Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 37 Tangan Nakal


__ADS_3

Saat sedang tertidur, Alena merasa ada seseorang yang masuk membuka pintu kamar. Alena perlahan membuka kedua matanya. Cahaya didalam kamar sangat redup, dia tidak bisa melihat siapa orang yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Siapa itu?" lirih Alena sambil menyipitkan kedua matanya. "Apa mas Daffin, ya?" sambungnya lagi berusaha untuk melihat siapa orang yang masuk kedalam kamarnya.


"Alena, tertidurlah selamanya dan jangan pernah bangun lagi!" pekik seseorang sambil mencekik leher Alena.


"Argghhh, uhukk uhuukkk. Si-siapa kau??" tanya Alena terbatuk-batuk sambil mencoba melepaskan cekikan orang itu.


"Ini aku, wanita yang kebahagiaannya sudah kau rebut. Bukan hanya kebahagiaanku, tapi kau juga sudah merebut kebahagiaan anakku. Kau sudah merebut suamiku sekaligus merebut ayahnya anakku!" jawabnya sambil mempererat cekikan tangannya.


"Se-serli?? Kau a-adalah Serli? Uhuukkk." tanya Alena lagi. "Ya, aku adalah Serli si malaikat maut mu. Hahahaha." jawab Serli lalu tertawa terbahak-bahak.


Alena sudah mulai kehabisan napas. Dadanya terasa sangat berat dan sesak seperti ada batu besar yang menindihnya. Tangan kanan Alena terus meraba-raba ke samping mencari Daffin ingin membangunkannya. "Mas Daffin kemana, aku sudah mau mati gara-gara wanita gila ini." batin Alena tak tahan lagi karena hampir kehabisan napas.


"Mati kau, Alena! Malam ini juga kau harus mati. Agar aku dan anakku bisa bahagia bersamanya." teriak Serli.


Dia terus mempererat cekikannya hingga membuat Alena merasa lemas tidak bisa memberontak lagi. Alena sudah merasakan bahwa kepalanya sangat pusing dan pandangannya mulai kabur.


"Sial! Hidupku sangat menyedihkan. Aku bahkan harus mati sebelum melampiaskan amarah dan dendamku." batin Alena mencoba untuk menghirup sisa napasnya.


Alena menghirup napasnya dalam-dalam. Dia tidak ingin kehabisan napas dan mati sebelum melampiaskan dendamnya. "Ahhh, Dadaku berat, dadaku sangat sesak. Na-napasku, aku... aku tidak... bisa... bernapas lagi.. Huuhh." hembusan napas trakhirnya ia lepaskan dengan sangat panjang.


***


Uhuukkk.. Uhuukkk


"Aku mati, dadaku terasa sesak dan berat." ucap Alena setelah terbangun dari mimpinya. "Sialan bangs*t, kenapa aku bermimpi yang sangat mengerikan!" sambungnya lagi sambil mengusap kasar wajahnya.


Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Badannya bergetar karena mimpi itu terasa sangat nyata.


"Kenapa aku bermimpi seperti itu, apa aku memang sudah bersalah. apa aku sudah memisahkan antara ayah dan anak. tidak! itu bukan salahku. arghh kepala ku jadi pusing." gumam Alena sambil meremas kepalanya.


Alena sudah terbangun dari mimpi, tapi dadanya masih terasa sesak dan berat.


"Aneh, aku sudah terbangun dari mimpi, tapi kenapa sesak napasku terbawa sampai alam nyata. Dadaku masih berat dan sesak." omel Alena sambil meraba dadanya. "Ehhh, apa ini?" sambungnya lagi.


Alena terkejut karena ada tangan yang menimpa dadanya. Ya, ternyata itu adalah tangan Daffin yang melingkar memeluk tubuh Alena.


"Ihhh, pantas saja aku bermimpi buruk. Ternyata tangan ini penyebabnya. Aku sampai mau mati kehabisan napas." gerutu Alena sambil menjauhkan tangan Daffin.


