
Setelah selesai melakukan Fisioterapi, Daffin menyuruh Alena untuk menunggu di loby sebentar. Namun, sudah hampir 30 menit lebih Daffin belum juga kembali. Alena sudah merasa kesal karena hanya dia seorang diri yang tidak ditemani oleh siapapun.
"Ck, sebenarnya apa yang sedang dilakukan mas Daffin, dia ini kemana?" gerutu Alena sambil terus melihat kearah lift.
Cuaca diluar sedang hujan deras. Alena memeluk dirinya sendiri kerena hawa dingin Ac yang bercampur udara dari luar membuat tubuhnya sedingin es.
"Sedang apa kamu disini, Alena?" tanya seorang pria membuat Alena terkejut.
Alena mendongak untuk melihat siapa pria yang mengajaknya bicara. Terlihat senyum manis yang merekah dengan lesung pipit di kedua pipinya. Ya, dia adalah Tomy.
"Mas Tomy??" Alena langsung mencoba untuk berdiri, tapi Tomy langsung memegang bahu Alena agar tidak berdiri.
"Duduk saja tidak apa-apa," ujar Tomy sambil melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepada Alena. "Kamu sendirian, nih?" tanya Tomy lagi sambil melihat kekanan dan kekiri. Dia mencari Daffin karena pasti Alena sedang bersama Daffin.
"Mmm."
Alena terdiam sambil terus melihat kearah lift. Dia berpikir apa Daffin mungkin sedang bersama Serli hingga dia tidak ingat lagi dengannya. Tadi sebelum Daffin pergi dia sedang menelepon dan terdengar bahwa Daffin menyebut nama Vivi.
"Aku baru selesai chek up dan lagi nunggu Taxi online, Mas." jawab Alena setelah terdiam beberapa saat. ya, Alena berbohong karena dia kesal kepada Daffin.
"Biar aku antar kamu pulang, ya?" Tomy dengan senang hati langsung menawarkan diri untuk mengantar Alena pulang.
Alena pun langsung mengangguk mengiyakan ajakan Tomy. "Jika mas Daffin saja ada wanita lain, aku juga punya Tomy." batin Alena menahan emosinya.
"Ayo, biar aku bantu kamu jalan!" Tomy langsung memapah Alena untuk membantunya berjalan. Sebenarnya dia sangat ingin menggendong Alena, tapi dia takut Alena marah karena merasa itu kurang sopan untuk menggendong istri orang lain didepan umum.
"Silahkan tuan putri!" ucap Tomy sambil membukakan pintu mobil untuk Alena. Alena hanya tersenyum malu lalu masuk kedalam mobil.
"Kamu mau pulang ke rumah Daffin?" tanya Tomy sambil menghidupkan mobilnya.
"Pulang ke rumah bunda aja," jawab Alena. Dia tidak mau pulang ke rumah Daffin karena dia sudah membuatnya sangat marah.
Tomy pun patuh dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Alena.
Sepanjang perjalanan Alena dan Tomy terus saja mengobrol hingga mengundang gelak tawa. Tomy memang tipe laki-laki yang sangat humoris, sedangkan Alena selera humornya tidak tinggi hingga terus tertawa gara-gara candaan yang dibuat oleh Tomy.
"Kamu jangan tertawa terus nanti giginya kering," ledek Tomy sambil ikut tertawa.
"Haha, kamu sih Mas, gak ada henti-hentinya terus bikin aku tertawa." ucap Alena sambil menutup mulutnya agar berhenti tertawa.
"Sini biar aku gelitik ginjal kamu biar terus tertawa," Tomy langsung menggelitik pinggang Alena dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih fokus dengan kemudi.
__ADS_1
"Ahahaha, jangan-jangan... Geli mas!" pekik Alena tak kuasa menahan tawanya. Tomy terus saja menggelitik pinggang Alena.
Saat mereka sedang bercanda ria tiba-tiba mobil Daffin dari belakang langsung menyalip dan berhenti hanya berjarak beberapa meter dari mobil Tomy.
Tomy terkejut saat melihat mobil yang tiba-tiba menyalip dan berhenti didepannya. Dia pun dengan cepat langsung menginjak rem dan membanting setir kesebelah kiri.
Ckiiittt..
Jduugg...
Kepala Alena terbentur hingga mengeluarkan darah. Tomy panik dan langsung mengelap darah dikepala Alena.
"Maaf, Alena. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu. Mobil gila itu tiba-tiba berhenti mendadak dan aku mencoba untuk menghindarinya." jelas Tomy tidak ingin Alena marah. Karena ini yang kedua kalinya Alena terluka gara-gara bersamanya.
"Gak apa-apa, Mas. Yang didepan itu mobilnya Daffin." balas Alena sambil memegangi kepalanya.
Benar saja Daffin langsung keluar dari dalam mobil dan menggedor pintu mobil. "Keluar kau Tomy! Beraninya membawa istriku pergi!" teriak Daffin penuh dengan amarah.
Tomy pun langsung keluar dari dalam mobil. Saat Tomy keluar dari dalam mobil, tepat satu mobil putih datang dan berhenti disamping mobil Daffin. "Mobil siapa?" pikir Tomy dan Alena.
