Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 44 Foto


__ADS_3

Daffin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Haiden karena memang sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri.


Alena yang disampingnya sangat ketakutan melihat mobil didepannya yang seperti hendak tertabrak. Walau dia terus merengek agar Daffin memperlambat kecepatannya, tapi Daffin tetap saja melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Isi perut Alena seperti sedang diaduk-aduk. Rasa pusing membuatnya mual hingga ingin muntah.


"Mas, sebenarnya ada apa, sih? Kita mau kemana?" tanya Alena sambil menutup mulutnya. Namun, Daffin tidak menjawab dan masih fokus dengan kemudinya.


Kurang dari 30 menit, mereka sudah sampai ditempat tujuannya yaitu ke rumah Haikal dan Haiden. Karena dia memang menyekap Serli di rumah mereka. Daffin langsung turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah Haikal.


Alena yang masih merasa pusing pun langsung berjalan menyusul Daffin.


"Ada apa, nih? Kenapa ada garis kuning polisi?" gumam Alena sambil masuk melewati garis kuning.


Alena terus masuk kedalam rumah dan menghampiri kerumunan. Setelah menepis kerumunan, Alena terkejut ketika melihat Haiden yang sedang diangkat keatas brankar dengan penuh darah disekujur tubuhnya. Kaki Alena langsung terkulai lemah tak sanggup melihat darah. Ia terjatuh lemas ke lantai sambil menutup mulutnya karena ingin muntah.


"Ehh, kenapa, Mbak? Jangan pingsan disini! Tolong bantu dia menjauh dari kerumunan!" perintah seorang polisi.


Daffin terkejut saat mendengar kata-kata polisi itu. Dia langsung teringat Alena yang phobia darah.


"Ya Allah, aku melupakan Alena!" gumam Daffin dan langsung berbalik mencari Alena.


Alena sudah dipindahkan ke tempat yang terbuka. Keringat dingin menjalar keseluruh tubuhnya. Dia pun terus memuntahkan isi perutnya hingga terasa lemah dan pusing.


"Alena, kamu tidak apa-apa?" tanya Daffin sambil memeluk erat tubuh Alena. Alena hanya bisa menggeleng karena mulutnya masih ia tutup agar tidak muntah lagi.


Daffin langsung menggendong Alena membawanya ke dalam mobil. Daffin juga memberikan Alena air mineral dan mengoleskan minyak kayu putih dibawah hidungnya.


"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" tanya Daffin saambil membelai kepala Alena. Alena langsung menganggukan kepalanya.


"Sia-siapa yang mati, Mas? Ini rumah siapa?" tanya Alena dengan suara lemas.


"Yang tadi terluka itu Haiden, dan itu rumahnya. Aku mengurung Serli di rumah ini, sekarang dia sudah kabur." jelas Daffin sambil melihat kearah rumah Haiden.


"Serli? Maksud kamu Serli yang sudah melukai Haiden?" tanya Alena terkejut. Daffin pun langsung menganggukinya.


"Apa dia meninggal, Mas? Kenapa Serli bisa jadi psikopat?" tanya Alena lagi kesal bercampur takut.


"Aku lengah, makanya dia bisa kabur dengan cara melukai Haiden." jawab Daffin sambil mengepalkan satu tangannya.


Daffin kecewa kepada dirinya sendiri. Dia menyesal karena tidak memperketat penjagaan. Gara-gara dia yang lengah, Serli sampai kabur dan melukai Haiden teman berharganya.

__ADS_1


Alena hanya terdiam sambil ikut melihat kearah rumah Haiden. Orang-orang yang tadi berkerumun sudah mulai pergi. Polisi juga sudah menutup pintu rumah dan menyegelnya agar tidak ada lagi orang yang keluar masuk.


"Aku akan ikut naik ambulance," ucap Haikal dan Daffin langsung mengangguk. "Nanti aku menyusul." jawab Daffin.


Daffin pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat seperti siput. "Ayah dan Haiden sudah menjadi korbannya Serli, jangan sampai ada korban lagi." pikir Daffin.


"Mas, kita mau pulang, ya? Dan kamu mau langsung ke Rumah Sakit?" tanya Alena. Daffin pun langsung mengangguk.


"Antar aku ke rumah bunda aja, ya! Aku gak mau sendirian di rumah." pinta Alena sambil memegang lengan kiri Daffin.


"Rumah bunda jauh, aku antar ke rumah mama aja, ya?" saran Daffin dan Alena pun mengangguk setuju.


Daffin pun langsung belok ke simpang kiri menuju rumah orangtuanya. Setelah sampai Alena langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun. Daffin lagi-lagi hanya menghela napasnya dan langsung kembali melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.


"Alena, kamu kesini sama Daffin?" tanya bu Agis sambil menyambut kedatangan Alena.


"Dia cuman ngantar Alena saja, Mah. Terus balik lagi katanya mau ke Rumah Sakit." jawab Alena lalu menyalami ayah mertuanya.


Sejak terkena serangan jantung kondisi fisik pak Bagas tidak seperti semula lagi. Kini ia sering sakit-sakitan dan harus rajin chek up ke Rumah Sakit. Dia selalu marah setiap kali melihat Daffin itulah sebabnya kondisi fisiknya sering memburuk.


"Apa Daffin menyakiti kamu lagi?" tanya pak Bagas dengan ekspresi kesalnya.


"Tidak, Pah." jawab Alena sambil menggelengkan kepalanya. "Apa Papa masih marah kepada mas Daffin?" tanya Alena sambil memijat lengan ayah mertuanya.


Alena langsung merasa khawatir ketika melihat ayah mertuanya mulai emosi. Pak Bagas memang selalu emosi jika membicarakam soal Daffin. Dia pun langsung mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya.


"Eeh, aku belum pernah melihat Album ini sebelumnya?" tanya Alena sambil mengambil album diatas nakas.


"Itu album keluarga, Mama baru saja memasukan foto kamu dan Daffin kedalam album itu. " jawab bu Agis. Alena penasaran dan langsung membuka album itu satu persatu.


Album yang lebih tebal dari kitab itu isinya memang lengkap. Disana terlihat ada foto Dafka dan Daffin saat mereka masih balita. Alena pun terus tersenyum saat melihat foto Daffin saat kecil yang hanya memakai popok saja.


"Mas Daffin lucu banget," gumam Alena berusaha untuk menahan tawanya.


"Mah, Alena boleh tidak minta satu lembar foto mas Daffin yang ini?" tanya Alena sambil menunjuk foto Daffin saat masih kecil.


"Boleh, sayang. Tapi kenapa kamu minta foto dia saat masih kecil, foto yang sudah besar kan ada juga?" tanya bu Agis heran.


"Foto kecil lebih lucu dan menggemaskan, Mah. Kalau foto sekarang sungguh menyebalkan." jawab Alena sambil tertawa. Bu Agis pun ikut tertawa saat mendengar Alena meledek suaminya sendiri.


Alena pun langsung mengambil satu lembar foto dari dalam album. Saat Alena menarik foto Daffin kecil, saat itu juga ada lembaran foto lain yang terjatuh karena tersimpan dibalik foto Daffin. Alena pun langsung mengambil dan melihat foto siapa dibaliknya.

__ADS_1


Alena terkejut ketika melihat orang dibalik foto itu. Foto itu sama persis seperti foto yang berada di rumah orangtuanya. Yang membuatnya tambah heran adalah kenapa foto itu seperti foto yang disembunyikan karena sama-sama disimpan dibalik foto lainnya.


"Mah, ini foto ayah sama papa, kan? Terus yang tengah ini foto siapa?" tanya Alena tak tahan menahan rasa penasarannya.


"Owh, ini... Foto..." bu Agis menggantung kata-katanya. Dia langsung melirik suaminya seolah-olah mengatakan bahwa dia saja yang menjawab pertanyaan Alena.


"Itu foto adik papa, namanya om Hendra. Dia sudah tidak ada lagi." jawab pak Bagas lalu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.


Alena langsung mengangguk sambil memasukkan foto itu ke dalam album. "Pantas saja foto ini disembunyikan, ternyata itu foto adiknya papa yang sudah meninggal. Mungkin papa dan ayah tidak ingin melihat foto ini lagi karena bisa mengingatkan kenangan bersamanya." batin Alena.


***


Diwaktu yang sama ditempat bos X berada. Erick terlihat berjalan menghampiri X yang sedang berdiri memperhatikan sebuah foto. Saat menyadari kehadiran X, dia dengan cepat langsung menyembunyikan foto itu kedalam saku.


"Ada berita apa?" tanya X sambil mengalihkan perhatiannya menuju keluar jendela.


"Aku dengar Serli sudah berhasil lolos dari tangan Daffin, Bos." ucapnya berdiri dibelakang X.


"Heh, aku pikir dia sudah tidak memiliki otak lagi." gumam X sambil menarik sudut bibir kanannya.


"Kapan kita akan beraksi, Bos?" tanya Erick, kini dia melangkahkan kakinya berdiri disebelah X.


"Aku percaya padamu," jawab X singkat.


"Bagaimana jika saat ulang tahun perusahaan yang akan diadakan dua minggu mendatang." jawab Erick tegas.


X langsung menunjukan senyumnya. Dia merasa bangga memiliki tangan kanan secerdas Erick.


"Aku mengandalkan kamu karena hanya kamu orang yang tersisa didalam perusahaan itu. Atur rencananya dan sampaikan kepadaku besok.." ucap X sambil menepuk bahu Erick lalu berjalan meninggalkannya.


"Baik, aku akan mengurusnya." jawab Erick sambil melirik kearah saku tempat menyimpan foto yang dilihat X. "Foto siapa, kenapa dia terlihat marah dan sedih secara bersamaan saat melihat foto itu?" pikir Erick penasaran.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Buat yang sudah mampir membaca novel ini, kalian diwajibkan minimal tinggalkan Like disetiap eps, ya!


Lebih bagus lagi jika dukung author dengan beri hadiah dan vote karya ini!


__ADS_2