
Setelah sampai di lantai tiga,Fira langsung menuju ruang Bunda kamar no 89. Dia berjalan menelusuri koridor Rumah Sakit sambil melihat setiap pintu untuk mencari kamar rawat Vivi.
"No 86... 87... 88... 89, nah ketemu juga kamar no 89." gumam Fira terlihat senang ketika sampai di kamar no 89.
Fira langsung bergegas membuka pintu kamar. Namun, baru saja dia memegang handle pintu dari dalam terdengar suara seseorang yang sedang berbicara. Fira pun langsung menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Sepertinya di dalam ada orang lain, mungkin keluarganya Vivi. Nanti saja lah bareng Alena, Alena kemana ya?" gumam Fira sambil berbalik meninggalkan pintu.
"Mas Daffin!!"
Suara teriakan tiba-tiba saja terdengar dari dalam kamar. Fira yang mendengar suara wanita yang memanggil nama Daffin pun langsung menghentikan langkahnya.
"Jadi di dalam itu ada suaminya Alena ya, berarti Alena juga ada di dalam, dong??." gumam Fira lagi sambil menghampiri pintu dan berniat untuk membukanya.
"Mas, kamu itu mau kemana? memangnya Alena lebih penting dari Vivi? Ingat Mas Vivi itu anak kandung kamu dan dia sekarang sedang menahan sakit, kamu tega sih mau ninggalin Vivi!"
Untuk yang kedua kalinya belum sempat Fira membuka pintu terdengar lagi seseorang sedang berbicara dengan nada tinggi. Namun, kali ini Fira sangat terkejut mendengar percakapan orang di dalam yang mengatakan bahwa Vivi adalah anak kandung Daffin.
"Astagfirullahalazim, apa yang baru saja aku dengar?" Fira menutup kedua telinganya karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Fira sangat penasaran dengan siapa sebenarnya Daffin berbicara. Dia memberanikan diri untuk menguping pembicaraan orang di dalam kamar.
"Serli, jangan menguji kesabaran ku lagi. Aku sudah memberimu apa yang kamu mau. Untuk masalah pernikahan aku sudah menikah dengan Alena. Aku berterimakasih karena kau tidak datang waktu itu." tegas Daffin terdengar sangat emosi.
"Mas, aku punya alasan kenapa aku tidak datang saat itu. Aku mohon demi anak kita kamu nikahin aku ya, Mas!" Serli terus saja memohon kepada Daffin agar dia menikahinya.
Fira menutup mulutnya rapat-rapat karena ia terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka bahwa Daffin suami sahabatnya ternyata sudah memiliki seorang putri dengan wanita yang dulu pernah merebut Daffin dari Alena.
"Alena kok mau sih menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki anak, Cinta itu memang buta." Fira benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya yang mau menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki anak. Padahal Alena belum tau kalau Daffin ternyata sudah memiliki seorang anak.
Fira langsung pergi dari depan pintu. Dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Alena yang sejak tadi sulit untuk ditemui. Namun, berapa kali pun Fira menghubungi Alena tidak ada jawaban sama sekali. Dia sudah mencoba untuk mengirim pesan, tetapi satu pesan pun tidak ada yang Alena baca.
"Ya Allah, Alena sebenarnya kemana, sih?? Di telepon di chat pun tidak ada jawaban." ketus Fira mulai kesal.
"Memangnya kamu tidak tau kalau Alena jatuh dari tangga dan sekarang lagi dirawat??" tanya Dafka yang tiba-tiba muncul dengan membawa sekantong penuh makanan ringan ditangannya.
"Astagfirullahalazim, Dafka kamu jangan bercanda!" tegas Fira lalu berjalan melewati Dafka.
Tentu saja Fira tidak percaya karena yang dia tau tiga jam yang lalu Alena masih baik-baik saja bersamanya.
