
"Mas Daffin??"
Alena terkejut melihat kedatangan Daffin yang tidak wajar karena langsung memdobrak pintu. Begitu pula dengan Tomy, dia langsung berdiri ketika melihat Daffin yang datang dengan penuh amarah.
"Tomy, apa kau lupa bahwa aku pernah berkata jangan pernah dekati istriku!" bentak Daffin dengan penuh amarah.
Tomy masih berdiri disamping Alena. Dia sama sekali tidak takut walau Daffin berteriak kepadanya.
"Ada apa dengan mu, Daffin? Aku hanya datang untuk menjenguk temanku, tapi kau marah seperti aku sedang berbuat sesuatu kepadanya." jawab Tomy santai.
"Kau... Jangan mentang-mentang saat itu aku tidak menghajarmu jadi kau bisa sesantai ini, hah??" bentak Daffin lagi sambil mencengkram kerah baju Tomy.
Tomy menanggapi Daffin dengan senyuman sinisnya. Dengan santai dia mencoba untuk melepaskan tangan Daffin dari kerah bajunya. "Katakan kepadaku dimana letak kesalahanku, jika aku terbukti salah maka aku bersedia untuk bersujud meminta maaf pada mu!" ujar Tomy.
"Dan lagi, kau saja memiliki teman wanita yang selalu menempel ditubuhmu,tapi kenapa Alena tidak boleh memiliki teman laki-laki yang biasa-biasa saja seperti diriku ini?" sambungnya lagi sambil membentangkan kedua tangannya.
Alena penasaran apa maksud dari perkataan Tomy, dia pun mulai curiga dengan Daffin. "Apa maksud kamu, Mas?" tanya Alena kepada Tomy.
"Alena, aku tidak bermaksud untuk ikut campur, tapi aku melihat suamimu menjenguk seorang anak bersama wanita lain. Yang tidak wajar adalah wanita itu bergelayut memeluk Daffin." jawab Tomy sambil menepis cengkraman tangan Daffin dari kerahnya.
Alena langsung terdiam saat mendengar jawaban dari Tomy. "Aku mengerti sekarang kenapa Mas Daffin tidak datang menjengukku, jadi ini jawabannya." batin Alena perasaannya sangat kecewa.
Buuukkkk...
Saat Alena melamun, Daffin langsung mendaratkan pukulannya di wajah Tomy. Tomy yang tidak sempat menghindarpun langsung tersungkur kelantai. Namun, dia segera bangkit dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Mas Daffin apa yang kamu lakukan?? Kalian jangan berkelahi!!" Alena mencoba untuk menengahi Tomy dan Daffin agar tidak berkelahi. Namun, tubuhnya saat ini sangat sulit untuk digerakan. Seberapa keraspun dia mencoba untuk bergerak, tubuhnya hanya mampu bergeser sedikit kesamping.
"Kenapa? Apa kau tidak terima jika aku beberkan semua kebusukanmu dibelakang Alena. Kau bahkan tidak peduli dengan istrimu sendiri. Kau hanya peduli dengan selingkuhanmu dan anaknya itu, atau jangan-jangan anaknya adalah anakmu juga?" ujar Tomy menyulut api amarah dihati Daffin.
"Diam kau!!" gertak Daffin lagi sambil melayangkan pukulannya.
Kali ini berbeda, Tomy sudah bersiap untuk melakukan perlawanan kepada Daffin. Dengan sigap dia langsung menangkis pukulan Daffin dan membalasnya dengan pukulan yang kuat dari tangan kanannya.
Buukkk..
Tomy berhasil mendaratkan pukulannya ke wajah Daffin. Namun, dengan sigap pula Daffin langsung membalasnya lagi dengan pukulan keduanya hingga membuat wajah Tomy menjadi lebam. Mereka berdua melontarkan pukulan masing-masing tanpa mempedulikan Alena yang sejak tadi berteriak menyuruh mereka berdua agar berhenti berkelahi.
"Jika kalian berdua tidak berhenti berkelahi, aku Alena sampai mati akan membenci kalian berdua!!" teriak Alena dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Seketika itu juga Daffin dan Tomy langsung berhenti berkelahi. Daffin langsung mendorong Tomy agar berdiri jauh dari samping Alena. Sedangkan dia langsung menghampiri Alena yang sedang menangis.
"Alena, maaf ya aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis!" ucap Daffin sambil menyapu air mata dari pipi Alena.
Plakk
Alena langsung menepis tangan Daffin. Dia saat ini benar-benar sangat kesal dengan Daffin yang baru saja datang menjenguknya dan langsung membuat kekacauan.
"Alena bukannya aku tidak peduli denganmu, tapi... Aku sedang mengurus anak yang kamu tabrak waktu itu." jelas Daffin mencoba untuk meyakinkan Alena.
Dulu Alena sudah sering mendengar Daffin beralasan saat berbuat salah. Kali ini dia tidak akan mudah percaya dengan kata-katanya lagi.
"Mas, Aku jatuh dari tangga. Saat itu aku berdebat dengan Serli. Kamu tau tidak Mas kenapa aku berdebat dengannya??" tanya Alena dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.
