Alena dan tanpa seizin Alena langsung mengecup bibirnya.
"Kamu diam di rumah ya, kalau mau kemana-mana jangan lupa kasih tahu aku." Kata Daffin setelah melepaskan kecupannya.
Alena pun hanya mengangguk sambil menahan rasa malunya karena perlakuan Daffin yang seenaknya mengecup dia.
Setelah kepergian Daffin, Alena langsung bersiap-siap untuk mandi. Namun, sebelum mandi ia terlebih dahulu memainkan ponselnya untuk memeriksa grup chat dengan sahabat.
Setelah dibuka ternyata ada chat dari kedua sahabatnya yaitu Fira dan Adel.
[Fira: Lama gak ngumpul bareng nih,ketemuan, yuk!]
[Adel: Ayoklah, kebetulan Alena juga sudah pulang dari liburan,kan?]
[Fahri: Sorry gue gak bisa ikut ngumpul soalnya ada jam kuliah pagi.]
[Alena: oke, ketemu di Caffe biasa.]
__ADS_1
Setelah membaca dan membalas chat di grup sahabat. Alena segera bersiap-siap untuk pergi ke Caffe yang di maksudnya. Ia juga tak lupa memberi tahu Daffin bahwa ia akan keluar untuk menemui sahabatnya di Caffe BTS.
Bersambung...