"Kamu akan menyesal jika tidak ikut denganku, yang aku lihat kaki kanan Alena sepertinya patah tulang." sambung Dafka lagi sambil berbalik melihat Fira.
Fira pun menghentikan langkah kakinya. Dengan rasa tidak percaya Fira akhirnya berbalik dan berjalan mengikuti Dafka.
"Disini Alena dirawat," ucap Dafka setelah sampai didepan pintu ruang rawat Alena.
Seketika tubuh Fira bergetar, kini ia percaya dengan apa yang Dafka katakan. Namun, saat ini dihatinya ia berharap bahwa ini hanya prank yang sengaja dibuat karena kejahilan Dafka.
Dengan perasaan ragu dan takut, Fira mulai memegang handle pintu dan mendorongnya dengan perlahan. Seketika langsung terlihat Alena yang sedang duduk bersandar dengan kepala yang dibalut perban.
__ADS_1
Fira terkejut bukan main saat melihat kondisi Alena yang sangat mengkhawatirkan. Ia berjalan cepat menghampiri Alena dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Hiks, Alena kamu kenapa, hiks hiks!" isak Fira sambil memeluk tubuh Alena.
"Cup cup, jangan nangis, ndut! Aku enggak apa-apa kok." jawab Alena sambil menepuk-nepuk punggung Fira.
"Hiks, Seperti ini kamu bilang enggak apa-apa? Alena kamu jangan bikin aku khawatir!" isak Fira lagi semakin menangis.
"Percayakan kamu sekarang?" tanya Dafka sambil meletakkan plastik yang berisi makanan di atas nakas.
"O iya aku tadi balas chat grup di hp kamu, aku bilang kalau kamu sakit. Tunggu aja beberapa menit lagi pasti mereka datang." sambung Dafka sambil memainkan ponsel Alena.
"Lo enggak sopan banget sih, Daf! Main buka hp orang aja," ketus Alena sambil merebut ponselnya dari tangan Dafka.
"Daf, mending lo pergi sana!" pekik Fira sambil menarik tangan Dafka agar keluar dari kamar.
Dafka pun hanya patuh saat Fira menyuruhnya untuk pergi. "Fira, Miss you!" ucap Dafka sebelum Fira menutup pintu.
Fira merasa kesal saat Dafka mengucapkan kata-kata yang menurutnya sangat menjijikan itu. Dia tidak mempedulikannya dan langsung kembali menghampiri Alena.
"Al, cerita sama gue, kenapa lo bisa sampai seperti ini?" tanya Fira. Fira yang masih belum berhenti menangispun merasa sangat khawatir saat melihat sahabatnya sedang sakit, tapi masih bisa tersenyum. Dia sangat paham dengan watak Alena, jika Alena sedang sakit dan masih bisa tersenyum itu tandanya ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Gue ga apa-apa kok, Fira. Biasalah tadi ceroboh banget makanya gue bisa jatuh dari tangga." jawab Alena memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Fira hanya diam saat mendengar jawaban Alena yang tidak jujur. Dia yakin pasti ada yang Alena sembunyikan tidak ingin orang lain tau.
"Ini aneh, kok bisa Alena jatuh dari tangga sedangkan sekarang kan ada lift. Ngapain dia capek-capek jalan lewat tangga?" pikir Fira merasa ada yang ganjal.
"Jangan ngelamun nanti kesambet!" ucap Alena sambil menepukan kedua tangannya didepan wajah Fira.
"Alena!!" panggil Fira sedikit ragu.
"Hmmm."
"Sebenarnya... ada hal penting yang pingin banget gue omongin," ucap Fira dengan sangat berhati-hati.
"Apa? Tadi lo nangis-nangis sekarang tiba-tiba serius begitu?" tanya Alena penasaran.
Fira menghirup napasnya dalam-dalam sebelum ia mengatakan apa yang baru saja ia dengar.
