
Keesokan paginya, disebuah gedung tua yang tidak pernah dijamah oleh manusia. Terdengar suara gerangan kesakitan dan mengemis meminta ampun. Dengan luka pukulan disekujur tubuhnya pria itu sudah tidak bisa lagi memberikan perlawanan. Hanya kata ampun yang bisa ia mohon saat ini. Masih ada satu pria lagi yang bahkan sudah tidak sadarkan diri atau mungkin saja sudah mati.
Pria berbaju hitam itu sudah pasrah dan terus memohon agar nyawanya diampuni. Di sisi pria itu pula ada seorang wanita yang terus menangis dengan sumpalan kain di mulutnya dan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Hey, cepat telepon bos, katakan padanya kita sudah menangkap tiga anjing kecil." suruh Haikal. Haikal adalah salah satu pria yang menghajar dua pria itu hingga salah satunya jatuh pingsan.
"Baik, Kak. Tapi kau sudah membunuh pria yang satunya." omel sang adik yang bernama Haiden.
"Bawel! Dia tidak mati." sangkalnya.
***
Alvin yang baru saja tiba di kantor seperti biasa dia pasti langsung menemui Daffin. Seisi kantor tidak heran melihat kebiasaan Alvin yang sering kali selalu menemui Daffin walau hanya untuk mengobrol yang tidak penting.
"Selamat pagi, Pak Alvin!" sapa beberapa karyawan dengan sangat ramah.
"Pagi!" balas Alvin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Siapa yang tidak terpana dengan ketampanan Alvin. Selain umurnya yang masih muda dan tampan, jabatan dan statusnya sangat membuat semua wanita ke semsem ingin menikahinya. Namun, tidak tahu kenapa dengan modal yang sangat sempurna sampai sekarang Alvin masih saja tetap jomblo.
"Di pagi hari yang cerah, apa yang membuat bos tua ini membuat wajah sekecut mangga?" ledek Alvin. Alvin bersandar sambil melipatkan kedua tanganya di dada.
"Berisik!" ketus Daffin. Alvin langsung berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Ahhh, aku ingin liburan." desahnya sambil meregangkan otot-otot kedua tangannya.
"Ikut aku!" Daffin tanpa aba-aba langsung menarik tangan Alvin. Alvin merasa kesal karena perlakuan sahabatnya itu.
"Set*n kau, Fin! Kau ini kenapa?" pekik Alvin sambil menepis tangan Daffin.
"Ayo kita lihat sesuatu yang menyenangkan!" ajak Daffin sambil berjalan meninggalkan ruangan. Daffin memberikan senyuman yang mengerikan.
"His, memang apa yang menyenangkan selain tidak melihat tumpukan dokumen di meja kerjaku?" Alvin berjalan malas mengikuti langkah Daffin.
"Aku ingin memperlihatkan 3 anjing kecil hasil buruanku," jawab Daffin sambil tersenyum dan mengangkat kepalan tangannya.
Alvin yang melihat tingkah aneh Daffin hanya ketus sambil menaikan bibir atasnya. Mereka berduapun langsung melaju menuju ke suatu tempat untuk melihat 'anjing kecil'.
"Kenapa kita kemari?" tanya Alvin menghela napasnya.
"Mengeluh saja terus!"
"Aku sudah tahu jika ke tempat seperti ini pasti akan ada darah!" omel Alvin merasa sangat jijik.
"Kalau kau tidak suka tunggu saja didalam mobil,"
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau ajak aku kemari!" bentak Alvin sambil berjalan mengikuti Daffin.
Sesampainya didalam sebuah ruangan, mereka langsung disambut oleh dua orang berwajah sama. Ya, mereka adalah Haikal dan Haiden.
"Bos mereka ada disana!" ujar Haikal sambil menunjukan jalan untuk Daffin dan Alvin.
"Ck, sudah tidak salah lagi jika ada sikembar gila ini pasti akan ada darah," omel Alvin berdecak kesal.
"Tidak ada darah, Bang. Yang ada hanya gadis cantik." balas Haiden sambil merangkul bahu Alvin.
"Singkirkan tanganmu dari bahuku, bau darah!" ketus Alvin merasa jijik.
Daffin hanya terkekeh saat melihat Alvin yang merasa kesal. Alvin memang sangat phobia darah. Jika dia sedang bertarung dia selalu menyerang ke titik dimana lawannya akan pingsan dalam satu pukulan tanpa mengeluarkan darah.
"Ini tiga anjing kecil yang aku tangkap, Bos." ucap Haikal.
Daffin memperhatikan 3 orang itu dengan sangat serius. Sedangkan Alvin ternganga ketika melihat seorang wanita yang lengan dan kakinya terikat. Belum lagi mulutnya terus di sempal kain sehingga dia tidak bisa bicara. Wanita itu terlihat seperti ingin berbicara kepada Alvin.
"Ka-kau..." Alvin tergagap ketika melihat Dinar menjadi salah satu anjing kecil yang dimaksud Daffin.
"Bukannya dia sekretarismu?" tanya Daffin. Alvin masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Haiden! Kau apakan sekretarisku?" tanya Alvin terlihat kesal.
"Aku hanya mengikatnya, tapi tidak tahu kenapa dia terus menangis seperti aku ini menyiksanya." jawab Haiden santai.
"Pak Alvin, tolong saya!! hiks." isak Dinar setelah mulutnya terbebas.
Alvin menatap wajah sekretarisnya dengan penuh kasihan. Dia bertingkah seolah-olah ingin menolongnya. "Aku akan menolongmu, tapi jawab dulu pertanyaanku. Bagaimana bisa kau sampai disekap disini?" tanya Alvin dengan suara yang lembut, tapi terdengar menakutkan. "Cepat katakan" sambungnya lagi.
"Sa-saya... Saya..." Dinar tidak bisa menjawab pertanyaan Alvin. Tentu saja Alvin sengaja bertanya seperti itu supaya membuat Dinar membuka mulut dihadapannya.
"Baiklah, aku tidak punya alasan untuk menolongmu." lanjut Alvin sambil berdiri dari hadapan Dinar.
"Saya mohon, tolong bebaskan saya. Saya hanya terpaksa melakukannya." teriak Dinar. Alvin langsung terduduk tak berdaya karena merasa malu sudah dipermainkan oleh Sekretarisnya sendiri.
"Haish, aku di khianati!" gerutu Alvin sambil menepuk-nepuk bahu Haiden.
"Ku pikir karena dia cantik kau akan langsung menolongnya." ledek Haiden. Pletakkk. Alvin langsung menjitak kepala Haiden.
Daffin yang sejak tadi hanya terdiam tak banyak bicara pun langsung menghampiri 2 pria yang terduduk lemah. "Apa kalian Anjing setia? Biasanya anjing setia rela mati demi tuannya." tanya Daffin sambil menepuk pipi mereka berdua. "Aku tidak suka basa-basi, bunuh anjing setia ini!" sambungnya lagi.
"Jangan... Saya mohon jangan... Saya akan melakukan apapun, asalkan jangan bunuh saya!" rengek pria berbaju hitam. Daffin tersenyum, dia tidak perlu memaksa mereka untuk beralih tuan.
"Baiklah, aku akan memanggil kalian no 1, no 2, dan no 3." ucap Daffin sambil menunjuk mereka satu persatu. "Aku tidak peduli dengan nyawa kalian, jadi kalian bisa mati kapan saja," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Kami paham, kami akan setia hanya kepada bos Daffin saja!" jawab no 1 sambil sujud dihadapan Daffin. No 2 tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena lukanya paling parah.
"No 2 ini, aku sudah sering kali melihat dirimu berkeliaran dimana pun aku berada. Karena itulah aku mudah mengetahui dimana dan untuk siapa kau bekerja." ucap Daffin sambil mengangkat dagu no 2.
"Lalu kenapa kamu tidak menangkapku sejak dulu," tanya no 2 dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Hanya mengikuti permainan saja." jawab Daffin tersenyum puas.
"Jadi hanya aku yang bodoh disini?" Alvin benar-benar sangat kesal kepada Daffin. Sia-sia selama ini dia mengkhawatirkan sahabatnya.
Daffin hanya terkekeh menahan tawanya ketika melihat wajah datar Alvin yang menahan kekesalannya. Dia sengaja tidak menceritakannya kepada Alvin karena dia tahu bahwa Alvin orang yang sangat emosian dan selalu terburu-buru dalam bertindak.
"Apa kau ingin tetap hidup, Dinar?" Kini Daffin beralih menghakimi Dinar yang sejak tadi terus merengek meminta ampun. Dengan cepat Dinar langsung menganggukan kepalanya.
"Apa kau sudah melaporkan tentang apa yang kau dengar kemarin?" tanya Daffin. Dinar bingung tidak tahu apa yang dimaksud Daffin.
Daffin berjongkok dihadapan Dinar. "Aku tahu kemarin kau menguping pembicaraan ku dengan Alvin, bukannya kau juga yang selalu menukar hasil laporan tes DNA." Mata Dinar langsung terbelalak. Dia tidak sadar bahwa ternyata dia sejak awal sudah tertangkap basah oleh Daffin.
"Kalau kau tahu sesuatu kenapa tidak cepat bertindak?" tanya Alvin emosi. Daffin hanya tersenyum sinis. Alvin semakin tidak mengerti dengan rencananya itu. "Aku hanya mengikuti alur cerita yang dibuat oleh Serli," jawab Daffin.
"Aku tahu kau sudah melaporkannya, kan? Tentang aku yang akan membawa Alena dan Vivi keluar kota?" Dinar langsung mengangguk. "Apa anda sengaja ingin membuat jebakan?" tanya Dinar.
"Hati-hati dengan lidahmu, aku akan memotongnya!" gertak Daffin sambil menggerakan jarinya seperti gunting.
"Saya mengerti, asal nyawa saya selamat apapun akan saya lakukan, Tuan!" ucap Dinar dengan wajah serius.
"Kami juga, Tuan!" sambung no 1 dan no 2 hanya menganggukan kepalanya.
"Aku meragukan kalian," ucap Daffin sambil berbalik menjauh dari mereka. "Bunuh saja mereka!" pinta Daffin kepada Haikal.
"Tidak, jangan! Saya mohon jangan! Saya masih punya keluarga yang harus saya hidupi. Tolong ampuni nyawa saya!" rengek mereka bertiga terus saja memohon ampun.
"Kalau begitu jadilah anjing setiaku!"
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
MAAFKAN AUTHOR YANG SELALU TELAT UPDATE🙏🙏