Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 41 kerja sama


__ADS_3

Setelah makan malam, Alena langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap seisi ruangan yang terasa dingin karena tidak pernah di tempati lagi.


Alena kembali menitikan air matanya. Dia sudah mencoba sekuat yang ia bisa untuk tidak menangis. Tetapi, hati dan pikirannya bertolakan. Walau pikiran Alena selalu menguatkan hatinya agar tidak bersedih, tapi hatinya tidak sanggup untuk mengatakan bahwa dia tidak sakit.


Jika dia tertidur dan terbangun esok pagi mungkin bisa sedikit meredakan rasa sesak didadanya. Alena pun berbaring dan memaksa memejamkan kedua matanya yang sembab hingga terlelap.


Disisi lain, Daffin yang sedang berhenti di lampu merah terlihat sangat bingung. Dia ingin segera pulang ke rumah untuk menanyakan semua masalah ini apa benar ada hubungannya dengan orangtuanya. Tetapi, disisi lain dia juga ingin segera menemui Alena dan menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi.


"Jika aku menemui Alena, Serli bisa saja saat ini datang ke rumah dan mengatakan semuanya kepada papa dan mama. Tapi, jika aku tidak menemui Alena, dia pasti akan semakin marah." gumam Daffin sambil mencengkram kuat kepalanya sendiri.


Daffin sepertinya akan memutuskan untuk pergi ke rumah Alena. Dia langsung menghubungi adiknya agar melindungi kedua orangtuanya dari si ular berbisa.


Tuuuttt... Tuuttt


"Halo, ada apa?" tanya Dafka cuek.


"Dimana kau sekarang?" suara Daffin yang terdengar dari balik telepon Dafka.


"Di rumah." jawabnya singkat.


"Bagus, malam ini kau jangan kemana-mana. Tolong jaga papa dan mama jangan sampai bertemu dengan Serli. Dia malam ini pasti akan datang ke rumah untuk menyakiti papa dan mama." jelas Daffin.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak pulang, aku malas berurusan dengan mak lampir itu." ketus Dafka kesal.


"Aku sedikit ada masalah, jika masalahku selesai aku akan segera pulang."


"Ck, dasar merepotkan sekali!" ketus Dafka lagi tambah kesal. "Suruh bang Alvin kemari, aku tidak mau berurusan dengan mak lampir itu sendirian." sambungnya lagi lalu mematikan ponsel dan membantingnya kekasur.


"Errgh, kenapa aku dibawa-bawa, dasar merepotkan!" gerang Dafka kesal.


Daffin pun langsung melakukan apa yang Dafka pinta. Memang benar jika tidak dibantu dengan Alvin, takutnya Dafka akan kerepotan berurusan dengan Serli yang penuh dengan tipu muslihat.


Setelah lampu hijau menyala, Daffin langsung melajukan mobilnya menuju rumah Alena.


Saat memasuki halaman rumah Alena dari belakang juga ada satu mobil hitam yang masuk mengikuti mobil Daffin. Daffin merasa asing dengan mobil itu. Dia pun keluar dari mobil dan berdiri menunggu orang itu agar keluar dari dalam mobilnya.


Tidak menunggu lama, dia pun keluar dari dalam mobil. Daffin mengenal orang itu, dia adalah Alex sepupu Alena yang waktu itu pernah bertemu di Rumah Sakit.


"Oh, Daffin, ya? Apa kalian sedang menginap disini?" tanya Alex mencoba untuk menghilangkan kecanggungan.


Daffin hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu berbalik meninggalkan Alex.


"Tunggu!" pinta Alex.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Daffin singkat.


"Mari mengobrol sebentar!" ajak Alex.


"Aku tidak ada waktu," Daffin menolak karena baginya Alena lebih penting. Kalau hanya mengobrol saja masih banyak waktu luang untuk digunakan.


"Ini tentang Serli!" bentak Alex.


Sontak Daffin langsung terkejut dan berbalik menatap Alex. Dia berpikir bagaimana bisa Alex mengenal tentang Serli. Daffin pun langsung menghampiri Alex dan bertanya apa yang dia ketahui tentang Serli.


Setelah mengobrol lebih dari 30 menit, Daffin langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Alena. Saat masuk ke dalam kamar, Alena terlihat sedang tertidur pulas. Daffin menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Terlihat dengan jelas mata sembab Alena karena terus menangis sepanjang hari ini.


"Alena, maafkan aku. Sejak dulu aku selalu membuat kamu menangis. Aku janji akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya dan setelah itu kita akan hidup bahagia." bisik Daffin sambil mengecup kening Alena.


Alena terganggu karena bisikan Daffin. Dia terkejut dan langsung terbangun sambil menghindari Daffin yang sangat dekat dengannya.


"Ngapain kamu disini??" bentak Alena sambil melempar Daffin dengan bantal.


"Al, kamu dengerin dulu penjelasan aku. Vivi itu benar-benar bukan anak kandung aku. Aku dulu sudah di jebak oleh Serli. Dan tiga tahun yang lalu juga kamu di jebak itu sebabnya kamu ninggalin aku, kan?"


"Aku ninggalin kamu?? Jelas-jelas kamu yang ninggalin aku, Mas. dan kamu bahkan tidur satu ranjang sama dia." bentak Alena sambil memukul dada Daffin.


"Alena, dengar! dulu kita sama-sama di jebak. Sekarang aku sudah punya bukti kalau Vivi bukan anak aku!" tegas Daffin sambil menangkap kedua tangan Alena.


"Mana? Mana buktinya?" teriak Alena tak percaya dengan apa yang Daffin katakan.


"Aku buktinya!" ucap Alex sambil berdiri di ambang pintu.


"Kak Alex??"


Alena terkejut karena kedatangan kakaknya yang tiba-tiba berkata bahwa dia buktinya. Alena bingung apa maksud dari semuanya itu.


"Apa maksudnya? Bukti apa, Kak?" tanya Alena. Alex pun langsung menghampiri Alena dan mengusap air mata di pipinya.


"Maafin aku ya, karena aku terlambat memberitahu kalian. Vivi itu anak kandung aku dan Serli. Daffin hanya korban dari kelicikannya Serli. Dan adikku ini juga sudah menjadi korbannya." jelas Alex.


Alena langsung terduduk lemas karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Terlalu banyak masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Rasanya kepala Alena tidak sanggup lagi untuk merekam semua masalah yang terus berbelit-belit.


"Alena, kamu sekarang percayakan sama aku. Kenapa aku merahasiakannya dari kamu dan orangtua ku karena aku tahu kalau Vivi bukan anakku. Aku hanya mengikuti permainan Serli dan mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini." ucap Daffin sambil memeluk Alena.


Alena langsung mendorong Daffin. Dia masih belum bisa memaafkannya begitu saja.


"Kenapa bisa seperti ini? Kepalaku jadi pusing." lirih Alena sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


Alena masih terduduk lemas di atas lantai. Kakinya terasa tak bertulang ketika mendengar bahwa Vivi ternyata anak kandung Alex. Kenapa harus Alex yang adalah orang terdekat Alena.


Alex langsung memberikan Alena air putih. Wajar jika Alena terlalu sulit untuk menerima semuanya. Karena titik masalahnya selalu berada di tempat orang-orang terdekatnya.


"Alena, percalah bahwa Daffin sangat mencintaimu. Saat ini kita hanya perlu bekerja sama untuk menjatuhkan Serli dan orang dibaliknya." ucap Alex mencoba untuk meyakinkan Alena.


Alena masih terdiam dan terus menangis. Ada rasa bahagia bercampur kesedihan yang saat ini ia rasakan. Walau ternyata Vivi bukan anak kandung Daffin, tetapi kenapa juga harus anak kandung kakak satu-satunya.


"Alena sayang! Kalau kamu tidak percaya dengan kata-kataku, setidaknya kamu percayakan dengan apa yang kak Alex katakan." ucap Daffin sambil memegang kedua pipi Alena dan mengusap air matanya.


"Aku tidak mengakuinya karena Vivi memang bukan anakku. Untung saja aku tadi bertemu dengan kakak kamu dan dia jujur mengatakan semuanya kepadaku." sambungnya lagi sambil memeluk Alena.


"Awalnya aku sangat membenci orang yang bernama Daffin, tapi saat di rumah sakit aku baru tahu ternyata Daffin adalah pria yang dinikahi oleh adikku. Aku tidak peduli lagi dengan ancaman Serli. Saat tadi bertemu Daffin diluar rumah aku pun langsung mengatakan yang sebenarnya." Jelas Alex.


"Hiks, Makasih ya, Kak!" ucap Alena lalu membalas pelukan Daffin.


"Apa sekarang kamu mau memaafkan aku?" tanya Daffin. Alena langsung menggelengkan kepalanya di dekapan Daffin.


Walau Alena belum memaafkan Daffin, tapi Daffin merasa sangat senang karena Alena sudah mau membalas pelukannya.


"Lalu selanjutnya kita harus bagaimana? Aku sudah hampir gila gara-gara masalah yang di timbulkan Serli." tanya Alena sambil mengangkat kepalanya menatap mata Daffin.


"Serahkan ini pada kami, tugas kamu hanya diam dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Aku tidak ingin kamu terluka lagi." jawab Daffin.


Alena hanya mengangguk pasrah. Daffin lalu mengusap ujung kepala Alena dan mengecup keningnya.


"Kak Alex, apa kau mau bekerja sama denganku?" tanya Daffin.


"Tidak perlu bertanya lagi tentu saja aku mau bekerja sama denganmu." jawab Alex tegas.


"Tapi..." Daffin menggantung kata-katanya. Dia merasa tidak enak karena bagaimana pun Serli adalah istrinya Alex.


"Tidak apa-apa, jika ini dibiarkan terus maka orang-orang terdekatku juga yang akan terkena korbannya. Vivi yang tidak tahu apa-apapun bisa jadi korban kelicikkannya." jelas Alex mantap.


"Aku salut denganmu, Kak. Mulai sekarang kita akan bekerja sama!" balas Daffin sambil menggenngam tangan Alex dan Alex menepuk bahu Daffin.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2