
Keesokan paginya, Alena terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Dia mengingat-ngingat kembali apa yang sudah terjadi. Terasa seperti mimpi yang sangat panjang.
Alena duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk bantal guling. Enggan rasanya ingin beranjak dari kamar. Apa lagi kalau harus bertemu dengan Daffin.
"Alena, kamu sudah bangun belum?" Bu Dewi mengetuk-ngetuk pintu kamar membangunkan putrinya.
"Iya, Bun." jawab Alena malas.
"Kalau sudah bangun cepat siap-siap kita pergi ke Rumah Sakit!" ucap Bu Dewi membuat Alena terkejut.
"Memangnya siapa yang sakit, Bunda?" tanya Alena sambil beranjak dari tempat tidur.
"Tadi pagi-pagi sekali Daffin pulang katanya papanya masuk Rumah Sakit kena serangan jantung," jawab bu Dewi masih dari balik pintu.
Deghh..
Alena terkejut bukan main saat mendengar papa mertuanya terkena serangan jantung. Selama ini pak Bagas tidak pernah sakit apalagi punya riwayat sakit jantung. Dia langsung mempercepat langkahnya untuk membuka pintu kamar.
"Kenapa Bunda gak bangunin aku dari tadi? mas Daffin juga kenapa gak bangunin aku, sih." ujar Alena kesal bercampur khawatir.
"Daffin bilang jangan bangunin kamu karena kamu terlihat sangat kecapekan." jawab bu Dewi. "Kamu cepat siap-siap, ayo kita ke Rumah Sakit!" sambungnya lagi lalu pergi meninggalkan Alena.
Dengan cepat Alena langsung pergi ke kamar mandi. Dia merasa tidak ada waktu lagi untuk mandi, dia hanya mencuci muka lalu mengganti pakaiannya. Setelah bersiap Alena pun langsung berangkat bersama Bundanya.
Setibanya di Rumah Sakit mereka langsung menuju ruang ICU. Disana terlihat Daffin sedang terduduk sendirian didepan ruang ICU.
"Daffin, bagaimana kondisi papa kamu?" tanya bu Dewi terlihat sangat khawatir.
"Belum tahu, Bun. Sejak saya datang kemari Dokter belum mengizinkan lebih dari 1 orang masuk ke dalam." jawab Daffin sambil menyangga kepala dengan kedua tangan dengan sikut di atas kedua pahanya.
"Kenapa papa bisa kena serangan jantung, selama ini papa baik-baik saja." ucap Alena masih berdiri di samping bu Dewi.
"Aku juga tidak tahu, dari tadi belum ada penjelasan apapun. Aku bahkan belum bertemu dengan mama." jawab Daffin mulai frustasi.
"Sabar ya, Daffin. Papa kamu pasti baik-baik saja," ucap bu Dewi sambil mengusap punggung Daffin. Bu Dewi lalu berdiri dan menghampiri Alena.
Tiba-tiba saja bu Dewi langsung mencubit perut Alena. "Aw, sakit, Bun!" rintih Alena menahan sakit.
"Kamu tenangin suami kamu, duduk disampingnya dan peluk dia!" ucap bu Dewi geram melihat tingkah Alena sangat cuek kepada Daffin.
Alena hanya terdiam sambil memasang wajah kesal. Karena masalah yang sedang mereka alami, Alena masih belum melupakan rasa sakit hati yang ia rasakan. Walau kenyataannya Daffin bukan ayah kandung Vivi, tapi kenyataannya dia bersalah karena sudah tidak jujur kepada Alena.
Tak selang berapa lama, bu Agis keluar dari ruang ICU. Matanya merah dan sembab karena terus menangis. Bu Dewi pun langsung menghampiri bu Agis dan memeluknya.
"Sabar ya, Bu. Ini cobaan!" ucap Bu Dewi. Tangis bu Agis malah semakin deras dipelukan bundanya Alena.
Daffin langsung berdiri dan menghampiri ibunya. Namun, ketika melihat Daffin dia langsung merubah ekspresinya menjadi marah. Dia pun langsung menghampiri Daffin dan menamparnya.
__ADS_1
Plakkkk..
Alena dan bu Dewi terkejut ketika melihat Daffin di tampar oleh ibunya sendiri.
"Ada apa, Mah?" tanya Daffin bingung sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Kenapa kau datang kemari, hah? Papa jadi seperti ini itu gara-gara kamu! Kamu sudah membunuh papa mu sendiri!" bentak bu Agis sambil memukul Daffin berkali-kali.
Mata Daffin terbelalak, dia sudah bisa menebak bahwa ini semua pasti rencananya Serli.
Alena yang masih bingung langsung menghampiri ibu mertuanya. "Mah, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alena.
"Alena, sayang! Kamu sangat tidak beruntung punya suami seperti dia ini, Mama sangat membencinya. Bagaimana bisa dia sudah memiliki anak dengan wanita lain. Mama tidak bisa menerima semua ini. Hiks." jelas bu Agis terkulai lemah.
Alena terkejut mendengar penjelasan ibu mertuanya. Dia langsung menatap Daffin yang masih sama-sama terkejut.
Bu Dewi juga terkejut bukan main saat mendengar bahwa Daffin sudah memiliki anak dari wanita lain. Dia terduduk lemas sambil menatap Daffin tidak percaya.
"Apa Serli benar-benar datang ke rumah?" gumam Daffin tak percaya. "Sial, Dafka tidak dapat diandalkan!" gerangnya kesal.
Triingg triinggg
Ponsel Daffin berdering, setelah di lihat tertulis nama Dafka di layar ponselnya. Daffin pun langsung menjawab telepon tersebut.
"Aku sudah mengikat mak lampir ini dan juga membekap mulutnya. Cepat kemari aku tidak tahan mendengar tangis anakmu!" bentak Dafka dari balik telepon.
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Alena penasaran.
"Aku ingin memberi pelajaran kepada Serli." jawab Daffin sambil mengusap ujung kepala Alena. "Aku ikut, Mas!" sambung Alena cepat.
"Tidak bisa, kamu tetap disini dan bantu aku menjelaskan semuanya kepada mereka, oke!" ucap Daffin dengan sangat lembut membelai kepala Alena. Alena langsung menepis tangan Daffin dan berbalik menghampiri bunda dan ibu mertuanya.
Daffin tidak heran melihat sikap Alena yang semakin cuek. "Aku harus sabar menghadapi sikapnya," pikir Daffin lalu pergi.
Saat diperjalanan menuju markas, Daffin langsung menelepon Alex dan menyuruhnya agar datang ke tempat yang ia maksud. Alex pun dengan cepat langsung menyusul Daffin dan berhasil menyusulnya hingga mereka datang bersama sampai tujuan.
"Daffin, apa yang kamu katakan di telepon itu benar?" tanya Alex saat turun dari mobil.
"Ya, benar. Serli mengatakan semuanya kepada orangtuaku hingga ayahku terkejut dan kena serangan jantung." jawab Daffin kesal.
"Serli benar-benar sudah keterlaluan!" bentak Alex kesal.
Mereka pun langsung memasuki gedung untuk bertemu yang lainnya. Di dalam sebuah ruangan terlihat ada Dafka, Alvin dan Haikal. Mereka sedang mengintrogasi Serli hingga membuat Serli terus menangis ketakutan.
Dafka yang sibuk menggendong Vivi terus saja memarahinya agar berhenti menangis. Namun, bukannya berhenti menangis, tangisan Vivi malah semakin keras dan menjadi-jadi.
"Arghh, anak kecil ini sangat merepotkan. Bagaimana caranya agar membuat dia berhenti menangis?" bentak Dafka sambil mengelus-ngelus kepala Vivi. Bukannya membantu Alvin dan Haikal malah sibuk menertawakannya.
__ADS_1
"Kau membelainya, tapi mulutmu yang kasar itu sudah menakutinya. Bagaimana dia bisa berhenti menangis jika kau terus membentaknya." timpal Daffin lalu bergantian menggendong Vivi.
Saat melihat Daffin, Vivi langsung berteriak memanggil Daffin papa. Daffin pun langsung memberikan Vivi kepada Alex. Karena bagaimana pun Vivi harus mengenal Alex sebagai ayah kandungnya.
"Mmmm... Mmmm..." Serli terus memberontak dan mencoba untuk berbicara. "Kenapa Daffin bersama Alex? Janga-jangan, Alex sudah mengatakan semuanya kepada Daffin." batin Serli merasa terancam.
"Diam kau! Apa ingin aku tampar lagi?" bentak Haikal kesal.
"Kau terlalu galak dengan wanita, pantas saja kau jomblo." ledek Alvin sambil menahan tawanya.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau terlalu lembut hingga wanita terus memanfaatkan kamu." balas Haikal juga terkekeh. "Sialan kau!!" bentak Alvin menahan emosinya.
Daffin tidak menghiraukan mereka yang terus saling mengejek. Dia kembali fokus dengan Serli lalu membuka penutup mulutnya.
"Mas Daffin, cepat lepaskan ikatan ini!" rengek Serli sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Kenapa kau katakan semuanya kepada orangtuaku?" bentak Daffin sambil memegang kedua pipi Serli dengan satu tangannya. "Apa kau puas sekarang sudah membuat papa ku terbaring di Rumah Sakit!" sambungnya lagi sambil mendorong kepala Serli.
"Hiks, Ampun, Mas! Aku gak bermaksud buat bikin papa kamu masuk Rumah Sakit. Aku cuma berharap setelah aku memberitahukan kebenarannya, papa kamu akan langsung menikahkan kita. Aku cuma mengharapkan itu, Mas!" jelas Serli sambil meneteskan air matanya.
Daffin merasa muak saat mendengarkan penjelasan Serli. Sudah sampai detik ini pun masih beraninya dia mengatakan kebenaran dibalik kepalsuannya itu.
"Kau bilang kebenaran?? Apa kau masih belum mengerti kenapa Alex bisa berdiri disini?" tanya Daffin sambil menunjuk Alex yang sedang berdiri sambil menimang Vivi.
Alex yang biasanya selalu lemah lembut bagaimanapun sikap Serli, kali ini sangat tampak berbeda. Walau Alex belum mengatakan sepatah katapun, tapi terlihat sangat jelas dari tatapan matanya bahwa dia sangat marah kepada Serli.
"Aku... Aku..." Serli terus menggantung kata-katanya. Dia bingung akan menjawab dan menyangkal bagaimana lagi.
Saat ini dia benar-benar sudah tertangkap basah oleh Daffin. Satu-satunya cara hanya tinggal mengandalkan ayah angkatnya saja.
"Ayah, bagaimana ini? Cepat tolong aku!" teriak Serli didalam hatinya.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya author telat update, nih! 🙏
untuk dukung dan buat author semangat, kalian wajib minimal tinggalkan like di setiap eps ya..
sangat diharapkan dari kalian buat vote dan beri hadiah untuk novel ini. buat yang sudah dukung author beribu-ribu terimakasih author ucapkan.. love you😘
__ADS_1