
"Alena, aku mohon beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Aku punya buktinya kalau Vivi itu bukan anak aku." Daffin terus memohon kepada Alena agar dia bisa mempercayainya.
Namun, tidak ada bukti siapa pun tidak akan ada yang percaya. Alena sudah terlanjur kecewa kepada Daffin. Jika saja Daffin mengakuinya mungkin Alena bisa sedikit mengerti tentang kondisi Daffin.
Plaakkk
Alena dengan penuh amarah langsung menampar pipi Daffin. "Mas, berhenti untuk terus menyangkalnya. Bukti sudah didepan mata, kamu tidak bisa lagi berbohong kepadaku!" bentak Alena tak kuasa menahan amarahnya.
"Dari awal, pernikahan kita ini adalah sebuah kesalahan. Tidak perlu menunggu sampai 5 bulan. Hari ini juga aku ingin kita cerai!" tegas Alena dengan air mata yang terus bercucuran.
"Sssuuttt, apa yang kamu katakan? Kita tidak akan pernah bercerai. Sampai kapan pun kita tidak akan pernah ber-ce-rai!" ucap Daffin memberikan penekanan dikata trakhirnya. "Jadi aku mohon beri aku waktu untuk membuktikannya, ya." sambungnya lagi sambil menggenggam tangan Alena.
Perlahan Alena melepaskan tangan Daffin. Alena menahan tangisnya dan menunjukan bahwa dia tidak akan menyesal dengan keputusannya.
Alena berbalik dan langsung masuk ke dalam mobil Tomy. "Mas Tomy, antar aku pulang!" pinta Alena sambil menghapus air matanya.
Dengan tatapan seolah-olah mengancam, Tomy menatap Daffin sambil berbalik dan masuk kedalam mobil.
"Alena, tunggu!" teriak Daffin sambil mencoba untuk membuka pintu mobil.
Tomy segera melajukan mobilnya tanpa mempedulikan teriakan Daffin. Alena terdiam dengan air mata yang sangat sulit untuk ia hentikan. Tomy membiarkan Alena agar terus menangis. Supaya Alena merasa puas karena sudah melampiaskan amarahnya melalui tangisannya.
Serli yang melihat kekacauan itu langsung tersenyum puas karena merasa dirinya terus menang dalam permainan. "Sebentar lagi kamu akan mendapatkan ayahmu seutuhnya, Sayang!" ucapnya sambil memeluk Vivi.
Daffin dengan cepat langsung menyusul mobil Tomy. Dia tidak ingin kesalah pahaman ini terus berlanjut hingga membuat Alena benar-benar ingin bercerai.
Triinggg triingggg...
Ponsel Daffin berbunyi, tapi Daffin terus mengabaikannya. Tak henti-hentinya dering ponsel berbunyi hingga akhirnya Daffin kesal dan menjawab telepon tersebut.
"Halo!" jawabnya dengan nada tinggi.
"Bos, cepat kemari ada berita baru tentang Serli, ini penting dan harus mendengarkannya sendiri!" Itu suara Haiden yang terdengar sangat bersemangat.
"Aku sedang sibuk, katakan sekarang atau nanti saja tunggu aku kesana!" balas Daffin. Mata Daffin masih fokus mengikuti mobil Tomy yang sudah jauh terhalang beberapa mobil.
"Apa kau tidak penasaran, Bos? Ini menyangkut rencana dari ayah angkat Serli." balas Haiden. "kemarin aku berhasil meretars handphone Serli dan sekarang aku mendapatkan sesuatu." sambungnya lagi.
Daffin terdiam sejenak dan langsung membanting setirnya belok ke simpang kiri. Dia berpikir mungkin Haiden menemukan sesuatu yang menyangkut kebohongan Serli.
"Alena, bersabarlah. Aku akan segera mengakhiri ini dan kita akan hidup bahagia." batin Daffin sambil menggenggam kuat kemudi mobil.
Alena yang diam-diam memperhatikan mobil Daffin dari spion pun langsung merasa sedih. Dia pikir Daffin akan menyusulnya dan menjelaskan semuanya jika memang itu hanya kesalah pahaman.
Sebenarnya walau Alena berkata tidak ingin penjelasan apapun, tapi di hati kecilnya dia sangat menunggu penjelasan dari Daffin.
__ADS_1
Alena kecewa karena Daffin tidak menyusul dan memberikan penjelasan.
"Kenapa? Kenapa aku harus bersedih. Dari awal pernikahan ini memang suatu kesalahan besar. Seharusnya aku tidak sesedih ini. Memang aku yang adalah orang ketiga, sejak awal Daffin memang ingin menikahi Serli. Aku hanya pengganti yang tak di inginkan." batin Serli bak tersayat-sayat bambu runcing.
Air mata Alena tadi sudah mengering. Namun, sekarang air matanya deras lagi membasahi kedua pipinya. Alena benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya. Tangisnya hingga tersedu-sedu membuat tenggorokannya terasa sakit.
"Hiks, hiks, apa aku ini memang perusak hubungan orang? Apa memang aku yang salah? hegh, hegh." Alena menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia sangat merasa malu karena harus menangis didepan orang lain.
Tomy merasa sangat iba dengan keadaan Alena saat ini. Tanpa sengaja Tomy mengetahui masalah rumah tangga Alena yang membuatnya tidak bisa diam dan terus merasa khawatir.
Tanpa sepengetahuan Alena karena ia masih menutup wajahnya, Tomy langsung mengubah tujuannya menuju ke sebuah pantai. Alena terus melamun dan belum sadar kalau itu bukan arah menuju rumah orangtuanya.
Saat tiba di jalanan depan pantai, Alena langsung melihat keluar jendela. Dia terkejut karena melihat lautan yang terbentang luas.
"Kenapa kita kemari?" tanya Alena dengan suara parau yang sudah hampir tidak terdengar. "Mencari udara segar." jawab Tomy cepat.
Alena tidak peduli dengan udara segar atau pantai, karena dimana pun ia berada yang ia rasakan hanya sesak didada.
Tomy langsung menghentikan mobilnya dan langsung keluar membuka pintu mobil Alena. "Ayo!" ajak Tomy sambil mengulurkan tangannya.
"Aku tidak mau," jawab Alena malas.
Tomy tak mau ada penolakan. Dengan paksa Tomy langsung menggendong Alena dan membawanya ke bebatuan ditepi pantai. "Duduk disini," ucapnya menurunkan Alena di batu besar.
"Kamu bebas berekspresi di bibir pantai ini. Menangislah! Berteriaklah!" teriak Tomy sambil membentangkan kedua tangannya keatas langit.
"Aaaaaaaaaaarrggghhhhhh." teriak Alena.
"Kurang keras teriak itu seperti ini, Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaagghhhhh." Tomy memberikan contoh teriakan yang keras dan panjang. Alena lalu menirukan apa yang Tomy lakukan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaagghhhh, uhuk uhuk." Alena berteriak lebih keras dan panjang hingga kehabisan napas dan terbatuk-batuk. "Hahahhaah." Alena langsung tertawa lepas dan diikuti oleh tawanya Tomy.
"Alena kamu tahu tidak? Kata orang zaman dulu jika kita berteriak didepan laut seperti tadi, kita bisa membangunkan godzilla yang sedang tertidur." jelas Tomy dengan wajah seriusnya.
"Hah? Apa iya? Memangnya kapan kamu ketemu orang zaman dulunya?" tanya Alena membuat Tomy langsung terdiam.
"Mmmm, kan ceritanya turun temurun. Ih Alena kamu mengacaukan ceritaku." ketus Tomy sambil menunjukan muka kesalnya.
"Hahahah, lagian godzilla itu adanya cuman di TV." bantah Alena dengan tawa lepasnya.
Tomy tersenyum melihat Alena bisa tertawa. Walau dia tahu bahwa tawanya itu palsu. Setidaknya Alena terlihat kuat dengan tawa palsunya itu.
"Dulu saat aku masih kecil, aku sering datang ke pantai ini untuk melepaskan kesedihanku." ujar Tomy membuka kisah kecilnya.
"Sedih kenapa?" tanya Alena sambil menatap Tomy. Tomy terlihat sedih sambil memandang lautan yang luas.