"Alena, lo itu sahabat gue paling cantik, paling supel. Lo bisa dapatin laki-laki manapun yang sempurna,tapi kenapa harus Daffin sih yang jelas-jelas sudah punya anak dari wanita lain, emang segitu cintanya lo sama Daffin?"
Fira berbicara panjang lebar tanpa titik koma membuat Alena yang mendengarnya pun tidak bisa mencerna kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia tidak tau kalau Alena ternyata belum mengetahui apapun tentang suaminya yang sudah memiliki anak dari wanita lain.
"Ha? Fira lo ngomong apaan, sih?? Gue sama sekali gak ngerti!" tanya Alena sambil mengkerutkan keningnya.
"Daffin sudah punya anak dari Serli dan anak yang kemarin kita tabrak itu putrinya." jawab Fira sedikit menekan disetiap katanya.
Setelah mendengarnya, Alena tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Dia malah mengulum bibirnya sendiri karena menahan tawa.
__ADS_1
"Puuft, becanda lo enggak lucu, Fira." ucap Alena menahan tawanya sambil menjitak kepala Fira.
"Ihh, kok lo enggak percaya, sih! sekarang aja Daffin masih di ruang rawat Vivi," ketus Fira sambil mengusap-ngusap keningnya yang tadi Alena jitak.
Jantung Alena berdetak kencang saat mendengar kata-kata Fira. Dia ingin tidak percaya, tapi semuanya terlihat jelas dan serba kebetulan. Apa ini jawaban dari tingkah Daffin yang tidak biasa saat mendengar bahwa Vivi anak yang ia tabrak dan apa ini juga jawabannya bahwa Daffin memiliki golongan darah yang sama dengan Vivi. Alena menguatkan hatinya dan tidak ingin percaya sebelum ia membuktikannya dengan mata dan telinganya sendiri.
Tok tok tok
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Siapa? Masuk saja tidak di kunci!" teriak Fira dengan nada sedikit masih kesal.
"Surprise!!" teriak sahabat Alena yaitu Adel dan Fahri.
"Hey kalian enggak tau ya di Rumah Sakit jangan teriak-teriak!" omel Fira.
"Bodo amat!" jawab Adel sambil membulatkan kedua matanya.
Didalam kamar sekarang menjadi tambah ramai. Alena merasa lebih baik karena sahabatnya ada memberi ia suport.
"Alena sayangku, kamu tu ada-ada saja sih kenapa bisa sampai jatuh?" tanya Adel sambil memeluk Alena.
"Namanya juga musibah siapa yang tau, kan?" balas Alena sambil menunjukan senyumannya.
"Kita khawatir banget pas tau kamu jatuh dari tangga sampai kritis," sambung Fahri sambil meletakkan buah tangan keatas nakas.
"Makasih ya guys kalian sudah khawatir sama aku, aku seneng banget punya kalian semua!" tutur Alena sambil memeluk Adel dan Fahri.
"Gimana ceritanya sih lo kok bisa jatuh dari tangga, jaman sekarang kan ada lift kenapa juga lo lewat tangga??" tanya Fahri heran.
Fira langsung menjentikan jarinya karena pertanyaan Fahri mewakili uneg-uneg didalam hatinya.
"Mmm... Gak apa-apa kok waktu itu didalam lift ramai banget, jadi gue terpaksa lewat tangga." jawab Alena berbohong.
"Masuk akal, sih." ucap Fahri sambil menganggukan kepalanya.
"Tidak masuk akal!" bentak Fira membuat sahabatnya terkejut.
"Lo kenapa sih Fira, kesurupan??" tanya Adel sambil menyentuh kening Fira. Mereka terkejut karena Fira tiba-tiba saja berbicara dengan nada tinggi.
Fira hanya terdiam, dia merasa Alena benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu.
"Saat itu Vivi pasti belum dipindahkan kelantai tiga, sedangkan Alena jatuh dari tangga lantai tiga. Sebenarnya apa yang terjadi, sih??" pikir Fira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG