
Alena yang sedang menunggu Daffin sudah sangat merasa kesal dan bosan. Dia sampai menghabiskan dua gelas kopi untuk melawan rasa kantuk karena menunggu Daffin yang tak kunjung datang.
Beberapa kali melirik jam dinding dan jam tangannya hingga dia tahu setiap menitnya jarum jam itu menunjuk angka. Namun, Daffin masih juga muncul dihadapannya.
"Ck, rapat apa yang sebenarnya sedang ia lakukan, kenapa butuh waktu sampai setengah hari?" gerutu Alena terus berdecak kesal.
Alena merasa tidak tahan lagi menunggu Daffim sendirian. Dia pun beranjak dari sofa berniat untuk berjala-jalan disekitar area gedung.
"Anda mau kemana, Bu?" tanya Merry yang seperti sudah berjaga didepan pintu.
Alena langsung menatap Merry dengan tatapan aneh. "Apa kamu berjaga setiap menit disini?" tanya Alena judes.
"Hehehe," Merry hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak berani menjawab.
Alena pun segera melangkahkan kakinya menjauhi Merry yang menurutnya seperti orang aneh itu.
"Tunggu, Bu! Saya mohon jangan pergi!" teriak Merry sambil berjalan cepat mengejar Alena.
"Apa lagi, sih? Aku tahu Daffin tidak ada disini, kan? Kalian bersengkongkol buat bohongin aku, iya?" bentak Alena benar-benar merasa kesal. "Dan satu hal lagi jangan panggil aku ibu, paham!" sambungnya lagi sambil mengacungkan jari telunjuknya didepan wajah Merry.
"Bu, saya mohon!... Ehh maksudnya, Nona. Tolong tunggu pak Daffin sebentar lagi dia akan keluar dari ruang rapat." Merry terus memohon agar Alena tidak keluar dari dalam gedung.
Alena memutarkan bola matanya, untuk kesekian kalinya dia mendengar hal itu. Setiap kali dia ingin pergi mencari Daffin, Merry selalu mengatakan bahwa Daffin akan segera keluar dari ruang rapat, tapi kenyataannya Alena sampai menunggu berjam-jam Daffin belum juga datang.
"Aku tahu kemana mas Daffin pergi, dia pasti pergi ke rumah Haikal untuk merencanakan sesuatu." gumam Alena.
Alena pun mengacuhkan Merry yang terus memohon kepadanya agar menunggu di kantor sebentar lagi.
"Nona Alena, saya mohon tunggu sebentar lagi, 10 menit. Ya, tunggu 10 menit lagi pak Daffin akan segera datang." ujar Merry sambil mengotak-ngatik ponselnya.
Merry langsung menghubungi Daffin karena dia merasa sudah tidak bisa lagi mempertahankan Alena agar tetap berada di kantor.
"Cepatlah pulang, Pak! Istri anda sudah marah-marah sejak tadi karena anda tidak kunjung datang." gerutu Merry saat menelepon Daffin.
"Oke-oke, aku akan segera kembali, bilang kepadanya tunggu sekitar 10 menit lagi." ujar Daffin dari balik telepon. Daffin pun memutuskan teleponnya dan langsung bergegas menuju kantor.
"Butuh waktu minimal 30 menit untuk sampai di kantor, semoga Merry masih bisa menghentikan Alena yang keras kepala itu." pikir Daffin sambil melajukan mobilnya.
"Hais, pak Daffin ini main seenaknya saja mematikan teleponnya. Bagaimana dengan bu..." Merry menggantungkan kata-katanya saat melihat Alena sudah tidak ada disampingnya lagi. "Gawat!!" teriaknya sambil berlari mencari Alena.
Alena yang berhasil kabur pun merasa sangat bahagia. Dia langsung mencari Taxi untuk menyusul Daffin yang menurutnya sedang di rumah Haikal. Padahal Daffin sedang berada di tempat yang lain.
Saat melihat Taxi yang berjalan dari arah sebelah kanannya, Alena langsung mengayunkan tangannya untuk menghentikan Taxi itu. Setelah Taxi itu berhenti Alena pun langsung masuk kedalamnya.
Setelah mobil taxi mulai melaju, Merry terlihat berlari dari dalam gedung untuk mengejarnya. "Nona Alena, tunggu!! Saya mohon jangan pergi!" teriak Merry sambil melambaikan tangannya. "Nona, pak Daffin bisa marah besar jika anda tidak kembali..."
Suara Merry mulai sayup-sayup di telinga Alena, semakin jauh mobil melaju semakin tidak terdengar pula suaranya. Alena tidak peduli dengan teriakan Merry karena dia tahu bahwa Daffin tidak berada di kantor.
Alena pun merasa bebas dan dengan santai menikmati perjalanannya.
"Ehh, sepertinya ada yang tidak beres?" pikir Alena heran.
Hampir 20 menit didalam mobil, Alena baru ingat kalau dia belum mengatakan tujuannya kepada supir Taxi. Namun, dengan santai supir itu terus mengemudikan kemudinya dan berbelok ke simpang kanan.
"Pak, saya mau pergi ke jln. Soekarno, tolong putar balik!" pinta Alena mulai merasa khawatir dan curiga dengan supir tersebut.
Namun, benar saja supir itu terus diam dan tidak mengindahkan permintaan Alena. Supir itu terus berjalan lurus tidak tahu menuju kemana.
"Dengar tidak, Pak? Saya bilang putar balik!" bentak Alena kesal. "Stop!! Berhenti disini saja!" sambungnya lagi.
Karena merasa sangat takut, Alena lebih baik berjalan dari pada naik Taxi orang yang menurutnya todak normal itu. Supir Taxi itu sejak tadi terus diam dan terus melajukan mobilnya lurus kedepan.
"Bagaimana ini, aku bukan sedang diculik, kan? Supir taxi ini normal, kan?" batin Alena sangat panik.
Rasa takut mulai mengisi pikirannya. Jantungnya berdebar kencang karena panik dan takut diapa-apakan oleh si supir.
Alena pun langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya dan langsung segera menelepon Daffin untuk meminta bantuan.
__ADS_1
Ckiitt...
"Arghhh,"
Belum sempat Daffin menjawab teleponnya, supir gila itu langsung menginjak rem sehingga membuat ponsel Alena terlepas dari tangannya.
"Jangan harap bisa meminta pertolongan!" bentak supir itu sambil berbalik mendekati Alena. "Mana? Kemarikan ponselmu!" sambungnya lagi sembarangan menyentuh Alena.
"Arghhh, singkirkan tanganmu jauh-jauh dari tubuhku! Aku tidak punya ponsel!" teriak Alena sambil meronta-ronta.
"Kau pikir aku buta jelas-jelas aku tadi melihatmu memegang ponsel pasti akan meminta bantuan, kan?"
"Arghhh, tolonggg!!" teriak Alena sambil menendang-nendangkan kakinya kearah pria itu.
Pria itu terus menyentuh tubuh Alena sembarangan dengan niat mencari ponsel. Alena terus berusaha sekuat tenaganya untuk terhindar dari orang mesum itu.
"Tolong!! Siapapun tolong... Mmmm mmm."
Pria itu langsung membekap mulut Alena yang terus berteriak meminta pertolongan. Alena kini merasa tak berdaya lagi. Tangannya sudah dipegang erat dan mulutnya sudah di tutup rapat. Sudah tidak ada tenaga lagi karena sejak pagi dia tidak makan apapun selain menghabiskan dua gelas kopi.
"Siapapun tolong selamatkan aku," batin Alena sambil me nitikkan air matanya.