__ADS_1
"Aku ini anak yang tidak diinginkan oleh ayahku sendiri. Sejak kecil ayah tidak pernah peduli kepadaku. Bahkan jika aku matipun mungkin dia tidak akan menangis." jawab Tomy.
Alena termenung, dia tidak menyangka ternyata dibalik sosok Tomy yang humoris tersimpan cerita yang kelam.
"Lalu, apa ayah kamu sekarang masih ada? bagaimana dengan ibu kamu, Mas?" tanya Alena lagi penasaran.
"Entahlah, terakhir aku melihatnya saat aku berusia 12 tahun. Waktu itu aku kabur dari rumah karena ayah malah mengadopsi seorang anak perempuan. Ayah sangat menyayangi anak itu dan malah terus mengabaikan aku yang anak kandungnya. Aku pun marah lalu pergi dari rumah. Sejak itu aku tinggal di panti asuhan." jawab Tomy. Dia tersenyum saat mengatakan ia pergi dari rumah.
"Ibuku sudah meninggal gara-gara luka tembak," sambungnya lagi sudah hampir menangis.
"Tapi, kamu bisa sukses tanpa ayah dan ibu. kamu hebat, Mas! ibu kamu pasti bahagia melihat anaknya yang tampan dan hebat seperti kamu ini." ucap Alena sambil menepuk bahu Tomy dan memberinya semangat.
Tomy pun tersenyum sambil menatap langit dan membayangkan bahwa ibunya sedang tersenyum di balik awan putih.
Setelah selesai cerita, Tomy langsung menoleh melihat Alena. Alena masih dalam keadaan menatapnya dan langsung mengalihkan pandangannya ketika Tomy menoleh.
"Ceritakan juga masalah mu!" pinta Tomy sedikit memaksa.
"Aku... " Alena menggantung kata-katanya.
Dia mengerti maksud Tomy yang menginginkan ia menceritakan tentang masalahnya dengan Daffin. Karena Tomy sudah terlanjur mengetahuinya, Alena pun berniat untuk menceritakan semuanya.
"Sebenarnya aku ini hanya pengganti. Dari awal Daffin memang ingin menikahi wanita yang bernama Serli itu. Tetapi, saat acara pernikahan berlangsung Serli tidak datang. Orangtua kami adalah sahabat sejak masa sekolah, jadi itu kesempatan mereka untuk menjodohkan kami. Aku pun menerimanya dengan alasan ingin balas dendam. Tetapi, semuanya malah berbalik. Malah aku yang tersakiti karena kesalahanku sendiri yang sudah merebut suami orang lain." jelas Alena sambil menitikan air matanya.
Air mata Alena menetes kembali ketika mengingat masalahnya. Saat ini sudah tidak ada lagi rasa ingin balas dendam. Yang ia inginkan hanyalah terbebas dari masalah Daffin dan Serli.
"Ini bukan salah kamu. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ada aku yang siap membantu kamu kapanpun kamu butuh." ucap Tomy sambil memeluk Alena dengan penuh kasih sayang.
"Hiks, makasih, Mas Tomy." balas Alena sambil membalas pelukan Tomy.
Tomy merasa kesal dengan dirinya sendiri. Sejak dulu dia selalu terlambat untuk memiliki Alena. Ini kedua kalinya dia didahului oleh Daffin dan kedua kalinya juga Alena tersakiti oleh Daffin.
"Alena, aku akan menunggu kamu. Aku berjanji tidak akan menyakiti kamu jika kamu bersamaku." bisik Tomy sambil mengelus rambut Alena.
Alena hanya terdiam dan memejamkan kedua matanya. "Sekarang aku bahkan merasa takut. Sejak dulu aku tidak pernah bahagia karena cinta. Orang bilang mencintai itu indah dan akan menumbuhkan kebahagiaan, tapi tidak dengan apa yang aku rasakan. Sebenarnya apa itu Cinta??" batin Alena. Alena pun lagi-lagi menitikan air matanya dibahu Tomy.
Aku mungkin bisa melupakan tentang balas dendam, tapi aku tidak akan bisa melupakan rasa sakit yang pernah kau berikan.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung