
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain saat Daffin berkata jadilah anjing setianya. Tidak menjadi anjing setia atau jadi anjing setia, bagi mereka sama saja nyawanya tetap sedang diambang kematian.
"Tapi, jika kami berpindah tuan. Maka kami pasti akan mati ditangan..." Dinar menggantungkan kata-katanya. Daffin hanya datar, tapi mengerti apa maksud dari Dinar.
"Kalian jadi anjing setiaku, tapi kalian tetap bekerja untuk Serli. Laporkan apa saja rencana jahat Serli. Kalian harus bertingkah normal anggap saja kalian masih menjadi anjing setianya." jelas Daffin.
"Heem, kami mengerti!" jawab mereka bertiga serempak.
"Apa kalian tahu apa ada orang lain dibelakang Serli?" tanya Daffin. Mereka hanya celingukan karena tidak tahu apapun tentang itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Alvin heran.
"Aku merasa Serli tidak bertindak sendiri, kau tahu kan kalau Serli itu tipe wanita yang sangat pemarah. Tidak mungkin dia bisa merencanakan semua ini sendirian." jelas Daffin sambil memegang dagunya. "Dan juga Mery pernah menunjukan foto kepadaku, di dalam foto itu terlihat Serli seperti sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya." sambungnya lagi.
"Mungkin itu ayahnya," ucap Alvin ikut berpikir. "Bukan, Serli tidak memiliki keluarga," sambung Daffin.
"Kami sungguh tidak tahu apa-apa, kami hanya tahu bahwa hanya bu Serli yang membayar kami," ucap no 1 dengan sangat serius. Kemudian no 2 dan Dinarpun ikut mengangguk.
"Baiklah, aku punya tugas untuk no 1, ambil laporan hasil tes DNA yang kau berikan padanya!" pinta Daffin sambil memberikan alat perekam kepada mereka. "Dan untuk Dinar, kamu selidiki terus dan cari tahu siapa orang dibalik Serli." sambungnya lagi.
"Siap, Pak." jawab Dinar dan no 1 serempak.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Haikal sambil menunjuk si no 2.
"Aku ada tugas lain untuknya, biarkan dia sembuh dulu. Sepertinya lukanya sangat parah." balas Daffin sambil melirik Haikal. Haikan pun hanya menampakan giginya karena sadar bahwa itu semua ulah dirinya.
Daffin pun menyerahkan tiga anjing kecil itu kepada Haikal dan Haiden. Sedangkan Daffin kembali ke kantor bersama Alvin.
"Apa kau yakin tentang seseorang dibalik Serli??" tanya Alvin sambil fokus dengan kemudinya.
"Tidak tahu juga," jawab Daffin datar. "Aku hanya merasa ada orang lain di balik rencana Serli." sambungnya lagi sambil memainkan ponselnya.
"Apa maksudmu Serli dimanfaatkan orang lain," Alvin terlihat sedang berpikir keras. Dia tidak mau kalau sampai tidak mengetahui apa-apa lagi seperti sebelumnya.
"Sepertinya tempurungmu itu sekarang sudah terisi otak," ledek Daffin menahan tawanya. Alvin langsung menatap Daffin dengan tatapan membunuh. "Bercanda!" lanjut Daffin.
"Kau percaya pada tiga anjing kecil itu?" tanya Alvin dan Daffin langsung menggeleng tanpa menjawabnya. "Lalu kenapa kau membebaskannya, bagaimana jika mereka berkhianat?" tanya Alvin lagi geram.
"Aku sengaja, jika mereka berkhianat mereka pasti akan menceritakan semuanya kepada Serli. lalu Serli akan ketakutan karena rahasianya terungkap. Jika di belakang Serli ada orang lain, pasti dia akan segera meminta pertolongan pada orang dibelakang dia. setelah itu kita akan lebih mudah untuk mencari siapa dalang dibalik rencana Serli." Jelas Daffin panjang lebar.
__ADS_1
"Aku pikir kau bodoh karena selama ini percaya dengan Serli, ternyata kau pintar, aku kagum padamu." balas Alvin sambil mengeluarkan air mata haru. "Aku rasa no 2 yang akan menceritkan semuanya kepada Serli, karena sejak awal dia yang selalu diam." sambung Alvin.
"Ya, aku sudah memprediksinya," jawab Daffin santai.
Plaakkk..
"Kau memang hebat!" ucap Alvin sambil memukul kepala Daffin. plakkk Daffin dengan cepat langsung membalas pukulan Alvin.
"Adeehhh, sakitt!" rintih Alvin sambil mengelus kepalanya.
***
Di sisi lain Alena yang sedang merasa bosan dia pergi ke dapur untuk melihat-lihat. Selama ini dia tidak pernah menyentuh peralatan dapur. Itulah sebabnya dia tidak bisa memasak walau hanya memasak mie instan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya??" tanya Ina salah satu ART.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku nyonya!" ucap Alena sedikit dengan nada tinggi. Ina pun langsung tertunduk takut. "Kalian bisa panggil aku sesuka hati, asal jangan yang terlihat tua," sambungnya lagi.
"Bagaimana kalau Nona saja?" saran Bi Yani sambil mengangkat sutil ditangannya. Alena tersenyum dan langsung mengangguk. "Boleh juga," jawab Alena.
"Apa yang bisa saya bantu, Non Alena?" tanya Ina dengan sangat sopan.
"Mari kita buat kue!!" ajak Ina dengan sangat semangat. Alena langsung mengangguk semangat. "Ayo, ajari aku buat kue ya!" pinta Alena dengan penuh semangat.
"Siap, Bu Bos!"
Ina langsung bergegas menarik kursi untuk duduk Alena. Dia lalu mengumpulkan semua bahan-bahan seperti tepung terigu, telur, perasa roti, cokelat bubuk, gula pasir dan bahan-bahan lainnya.
"Wah, banyak banget bahan-bahannya. Kita mau buat kue apa nih?" tanya Alena bingung melihat bahan-bahan di atas meja.
"Kita buat kue tart saja, nanti biar Nona yang bebas menghias kuenya." jawab Ina sambil menyiapkan mixer.
"Oke, kebetulan aku suka banget kue tart," jawab Alena semangat. "Aku mau buat kue ini buat mas Daffin juga," sambungnya lagi.
"Iya, pasti pak Daffin suka kue buatan Nona," tutur bi Yani sambil menakar semua bahan-bahan menggunakan timbangan.
Pertama-tama Ina menyuruh Alena untuk memasukan telur, gula pasir, dan pengembang kedalam mangkuk mixer. Setelah itu Alena mencoba untuk memixer bahan-bahan itu sendiri.
"Hati-hati, Non!"
__ADS_1
"Baik, Bi. Ini seru banget." balas Alena sambil sedikit mengangkat mixernya.
"Eh Non, mixernya jangan sampai ke angkat nanti..." Belum selesai bi Yani melanjutkan kata-katanya, Alena malah tidak sadar kalau dia sedikit mengangkat mixernya hingga adonan telur tercecer kemana-mana.
"Arghhhh, telurnya!!" teriak Alena terkejut. Ya, kini baju dan wajah Alena penuh dengan adonan telur. "Hahaha, tadi itu menyenangkan," Alena malah tertawa. Ini memang pertama kalinya dia membuat kue. Saat ia di rumah orangtuanya, bunda selalu memanjakan Alena hingga Alena tidak pernah menginjak dapur.
"Cepat cuci dulu, Non!" ujar Ina sambil membawakan air didalam baskom.
"Nanti saja, kalau kuenya tidak segera dibuat nanti mas Daffin keburu pulang." balas Alena sambil melanjutkan adonannya.
Karena Adonan yang tadi gagal, Alena terpaksa membuat Adonan yang baru. Mengulang dari awal tidak membuatnya hilang semangat. Setelah hampir 2 jam membuat adonan kue, akhirnya ini adalah kue trakhir yang tidak gagal dan siap dimasukan kedalam open. Alena sampai 4 kali membuat adonan kue karena terus-terusan gagal.
"Berapa lama kue ini di dalam open, Bi?" tanya Alena tidak sabar ingin menghias kue.
"Sekitar 30 menit kalau hasilnya ingin matang sempurna, Non." jawab Bi Yani sambil memasukan adonan kue kedalam open.
Sambil menunggu adonan kue matang. Alena berbaring di atas sofa sambil menonton Tv. Karena lama menunggu rasa kantuk di matanya tidak bisa ia tahan. Alena pun akhirnya memejamkan kedua matanya dan terlelap.
Setelah rasa ngantuknya hilang, Alena terbangun karena di kagetkan dengan suara jam dinding yang berdering. Alena terkejut ketika melihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 5 sore. Ia juga lebih terkejut karena terbangun di dalam kamarnya.
"Ehh, apa aku mengigau dan berjalan menuju kamar?" gumamnya sambil mengucek kedua matanya.
"Mungkin kamu terbang," timpal Daffin yang berada dibelakangnya. Alena terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Alena. Alena merasa malu karena pasti Daffin yang membawanya kekamar.
"Sudah dari tadi, lihat apa yang aku buat!" Daffin menunjukan mue tart yang tadi Alena buat. Sekarang kue itu sudah terhias rapi berwarna merah muda dan dihiasi bunga mawar.
Bukannya senang Alena malah molotot karena kesal. "Kamu menghiasnya, Mas?" tanya Alena geram. Daffin langsung mengangguk.
"Hais, tadinya aku ingin menghiasnya sendiri." ucap Alena kecewa.
"Apa kamu marah, kalau begitu biar kubuatkan lagi kuenya setelah itu biar kamu yang menghiasnya." Daffin tidak mau membuat Alena marah. Dia memang tanpa izin sudah menghias kue yang Alena buat.
"Ya sudahlah, besok lagi." jawab Alena pasrah.
"Apa ini tidak cantik?" tanya Daffin sambil memperlihatkan kua tart yang ia hias.
"Bagus banget, sampai sayang mau di makan!" jawab Alena sambil mengeluarkan ponselnya. "Cisss!" Alena mengangkat ponselnya untuk selfie bersama. Cekrekkk.
__ADS_1
Terlihat sekali bahwa Daffin tersenyum bahagia untuk Alena. Namun, Alena sama sekali tidak tersentuh dengan apa yang Daffin lakukan. "Hmm, hari ini begini saja dulu." pikir Alena sambil memotong kue buatan dia dan Suaminya.