"Gadis manis, aku dibayar untuk menikmati tubuhmu. Selain mendapatkan uang, aku juga mendapatkan tubuhmu. Sungguh untung banyak! Hahaha." pria itu terkekeh dengan tatapan mata siap untuk menerkam tubuh Alena.
"Apa aku akan diperkosa? Amit-amit jangan sampai diperlakukan seperti itu. Kesucianku hanya untuk laki-laki yang aku cintai." batinnya lagi sambil terus meronta-ronta.
"Kemari, sayang!" Pria itu mendekatkan bibirnya kemulut Alena. Dengan cepat Alena langsung menyemprotkan air dari dalam mulutnya.
Cuiihhhh
"Jauh-jauh dari tubuhku!" teriaknya dan...
Plakkk
Tamparan keras mendarat di pipinya. Terasa sangat panas dan sakit hingga keluar darah dari sudut bibir Alena.
Pria itu langsung mencari-cari sesuatu dari bawah kurai. Sepertinya dia sedang mencari tali untuk mengikat tangan Alena.
Saat ada kesempatan, Alena langsung menendang kaki pria itu dan menggigit tangan yang menutup mulutnya. Pria itu pun langsung merintih kesakitan.
"Arghhhh, dasar wanita sialan beraninya menggigit tanganku!" teriaknya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang kesakitan.
Alena dengan cepat langsung membuka pintu mobil. Sepertinya pria itu lupa mengunci pintu mobil sehingga membuat Alena tidak kesulitan untuk keluar dari dalam mobil.
Alena berlari kearah yang berlawanan. Jalanan itu terlihat sangat sepi, dia bahkan tidak tahu sedang berada di daerah mana.
"Aku sedang berada dimana? Tubuhku sangat lemas tidak kuat berlari lagi." lirihnya sambil berusaha untuk terus berlari.
Alena terus berlari sambil sesekali menoleh kebelakang. Dia takut kalau saja pria aneh itu sudah berlari menyusulnya. Karena terus berlari sambil menoleh kebelakang, Alena sampai tidak sadar kalau didepannya dari arah kiri ada mobil yang melaju kearahnya.
Sontak Alena terkejut dan tidak dapat menghindarinya lagi.
"Arrggghhhh," teriaknya histeris.
Tidak ada rasa sakit, tetapi tiba-tiba pendangan Alena menjadi gelap dan dadanya terasa sesak karena detak jantungnya mulai tidak stabil. Alena pun pingsan dan langsung tergeletak dijalanan.
"Alena!!!" teriak Daffin sambil keluar dari dalam mobil.
Ya, mobil yang hampir menabraknya itu ternyata mobil suaminya. Dari kejauhan Daffin sudah tahu kalau Alena berlari dari arah berlawanan. Daffin langsung memperlambat laju mobilnya, tetapi karena terkejut Alena langsung pingsan tepat didepan mobil Daffin.
"Alena, apa yang terjadi kepada kamu?" ucap Daffin sambil memangku tubuh Alena. "Siapa yang berani menyakiti istriku?" ucapnya lagi. Dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibir Alena.
Daffin pun langsung mengangkat tubuh Alena dan membaringkannya didalam mobil.
"Aku beri waktu 10 menit untuk menangkap pelaku yang menyakiti istriku!" tegas Daffin kepada anak buahnya.
Mereka langsung mengangguk dan berjalan menuju arah Alena berlari. Daffin pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit, Alena langsung mendapatkan perawatan oleh Dokter. Daffin yang menunggu diluar ruangan merasa sangat kesal bercampur khawatir.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Alena." Gumamnya terus mondar-mandir didepan ruang IGD. "Lihat saja aku akan memberi pelajaran kepada orang yang berani menyakiti istriku!" sambungnya lagi sambil mengepal erat genggamannya.
Trriiiingggg,
Suara ponsel Daffin berbunyi, dia menadapat telepon dari anak buahnya yang dia suruh untuk mencari pelaku yang menyakiti Alena.