"Kenapa??" tanya Daffin dengan ekspresi penuh kekhawatiran.
"Kami berdebat karena Serli saat itu sangat marah saat mengetahui bahwa aku sudah menabrak anaknya." jawab Alena lirih.
Alena memandang dalam kedua manik mata Daffin. Terlihat kasih sayang yang tulus didalam matanya. Namun, Alena tidak tau untuk siapa kasih sayang itu ditujukan. Entah itu untuk dirinya atau untuk pengantin yang sesungguhnya, yaitu Serli.
Air mata Alena semakin bercucuran ketika Daffin mengusap rambutnya. Alena langsung memegang tangan Daffin dan menggenggamnya erat-erat.
"Hiks, aku hanya ingin bertanya satu hal, Mas. Tolong jawab jujur, Vivi itu anak Serli bersama siapa, Mas?? Bukan anak kamu, kan??" tanya Alena.
Seketika jantung Daffin serasa langsung berhenti berdetak ketika Alena melontarkan pertanyaan itu. Tentu saja pertanyaan itu sangat sulit untuk ia jawab. Tatapan Daffin seketika tidak menjadi hangat lagi. Wajahnya menjadi pucat seperti mayat. Mulut Daffin hanya menganga gelagapan tidak tau apa yang harus ia katakan.
"Ada apa ini kenapa Alena menangis??" tanya pak Bisma yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bu Dewi yang khawatir melihat Alena sedang menangispun langsung menghampiri dan memeluknya. Pak Bisma kini tatapannya terhadap Daffin tidak sehangat dulu. Dia sudah tidak percaya lagi dengan menantunya yang sudah tertangkap basah sedang dipeluk oleh wanita lain.
"Alena, apa suamimu yang membuatmu menangis??" tanya pak Bisma kepada putri semata wayangnya.
Alena hanya menggelengkan kepalanya dipelukan sang ibu. Dia tidak ingin masalahnya dengan Daffin diketahui oleh kedua orangtuanya.
Daffin menghembuskan napas leganya. Walau ayah mertuanya menatap dia dengan tatapan tidak suka, tapi dalam hati dia berterimakasih karena kedatangannya membuat dia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan Alena.
Tomy yang merasa hanya orang luarpun merasa canggung berada diantara mereka semua. Dia terpaksa pamit untuk menghindari keikut campurannya dalam masalah keluarga Alena.
"Om, Tante! Saya pamit pulang dulu ya! Semoga Alena cepat sembuh." ujarnya sambil mencium kedua tangan orangtua Alena bergantian. Dia juga mengusap ujung kepala Alena untuk berpamitan kepadanya.
__ADS_1
"Makasih ya, Mas!" balas Alena disertai senyuman.
"Hati-hati dijalan ya, Nak Tomy!" sambung bu Dewi dan langsung diangguki oleh Tomy.
Tomy pum dengan berat hati langsung pergi meninggalkan Alena. "Alena, aku selalu berdoa semoga aku bisa menjadi bagian dari hidupmu," batin Tomy sambil meraba pipinya yang terasa sakit karena lebam.
Setelah Tomy pergi, pak Bisma langsung menyuruh Daffin pergi untuk menyembuhkan luka diwajahnya.
"Alena, Kenapa kamu menangis? Apa Daffin menyakiti kamu?" tanya bu Dewi sambil memeluk tubuh Alena.
"Aku harus bicara kepada Bagas, dia harus memberi pelajaran kepada anaknya. Daffin sialan berani berbuat seenaknya kepada putriku," ujar pak Bisma dengan wajah tegas.
"Bun, Alena mau istirahat!" ucap Alena sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.
Ayah dan Bunda Alena pun mengerti maksud Alena. Alena mengalihkan pembicaraan kedua orangtuanya dengan mengatakan ingin istirahat.
"Ya sudah sayang kamu istirahat dulu, Bunda tinggal ya!" balas Bu Dewi sambil menyelimuti Alena dan mengecup keningnya.
Pak Bisma dan bu Dewi pun keluar dari kamar rawat Alena. Rencananya mereka ingin memberitahu Alena tentang kondisi fisiknya. Namun, bu Dewi tidak tega saat melihat Alena menangis. Dia takut akan tambah membuat Alena bersedih setelah mengetahui bahwa dia tidak bisa berjalan untuk sementara waktu.
"Kenapa kamu tidak memberitahukannya sekarang, sayang?" tanya pak Bisma kepada istrinya.
"Hiks,, Aku gak tega, Mas. Gak kebayang gimana sedihnya Alena setelah tau bahwa kakinya tidak bisa berjalan dengan normal," isak bu dewi.
Pak Bisma pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Takdir memang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Manusia biasa hanya perlu tetap sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang datang. Percayalah seberat apapun cobaan hidup, Allah tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya. Akan datang dimana saatnya orang yang tertindas akan bahagia bersama tulusnya cinta.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung
__ADS_1
Maaf ya kalau ceritanya tidak memuaskan, karena saya hanya author abal-abal yang sekedar hobi ngehalu.🙏🙏
Spoiler: next Alena bakal tau dengan mata dan telinganya sendiri tentang rahasia sang suami**.