Bukkk,
Daffin langsung melampiaskan amarahnya dan memukul wajah Tomy. "Sudah aku peringatkan jangan pernah dekati istriku!" bentak Daffin sambil mencengkram kerah baju Tomy.
Dari dalam mobil putih terlihat seorang wanita dan anak berumur 2 tahunan turun dari mobil. Ya, wanita itu tak lain adalah Serli dan putri kecilnya. Alena yang melihat Serli pun langsung keluar dari dalam mobil.
"Mas Daffin, apa yang terjadi?" tanya Serli sambil berjalan menghampiri Daffin yang sedang bertengkar dengan Tomy.
"Jadi ini yang membuatku menunggu sangat lama di loby. Kamu sedang bersama Serli?" ucap Alena berdiri tepat di samping Daffin.
Tomy sama sekali tidak mengerti dengan situasinya. Dia langsung menepis tangan Daffin dan membalas pukulannya.
Buukkkk,.
Tepat mengenai wajah Daffin hingga membuat sudut bibirnya berdarah.
"Siapa kau? beraninya kau memukul suamiku!" pekik Serli mengangkat tangannya hendak menampar Tomy. Namun, dengan cepat Tomy langsung menangkap tangan Serli.
Tomy langsung menatap Alena yang terlihat sedang menahan amarahnya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang istrinya Daffin?" tanya Tomy masih memegang kuat tangan Serli.
"Aku istrinya, dan ini anak kami." jawab Serli sambil memegang tangan Vivi.
__ADS_1
Alena terkejut saat Serli mengakui Vivi sebagai anak mereka. Dia berpikir apa Daffin sudah tidak ingin merahasiakannya lagi dan ingin hidup bahagia bersama keluarga yang sesungguhnya.
"Jadi mas Daffin ingin mengakhiri kebohongannya dan ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilnya." pikir Alena. Tidak terasa air mata Alena mengalir deras membasahi pipinya. Dia tak kuasa menahan tangisnya melihat Daffin yang akan pergi bersama keluarganya.
"Alena, dia berbohong kamu jangan mendengarkan kata-katanya." pinta Daffin sambil menghapus ait mata di pipi Alena.
Alena dengan cepat langsung menepis tangan Daffin. "Aku sudah tahu bahwa Daffin sudah memiliki anak bersama wanita lain, tapi kenapa rasanya seperti baru mengetahuinya." batin Alena. Dadanya terasa sangat sesak saat Serli mengatakan bahwa Vivi anak mereka berdua.
Tomy tidak bisa tinggal diam saat melihat Alena menangis. Dia langsung menarik Daffin dan menghajarnya hingga beberapa kali.
"Bangs*t kau Daffin beraninya kau menyelingkuhi Alena!" bentak Tomy sambil terus memukul wajah Daffin dan Daffin tidak melakukan perlawanan.
"Dan kau adalah wanita jal*ng perusak rumah tangga temanku!" sambungnya lagi sambil mendorong Daffin kearah Serli.
"Hey, dasar pria gila! Hentikan perkelahian ini." ucap Serli berusaha untuk menghentikan perkelahian itu.
"Apa kau buta, seharusnya kau memarahi wanita jalang itu. Kalau bukan dia yang menggoda Daffin, kami keluarga kecil ini tidak akan terpisah. Lihatlah anak kami sudah berumur 2 tahun, sedangkan Alena hadir baru satu bulan. Apa kau tidak bisa membedakan siapa sebenarnya yang merusak rumah tangga orang?" jelas Serli merasa dirinya paling benar.
"Diam!!" bentak Daffin kepada Serli.
Daffin langsung menghampiri Alena yang masih berdiri mematung dengan isak tangisnya.
"Alena, percaya padaku Vivi itu bukan anakku. Serli itu berbohong!" jelas Daffin sambil memeluk tubuh Alena.
"Bohong! Apa ini yang namanya bohong!" bentak Serli sambil menunjukan 3 lembar hasil tes DNA yang semua hasilnya positif.
Semakin deras air mata Alena saat membaca hasil laporan tes DNA yang menunjukan bahwa 99% hubungan antara ayah anak Daffin dan Vivi.
Dia benar-benar sangat kecewa kepada Daffin. Bukti sudah nyata didepan mata, tetapi Daffin masih tidak jujur dan mencoba untuk tidak mengakui bahwa Vivi adalah anak kandungnya.
"Hiks.. Bukti sudah didepan mata, tapi kamu masih menyangkalnya, Mas." isak Alena sambil mendorong tubuh Daffin. "Buat apa lagi kamu berbohong?" teriak Alena sambil melemparkan kertas itu kewajah Daffin.
Daffin gelagapan bagaimana caranya menjelaskan bahwa Vivi benar-benar bukan anak kandungnya. Dia tidak menyangka bahwa Serli akan nekat mengatakan semuanya didepan Alena. Dia belum bisa menemukan bukti yang kuat untuk meyakinkan Alena.
"Huuft, untung saja ayah angkat memberikan ide ini. Tinggal satu rencana lagi yaitu memberitahu calon ibu mertua kalau dia sudah memiliki seorang cucu yang lucu. Dengan begini mas Daffin akan menjadi milikku selamanya." batin Serli dengan senyum licik dibibirnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung