
Pagi ini cuaca yang sedikit mendung membuat Alena merasa enggan untuk turun dari tempat tidur. Begitu pula dengan Daffin yang masih erat memeluk tubuh Alena. Alena yang merasa sangat nyaman tidak ingin melepaskan pelukan suaminya itu. Dia sudah terbangun sejak tadi, tetapi dia tidak membangunkan Daffin dan hanya terus menatap wajahnya.
"Kamu suamiku, Mas. Kamu milikku! Aku mencintaimu." Gumam Alena sambil menyentuh pipi Daffin dan tak henti terus memandangnya.
"Kamu bilang apa barusan?"
Tiba-tiba saja mata Daffin terbuka sontak saja membuat Alena terkejut dan langsung menarik tangan yang ia gunakan untuk menyentuh pipi Daffin.
"Kamu sudah bangun, Mas?" Tanya Alena. Dia merasa malu dengan apa yang baru saja ia katakaan.
"Sudah bangun dari tadi," jawab Daffin santai sambil kembali memejamkan kedua matanya. Dia juga kembali menarik tangan Alena agar tetap menyentuhnya seperti tadi.
Wajah Alena benar-benar langsung memerah, dia merasa sangat malu karena ternyata Daffin hanya pura-pura tidur saja.
"Sudah bangun kenapa tidak bangun?" Alena langsung terbangun dan hendak beranjak dari tempat tidur. Namun, dengan cepat Daffin langsung melingkarkan kedua tangannya dipinggang ramping Alena.
"Jangan bangun dulu, pleasee!!" Rengek Daffin.
Alena hanya terdiam melihat Daffin yang tiba-tiba saja menunjukan sifat manjanya.
"Mas, lihat!! coba kamu lihat jam ,sudah jam berapa ini?" Ujar Alena sambil mengacak-ngacak rambut Daffin.
Daffin pun langsung menoleh kearah jam dinding. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Memang bukan waktunya lagi untuk terus berbaring diatas kasur. Namun, Daffin tetap tidak perduli dan malah mempererat pelukannya.
"Memangnya kenapa kalau sudah jam sepuluh? Mau sampai 24 jam pun aku betah kalau sama kamu." Bantah Daffin seraya mempererat pelukannya.
Alena pun hanya menghela napasnya. "Pokoknya ayo bangun, puasin liburan kita, Mas. Aku mau jalan-jalan, aku mau makan ini dan itu. Pokoknya ingin senang-senang!" Alena menyebutkan keinginanya satu persatu yang membuat Daffin langsung melepaskan pelukannya.
Daffin langsung bangun dan kini posisinya berada dibelakang tubuh Alena yang sedang membelakanginya.
"Oke, tapi aku ingin dengar sekali lagi apa yang tadi kamu katakan baru aku akan melepaskan kamu." Bisik Daffin tepat ditelinga Alena sambil kembali memeluk tubuhnya dari belakang.
Sontak Alena merasa geli saat nafas Daffin menghembus telinganya. Posisinya benar-benar sangat mesra membuat detak jantung Alena berdebar kencang.
"Banyak yang aku katakan, Mas. Aku sudah lupa semua." Ucap Alena mencoba menghindari Daffin.
Alena tidak tahan dengan detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang. Dia sebenarnya tahu apa yang dimaksud Daffin, tapi dia merasa sangat malu untuk mengulang kata-katanya yang pertama ia ucapkan tadi.
"Oke, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau mengatakanya lagi. Aku akan tetap seperti ini sampai kamu mengatakanya lagi."
Daffin dengan santainya langsung menadahkan dagunya dibahu kanan Alena. Tangannya yang masih memeluk Alena dari belakang mulai merayap masuk kedalam baju tidur pink yang Alena pakai.
__ADS_1
"Oke-oke, Mas. Singkirkan tanganmu dulu!" Ujar Alena sedikit berteriak.
Dia langsung melindungi dadanya karena takut disentuh oleh Daffin. Ya, walaupun mereka berdua suami istri, tapi Alena masih takut jika disentuh oleh Daffin. Daffin juga tidak tahu sampai kapan bisa sabar untuk menyimpan hasratnya terhadap Alena.
Daffin hanya tersenyum nakal saat berhasil membuat Alena semakin salah tingkah. Dia tahu bahwa sejak dulu Alena memang mudah digoda olehnya.
"Kalau begitu cepat katakan!" Pinta Daffin tidak sabar lagi.
"Mmm... Aku tadi cuman bilang kalau kamu suamiku." Jawab Alena dengan wajah malu-malu.
"Terus!"
"Kamu milikku," jawab Alena lagi semakin menahan rasa malunya.
"Terus..." Daffin masih belum puas karena Alena tidak mengatakannya sekaligus.
Alena langsung memonyongkan bibirnya saat Daffin berkata terus dan terus saja. Dia tidak ingin mengatakan kata terakhirnya walaupun sebenarnya dia dulu sering kali mengatakan bahwa dia sangat mencintai Daffin.
Alena pun sambil menahan malu akhirnya melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
"Aku mencin... mmmm.."
Belum selesai Alena melanjutkan kata-katanya, Daffin langsung mengecup bibir Alena. Alena benar-benar sangat terkejut dengan perlakuan Daffin. Ia tidak bisa menolak kecupan Daffin karena pelukannya terlalu erat. Daffin perlahan mendorong tubuh Alena agar kembali berbaring diatas kasur. Kini posisi Daffin berada tepat diatasnya.
"Mmmm... mmmm..." Alena terus mencoba untuk melepaskan diri. Karena melihat Alena seperti kehabisan napas, Daffin pun segera melepas kecupannya.
"Ya sudah, Cepat mandi, gih!" Perintah Daffin sambil beranjak dari tempat tidur.
Alena yang merasa sangat malu pun langsung berlari kedalam kamar mandi. "Huh, hampir saja jantungku loncat dari dalam dada," hela Alena sambil mengelus dadanya. Alena pun segera melaksanakan ritual mandinya.
***
Beberapa saat kemudian setelah siap mandi dan sarapan, Daffin dan Alena langsung meluncur menuju pantai. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa ada siapapun yang mengganggu. Namun, tanpa mereka sadari setiap langkah mereka selalu ada sepasang mata yang terus mengawasi dengan penuh kebencian.
"Nikmatilah masa-masa bahagia kalian berdua karena selanjutnya aku akan menjadi bagian dari kalian. Permainan akan segera dimulai." Gumam seorang wanita yang terus mengawasi Alena dan Daffin dari kejauhan.
"Mas, aku capek cari minum dulu, yuk!" Ajak Alena sambil memegangi kedua lututnya dan mengatur napasnya.
"Yuk, kita duduk disana," tunjuk Daffin kearah tempat duduk yang masih kosong dibawah payung besar.
Alena pun langsung mengangguk sambil merangkul lengan Daffin. Meraka berdua terus bercanda ria sambil berjalan menuju tempat duduk. Mereka pun duduk bersama dibawah payung besar.
__ADS_1
"Wah, banyak cowok-cowok tampan ya disini," ucap Alena memandangi kesekitar pantai dengan wajah sumringah.
"Mata kamu rabun, ya? Jelas-jelas cuman satu cowok tampan disini, yaitu aku." Jelas Daffin sambil membalikan kepala Alena agar tidak melihat kearah para lelaki bule.
"Kamu memang tampan, tapi aku bosen 24 jam liat kamu terus, weekk!" Ledek Alena menjulurkan lidahnya.
"Oo,jadi gitu? Sini kamu.."
Daffin langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung menggelitik pinggang Alena hingga membuat Alena terpingkal-pingkal.
"Ahahaha, ampun, Mas. Ampun!! Iya-iya kamu satu-satunya pria tampan di dunia ini dan aku tidak akan pernah bosan memandangmu."
Alena terus terpingkal-pingkal sambil memohon agar Daffin berhenti menggelitik pinggangnya.
"Mas,udahan gelitiknya aku capek," pinta Alena sampai merasa lemas.
"Makanya matanya jangan jelalatan," ucap Daffin sambil mengecup kening Alena. Alena hanya terdiam malu sambil menyentuh keningnya yang baru saja dikecup Daffin.
Setelah mereka berdua terlihat santai seorang pelayan pun langsung datang sambil membawa buku menu.
"Mas, Mbak, silahkan mau pesan apa?" Tanya seorang pelayan sambil menyodorkan buku menu dan langsung disambut oleh Daffin.
"Kamu mau pesan minuman dan makanan apa, sayang?" Tanya Daffin sambil membaca buku menu.
"Aku mau pesan makanan dan minuman khas sini, Mas." Jawab Alena.
"Mmm, kalau begitu pesan apa aja yang paling khas disini, Mbak!" Pinta Daffin kemudian langsung diangguki oleh pelayan.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka pun kembali jalan-jalan ditepi pantai. Alena tampak terlihat senang, Daffin pun tak henti-hentinya terus memandangi wajah Alena.
"Apaan,sih,Mas? Jangan liatin aku terus!" Seru Alena dengan wajah yang merona.
"Kamu kelihatan banget suka pantai, bagaimana kalau kita pindah kesini saja?" Tawar Daffin sambil mengelus pipi Alena.
"Walaupun aku suka pantai dan keindahan pulau Batam, tapi itu tidak membuatku ingin jauh-jauh dari orangtua." Jawab Alena. "Kita sudah berhari-hari disini, Mas. Besok kita pulang, ya! Mama,papa. Ayah dan bunda pasti sudah merindukan kita." Sambungnya lagi.
"Kalau kamu memang sudah puas liburan, oke, besok kita pulang." Jawab Daffin.
"Iya, Mas." Alena pun langsung memeluk erat tubuh Daffin.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya..