
"Sudah, jangan nangis lagi!" pinta Daffin sambil mengusap kedua pipi Alena.
"Mas, apa setelah ini tidak akan terjadi kesalah pahaman lagi diantara kita?" tanya Alena kembali memeluk Daffin.
"Tidak akan, tidak akan ku biarkan siapapun lagi mengganggu hubungan kita." jawab Daffin yakin.
Alena pun merasa puas dengan jawaban Daffin. Malam ini benar-benar malam paling membahagiakan dalam hidup Alena. Bahkan malam pernikahan mereka tidak bisa dibandingkan dengan malam ini.
"O,ya, sayang. Aku mau mandi dulu, ya. Gara-gara sibuk nyiapin makan malam, aku sampai belum mandi." ujar Daffin sambil menciumi bau badannya sendiri.
"Uhh, jadi bau itu berasal dari kamu, Mas." ledek Alena sambil mengipas-ngipas tangannya didepan hidung.
"Haha, ya, udah aku mandi dulu, sayang." ucap Daffin lagi sambil mengecup kening Alena lalu berbalik menuju kamar mandi.
Alena kalut dalam senyumanya sambil menatap punggung Daffin yang sedang berlalu. Daffin cinta pertamanya kini akan menjadi cinta terakhirnya pula.
Sambil menunggu Daffin selesai mandi, Alena berbaring diatas kasur sambil menonton siaran televisi. Didalam TV sedang menyiarkan berita top model 2021 yang paling digemari oleh para kaum pengusaha tinggi. Mereka menggunakan model paling top untuk memperagakan atau memperkenalkan produk-produk dari berbagai perusahaan ternama.
"Baiklah, inilah yang kita nanti-nantikan mari kita saksikan top model No. 1 kita, Chelsi!!"
"Halo, semuanya, apa kabar??"
"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan.... Suaranya juga tidak jauh berbeda." gumam Alena saat melihat siaran di Televisi.
"Apa yang kamu gumam, kan??" tanya Daffin tiba-tiba mengejutkan Alena.
Sontak Alena pun langsung mematikan Televisi. "Eh, tidak, Mas. Bukan apa-apa, kok." jawab Alena cepat.
Alena tercengang ketika melihat penampilan Daffin yang memakai bath robes wanita setelah mandi. Biasanya pria hanya akan menggunakan handuk setengah badan saja, tapi beda dengan Daffin yang malah memakai handuk baju khusus wanita.
"Puuft, kenapa kamu pakai handuk cewek, Mas?" tanya Alena menahan tawanya.
"Dingin," jawab Daffin singkat sambil bergaya seolah-olah sedang kedinginan.
Alena hanya mengkerutkan keningnya saat mendengar jawaban Daffin. "Memangnya didalam tidak ada air hangat?" gumam Alena terkekeh.
Daffin pun hanya mengangguk kemudian membuka lemari baju. Dia memang sengaja memakai handuk wanita agar tidak memperlihatkan lukanya yang belum sembuh.
Saat membuka lemari baju, Daffin terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Ya, dia sedang bingung dengan masalah lukanya yang belum diketahui Alena. Disisi lain dia tidak ingin memberitahu Alena karena tidak ingin membuatnya khawatir, tapi disisi lain pula dia butuh seseorang untuk mambantunyaa mengganti perban.
__ADS_1
"Bagaimana ini, jika ku keluar jam segini pasti Alena akan curiga. Apa aku katakana yang sebenarnya saja, ya." pikir Daffin dengan penuh pertimbangan.
Akhirnya Daffin pun memutuskan untuk memberitahukannya kepada Alena. Karena cepat atau lambat Alena pasti akan mengetahuinya juga. Mengingat sifat Alena yang sedikit pemarah, dia pasti akan marah besar jika tidak mengetahuinya dari sekarang.
Daffin pun menghampiri Alena sambil membawa kotak P3K. "Sayang, boleh tolong aku tidak?" ucap Daffin dengan sangat hati-hati.
Alena yang sedang sibuk dengan ponselnya pun langsung menoleh kearah Daffin. Alena kembali mengkerutkan keningnya saat melihat Daffin memegang kotak P3K.
"Kamu terluka, Mas?" tanya Alena yang langsung terbangun dari baring santainya.
"Iya, sayang. Tapi.. Kamu jangan marah, ya!?" pinta Daffin memasang wajah melas.
"Coba sini aku lihat lukanya, Mas." Alena masih memasang wajah santai karena dia tidak berpikir jika lukanya Daffin sangat parah.
Daffin pun kemudian duduk ditepi ranjang. Dia lalu membuka handuk yang menutupi tubuhnya. Alena yang sedang menyiapkan perban pun langsung terkejut setengah mati ketika melihat luka Daffin yang sangat parah.
"Ya Allah, Mas." teriak Alena sambil menutup mulutnya.
Daffin hanya terdiam melihat reaksi Alena yang sudah bisa ia tebak. Alena yang melihatnya malah langsung menangis sambil menatap luka diperut sebelah kiri dan kanannya.
"Hiks, kenapa dari awal kamu gak bilang sama aku kalau ternyata kamu terluka separah ini, Mas?" tanya Alena sambil terisak.
Daffin pun langsung berbalik menghadap Alena. Perlahan dia mengusap air mata Alena agar tidak membasahi pipinya.
"Mas, mulai sekarang apa pun yang terjadi sama kamu pokoknya aku harus tahu. Aku gak mau kamu nyembunyiin apapun dari aku." pinta Alena. Daffin pun langsung mengangguk dan mengecup kening Alena.
Alena yang sudah merasa tenang pun mulai menggantikan perban diluka Daffin. Ketika melihat luka Daffin, Alena bisa merasakan betapa sakitnya luka sayatan itu. Dalam diam Alena terus menangis tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Mas?" tanya Alena setelah mengikat perban terakhirnya.
"Sini biar aku ceritakan," ucap Daffin sambil mengajak Alena untuk berbaring di kasur.
Daffin memeluk tubuh Alena dibawah selimut, sedangkan Alena hanya patuh dan siap mendengarkan cerita Daffin.
Daffin pun mulai menceritakan kejadian yang dialaminya waktu itu. Dia tidak menceritakannya secara detail karena takut membuat Alena menjadi takut. Yang Daffin ceritakan hanya poin dimana dia diselamatkan oleh Haikal dan Manager Erick hingga akhirnya Hendra dan anak buahnya kalah kemudian dijebloskan kedalam penjara.
"Mas, bagaimana keadaan papa dan mama? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Alena merasa khawatir.
"Mama baik-baik saja, papa..." jawab Daffin menggantung kata-katanya.
__ADS_1
"Papa kenapa, Mas?" tanya Alena lagi penasaran.
Daffin terdiam dalam lamunannya. Alena heran kemudian menatap wajah Daffin sambil memegang kedua pipinya.
"Ada apa, Mas? Apa yang terjadi dengan papa??" tanya Alena lagi.
"Papa sekarang di penjara." jawab Daffin melemah.
Alena terkejut ketika mendengar jawaban dari suaminya itu. Ia tidak percaya bagaimana mungkin ayah mertuanya dalam penjara.
"Dimasa lalu, papa membunuh istri paman karena istri paman sudah membunuh kakek. Itulah kenapa papa bisa ikut dipenjara bersama paman." jelas Daffin lagi sambil mempererat pelukannya.
Alena bisa merasakan kesedihan yang Daffin rasakan. Dia pun membalas pelukan Daffin dan berusaha membuatnya tenang.
"Alena!"
"Hemm??"
"Jika dimasa depan aku menjadi miskin tidak punya apapun, apa kamu masih mau hidup denganku?" tanya Daffin dengan suara kecil.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Alena bingung.
"Papa masuk penjara, saat ini statusnya diperusahaan masih sebagai CEO, karena papa masuk penjara itu akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Para investor pasti akan menarik investasi mereka karena merasa perusahaan tidak layak berkembang karena memiliki pemimpin seorang pembunuh." jelas Daffin.
Alena tersenyum menanggapi penjelasan Daffin. Dia percaya bahwa Daffin pasti bisa melewati masa-masa sulit itu. Dia juga tidak peduli jika Daffin akan menjadi miskin. Hidup bersama Daffin dalam keadaan susah maupun senang adalah pilihan utama dihatinya.
"Mas, asalkan kamu tidak membuatku kecewa. Tidak peduli susah ataupun senang aku akan tetap hidup bersamamu." jawab Alena dengan begitu yakin.
Daffin merasa puas dengan jawaban dari Alena. Dia bersyukur sudah menikahi Alena. Kini ia benar-benar berjanji tidak akan membuat Alena menangis lagi karena kesalahannya.
"Aku akan menjagamu hingga sisa hidupku, aku berjanji tidak akan membuat mu menangis lagi." batin Daffin sambil mengecup kening Alena.
Daffin terus memeluk dan mengusap kepala Alena hingga Alena tertidur. Mereka berduapun berpelukan hingga masing-masing terlelap dalam buaian mimpi.
.
.
.
__ADS_1
Season 1 TAMAT.
BUAT YANG SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA TINGGALKAN MODBOOSTER YA!!