
"Alena, sedang apa kamu disini? Apa... Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Daffin dengan perasaan cemas.
Alena tidak menjawab pertanyaan Daffin. Dia hanya terus menangis sampai tidak bisa mengatakan satu katapun dari mulutnya.
"Alena, katakan kepada ku apa kamu sudah mendengar semuanya?" tanya Daffin lagi sambil berjongkok menatap wajah Alena.
Alena hanya menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Memangnya apa yang aku dengar, Mas?" Alena malah bertanya balik.
"Alena... Kamu... Aku... Aku tidak bermaksud merahasiakan semuanya dari kamu. Aku..." Daffin gelagapan tidak tau harus mengatakan apa. Dia tidak mau membuat Alena marah dan mengatakan semuanya kepada orangtuanya.
"Apa maksud kamu, Mas? Memangnya rahasia apa??" tanya Alena berpura-pura tidak mengetahui apapun.
Alena sengaja untuk berpura-pura tidak mendengar apapun. Dia ingin mendengar sendiri pengakuan dari Daffin langsung tentang rahasia besar yang selama ini ia tutupi.
"Mas Daffin, aku ingin mendengar sendri pengakuan dari kamu, tapi jika kamu tidak mengakuinya maka aku siap untuk bermain-main denganmu." batin Alena dengan penuh amarah didalam hatinya.
Daffin langsung kembali berdiri setelah melihat Alena seperti orang yang tidak mengetahui apapun. Ada rasa lega dihatinya, tapi dia sedikit tidak percaya kalau Alena tidak mendengar apa yang tadi dia dan Serli katakan.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Daffin sambil mengusap air mata di pipi Alena.
"Kaki ku sakit sekali, Mas. Antar aku ke kamar ku, ya!" pinta Alena. Daffin pun langsung mengangguk dan mengantar Alena ke kamarnya.
Daffin benar-benar merasa lega karena Alena tidak marah kepadanya. Itu menandakan bahwa Alena tidak mendengar apapun saat mereka bertengkar. " Syukurlah jika Alena tidak mendengarnya," batin Daffin.
"Aku benar-benar sangat kecewa kepada kamu, Mas. Tunggu dan lihat saja kamu akan sengsara lebih dari apa yang aku rasakan!" batin Alena dengan pandangan penuh dengan kebencian.
πΊπΊπΊ
Alex yang baru selesai menjawab teleponnya langsung masuk kedalam kamar. Dia tidak tau bahwa Alena sudah diantar kembali ke kamarnya.
Saat Alex membuka pintu hanya terlihat punggung seorang wanita yang tidak asing lagi dimatanya. "Aku tidak salah masuk kamar, kan? Kenapa Alena tidak ada disini?" gumam Alex sambil berjalan menghampiri seorang wanita yang tidak lain adalah Serli.
Semakin dekat Alex semakin mengenali siapa wanita yang sedang dihadapannya itu. Alex juga penasaran siapa sebenarnya pasien yang ingin Alena jenguk.
__ADS_1
"Maaf permisi!" ucap Alex sambil memegang bahu Serli.
Sontak Serli pun langsung berbalik karena mengira bahwa Daffin sudah kembali. "Mas Daffin kamu sudah kem-bali?"
Kedua pasang mata langsung membulat saat bertemu pandang. Alex tidak menduga bahwa ia akan bertemu dengan Serli istri sirihnya.
"Mas Alex?? Ngapain kamu disini?" tanya Serli sambil menghalangi Vivi dengan tubuhnya.
Serli benar-benar terkejut dengan kedatangan Alex. Dia takut kalau Alex akan bertemu Daffin dan mengatakan rahasia terbesarnya.
"Serli kamu susah banget dihubungi, ternyata kamu ada di Rumah Sakit. Vivi mana? Vivi baik-baik saja, kan?" tanya Alex dengan perasaan cemas.
"Pergi sana kamu, Mas!" bentak Serli sambil mendorong Alex hingga ke pintu.
"Vivi? Itu Vivi... Vivi kamu kenapa sayang???" teriak Alex setelah melihat Vivi yang sedang terbaring lemah.
"Mas, kalau kamu masih mau melihat Vivi baik-baik saja, sebaiknya kamu pergi dari sini!!" ancam Serli dengan penuh amarah.
"Aku ini ayah kandungnya Vivi, aku hanya khawatir melihat putriku sendiri!" Alex sangat marah kepada Serli yang selalu melarangnya untuk bertemu Vivi.
"Daffin, Daffin, Daffin, dan Daffin terus! Dimana Daffin? sekarang juga aku akan mengatakan kepadanya kalau kamu itu busuk dan penuh muslihat." bentak Alex sambil mencengkram kuat bahu Serli.
"Mas! Apa kamu belum puas menghancurkan pernikahanku dengan Daffin, sekarang kamu juga mau menghancurkam semuanya, iya??"
Serli menangis dihadapan Alex. Saat itu kenapa Serli tidak datang dipernikahannya sendiri karena Alex menculiknya dan membawanya ke Kota Batam. Alex sangat mencintai Serli, padahal Serli tidak pernah menghargainya sedikitpun.
"Serli sebaiknya kamu buang jauh-jauh sifat burukmu itu. Apa kamu mau setelah Daffin mengetahui semuanya dia akan membenci kamu sampai mati, kamu sudah merusak kebahagiaan orang lain." jelas Alex dengan penuh kasih sayang menasehati Serli.
"Tidak! Daffin tidak akan mengetahui semuanya, kecuali kamu yang memberitahu dia kalau Vivi bukan darah dagingnya!"
Alex benar-benar tidak habis pikir dengan Serli yang memiliki sifat jahat. Ia sering kali menyuruhnya agar berhenti berbuat licik. Namun, kata-kata tidak akan mempan untuk menasehatinya. Serli rela mengorbankan apapun demi mendapatkan Daffin dan hartanya.
"Mas, sekali lagi aku katakan kalau kamu berani membongkar rahasia ini, maka aku bersumpah seumur hidup kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan Vivi!" ancam Serli penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Serli tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Jika dia sudah mengatakannya maka dia pasti akan berbuat sedemikan rupa. Alex tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia tidak sanggup jika harus dipisahkam dengan putri kesayangannya itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah!" batin Alex menangis.
"Cepat kamu pergi, Mas! Kalau waktunya tepat aku akan menghubungi kamu untuk bertemu Vivi lagi," ujar Serli sambil mendorong Alex agar segera keluar dari dalam kamar.
***
Disisi lain Alena yang sedang ditemani Daffin hanya diam seribu bahasa. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan kalau Daffin sudah memiliki seorang anak. Dia ingin marah, tapi tidak bisa berbicara. Setiap kali ingin marah tangisnya akan membuat dia sulit untuk berbicara.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus membuat rencana secepatnya," pikir Alena tidak sabar untuk balas dendam.
Daffin merasa khawatir ketika melihat Alena yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan kosong. "Alena, kamu tidak apa-apa, kan??" tanya Daffin.
"Tidak, o iya bagaimana kondisi Vivi? Aku tadi ingin menjenguknya, tapi kaki ku keburu sakit banget." tanya Alena sambil meringis kesakitan.
"Dia sudah lebih baik dari sebelumnya, kamu jangan khawatirkan dia lagi. Sebaiknya kamu jaga kesehatan kamu supaya cepat sembuh." ujar Daffin sambil mengusap kepala Alena.
Alena hanya mengangguk sambil memaksakan bibirnya untuk terus tersenyum. Di dalam kepalanya saat ini hanya sedang berpikir bagaimana caranya membuat Daffin mencintainya sampai mati dan meninggalkan Serli demi dirinya. Tentu saja semua itu butuh rencana agar bisa berjalan dengan semestinya.
"Maaf, Mas. Kamu yang buat aku jadi seperti ini, jangan salahkan aku jika aku berbuat jahat seperti apa yang kamu lakukan. Tunggu dan lihat saja!" batin Alena dengan tatapan penuh kebencian.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Maaf ya author telat update!!!!πππ
__ADS_1
Maaf juga kalau eps kali ini lebih pendek dari biasanya,π’π’