
Disebuah gedung yang berbeda, terlihat seorang pria paruh baya memakai topeng putih sedang duduk sambil memangku dagunya. Tatapan tajam dan terpancar hawa dendam yang kental di aura matanya. Orang-orang didepannya hanya menunduk takluk dan siap menunggu perintah.
"Bos X, apa kita perlu bertindak untuk menolong Serli?" tanya salah satu anak buahnya tanpa mengangkat kepala.
Prankk..
"Anak itu tidak berguna!" bentak X sambil menepis gelas kopi di atas mejanya.
Semua orang dihadapannya langsung bergetar ketakutan. Tidak ada satu pun yang berani bicara hingga membuat ruangan menjadi hening.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Bos?" tanya Erick si tangan kanan X.
"Biarkan, biarkan saja dia disana, mati pun aku tidak peduli. Biarkan mereka semua lengah." jawabnya dengan nada penuh penekanan.
Semuanya pun langsung mengangguk seolah-olah paham dengan rencana X. Hanya Erick yang berani menatap wajah bosnya dengan tatapan yang datar.
"Anda memiliki seorang anak laki-laki, dia pasti bisa lebih berguna ketimbang anak perempuan." ucap Erick. Dia penasaran menunggu jawaban dari X yang terus terdiam.
"Anak laki-laki, ya? Ya, sudah 10 tahun sejak pertemuan terakhir." gumam X sambil menunjukan senyum liciknya.
Erick terdiam sambil terus menatap X, dia bingung sebenarnya apa yang dipikirkan oleh bosnya itu.
"Jangan ada yang bertindak tanpa perintahku!" tegas X sambil berlalu meninggalkan ruangan.
"Baik, Bos." jawab anak buahnya serempak.
"Aku... Sampai matipun tidak akan pernah melupakan kejadian itu." batin X sambil menyentuh wajahnya yang keriput akibat bekas luka bakar.
***
Satu bulan sudah berlalu, benar saja tidak ada satu pun tanda-tanda akan ada orang yang membantu Serli. Serli yang terus dikurung dalam sebuah ruangan sunyi pun terus gelisah menunggu bala bantuan datang untuk menolongnya.
"Ini sudah lebih 30 hari aku dikurung disini, dimana ayah? Kenapa tidak datang menolongku!?" gerutu Serli terlihat sangat panik.
Kepanikan dan rasa takut yang Serli rasakan terlihat jelas diwajahnya. Haiden yang melihatpun terkekeh saat memperhatikannya.
"Kalau kau sebutkan siapa orang dibalik rencana mu, maka aku akan senang hati membebaskan kamu." ucap Haiden sambil fokus dengan permainan gamenya.
"Sudah aku bilang tidak ada!" bentak Serli dengan mata melotot.
"Terserah kau saja." balas Haiden tidak peduli. "Apa kau tidak berpikir sudah satu bulan lebih tidak ada orang yang datang menolongmu, itu tandanya kau sudah dibuang!" sambungnya lagi sambil memutar-mutar kursi yang ia duduki.
Serli merasa sangat kesal, dia mulai stres karena terus dikurung seperti seorang tahanan dalam penjara.
"Bagaimana jika benar apa yang dia katakan, ayah tidak peduli lagi kepadaku? Apa aku memang sudah dibuang?" batin Serli, dia lalu terduduk lemas dilantai memikirkan nasibnya yang hampir tamat.
Setiap harinya Serli terus berteriak minta dibebaskan. Dia bahkan terus merengek memanggil Daffin agar segera melepaskannya.
Serli merasa sangat kesal dibuatnya, sangking kesalnya dia melepaskan sepatu kanannya dan melemparkannya kearah Haiden. "Keluarkan aku!" teriaknya.
Namun, terlihat tidak tepat sasaran. Haiden bahkan tidak perlu mengelak untuk menghindari lemparan Serli.
Karena tidak berhasil, Serli pum berniat melemparnya lagi menggunakan sepatu highnya yang sebelah kiri. Namun, dia langsung menghentikan niatnya dan langsung tersenyum licik.
"Aduuhhhh, perutku sangat sakit" rintih Serli sambil berguling kesakitan.
__ADS_1
Haiden sama sekali tidak mempedulikannya dan tetap fokus bermain game. Serli pun terus berusaha berakting agar Haiden menghampirinya.
"Arghhhhh, sakit!! Siapapun tolong aku!" rengeknya lagi.
Haiden mulai merasa risih mendengar suara rintiham Serli. Dia pun langsung membanting mouse dan segera menghampirinya.
"Apa kau berakting? kau sudah berkali-kali memakai cara ini!" bentak Haiden sambil bertolak pinggang.
"Tidak, kali ini aku sungguhan. Aku hanya butuh toilet diluar ruangan ini karena toilet didalam mampet gara-gara pembalut." jawab Serli merintih kesakitan.
"Ck, aihh sangat merepotkan!" ketus Haiden lalu membukakan pintunya.
Serli pun di kawal oleh Haiden hingga ke pintu toilet. Dia menunggunya karena takut Serli kabur.
"Kenapa kerannya tidak hidup?" teriak Serli terus berpura-pura.
"Kenapa berisik sekali?" tanya Haiden kesal.
Serli langsung membuka pintu toilet dan membiarkan Haiden untuk memeriksa keran yang tidak hidup.
Saat Haiden menghidupkan keran, saat itulah Haiden lengah dan Serli langsung menjalankan aksinya untuk memukul kepala Haiden menggunakan ujung high hils.
"Mati kau, mati kau!!" pekik Serli sambil memukul kepala Haiden hingga beberapa kali hantaman.
Haiden tidak sempat menghindar, ia merintih kesakitan karena kepala belakang sudah bocor bercucuran darah kental dan segar.
"Ahhhh, kau sungguh membuatku kere-po-tan!" ucapnya kesal. Pandangannya mulai gelap dan Haiden pun langsung terjatuh ke lantai dengan darah yang terus keluar dari kepalanya.
"Astaga, darahnya kenapa banyak sekali?" Tubuh Serli bergetar saat melihat darah yang bercucuran. Dia ketakutan dan langsung melempar high hils kedalam bak mandi. Serli pun berlari tunggang langgang meninggalkan gedung itu.
***
"Sekarang aku bahkan siap untuk lomba lari!" teriak Alena sambil mengangkat tangannya meniru super hiro.
Daffin hanya terkekeh menahan tawanya saat melihat Alena bertingkah konyol berjoged-joged dan menggerak-gerakan kakinya. Dia merasa ikut senang karena kaki Alena sudah kembali berjalan normal.
"Aku lapar!" ucap Alena sambil masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, ayo kita makan di Restaurant!" ajak Daffin sambil mengusap ujung kepala Alena.
"Apa, sih? Aku bukan anak kecil!" ketus Alena sambil menepis tangan Daffin.
Daffin hanya terdiam dan tersenyum tipis saat melihat sikap Alena yang semakin cuek terhadapnya. Saat ini yang terpenting adalah melindungi Alena dan jangan sampai menyakiti hatinya lagi.
Daffin pun langsung melajukan mobilnya ke Restaurant bintang 5. Setelah tiba di sebuah Restaurant, Alena langsung keluar dari mobil dan meninggalkan Daffin tanpa sepatah katapun. Daffin hanya diam lalu memarkirkan mobilnya dan segera menyusul Alena.
"Kamu mau pesan menu apa?" tanya Daffin sambil memegang buku menu.
"Aku sudah pesan," jawab Alena fokus dengan ponselnya.
Daffin pun langsung meletakkan buku menu dan menunggu pesanan datang. Tak menunggu lama menu yang dipesan Alena pun datang lengkap dengan minumannya.
Namun, sepertinya Alena hanya memesan makanan untuk dirinya sendiri. Daffin pun hanya bersabar sambil menghela nepasanya.
"Kamu tidak memesan menu untukku?" tanya Daffin pelan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang mau kamu pesan, jadi pesan saja sendiri!" jawab Alena santai sambil mulai memakan menu yang ia pesan.
Daffin terperangah saat melihat sikap Alena yang semakin menjadi-jadi. Dia pun lagi-lagi menghela napasnya lalu memesan menu makanannya sendiri tanpa berkomentar apapun.
Mereka berdua menikmati menu makanan tanpa mengatakan sepatah katapun. Hanya bunyi sendok dan piring yang saling beradu menjadi nada penghilang sunyi.
Daffin tak henti-hentinya terus memandang wajah Alena yang sedang fokus dengan makanannya. Sikap Alena sejak dulu memang cuek, tapi kali ini lebih cuek lagi dan sangat menguras batas kesabaran.
"Apa Alena masih marah? Aku tidak tahan dengan sikap cueknya!" batin Daffin.
Setelah selesai makan dan menikmati waktu bersantai. Daffin berpikir bahwa ini waktu yang bagus untuk memperbaiki hubungannya dengan Alena. Dia tidak ingin kalau keadaan seperti ini terus mengganggunya siang dan malam.
"Alena!!" panggil Daffin pelan.
"Hemm??" Alena hanya berdehem dan masih fokus dengan ponselnya.
Daffin pun dengan cepat langsung merebut ponselnya dari tangan Alena. "Ayo kita bicara!" ucap Daffin.
"Bicara ya bicara saja, tapi tidak perlu mengambil ponselku!" bentak Alena kesal.
"Hey, kamu tidak perlu semarah itu, aku hanya mengambil ponselnya, bukan membuangnya." jawab Daffin dengan nada yang masih rendah.
"Kembalikan ponselku!" bentak Alena lagi.
"Alena, ada apa denganmu? Kau tampak berbeda akhir-akhir ini. Apa kamu masih marah kepadaku?" tanya Daffin sedikit meninggikan nada bicaranya.
Alena menatap Daffin dengan tajam. Dia hanya terdiam sambil melirik orang-orang sekitar yang mulai memperhatikan mereka.
"Aku mau pulang!" bentak Alena dan langsung berjalan meninggalkan Daffin.
"Alena, tunggu!!" teriak Daffin. Dengan cepat Daffin melakukan pembayaran dan langsung mengejar Alena yang sudah menunggunya didalam mobil.
Triiriinngg.. Triiriinnggg
Saat hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba ponsel Daffin berbunyi. Daffin pun langsung merogoh ponselnya didalam saku celana.
"Haikal??" gumamnya saat melihat layar ponsel bertulis namanya.
"Halo! Ada apa?" tanya Daffin.
"Gawat! Serli kabur dan mencelakai Haiden. Dia memukul kepala Haiden didalam kamar mandi. Cepat kemari sudah ada polisi disini!" ucap Haikal dan langsung mematikan panggilannya.
Daffin tanpa mengingat ada Alena disampingnya, dia langsung saja melajukan mobilnya menuju tempat kejadian. Bahkan Alena yang terus bertanya ada apa pun tak didengar olehnya.
.
.
.
.
Bersambung
Maaf ya author telat update, nih! 🙏
__ADS_1
untuk dukung dan buat author semangat, kalian wajib minimal tinggalkan like di setiap eps ya..
sangat diharapkan dari kalian buat vote dan beri hadiah untuk novel ini. buat yang sudah dukung author beribu-ribu terimakasih author ucapkan.. love you😘