Namun, lagi-lagi tangan Daffin langsung melingkar memeluk tubuh Alena. "Mas, aku kan suruh kamu tidur di lantai, bukan tidur di kasur dan meluk aku kayak gini, lepas gak??" pekik Alena sambil mencubit kuat tangan Daffin.

__ADS_1


"Ughh, apa sih, ini masih pagi buta jangan teriak-teriak nanti tetangga pada bangun!" omel Daffin. Dia malah memperkuat pelukannya.


"Oke, tapi jangan peluk aku kayak gini, aku gak bisa bernapas, Mas!" bentak Alena. Daffin tidak memperindah omelan Alena, dia masih tetap memeluk Alena seperti sebelumnya. "Aku gak bisa tidur gara-gara kedinginan, sekarang malah gak bisa tidur gara-gara suara kamu yang seperti suara petir." ucap Daffin sambil membungkam mulut Alena.


"Mmm... mmmmm," Alena terus berontak agar terlepas dari pelukan Daffin.


Greepppp,


"Mmhh.." Daffin langsung meremas dada Alena. Sontak Alena terkejut dan jantungnya langsung berdetak sangat kencang. Matanya terbelalak saat tangan Daffin terus bermain di bukit kembarnya.


"Diam, atau aku akan melakukan lebih dari ini," bisik Daffin sambil terus meremas bukit kembar Alena secara bergantian dan tangan satunya masih membekap mulut Alena. "Set*nnnn, Daffin sialan." Alena mengutuknya dalam hati.


Alena takut kalau Daffin benar-benar akan melakukan lebih dari itu. Dia langsung terdiam hingga beberapa menit. Tangan Daffin sudah berhenti bermain di dadanya. Hening dan tak ada suara ribut lagi. Tangan yang membekap mulut Alena sudah perlahan jatuh lalu kembali memeluk badannya.


"Bahaya sekali tidur dengan laki-laki satu ini, lain kali aku tidak mau tidur satu kamar dengannya lagi." pikir Alena. Dia pun perlahan mulai memejamkan kembali kedua matanya dan terlelap dalam pelukan Daffin.


***


Kukuruyuukkk..


Suara ayam jago terdengar sangat nyaring ditelinga Alena. Dia pun perlahan membuka kedua matanya dan menyesuaikan cahaya ruangan.


Alena membalikan tubuhnya dan melihat bahwa Daffin sudah tidak ada disampingnya. "Cih, pria mesum itu sudah bangun!" ketus Alena kesal.


Alena melihat dirinya sendiri didepan cermin. Tangannya menuju kearah dada. Dia mengingat dan merasakan kejadian tadi malam yang masih sangat terasa hingga saat ini. "Sial, pria mesum itu membuat mentalku terganggu." gerutu Alena sambil membasuh wajahnya lagi. Alena kemudian langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Alena langsung keluar dari dalam kamar. Dia berhenti di atas ujung tangga dan melihat kebawah. Terlihat Daffin sedang menelepon seseorang. Saat melihat Alena, dia langsung mematikan ponselnya dan menghampiri Alena.


"Kamu sudah bangun? Sudah mandi belum?" tanya Daffin sambil berjalan menaiki anak tangga. Alena masih kesal saat mengingat perbuatannya semalam. Dia pun hanya diam tidak menjawab pertanyaan Daffin.


Daffin mengerti kenapa Alena memasang wajah masam dan tidak menjawab pertanyaannya. Dia pun terkekeh menahan tawanya sambil terus menatap wajah Alena.


"gak ada yang lucu," gumam Alena sambil mengalihkan pandangannya.


"Ada, kamu yang lucu!" goda Daffin. "Ayo sarapan!" sambungnya lagi sambil menggendong Alena menuruni anak tangga. Alena patuh karena dia memang tidak bisa menuruni anak tangga sendiri.


Sejauh ini Daffin masih belum menyadari bahwa Alena hanya berpura-pura baik dihadapannya. Jika Daffin tahu apa yang direncanakan oleh Alena. Tidak tahu dia akan memohon ampun atau malah menyuruh Alena untuk pergi. Semuanya tergantung takdir cinta mereka yang terus dihalangin oleh kabut yang tebal.


Setelah selesai sarapan, Daffin langsung mengajak Alena pergi ke rumah sakit untuk melakukan chek up. Sepanjang perjalanan, Alena terus terdiam walau Daffin terus menggodanya. Hingga akhirnya Daffin menyerah untuk menggoda Alena.


Daffin menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Alena tambah merasa kesal karena harus berlama-lama didalam mobil bersama Daffin. Dia pun lalu membuka kaca mobil untuk melihat sekitar area.

__ADS_1


"Arghhh," teriak Alena saat ia dikejutkan oleh tangan yang tiba-tiba masuk menawarkan tissu.


"Tissunya, Kak!" terlihat anak kecil yang berpakaian kumal sedang menawarkan beberapa tissu. "Kejadian ini seperti pernah terjadi," pikir Alena sambil mengingat-ngingat kembali.


"Apa kabar, Joko? Kamu masih jual tissu, ya?" sapa Daffin sambil melambaikan tangannya.


"Halo, Kakak. Kita ketemu lagi. Apa kalian sudah punya bayi kembar?" tanya Joko. Dia adalah anak yang pernah mereka beri kotak nasi bersama teman-teman lainnya.


"Bayi kembar apanya?" jawab Alena sambil menjitak kening Joko.


"Tenang saja kalau sekarang kalian belum punya bayi, sebentar lagi pasti punya. Amiinn." ucap Joko sambil menengadahkan tangan dan mengaminkannya.


"Itu tidak akan mungkin terjadi," batin Alena tidak peduli.


"Amiinn, maaf ya kali ini tidak ada kotak makan, sebagai gantinya kalian beli sendiri saja." balas Daffin sambil memberikan beberapa uang seratus ribu kepada Joko. "Alhamdulillah, terimakasih banyak, Kak. Semoga rumah tangga kalian langgeng dan dijauhkan dari segala masalah. Semoga juga kalian cepat dikasih bayi." Joko berdoa dan langsung diaminkan oleh semua teman-temannya. "Amiinn."


Lampu hijau pun menyala, Daffin langsung melajukan kembali mobilnya menuju Rumah Sakit. Daffin terus saja menahan senyumnya sambil membayangkan betapa bahagianya jika mereka segera diberi bayi yang lucu dan menggemaskan.


"Apa yang sedang dia pikirkan, dasar gila!" batin Alena lalu mengalihkan pandangannya kearah depan.


Setelah tiba di Rumah Sakit, Daffin langsung membawa Alena ke ruangan khusus Dokter Fisioterapis. Daffin selalu menemani Alena dan tidak pernah meninggalkannya walau hanya satu langkahpun.


"Apa ini sakit?" tanya Dokter Clara sambil memijat kaki kanan Alena.


"Sakit, Dok. Tapi rasa sakitnya tidak parah seperti sebelumnya." jawab Alena. Daffin terus memperhatikan Alena dan merasa khawatir karena Dokter terus memijit kakinya.


"Sebelumnya Mbak Alena kan berjalan dengan 2 tongkat, coba sekarang dengan satu tongkat."


Alena pun mencoba untuk mengikuti arahan dari Dokter. Dia mencoba berdiri dengan satu tongkat dan perlahan mulai melangkahkan kakinya. Daffin dari belakang sudah siap siaga untuk menangkap Alena jika saja dia terjatuh.


"Bagaimana? Apa merasa sakit atau tidak nyaman pada kaki kanannya?" tanya Dokter.


Alena langsung menggelengkan kepalanya."Tidak. Dok. rasa sakitnya tidak terlalu menyakitkan." jawab Alena sambil terus berjalan untuk melatih kakinya.


Dokter pun terus mengarahkan Alena untuk berlatih berjalan dengan satu tongkat. Setelah cukup berlatih Dokter Clara mulai melakukan Fisiotrapi pada kaki kanan Alena agar tidak terjadi kaku dan menghilangkan rasa nyeri.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


JANGAN LUPA BERI LIKE, COMMENT DAN VOTE YA.☺☺


__ADS_2