"Bos, kami sudah menangkap pria yang menyakiti nona Alena. Menurut pembelaannya dia hanya dibayar oleh seorang wanita untuk memperkosa nona Alena." jelas anak buahnya.
"Apa dia tahu siapa wanita yang menyuruhnya?" tanya Daffin penuh amarah.
"Dia bilang tidak tahu, Bos. Wanita itu tidak menyebutkan namanya, dia memakai topi dan kacamata."
"Sepertinya aku sudah tahu siapa dalangnya. Jebloskan pria tadi kedalam penjara!" perintah Daffin dan langsung memutuskan ponselnya.
Daffin terdiam sejenak, dia berpikir kalau dalang semua itu pasti adalah Serli. "Jika targetnya Alena pasti dalangnya adalah Serli." gerangnya menahan emosi.
"Maaf, Pak. Nona Alena sudah boleh dijenguk." ujar seorang suster.
Daffin pun mengangguk dan langsung masuk kedalam ruang rawat Alena.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Daffin.
"Istri anda hanya mengalami syok berat dan juga terlambat makan. Dia tidak makan nasi, tapi terlalu banyak mengkonsumsi minuman berkafein tinggi. Saya sudah menulis resep obat, nanti suster akan mengantarkan obatnya." jelas dokter.
Daffin merasa kecewa kepada dirinya sendiri. Dia merasa kurang memperhatikan Alena dan terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri.
"Alena, maafkan aku, ya. Gara-gara aku lagi-lagi kamu dalam bahaya." gumam Daffin sambil menggenggam tangan Alena.
"Jangan... Jangam sentuh aku, hiks." Alena tiba-tiba menangis dan mengigau. Sepertinya apa yang terjadi disunia nyata terbawa hingga ke alam mimpi.
"Alena, buka mata kamu. Lihat aku! Kamu baik-baik saja sekarang tidak akan ada yang menyakiti kamu lagi." ucap Daffin sambil mengusap kepala Alena.
Alena terkejut saat membuka kedua matanya. Dia langsung terduduk dan langsung memeluk erat tubuh Daffin.
"Huhuhu, aku takut, Mas. Kamu kemana saja kenapa tidak menolongku?" isak Alena dalam pelukan Daffin.
"Maaf, sayang! Maaf!" lirih Daffin sambil memeluk Alena dengan erat.
Alena terus menangis dan tak ingin melepas pelukannya. Kali ini dia beruntung karena Daffin tepat waktu menolong dirinya.
"Mas, apa kamu yang menolongku?" tanya Alena masih dipelukan Daffin.
"Memangnya kamu ingin siapa lagi yang datang menolong?" Daffin malah berbalik tanya sambil pura-pura kesal.
"Bukan begitu, hanya saja saat itu aku tidak sempat meneleponmu. Aku pikir aku akan habis olehpria jahat itu. Hiks." ucap Alena sambil menitikkan air matanya.
"Saat itu kamu meneleponku, tapi kamu tidak bicara kepadaku. Aku mendengar suara tangisanmu dan akupun langsung melacak keberadaanmu." jelas Daffin.
"Kamu hampir saja terlambat, Mas!" ketus Alena sambil memukul-mukul dada Daffin.
"Tidak akan aku biarkan orang lain menyentuhmu, tubuhmu hanya milikku seorang!" ucap Daffin.
Daffin langsung mengecup bibir Alena dengan sangat lembut. Alena pasrah langsung memejamkan kedua matanya. Dia membiarkan Daffin terus menjelajahi rongga mulutnya dan sesekali Alena pun membalasnya.
Ya, ini pertama kalinya kecupan mesra yang mereka lakukan sejak pernikahan mereka. Alena merasa bodoh dan tidak peduli dengan rasa sakit yang pernah ia rasakan. Saat ini dia sadar bahwa cintanya tidak pernah pudar walau rintangan terus menghantam.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Buat yang sudah mampir kalian wajib tinggalkan like, ya!!
__ADS_1